
...Happy reading š§”...
......................
Beberapa hari telah berlalu, Dewi masih menjalani aktivitasnya seperti semula, hanya saja ia masih mencari informasi lowongan pekerjaan seraya tetap melayani Gusti di waktu luang.
Sesekali Dewi masih tetap mendapatkan bonus dari Gusti, entah karena sudah memuaskan Gusti ataupun sekedar menjadi teman saat meeting.
"Wi, gimana kemajuannya sekarang? Sudah mantapkan sekarang milih jalan ini? " tanya Eni.
"Ya, begitulah, saya melakukannya dengan sukarela dan saya mendapatkan bayaran sesuai yang saya butuhkan. " jawab Dewi.
Tampak ekspresi Eni tidak baik sekarang, karena menunjukkan mimik wajah yang sedang tidak bersahabat.
"Ada apa, Ni? " tanya Dewi.
"Nggak, cuma sekarang badmood aja, soalnya makalah punya aku nggak diterima sama dosen, tuh dosen ganas amat deh pokoknya. " jawab Eni.
Dewi menganggukan kepalanya, ternyata Eni mengeluhkan perihal makalah yang tidak diterima oleh dosennya, Dewi hanya bisa menghibur Eni, dengan memeluk temannya itu dengan menghiburnya.
"Sabar ya, Ni, saya tidak bisa berbuat apapun lagi selain menghibur kamu seperti ini saja. Tenang, saya akan bantu kamu menyelesaikan makalah kamu yang perlu diperbaiki lagi itu, ya? " tawar Dewi.
Eni menganggukan kepalanya, ia cukup terhibur dengan bujukan Dewi barusan.
"Makasih ya udah bantu hibur aku, cukup ringan sekarang rasanya. " ucap Eni.
Dewi menganggukan kepalanya, ia merasa senang dapat membantu temannya yang sedang kesusahan tersebut.
"Mau dipesenin apa, Wi? " tanya Eni.
Dewi berpikir, kemudian ia mengingat sesuatu yang sebelumnya ia ingat, sebuah makanan yang hangat dan nikmat yang sebelumnya ia makan bersama dengan Eni.
"Hotpot saja, Ni, saya sangat menyukai makanan itu sebelumnya. " ucap Dewi.
"Doyan amat sama tuh makanan, okelah, aku pesen dulu makanannya. " ucap Eni.
Dewi hanya tersenyum, sambil membantu Eni menyelesaikan makalah, ia juga sambil menunggu makanan yang dipesan akan segera datang.
......................
Dilain tempat, tepatnya di kediaman Gusti, Gusti baru saja pulang dari pekerjaannya, sudah dua hari sengaja ia berdiam dan pulang ke rumahnya, tujuannya agar ia tidak sama sekali dicurigai oleh Bella, istrinya.
Gusti masuk, ia disambut oleh pelayan rumahnya, kemudian ia mencari keberadaan kedua anaknya.
Sayangnya, baru masuk rumah, ia dikejutkan dengan keberadaan Bella, Gusti paling malas jika ia berhadapan dengan isrinya yang ia anggap seperti orang gila.
"Baru pulang? " tanya Bella.
Gusti berdecak. "Tentu saja, apalagi kalau tidak selain pulang. "
"Sepertinya anda tidak ingat rumah lagi, Gustiawan? "
Gusti mengerutkan keningnya, tidak salah kalau Bella lah sendiri yang tidak pulang sama sekali ke rumah, sehingga meninggalkan kedua anaknya di rumah.
"Sepertinya mata kamu sendiri yang buta, sudah jelas saya sudah dua hari dirumah, setelah kamu tinggalkan anak anak sendiri dirumah oleh dengan beberapa pelayan dirumah. Ingin kamu jadikan anak saya apa, jika sekarang saja kamu berani menelantarkan mereka di rumah sendirian? " tanya Gusti.
"Hanya dua hari, lagipula anak anak sudah besar, saya juga yakin mereka pastinya lebih tahu, bahwa ayahnya sendirilah yang jarang pulang ke rumah. " lawan Bella.
"Saya tidak melupakan rumah saya sendiri, hanya saja saya muak dengan kamu yang selalu menanyakan hal yang tidak penting. Lebih baik saya berjumpa dengan kedua anak saya, daripada harus berpapasan dengan kamu. " ucap Gusti.
