
...Happy reading š§”...
......................
"Makanan untuk Jelly, sudah selesai. "
Dewi membawa makanan anjing dan barang barang lainnya di dalam kantong plastik berukuran besar tersebut, ia juga membeli beberapa jenis barang lainnya di dalam kantong plastik tersebut.
Sebenarnya hati dan perasaan Dewi tidak sesuai dengan kondisinya sekarang, ia seolah sedang tidak terjadi apa apa dengan dirinya.
Pemikiran Dewi sebenarnya kacau untuk hari itu, apalagi emosi yang belum stabil, sangat sempurna membuatnya menjadi sedikit stress untuk hari itu.
Dewi jalan layaknya seperti anak kecil, iamelompat girang sambil tertawa, berjalan menuju ke kosannya ia melangkah dan akhirnya sampai di kosan.
Dewi menyambut pak Danu yang tengah berjaga, diikuti oleh Jelly yang menyambutnya, Dewi mengumbar senyuman dan ia berjalan ke atas menuju ke kamarnya.
"Cepat, siapa cepat, dapat makanan. " ucap Dewi sambil berlari.
Eni yang barusaja pulang melihat Dewi dan Jelly yang tengah berlari, ia menegur temannya itu dan memanggilnya.
"Wi! Dewi! " panggil Eni.
Dewi yang sedang berlari kemudian menghampiri Eni, ia dengan nafas yang tersengal sengal menyapa Eni dan menghirup nafas dalam dalam.
"Wi, kok lari larian gitu? Kamu jarang loh kayak gini? " tanya Eni.
Dewi hanya menaikkan bahunya. "Tidak ada, saya hanya bersenang senang saja hari ini, tidak lebih dari itu. " jawab Dewi dengan santai.
Eni menggelengkan kepalanya, sementara Dewi mengajaknya untuk masuk ke kamarnya, Eni mengikuti Dewi daru belakang, sementara Jelly berjalan terlebih dahulu dari mereka semua.
Sesampainya di dalam kamar, Dewi menaruh semua makanan yang telah ia beli di minimarket, dengan semangat ia memilih salah satu makanan yang sudah ia beli dan memakannya dengan santai.
"Eni, ambillah salah satu, saya hari ini traktir kamu jajanan. " ucap Dewi.
Eni menjauhkan jajanan yang sudah dibeli oleh Dewi, ia tahu bahwa Dewi sengaja mengalihkan semuanya dari masalah yang tengah dihadapinya.
"Eni, kenapa dijauhi? Kamu tidak suka dengan makanan yang saya pesankan? " tanya Dewi.
Eni menggelengkan kepalanya. "Wi, aku nggak main main sekarang, kamu sekarang jawab jujur, kamu habis dari mana aja? " tanya Eni.
Dewi menghentikan makannya, ia mengambil minuman yang ada di dalam kantong plastik, kemudian ia membuka dan meminumnya.
"Wi, mohon ini, Wi. " ingat Eni.
"Saya hanya berkeliling di sekitar kota, kemudian saya memutuskan untuk pulang dan membeli beberapa jajanan. Hanya itu saja, Eni. " jawab Dewi.
"Nggak, aku nggak percaya ucapan kamu barusan, ngaku aja, Wi. "
Eni terus terusan meminta Dewi untuk mengaku, raut wajah Dewi berubah, akhirnya Dewi mulai mengakuinya dan berbicara satu persatu dengan penjelasannya.
"Wi, kamu beneran nggak papa kan? " tanya Eni khawatir.
Dewi meneteskan air matanya, ia menggelengkan kepalanya, ia mengakui bahwa ia sedang tidak baik baik saja sekarang.
"Maaf, saya hanya berpura pura saja tadi, saya benar benar kacau untuk hari ini. Saya masih teringat akan semua itu, terlintas di pikiran saya kejadian kejadian itu menimpa saya, saya bingung, saya takut jika suatu hal terjadi pada saya, saya benar benar takut. " ucap Dewi gemetaran.
Eni akhirnya mengerti, dan tebakannya benar, bahwa Dewi bersikap aneh karena pasti suatu hal yang sedang menimpa temannya itu.
"Saya tidak ingin jika kamu menyarankan saya kembali lagi bekerja dengan om Gusti, cukup disini saja saya ingin mengakhirinya, saya masih trauma dengan apa yang terjadi untuk dua hari sebelumnya. Saya tidak ingin lagi bekerja dengan om Gusti, walaupun saya tidak memiliki pekerjaan lagi sekarang. " ucap Dewi.
