
...Happy reading 🧡...
......................
Suasana malam yang sunyi, tertinggal suara mobil yang berhenti di depan kosan, Gusti mengantarkan Dewi yang sebelumnya ia bawa untuk diajak bermain di hotel, dan sekarang mereka berdua pulang.
"Terimakasih, manis, malam ini kamu sungguh luar biasa, saya sangat menyukai permainanmu itu, Dewina. "
"Ya, saya juga berterimakasih dengan uang yang om berikan, banyak dan saya menyukainya. " ucap Dewi.
"Saya pergi dulu, manis, selamat malam. " ucap Gusti.
Gusti menutup kaca pintu mobilnya, kemudian bergegas untuk pergi dari depan kosan Dewi itu, sementara Dewi masuk menuju ke dalam untuk segera beristirahat.
Seperti biasa, kamar Eni selalu terkunci dari depan, kebiasaan Eni yang pergi malam dan pulang pagi pagi sekali, tetapi itu lebih baik, karena tidak akan ada obrolan panjang lebar di luar kamar.
"Jadi penasaran dengan pekerjaan Eni di luar kamar, sepertinya pekerjaan yang begitu sibuk di luar. " gumam Dewi.
Dewi memasuki kamarnya, kemudian ia menutup pintu kamarnya.
......................
Suara gaduh di luar kamar, bahkan mengganggu pendengaran, Dewi terbangun dan mendengar suara gaduh di luar kamar, ia melihat jam yang ada di ponselnya, masiih menunjukkan pukul 4 pagi.
Suaranya semakin riuh, Dewi menjadi penasaran apa yang terjadi di luar kamar kosnya, ia beranjak dan berjalan menuju ke luar kamar.
Saat keluar kamar, sudah terlihat beberapa orang penghuni kosan yang tengah melihat ke bawah dari balkon lantai dua, Dewi ikut penasaran dan ikut melihat dari atas apa yang sedang terjadi di bawah sehingga pagi pagi buta sudah ada suara riuh gaduh dari bawah.
Terlihat garis polisi terbentang di salah satu kamar, menyisakan suara tangis bahkan teriakan dari bawah, beberapa polisi yang tengah berjaga, dan kedua orangtua yang terlihat menangis di depan kamar tersebut, tak lama kantong berwarna orange keluar dari kamar, ya, ada kasus di kamar tersebut, penemuan jenazah di dalam kamar.
Dewi tidak ingin menebak langsung, ia bertanya dengan penghuni kamar kos lainnya, tepatnya tetangga kamarnya.
"Permisi, sebelumnya ini ada apa ya? " tanya Dewi.
Gadis tersebut menatap ke arah Dewi, kemudian mendekat.
"Penemuan jenazah di kamar bawah, katanya salah satu penghuni kos sini yang abis g*gurin kandungannya terus ninggal, baru ketahuan hari ini, padahal udah dua hari yang lalu meninggal di kamar mandinya sendiri. " jelas penghuni kos lainnya.
Dewi langsung bergidik ngeri, ternyata ada penemuan jenazah perempuan yang habis mengg*gurkan kandungan di kamar mandi, dan baru ketahuan ketika sudah dua hari meninggal.
"Tau ah, takut, balik ke kamar aja. "
Dewi juga ikut merasa takut, ia memilih untuk masuk ke kamarnya, namun saat masih berada di luar kamar, ia takut untuk kembali ke dalam kamarnya dan memillih untuk beralih ke kamar Eni.
Syukurlah kamar Eni tidak terkunci dari luar, Dewi mengetuk kamar Eni, beberapa kali ia mengetuk pintu tersebut kemudian pintu terbuka.
"Oh Dewi, ada apa, Wi, pagi pagi buta gini ngetuk pintu kamar aku? " tanya Eni.
"Saya boleh numpang di kamar kamu, Ni? Soalnya saya merasa takut untuk balik ke kamar lagi. " mohon Dewi.
Eni mengucek kedua matanya yang masih mengantuk, ia menatap ke arah Dewi dan menganggukan kepalanya, Dewi dipersilahkan untuk masuk ke kamar Eni.
"Ada apa sih suara ribut ribut di luar? Berisik banget, ganggu tidur soalnya. "
__ADS_1
"Penemuan jenazah di kamar bawah, Ni, makanya semua penghuni kosan gaduh di luar. " jawab Dewi.
