
...Happy reading š§”...
......................
"Berapa lama akan terus begini? "
Gusti menatap ke arah Dewi, ia menyimak ucapan gadis tersebut.
"Saya tidak mengerti apa maksudmu, yang jelas sekarang saja kamu masih harus terjerat dalam permainan Bella, jelasnya kita berdua masuk dalam jerat permainannya. " jawab Gusti.
Dewi menghela nafasnya, ia tidak bisa berlama lama untuk dijerat seperti sekarang, gadis itu hanya ingin kebebasan, kebebasan yang sebelumnya ia rasakan sebelum ia bertemu dengan Gusti.
"Andaikan tidak seperti ini, mungkin saya tidak akan seperti ini, om. " ucap Dewi.
Tampak ucapan Dewi menyinggung Gusti, Gusti memegang bahu Dewi dan menatap gadis tersebut dengan tatapan tajam.
"Jadi kamu tetap menyalahkan saya kembali, Dewina? "
Kali ini Dewi memiliki keberanian untuk melawan tatapan tajam Gusti, Dewi membalasnya dengan tatapan menentang ke arah Gusti.
"Kalau iya, memangnya om akan melakukan apa untuk saya? " tanya Dewi melawan.
Gusti menggeram, ia memalingkan wajahnya dan menggebrak pintu mobil, membuat Ruben yang sedang menyetir terkejut dan melihat keadaan kursi belakang dengan kaca spion.
"Tuan, apa dibelakang baik baik saja? " tanya Ruben.
"Untuk apa kamu bertanya dengan saya yang jelas jelas sedang emosi seperti ini, Ruben?! " tegas Gusti.
"Tidak usah pedulikan tuan anda, dia memang seperti ini ternyata orangnya, lebih baik jika kamu tidak bekerja dengan orang seperti dia. " ucap Dewi.
"Dewina, ini urusan saya, berhenti ikut campur. "
"Baik, kalau begitu kembalikan saja saya ke kontrakan yang saya tempati sebelumnya, agar saya tidak ikut campur urusan om! " ucap Dewi.
Gusti terhenti, ia mendengus kesal, dan memilih untuk diam agar tidak berlanjut perdebatan tersebut, karena sekalinya ia marah maka ia akan berbuat kasar.
"Terserah pada kamu, Dewi! "
Gusti dan Dewi akhirnya saling diaman, mereka tidak sama sekali memulai percakapan, dan kini mereka saling memendam emosi masing masing.
Sepanjang perjalanan Dewi hanya diam, ia ingin cepat cepat untuk tiba di apartemen dan bertemu dengan Jelly, baginya lebih baik mendengar gonggongan anjing peliharaannya daripada mendengar suara Gusti yang akan memulai percakapan dengannya.
Sampainya di gedung apartemen, Dewi langsung turun dari mobil, tak perlu ia ingin bertegur sapa dengan Gusti, setaunya ia akan masuk ke kamar apartemen yang ia huni.
"Jangan lupakan kartumu, saya sudah meminta tukang servis kemarin untuk memasangkan smart lock door yang baru. " ucap Gusti.
Dewi mengambil kartu tersebut, ia berbalik arah dan berjalan ke arah gedung apartemen.
Di depan lobby, Dewi disapa oleh anjing peliharaannya, ia memanggil Jelly dan menyuruh anjing peliharaannya untuk segera mengikutinya.
"Kartu debit diblokir, dan juga kembali terjebak, kenapa sesulit ini untuk hidup di kota dan bertemu dengan orang orang seperti om Gusti itu? "
Dewi mengomel sepanjang ia berjalan, berada di dalam lift, dan sekarang menuju ke dalam kamar apartemennya, banyak dari ucapannya tersebut mengumpat Gusti.
"Kalau saja memukul orang tidak dipidana, mungkin saja akan kupukul dan kucekik batang lehernya! " umpat Dewi.
Jelly tidak mengerti apa yang majikannya ucapkan, hanya saja ia akan menggonggong seperti layaknya ia bisa mengerti ucapan dari Dewi.
"Sudahlah, akan membuat perutku sakit lagi jika menguras energi untuk marah. " ucap Dewi.
Dewi menyenderkan tubuhnya di sofa, beberapa barang yang berada di kontrakan tersebut berada di depan kamarnya, ia malas melihat barang barang tersebut untuk ia susun, mungkin akan ia biarkan sampai barang barang tersebut berjalan sendiri ke tempat asalnya.
Berada di dalam kamar apartemen tersebut membuat Dewi bosan, ia memikirkan sesuatu, bagaimana jika ia akan berjalan jalan keluar dari gedung apartemen tersebut, mungkin akan baik untuk pikirannya yang dilanda kekesalan.