Gusti meninggalkan Bella yang berdiri menatapnya, dari bawah tangga, langkahnya diawasi oleh Bella, Bella belum puas untuk bisa melawan Gusti itu sendiri.
Gusti mencari keberadaan kedua anak anaknya, terlihat di ruang playground, kedua anaknya sedang bermain boneka, ia menatap kedua anaknya dengan tatapan lembut dengan senyum yang bahagia, walaupun hubungannya dengan ibu dari anak anaknya sedang tidak baik, setidaknya ia masih melihat kedua anaknya yang masih bisa tersenyum bahagia, walapun ia tahu terkadang keributannya bisa membuat anak bungsunya menjadi ketakutan.
__ADS_1
"Papa? "
Kehadiran Gusti disadari oleh anak sulungnya, Gusti masuk ke ruang playground, ia disambut oleh kedua anak anaknya dan dipeluk.
"Pa, baru pulang kerja ya? " tanya Gita.
"Ya, dan papa mau langsung ketemuan sama kalian, papa kangen banget sama kalian berdua. " jawab Gusti.
"Pa, kenapa papa jarang pulang? Bahkan mamapun begitu, apakah kalian sudah mau melupakan kami? " tanya Gina.
Gusti hanya bisa terdiam, ia tidak dapat mengatakan hal yang sebenarnya, karena anak anaknya tidak boleh tau apa yang ia lakukan saat diluar rumah.
"Anak anak papa, kalian kan tau sendiri kalau papa itu sibuk karena bekerja, itu untuk kalian sendiri kok, papa ingin kalian tidak kekurangan apapun itu, termasuk kasih sayang papa untuk kalian berdua. " jawab Gusti.
Bukannya membuat keduanya senang, Gita dan Gina wajahnya menjadi sedih, ternyata tidak ada waktu sama sekali bisa berkumpul bersama ayah mereka sendiri.
Hal tersebut tentu saja membuat Gusti ikut sedih, ia mengingat sesuatu, bagaimana cara agar kedua anaknya bisa terus bersamanya ketika minggu depan akan berangkat ke luar negeri.
"Begini saja, bagaimana jika kita merencanakan liburan? Dikala papa kerja, kita sambil liburan ke luar negeri sama sama? " tanya Gusti.
Yang diinginkan oleh Gusti akhirnya dapat terwujud, ia membuat kedua anaknya tersenyum kembali, bahkan senyumnya lebih lebar dari sebelumnya.
"Benarkah pah?! Papa nggak bohong kan?! " tanya kedua anak gadis tersebut.
"Tentu saja, sejak kapan papa berbohong pada kalian? Apakah selama ini papa sering berbohong dan tidak menuruti keinginan kalian? " tanya Gusti.
"Apa mama juga ikut bersama kita? " tanya Gina.
"Jika itu maunya kalian, mama juga akan ikut bersama kita. "
Gita dan Gina melompat kegirangan, akhirnya mereka bisa berlibur bersama dengan kedua orangtuanya, karena momen tersebut adalah momen yang sudah lama tidak mereka lakukan bersama, mungkin sudah 4 tahun yang lalu.
Gusti ikut tersenyum, akhirnya kedua anaknya menjadi bahagia, bahkan itu cukup menyembuhkan luka hatinya yang sudah lama terkubur.
"Baik pah, ayo dek. "
Ketiga orang tersebut beranjak pergi dari ruangan playground, mereka menuju ke bawah untuk makan malam bersama.
......................
"Nah, materinya sudah terkumpul, tinggal disalin aja. "
Dewi benar benar membantu tugas makalah Eni, wajah Eni terlihat sangat bahagia, akhirnya tugas yang sebelumnya ditolak sekarang akhirnya diperbaharui.
Tak lama berselang pintu kamar Eni di ketuk dari luar, Eni langsung berdiri dan berjalan ke arah pintu kamarnya.
Makanan yang dipesan akhirnya sampai, Eni berjalan ke arah dapur untuk mengambil tempat makanan, dengan makanan pesanannya ia membawanya ke ruang depan.
"Makan dulu, Wi, sesuai sama pesanan kamu. "
Dewi mendekat ke arah Eni, Eni menghidupkan kompor mininya dan mengajak Dewi untuk segera memakan Hotpot yang telah dipesan.
"Waduh, enaknya rasa makanannya, tidak bosan saya memakannya. "
"Dasar kamu, Wi. " ucap Eni.