Eni terbelalak. "Apa? Kamu dipecat lagi, Wi? " tanya Eni.
Dewi menggelengkan kepalanya. "Tidak, saya sengaja mengundurkan diri dari restoran, saya akan usahakan untuk mencari tempat kerja yang baru, tidak mungkin jika saya akan terus menganggur saat berada di kota ini. " ucap Dewi.
Eni hanya bisa diam, ia tidak bisa berkomentar sekarang, yang ada jika ia terus terusan melihat Dewi yang sudah berubah cara perilakunya.
"Oke, aku ngerti sekarang, Wi. " ucap Eni.
"Tapi ingat, Wi, kalau ada apa apa sama kamu, lapor sama aku, kita cari jalan keluarnya. " sambung Eni.
Dewi menganggukan kepalanya, ia mengambil makanannya, sangat berbeda baginya untuk memakan kembali makanannya, karena sehabis menangis yang membuat makannya terhenti, dan rasa lapar diganti menjadi tampungan sehabis menangis.
......................
Dewi tidak pantang menyerah, dibalik ia yang selalu rajin kuliah di kampus, ia juga mencari tempat lowongan kerja baru toko kopi, mencari karyawan baru untuk menjadi barista di toko kopi.
Dari dua minggu yang lalu, Dewi melamar pekerjaan dimana ada lowongan kerja, tetapi hari itu akhirnya ia memantapkan diri untuk bekerja di toko kopi dan menjadi seorang barista.
"Jelly, akhirnya aku menemukan pekerjaan baru lagi, aku akhirnya mendapat pekerjaan lagi tanpa ada gangguan apapun itu lagi, saya benar benar akan bebas. " ucap Dewi.
Jelly hanya menggonggong, tetapi bagi Dewi itu adalah ucapan penyemangat dari Jelly untuknya, mereka berdua melompat-lompat bahagia, karena keduanya begitu bersemangat dengan pekerjaan baru, dan itu pastinya menjadi kebahagiaan keduanya.
"Jelly, nanti sore aku akan pergi ke toko kopi itu, aku ingin melamar pekerjaan di toko kopi dahulu. " ucap Dewi.
Dewi mulai menulis untuk mengajukan pekerjaan, seperti sebelumnya ia menulis pengajuan pekerjaan sebelumnya, dengan keahlian yang dimilikinya, satu persatu dokumen yang ia punyai.
Tubuh Dewi sebelumnya merasakan keanehan, ia terkadang pusing dan merasa tubuhnya meriang, tepatnya tubuhnya cepat merasakan lelah, tetapi Dewi tetap memaksakan dirinya untuk segera ke toko kopi untuk memberikan data dirinya yang lengkap.
"Dewina, jadi nama kamu Dewina? "
Dewi diinterview oleh pemilik toko kopi tersebut, ia menganggukan kepalanya ketika namanya di sebut oleh pemilik toko tersebut.
"Oke, sekarang langsung ke meja barista sana, langsung kerja, nanti minta bimbingan sama barista lainnya. " ucap pemilik toko kopi tersebut.
Dewi merasa senang, ia langsung diarahkan ke meja tempat mesin kopi.
"Juno, hei Jun! "
Laki laki yang dimaksud oleh pemilik toko kopi tersebut langsung menyahuti panggilan tersebut, ia mendekat ke arah Dewi.
"Ada apa, kak? "
"Ini ada anak baru, Juno, kamu ajarin dia buat operasikan mesin kopi, yang basic aja dulu, jangan yang udah ahli. " ucap pemilik toko kopi tersebut.
"Oh iya kak, ayo, sini aku ajarin. "
__ADS_1
Dewi diajak oleh laki laki yang bernama Juno itu menuju ke mesin kopi, Dewi mengikuti Juno dari belakang untuk diajarkan mengoperasikan mesin kopi tersebut.
"Jadi gini, siapa nama kamu? " tanya Juno.
"Nama saya Dewina Ayunda Ningsih, kamu bisa memanggil saya Dewi. " jawab Dewi.
"Dewina ya? Oke, jadi begini, kamu mulai dari awal dulu ya. "
Juno menunjukkan berbagai cara untuk membuat kopi, dimulai dari mengukur takaran dari kopi yang kemudian akan di taruh di mesin kopi, membutuhkan waktu yang cukup lama.