"Jelly. " panggil Dewi.
Anjing cokelat kekuningan tersebut mendekat ke arah Dewi, ia menggonggong layaknya sedang bertanya dengan Dewi.
"Jelly, apakah kamu ingin jalan jalan petang hari denganku? Rasanya sangat bosan berada di dalam apartemen ini, bisa gila jika terus terusan di dalam kamar ini. " tawar Dewi.
Jelly menggonggong, ia berputar putar dan menggonggong kegirangan, bahwa ia akan jalan jalan sore hari dengan Dewi, Dewi bersiap siap dan mengambil sedikit uang dari celengannya, merogoh celengannya hanya untuk berjalan jalan saja di luar gedung apartemen.
__ADS_1
"Ayo ayo, kita langsung pergi sekarang. " ucap Dewi.
Jelly mengekori Dewi dari belakang, keduanya keluar dari kamar dan berjalan menuju ke luar, entah kemana tujuan jalan jalan sore mereka kali ini, yang jelas Dewi hanya mengatakan bahwa ia ingin berjalan jalan saja di luar gedung apartemen bersama dengan Jelly.
......................
Kali ini Dewi mengajak Jelly berjalan jalan ke tempat yang tampak jarang mereka lewati, tepatnya tempat tersebut merupakan tempat yang menjadi tempat keduanya saling bertemu pada malam itu.
"Jelly, masih ingat jalan ini? " tanya Dewi.
Jelly menggonggong, keduanya berjalan di jalan tempat awal keduanya saling bertemu.
Jelly masih mengingat tempat tersebut, ia berlari ke tempat yang sebelumnya tidak diketahui oleh Dewi, ia melihat gang sempit yang berada tak jauh dari minimarket.
"Tempatnya asing, Jelly tidak usah masuk ke sana, berbahaya. " ucap Dewi.
"Ini Woofy ya? "
Dewi menatap ke arah belakang, ia melihat seorang wanita tua yang sedang melihat Dewi dan Jelly, Dewi mengerutkan keningnya ketika wanita tua tersebut menyebut nama peliharaannya dengan nama lain, sehingga ia bingung mengapa peliharaannya disapa dengan nama lain.
"Maaf sebelumnya, apa ibu memanggil anjing saya? " tanya Dewi.
"Benar nak, saya baru saja memanggil anjing yang berada di dekat kamu. " jawab wanita tua tersebut.
Jelly tampaknya mengenal wanita tersebut, ia menyapa dan mendekati wanita tua tersebut dan menggonggong ramah, tampak juga gaya manjanya berbeda dari kebanyakan Jelly bertemu dengan orang baru lainnya.
"Jelly, kamu kenal ibu ini? " tanya Dewi.
"Tentu saja dia mengenal saya, saya ini tetangganya Woofy. " jawab wanita tua.
Dewi membesarkan kedua matanya, ia melihat ke arah Jelly.
"Jadi, sebelumnya Jelly ini anjing peliharaan juga? " tanya Dewi.
Wanita tua tersebut menganggukan kepalanya, sambil mengelus kepala Jelly, ia mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Kalau begitu, saya akan ceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada anjing peliharaan kamu. "
Kembali ke masa lalu, sebelumnya Jelly adalah anjing kecil yang terlantar, ia ditemukan saat tubuhnya yang kecil itu melemah dan meminta bantuan untuk diselamatkan, hal itu membuat sepasang kekasih yang menemukannya, dengan tali dan botol minum yang menyangkut di lehernya, membuat pasangan tersebut mengambil Jelly sang anjing kecil tak berdaya itu.
"Namamu Woofy ya, sesuai dengan nama kartun kesukaan kami berdua. "
Sebuah nama adalah anugerah dan pemberian yang sangat berharga, Jelly sangat menghargai nama tersebut, dan nama untuk anak anjing tersebut adalah Woofy.
"Woofy, kemarilah... "
Jelly alias Woofy, anjing kecil yang beranjak menjadi anjing remaja itu mendekat ke arah kedua pasangan tersebut, permainan dari ketiganya sangat menyenangkan, kedua pasangan dengan seekor peliharaan bermain ria di taman.
Woofy sangat dikenal oleh tetangga sekitarnya, bahwa anjing tersebut sangat ramah dan menjadi teman bermain anak anak di sekitar tempat tinggalnya, tak heran jika wanita tua tersebut mengenal Jelly dengan sebutan Woofy.