Eni terbelalak, ia mengingat siapa yang meninggal di kamar bagian bawah, itu sepertinya anak didiknya, alias ani ani yang ia punyai, sebelumnya Eni ingat, bahwa muridnya itu sempat hamil bahkan mengadu padanya untuk bisa membantu mengg*gurkan kandungan, sayang, tidak ada keluhan lagi dari anak didiknya tersebut, bahkan Eni menyangka anak muridnya itu memilih untuk kabur atau membungkam diri.
"Kenapa? Ada apa, Eni? "
Dewi menyadari bahwa Eni melamun, bahkan ekspresi wajah cemas terlihat di wajah Eni itu sendiri yang membuat Dewi sampai bertanya.
"Nggak, nggak papa kok, emangnya kenapa? " tanya Eni.
"Tidak, soalnya wajah kamu terlihat panik seperti itu, mungkin saja kamu habis memikirkan sesuatu. " jawab Dewi.
Eni mencoba untuk mengambil nafas, kemudian ia menghela nafasnya untuk mencoba tenang.
"Eni, boleh saya bertanya? " tanya Dewi.
Eni menatap ke arah Dewi, dan ia menaikkan dagunya.
"Nanya apaan? " tanya Eni balik.
Dewi mendadak malu untuk menjelaskannya, namun wajah Eni sudah terlihat menginterogasinya dan menunggu pertanyaannya, membuat Dewi ingin mengurungkan niatnya untuk tidak jadi bertanya dengan Eni.
"Ayo dong, jangan buat aku kesal, ini aku lagi ngantuk berat ya. " ucap Eni dengan nada kesal.
Dewi hanya cengengesan, ia mengaruk kepalanya dan mengambil nafas sebelum bertanya dengan Eni.
"Kemarin saya bermain dengan om Gusti, tetapi saya melihat cairan, seperti cairan putih, itu apa maksudnya, Eni? "
"Dewi, don't kidding me, cairan putih? What da hell...! "
Dewi masih bingung dengan ucapan Eni, apalagi dengan ucapan Eni yang berbahasa lain yang membuat bingung.
"Eni mikir apa ya? Maksudnya cairan putih itu adalah krim yang ada di hotel, tak sengaja terinjak sama aku. " jawab Dewi.
Eni langsung berubah, ekspresinya yang cemas seketika menjadi datar, ia salah tangkap mengartikan ucapan Dewi barusan.
"Terus, kenapa nanya beginian sama aku, kalau tau yang kamu ucapin itu namanya krim?! " tanya Eni dengan nada suara kesal.
"Saya hanya ingin bertanya, itu krim kegunaanya untuk apa ya? Soalnya bisa dikatakan krim itu juga tidak, tetapi dipakai oleh om Gusti sebelum ia bermain. "
Eni memilih untuk diam, sementara Dewi merengek ingin mengetahui krim yang diinjaknya semalam itu apa, Eni tahu bahwa itu adalah l*bricants, dan juga Dewi salah penyebutan warna krim tersebut, jelas saja warnanya bening dan bukan berwarna putih.
......................
"Selamat datang, tuan. "
Gusti disambut oleh pelayan di rumahnya, ia mengangguka kepalanya sambil berjalan menuju ke dalam rumahnya, rumah megah nan lebar itu sangat luas untuk dilangkahi.
"Lagi lagi tidak pulang ya, Gustiawan. "
Gusti tidak meladeni Bella, istrinya itu kerap selalu membuat keributan, tetapi ia memilih untuk mendiamkan Bella yang ingin membuat keributan di pagi hari, Gusti lebih memilih untuk membersihkan dirinya dan pergi kekantor bersamaan dengan mengantarkan kedua anaknya menuju ke sekolah.
Akhirnya Bella sendirilah yang mengejar Gusti, dengan menaiki tangga ia memancing Gusti untuk berbicara, tetapi langkah Gusti semakin menjauh darinya.
__ADS_1
Bella berhasil mengejar Gusti, ia memegang lengan Gusti untuk menahan Gusti, dan Gusti menghempaskan tangan Bella yang menahannya.
"Hei, kenapa anda menghempaskan tangan saya? Salahkah saya sebagai istri anda bertanya anda kemana saja semalaman?! Kenapa anda seolah olah memperlakukan saya seperti orang asing, Gustiawan?! " teriak Bella.