Sementara menunggu kopi tersebut selesai, Juno menunjukkan cara untuk menyiapkan tempat kopi tersebut, Dewi memegang kemasan kopi yang akan digunakan tersebut.
"Jadi, untuk bisa mengetahui pesanan dari pelanggan, kemasan kopinya jangan lupa kamu kasih nama, terus kamu tulis. Sebelumnya, kamu jangan lupa lihat daftar nama dari pemesan yang udah kamu catat ini ya, orang sering lupa kasih nama, cuma tau nomor pesanan aja, jadinya ralat. " jelas Juno.
Dewi menganggukan kepalanya, ia menulis nama yang terdaftar di catatan tersebut, dengan ditunjukkan cara menaruh kopi dan campuran lainnya di dalam kemasan, akhirnya Dewi berhasil untuk membuat satu pesanan.
"Sekarang udah ngerti kan, Dewina? " tanya Juno.
Dewi menganggukan kepalanya, akhirnya Juno meninggalkannya untuk melayani pesanan lainnya dari pelanggan yang baru saja datang.
Dewi mengikat rambut nya, ia memakai celemek yang digunakan oleh karyawan toko kopi tersebut, dan juga ia mulai membuat kopi yang lainnya.
"Dewi, espresso satu! " ucap Juno.
Dewi mulai bingung, baru kali itu ia mendengar kata E**spresso, Dewi juga hanya ingat dengan sesuatu, yaitu kopi Americano yang baru saja ditunjukkan oleh Juno padanya.
Juno menunggu Dewi yang menghampiri nya, tidak ada sama sekali yang datang dengannya, Juno merasakan keanehan saat di mesin kopi bagian belakang nya.
"Wi, astaga. "
Juno menghampiri Dewi yang tengah membuat kopi, ia terkejut ketika Dewi membuat sebuah kopi yang sebelumnya ditunjukkan oleh nya.
"Duh, pesanannya salah, Dewi. Espresso, bukan americano. " ucap Juno.
"Eh, salah ya? " tanya Dewi gugup.
"Namanya awalan, yaudah, kamu bagian jaga di depan aja dulu kalau gitu. "
Dewi berjalan ke depan, di depan meja kasir terlihat banyak sekali para pelanggan yang datang, dan mengantri untuk menunggu pesanan mereka.
"Kopinya mana? " tanya pelanggan.
"Sebentar, sedang dibuat di belakang. " jawab Dewi.
"Eh buset, kok ngejawab sih, nggak sopan banget! "
Dewi merasa terus bersalah, ia menundukkan kepala dan meminta maaf karena kesalahannya.
"Duh, anak baru kamu ya? Sini, ku ajarin buat ngoperasiin mesin kasirnya. "
Dewi dihampiri oleh karyawan lainnya, rata rata mereka sangat sabar dan sopan dalam mengajari Dewi, tidak ada kekerasan seperti membentak dan mencaci maki nya.
"Gini, terus begini, gampang kan? " tanya salah satu karyawan.
Dewi melanjutkan pekerjaannya, ia melayani pelanggan lainnya dengan baik dan santai.
Selesai bekerja, Dewi merenggangkan tubuhnya, ia kemudian merasa hal yang lain, lagi lagi ia merasa pusing dan lelah.
"Capek ya, Dewi? "
Dewi menatap ke arah samping, ternyata Juno yang sedang melipat celemek yang sudah digunakan sebelumnya.
"Iya, secara tiba-tiba saya merasakan lelah dan pusing, dan juga rasanya ingin muntah. " jawab Dewi.
"Hari pertama kerja memang kayak gitu, apalagi pelanggan tadi lumayan rame. Yaudah, kalo gitu pulangnya barengan sama aku aja, aku anterin sampai ke rumah. " tawar Juno.
"Tidak usah, saya takut merepotkan kamu, Jun. " tolak Dewi.
"Nggak kok, lagi free juga, ayo aku anterin. "
Dewi tidak bisa menolak, akhirnya ia menyetujui tawaran dari Juno barusan, mereka memutuskan untuk pulang ke dengan Juno yang mengantarkannya menuju ke kosan.
Motor milik Juno sangat autentik dan klasik, sebuah motor vespa antik yang terlihat masih sangat bagus sedang terparkir di depan parkiran toko kopi tersebut.