"Woofy, sepertinya kita akan mempunyai anggota baru. "
Sepasang kekasih tersebut memberitahukan pada Woofy, bahwa mereka sebentar lagi akan menjadi kedua orangtua, sebuah penantian selama setahun kedua pasangan tersebut untuk memiliki seorang anak, hal tersebut tentu saja membuat Woofy menjadi gembira, karena anjing tersebut akan memiliki majikan baru dari kedua pasangan tersebut, dan akan menjaga calon majikan barunya.
"Woofy, kali ini kami akan pergi ke luar kota, mungkin akan menghabiskan waktu tiga sampai lima hari, jaga dirimu ya, anjing pintar. "
Woofy sang anjing dewasa tersebut menuruti ucapan kedua pasangan tersebut, ia juga sudah terbiasa untuk ditinggal sendirian di rumah, selama makan dan minumnya terjaga, maka ia selalu tenang ketika menunggu kedua majikannya itu pulang.
Kebahagiaan berakhir duka, kedua pasangan tersebut mendapati kecelakaan yang membuat nyawa keduanya terenggut, hal tersebut membuat Woofy alias Jelly tersebut menjadi anjing tanpa pemilik, ia sendiri tidak tahu jika kedua majikannya sudah tiada, alhasil Woofy bertahan hidup di rumah tersebut dengan makanan seadanya ketika makanan miliknya telah habis.
Terkadang Woofy merasa sedih, selalu ia menunggu kedua majikannya di depan pintu utama untuk pulang, sesekali ia menggonggong karena mengungkapkan rasa hatinya.
Suatu hari orang orang asing masuk ke dalam rumah majikan Woofy, tampak mereka semua tengah mengangkut semua barang ke luar, Woofy menggonggong sebagai tanda tidak terima bahwa rumah majikannya dan barang barangnya diambil oleh orang orang asing masuk ke rumahnya.
"Ternyata almarhum mempunyai peliharaan, lihatlah, tubuhnya sangat kurus tak terurus, bagaimana jika anjingnya masuk ke penampungan hewan? "
Woofy menghindari tangkapan tersebut, hal tersebut menjadi awal ia menjadi anjing gelandangan, yang awalnya menjadi anjing peliharaan, tetapi pada akhirnya ia menjadi anjing gelandangan.
Menjadi anjing peliharaan yang kemudian menjadi anjing gelandangan tidak semudah yang dipikirkan, Woofy menjadi anjing yang belum terbiasa menjadi anjing yang hidup di alam bebas, tidak heran jika Woofy sering kalah berkelahi dan Woofy juga menjadi anjing yang terlihat sakit sakitan.
Awal pertemuan Woofy bersama dengan Dewi, terlihat bahwa Dewi dengan penampilannya yang terlihat kesal dan jalannya tergesa gesa membuat Dewi menjatuhkan dompetnya, alhasil membuat Woofy membantu Dewi untuk mengembalikan dompet tersebut.
__ADS_1
Perisangka yang buruk, Dewi yang awalnya menyangka bahwa anjing tersebut mengejarnya, padahal hanya ingin mengembalikan dompet yang terjatuh, Dewi berlari dengan kencang sehingga ia terjatuh dari jalan dan Woofy menghampirinya dengan dompet yang terjatuh.
Dewi yang awalnya menyangka bahwa anjing tersebut ingin menyakitinya, padahal Woofy ingin mengembalikan dompet yang terjatuh tersebut dan memberikannya kepada Dewi, keduanya saling bertatapan dan Dewi dengan kakinya yang terluka, ia diikuti oleh Woofy.
Dewi awalnya tidak peduli, tetapi ia merasa kasihan ketika melihat anjing tersebut, yang sudah membantunya untuk menemukan dompet, alhasil dengan cara tersebut membuat Dewi menjadi iba dan ingin memelihara Woofy.
Awal pertemuan tersebut menjadi akhir dari bingungnya Jelly, yang menentukan arahnya yang ingin kembali menjadi anjing peliharaan, dan sekarang ia akan terus bersama dengan Dewi, ia akan janji itu.
"Begitu ternyata? " tanya Dewi.
Jelly mendekat ke arah Dewi, ia bermanja kembali dengan Dewi, walaupun ia masih ingin dekat dengan wanita tua tersebut, namun ia masih tetap ingin bersama dengan Dewi.
"Apakah ada nama baru untuknya? " tanya wanita tua tersebut.
"Ya, namanya adalah Jelly, dinamakan dengan nama tersebut karena harapan tubuhnya sehat dan bugar seperti agar agar, walaupun namanya agak aneh. " jawab Dewi.
"Nama baru untukmu Woofy? Bagus, kamu sudah menemukan pemilik yang baru, berbahagialah untuk itu, Jelly. " ucap wanita tua tersebut.