"Hentikan! Kita sudah pisah ranjang! Jangan paksa saya untuk mencintai anda! Ingat, kita adalah hasil perjodohan, jadi jangan harap saya bisa mencintaimu sepenuhnya, Bella! " bentak Gusti.
"What?! Terus, bagaimana dengan saya yang melahirkan anak anak anda?! Bukankah mereka itu hasil cinta kita bersama?! "
"Jangan libatkan anak anak saya, saya tidak menyangkut pautkan ini semua dengan anak anak saya sendiri! Sadar, bahwa saya seperti ini karena dirimu yang berani berselingkuh dengan orang lain! " bentak Gusti.
Bella sedikit menjauh, ia terkejut dengan ucapan Gusti yang mengungkit ungkit masa lalunya, kemudian ia menhela nafasnya, bukan tanda ia akan menyerah dengan perdebatan yang sudah ia ciptakan sebelumnya.
"Oke, anda berani mengungkit masa lalu saya. Kalau begitu, bagaimana dengan diri anda, selalu pulang malam, apakah anda punya simpanan, tuan Khairul Gustiawan? " tanya Bella.
Gusti tak mampu berkutik, bahkan ia terdiam, ia tidak bisa berbicara banyak selain hanya membentak untuk menghentikan perdebatan.
"Sudah, berdebat denganmu hanya membuat saya sakit kepala saja! Kamu seperti menyumpahi saya untuk mati cepat saja! "
"Kenapa tidak menjawab? Berarti benar kan?! " bentak Bella.
"Hentikan, atau kamu akan menyesal sendiri jika saya akan bertindak kasar padamu! " tegas Gusti.
Tak lama, anak bungsu mereka, Gina, menghampiri kedua orangtuanya dan menjadi penengah keributan kedua orangtuanya, walaupun nafasnya tersengal sengal karena panic attack nya yang menyerangnya.
"Papa, Mama, hentikan keributan ini... Bukannya kemarin saat berada di Singapura, kita seperti keluarga yang harmonis tanpa ada keributan seperti ini? Apa sebelumnya itu semua hanya gimmick semata? " tanya Gina dengan penuh air mata.
Bella langsung menarik lengan anaknya, kemudian ia memukuli lengan anaknya hingga membuat Gina berteriak, tentu saja hal tersebut membuat Gusti murka, karena Bella berani menyakiti anaknya, satu layangan tamparan melesat di wajah Bella.
"Apa kamu lupa yang sebelumnya pernah kuucapkan? Jika kamu berani menyakiti anak anakku di depan mataku, akan kuhabisi kau tanpa ampun! " tegas Gusti.
Gusti merangkul anaknya, ia meninggalkan istrinya yang terdiam karena sehabis ia menampar istrinya itu.
Baru kali itu akhirnya Bella mengeluarkan air matanya, karena Gusti baru pertama kali akhirnya menamparnya.
......................
Di kampus tepatnya, Dewi baru keluar dari ruangan, ia menghela nafas malas, karena makalah yang dipunyainya tidak diterima sama sekali, banyak kesalahan di setiap ketikannya, membuatnya menjadi tidak bersemangat untuk melakukan apa apa, perjuangannya terasa tidak dihargai.
Dewi akhirnya merasakan menjadi Eni sebelumnya, tetapi ia hanya bisa pasrah, mungkin ia akan meminta bantuan Eni untuk kali ini, seperti sebuah simbosis mutualisme.
Tak lama ponsel Dewi berdering, Dewi merogoh tasnya kemudian mencari keberadaan ponselnya di dalam tasnya, akhirnya Dewi berhasil menemukan ponselnya dan mengangkat telponnya, tepatnya nomor orangtuanya yang sedang menghubunginya.
"Halo pak, bu, ada apa? " tanya Dewi.
'Wi, ibu ingin memberitahukan sesuatu dengan kamu, nak. '
Dewi mendengar nada suara orangtuanya, tepatnya ibunya yang terdengar resah, itu juga membuatnya menjadi ikut ikutan resah.
"Ada apa, Bu? Jangan membuat Dewi takut, cepat beritahukan, apa yang sedang terjadi pada kalian berdua disana? " tanya Dewi cemas.
'Seseorang mengatasnamakan bapak dan ibu untuk membayar hutang rentenir, nak, sementara tadi siang bapak dihajar orang orang rentenir nak, mereka memaksa kami untuk membayar hutang yang sebelumnya tidak kami punyai, kami takut disini, nak... '
***********
__ADS_1