Tak lama ponsel milik Dewi berdering, Dewi mengambil ponselnya dan mengangkat telepon tersebut.
"Ibu! Apa kabar disana?! " tanya Dewi dengan penuh semangat.
'Kami baik baik saja disini, kami merindukanmu, nak. ' ucap Taufik.
'Bagaimana kuliahnya disana, Dewina? ' tanya Warsita.
__ADS_1
"Hahaha, baik kok bu, Dewi baik baik di sini, sekarang saja Dewi kuliah sambil kerja. Makasih ya bu, pak, sudah sering-sering nanyain kabar Dewi selama di sini. " jawab Dewi.
'Nak, kapan kamu pulang kesini, nak. '
"Dewi akan usahakan bulan depan untuk pulang ke desa, bu, tunggu Dewi disana ya, pak, bu. " ucap Dewi.
'Baik nak, kami akan selalu menunggumu untuk pulang, nak. '
Dewi melambaikan tangannya, kemudian telepon dimatikan, Dewi memeluk ponselnya dan menaruhnya di lantai kembali.
"Rindu sekali rasanya pada orangtua saya, Ni. " ucap Dewi.
"Nggak papa, Wi, kan sesuai kata kamu tadi, bulan depan bakalan pulang ke desa. " ucap Eni.
................
Malam harinya, Dewi akan melayani Gusti, dan sekarang tempat yang baru, yaitu Villa milik Gusti yang tak jauh dari perbatasan kota.
Dewi duduk di dekat sofa Villa dan menonton televisi, tak lama Gusti menghampiri Dewi dan menidurkan kepalanya di paha Dewi.
"Elus kepala saya, Dewina. " perintah Gusti.
Dewi menuruti perintah Gusti, perlahan ia mengelus kepala Gusti, dan Gusti menikmati elusan tersebut.
Tak lama menikmati elusan, pikiran Gusti mengarah kepada kedua anaknya, barusaja menikmati elusan tersebut mood nya menjadi tidak baik.
'Om..... Om.... '
Gusti ternyata hampir tertidur, ia terbangun dan menatap ke arah Dewi.
"Kenapa setiap om bertemu dengan saya, ekspresi om terlihat sedang tidak baik? " tanya Dewi.
Gusti yang sedang menikmati elusan rambut dari Dewi kemudian membuka matanya, ekspresinya kembali menjadi muram dan tidak bersemangat.
"Tidak, saya hanya mengingat kedua anak saya saja. Terkadang saya seperti ini hanya untuk bersenang-senang, tetapi juga selalu mengingat kedua anak saya dirumah. Maaf, jika saya terkesan curhat dengan kamu, Dewina. "
"Tidak apa om, setidaknya ada sedikit beban yang bisa om lepas ketika bercerita dengan saya. " ucap Dewi.
Gusti menganggukan kepalanya, kemudian menikmati elusan tangan Dewi.
"Saya ingin ke Singapura esok hari, saya juga ingin kamu jadi teman saya di sana. " ucap Gusti.
Dewi menghentikan elusannya, kemudian ia menatap kearah Gusti.
"Tapi apakah om dengan orang lain di sana? " tanya Dewi.
"Tentu saja, saya bersama keluarga saya, tetapi saya akan perintahkan asisten saya disana untuk menjagamu selama kami belum sampai di sana. Keluarga saya akan mengadakan makan malam dan urusan bisnis lain di sana, sedangkan saya akan mengurus urusan bisnis di sana. "
"Singapura? Apakah saya benar-benar menjadi teman om selama di sana? " tanya Dewi.
"Tentu, saya ingin jika saya bekerja di sana, kamu bisa temani saya. " ucap Gusti.
Dewi diam, kemudian berpikir, tangannya di tarik oleh Gusti dan dicium oleh Gusti.
"Tentu saja kamu bisa, Dewina, saya yakin kamu pastinya bisa. " ucap Gusti.
Dewi akhirnya memilih pilihannya, ia menganggukan kepalanya dan menuruti kehendak Gusti.
Saat sedang mengelus kembali, tak lama Dewi ditarik dan posisinya berubah dengan Gusti, Gusti menatapnya dengan tatapan menggoda.
"Saya tidak tahan, kamu begitu mempesona, Dewina... " goda Gusti.
Dewi menganggukan kepalanya, akhirnya ia dan Gusti melakukannya bersama, sampai Gusti merasakan puncak kepuasan saat menikmatinya.
__ADS_1
...****************...