"Ternyata kamu menaruh kendaraan kamu di sini ya, Juno? " tanya Dewi.
"Yap, ini baru pertama aja berani parkir di depan, biasanya masuk ke dalam buat penghias cafe ini. Ya, itung itung motor vespa aku bisa jadi terkenal, jadinya biarin aja. " jawab Juno.
Dewi menganggukan kepalanya, kemudian Juno menaiki motornya dan menyuruh Dewi untuk naik di belakang, ia membonceng Dewi untuk menuju ke kosan.
"Pulangnya kemana, Wi? " tanya Juno.
"Saya pulang di kosan, tempatnya di dekat jalan pertigaan, nanti ada minimarket di dekatnya. " jelas Dewi.
"Oh di situ, ya, berarti satu kosan sama almarhum pacar aku disana, kamu pasti tau siapa dia. " ucap Juno.
"Tidak, saya tidak tahu. Saya tahunya beberapa bulan yang lalu ada penghuni kosan yang meninggal di kamar mandi karena mengg*gurkan kandungannya di dalam kamar mandi, hanya itu saja. " ucap Dewi.
"Ya, dia itu pacar aku yang udah almarhum, beritanya terkenal di sekitar perumahan, aku nggak nyangka dia bisa meninggal se mengenaskan itu. " ucap Juno.
Dewi menurunkan bibirnya. "Turut berduka cita, Juno, saya tidak tahu bahwa dia pacar kamu. "
"Nggak papa, aku berharap semoga dia bisa tenang aja disana, walaupun dia sempat ngecewain aku karena jadi simpanan orang, terus dihamili tanpa ada tanggungjawab. Mungkin itu bisa jadi penyebab dia akhirnya b*nuh anaknya. " ucap Juno.
Dewi hanya diam, ia menghayati obrolan tersebut di atas motor.
"Dengan seperti itu, aku minta sama kamu ya, Dewi, jaga pergaulan kamu, kamu itu anak baik di mata aku. Jangan sampai karena godaan apapun itu, kamu jadi ngerugiin diri kamu dan akhirnya kamu terjebak dengan godaan tersebut. Ingat ya, Dewi. " ucap Juno.
Dewi sebenarnya agak tersentil dengan ucapan tersebut, tetapi itu adalah fakta, bahwa ia harus menjaga dirinya, walaupun ia sudah terjebak dengan godaan yang sama dengan almarhum pacar dari Juno.
Pernyataan itu juga membuat Dewi takut, bahwa ia juga sebelumnya juga menjadi simpanan orang, dan sekarang ia merasakan bahwa dirinya sedikit berbeda dari sebelumnya.
......................
Beberapa hari berlalu, Dewi menjalani rutinitasnya seperti biasa, namun ia selalu terbangun karena merasakan pusing dan mual.
__ADS_1
Dewi terlihat tidak sehat, bahkan wajahnya pucat, ia selalu mengeluh lelah walaupun tidak banyak bekerja.
Sesekali Dewi muntah, Eni menjadi khawatir akan keadaan Dewi, sehingga ia selalu bertanya tentang perkembangan keluhan Dewi selanjutnya.
"Wi, kamu kenapa begini? " tanya Eni.
Dewi yang habis muntah kemudian menghampiri temannya, dengan wajah pucat dan tubuhnya yang lemas ia duduk di pinggir ranjang.
"Wi... "
"Saya tidak mengerti, Ni, saya takut jika sesuatu terjadi pada saya sendiri. " jawab Dewi.
Eni menjadi ikut cemas, ia terus terusan bertanya tentang keadaan Dewi, sesekali ia mendekat dan melihat Dewi yang tengah terlemas.
"Wi, aku bakal bantu kamu kalau ada apa apa, kamu percaya aku kan? " tanya Eni.
Dewi menganggukan kepalanya. "Iya, saya percaya dengan kamu, karena kamu teman saya. "
Dewi bangkit, ia mengambil air minum dan mencoba meminum air yang disuguhkan oleh Eni.
"Kamu mau kemana, Wi? " tanya Eni.
"Saya ingin bekerja, lagipula kelas sedang libur sekarang, jadinya saya bekerja hari ini. " jawab Dewi.
Dewi bangkit dan meninggalkan kamar Eni, sedangkan Eni memikirkan sesuatu, karena ia takut terjadi apa apa dengan Dewi, sehingga akan merugikannya.