Wanita tua tersebut mendekat ke arah Dewi, ia memberikan sebuah kalung, dengan sebuah nama yang sebelumnya disebut oleh wanita tua tersebut, Dewi menerimanya dan melihat nama tersebut terukir indah pada kalung yang sebelumnya Jelly gunakan.
"Pegang kembali kalung ini, ini sangat berharga untuk Jelly, tidak usah pasang, cukup simpan saja untuk kenangan Jelly lagi. " ucap wanita tersebut.
Dewi menerimanya, kemudian mengambil kalung tersebut untuk ia simpan.
"Apa kamu sedang hamil? "
Dewi melihat ke arah wanita tersebut dan menatap ke perutnya, terlihat jelas bahwa perutnya yang menonjol, Dewi sedikit menutupinya dan tersenyum ke arah wanita tua tersebut.
"Selamat ya, kamu akan menjadi seorang ibu, Jelly juga pasti akan senang jika kamu akan menjadi seorang ibu, Jelly sangat suka dengan anak kecil, apalagi anak bayi. "
"Terimakasih. " ucap Dewi.
"Jelly, jaga majikanmu ya, kamu harus menjadi anjing yang bertanggungjawab. "
Jelly menggonggong, ia mengelus kaki wanita tua tersebut, tak lama wanita tersebut pamit dan pergi meninggalkan Jelly dan Dewi yang berada di dekat minimarket.
Dewi menatap ke arah Jelly, ia mengelus kepala anjing tersebut, ia benar benar beruntung bisa bertemu dengan anjing seperti Jelly, walaupun masa lalu yang dilewati anjing tersebut sangatlah sulit.
"Jelly, kita terus untuk selamanya ya, sampai maut yang memisahkan kita, kita harus terus bersama. " ucap Dewi.
Jelly menggonggong, Dewi tersenyum dan mengelus kembali anjing tersebut.
"Ayo pulang, sudah mau malam, nanti kemalaman jalan jalannya. " ajak Dewi.
Jelly kembali menggonggong, ia mengikuti Dewi yang berjalan mendahuluinya, kisah keduanya akhirnya terungkap, dan keduanya saling berjanji untuk selalu bersama sampai maut tiba.
......................
Butuh waktu untuk sampai ke apartemen, Dewi beserta belanjaan yang barusaja ia beli kemudian berjalan ke kamarnya, tak lupa ia mengambil kartu aksesnya untuk masuk ke dalam kamar apartemen tersebut, keduanya masuk dan melihat lampu kamar apartemen tersebut hidup.
Dewi juga mencium aroma parfum yang ia kenal, parfum khas yang selalu ia hirup ketika bersama dengan seseorang, ia berjalan ke dalam dan dugaannya benar, itu adalah Gusti.
Mengingat pertengkaran siang hari tadi, keduanya saling tidak berteguran, walaupun keduanya sudah bertatap mata secara langsung, Dewi melipat kedua tangannya dan menatap Gusti dengan tatapan sinis, gadis tersebut tidak lagi merasa gentar ketika bertemu dengan laki laki tersebut.
"Kenapa disini? Om lagi lagi ribut dengan bu Bella? "
"Kamu mengejek saya dengan pertanyaan seperti itu? " tanya Gusti.
Dewi mengerutkan keningnya, bibirnya yang naik ke atas dan dengan tatapan mengejek kemudian menggelengkan kepalanya.
"Tidak, hanya bertanya saja, lagipula saya sebagai penghuni kamar apartemen ini berhak bertanya, kenapa om berada di sini? "
Gusti menghela nafasnya, cukup bersabar ia menghadapi dua wanita hari ini.
"Ya, baik, saya sedang berkelahi dengan istri saya, sekarang saya ingin disini. Saya menumpang di sini. " ucap Gusti.
Dewi tersenyum puas, tebakannya benar, kemudian ia mengganggukan kepalanya dan tersenyum.
"Baik, om bisa menumpang disini, terutama tempat tidur om harus bersama dengan Jelly, karena hanya tersisa sofa saja di apartemen ini. " ucap Dewi.
Dewi membawa belanjaannya ke arah dapur, ia memilih untuk memakan makanan yang baru saja ia beli, dengan perasaan yang sekarang kesal ia memakan makanannya dengan ritme yang tegas, ia sangat tidak senang dengan kehadiran Gusti, tapi mengingat awalnya, ia hanya penumpang di kamar tersebut.
__ADS_1
'Kalau bukan pemilik apartemen ini, mungkin sudah kuusir dia. ' umpat Dewi dalam hati.
...****************...