"Dewi, kalau beneran kamu sampai hamil, tamat riwayat aku. " ucap Eni.
Di cafe, Dewi tetap melayani pelanggan yang datang, meskipun tubuhnya yang terasa tidak enak, ia tetap memaksakannya.
Saat bekerja, tubuh Dewi merasa tidak nyaman, kepalanya terasa berputar dan juga ia merasa ingin muntah.
"Terimakasih, semoga puas dengan pelayanan kami. " ucap Dewi.
Juno mendekat, ia menyadari bahwa Dewi yang terlihat tidak biasa, Dewi dengan tubuh yang lemas itu kemudian menatap ke belakangnya dan terkejut.
"Juno?! Kamu mengagetkan saya. " ucap Dewi.
"Wi, muka kamu pucat banget, sakit ya? " tanya Juno.
Dewi menggelengkan kepalanya, kemudian ia merasa ingin muntah, hingga suara ia mual terdengar.
"Ummgbh! "
Dewi berlari ke arah belakang, ia akhirnya ingin muntah, sementara Juno mengikutinya dari belakang dan melihat Dewi yang sedang muntah.
"Astaga, Dewi, bener kan kalau kamu tuh lagi sakit. " ucap Juno.
Juno membantu Dewi untuk melancarkan mualnya, Dewi kemudian selesai dan ia duduk sambil mengambil nafas yang dalam.
"Kamu pulang aja ya, nanti aku izinin sama kak Tio, kalau kamu izin pulang karena sakit. " ucap Juno.
Dewi menganggukan kepalanya, ia dibantu berdiri dan dibawa hingga ke luar kamar mandi.
Di depan kamar mandi, beberapa karyawan melihat Dewi yang dirangkul oleh Juno, dengan wajah khawatir menatap kearah Dewi.
"Dewi kenapa, Jun? " tanya karyawan lainnya.
"Sakit dianya, oh ya, nanti tolong kasih tau sama kak Tio kalau aku mau antar Dewi ke kosannya, bilangin juga kalau Dewi izin pulang karena sakit. " jawab Juno.
"Oh iya, nanti kami bilangin sama kak Tio. "
Dewi dirangkul menuju ke luar, Juno mengambil motornya dan menyuruh Dewi untuk naik ke motor dan menuju ke kosan.
......................
Perlu setengah jam untuk menuju ke kosan Dewi, Dewi berterimakasih dengan Juno, karena sudah mengantarkannya menuju ke kosan di jam kerja.
"Juno, sebelumnya saya sangat berterimakasih, saya sangat merepotkan kamu ternyata. "
"Nggak, yaudah, sekarang istirahat sana, nanti atau besok masih ngerasain nggak enak, kamu libur aja dulu sampai badannya stabil. " ucap Juno.
Dewi menganggukan kepalanya, ia masuk ke dalam wilayah kosannya.
Dewi menuju ke atas, ia melihat Eni yang membawa kantong plastik kecil, kemudian melihatnya dan menghampirinya.
"Wi, sini, ikut aku! "
Dewi ditarik oleh Eni menuju ke kamarnya, keduanya masuk dan mengunci pintu dari dalam.
"Pakai ini. "
Eni menunjukkan sebuah benda, terlihat asing di mata Dewi dan ia menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
"Ini alat apa, Eni? " tanya Dewi.
"Udah, ke kamar mandi dulu, ini, jangan lupa tampung sedikit pipis kamu, biar aku bantu cara pakai alat ini. " perintah Eni.
Dewi mengambil tabung kecil yang diberikan Eni, ia masuk ke dalam kamar mandi dan mulai menampung air kecilnya.
Setelah beberapa menit di dalam kamar mandi, Dewi keluar dengan tabung kecil yang berisi air kecilnya.
"Udah? Sini, aku masukin alatnya. "
Dewi menyerahkan tabung tersebut, kemudian Eni menaruh alat tersebut dan menunggu hasilnya.
"Eni, kamu menyuruh saya untuk menampung air kecil saya sebenarnya untuk apa? Saya bingung. "
Eni langsung mengambil alat tersebut, ia terkejut dengan hasil yang ditunjukkan oleh alat tersebut, dan menatap tidak percaya dengan Dewi.
"Eni, kamu kenapa? " tanya Dewi ikut khawatir.
"Wi, kamu hamil. "
...****************...
__ADS_1