
...Happy reading š§”...
......................
"Wi, kamu hamil. "
Seperti petir yang menyambar, Dewi tidak percaya dengan hasil tersebut, menyatakan bahwa dirinya tengah hamil.
"Eni, ini tidak lucu, saya tahu kamu ingin iseng dengan saya, kan? "
Eni hanya diam, dengan wajah panik dan cemas bersatu, Dewi juga ikut diam dan mulai menunjukkan ekspresi cemas juga.
"Ni, kamu cuma bercanda saja, kan? " tanya Dewi.
"Wi, aku aja nggak percaya kalau kamu begini... "
Dewi akhirnya cemas, sementara Eni langsung mendekat dan mencekam kedua bahu Dewi.
"Wi, kamu kok bisa begini sih? Kamu nggak antisipasi dulu kek, kamu jarang ya minum vitamin yang aku kasih itu sama kamu?! "
Mata Dewi sudah tergenang air mata, ia menggelengkan kepalanya dan akhirnya air mata itu menetes, ia bercampur dengan kecemasan dan kondisinya sekarang.
"Dewi, kok bisa gini sih?! Astaga.... "
Suara menyerah dari Eni terdengar, ditambah lagi Eni yang menggeram dan berteriak histeris, membuat Dewi akhirnya menangis dan ia tidak menyangka dengan hal yang terjadi padanya.
"Bagaimana dengan keadaan saya ini, Eni? Tidak mungkin saya harus hamil, sementara saya tinggal sangat jauh dari kedua orangtua saya? Saya tidak ingin jika bapak dan ibu saya melihat saya yang menghampiri mereka dengan perut yang membesar! " tanya Dewi dengan tegas.
"Nggak tau, aku nggak tau mau akalinnya gimana lagi, Wi. Sekarang, kita pastiin ke rumah sakit untuk periksa, aku yakin pasti alatnya salah. "
Dewi menahan tangan Eni, ia menggelengkan kepalanya, ia menghentikan Eni yang mengajaknya ke rumah sakit untuk memeriksa keadaannya.
"Ngapain? " tanya Eni.
"Jangan, saya malu jika orang tahu dengan saya yang sedang hamil, saya malu, Ni. " jawab Dewi.
Dewi dengan air matanya yang sudah menggenang ia menggelengkan kepalanya, ia meminta Eni untuk tidak membawanya ke rumah sakit.
"Ada masker, kamu pake aja, yang penting kita periksa dulu baru nanti laporan sama om Gusti. Kita perlu bukti, biar dia juga ikut bantu kamu buat selesaiin masalah ini. " ucap Eni.
Dewi hanya diam, ia sesenggukan dan menganggukan kepalanya, setidaknya sudah ada jalan keluarnya untuk memeriksa keadaannya yang sebenarnya.
"Oke, semua surat surat punya kamu dibawa, soalnya bakalan digunain untuk daftar pemeriksaan nanti. " ucap Eni.
Dewi membawa surat surat yang diperintahkan oleh Eni, tetapi berbagai surat lainnya yang diperlukan malah ikut dibawa oleh Dewi, Eni menggelengkan kepalanya.
"Kamu bisa nggak kalau sekarang nggak main main sekarang? Ini lagi serius loh, Wi. " tanya Eni.
"Saya tidak bermain main, Eni, saya sekarang tengah bingung, kamu bantu saya untuk memilih surat surat yang dibutuhkan. " ucap Dewi.
Eni membantu Dewi untuk memilih surat surat yang dibutuhkan, selesainya mereka segera berkemas dan berencana untuk pergi ke rumah sakit.
......................
"Kamu pokoknya disini, aku bakal daftarin kamu. " ucap Eni.
Dewi menganggukan kepalanya, ia duduk di kursi tunggu dan melihat Eni yang membawa surat surat yang diberikannya.
Dewi merenung, ia memegang perutnya, tak percaya baginya yang sudah dipuncak seperti yang ia alami, karena ia yang sekarang harus menghadapi masa masa sulit seperti sekarang.
"Kenapa aku bisa sampai disini? " gumam Dewi.
Tak lama Eni kembali, dengan salah satu suster yang berada di samping Eni, Dewi berdiri dan menganggukan kepalanya.
"Kenapa ngangguk ngangguk? Aku belum ngomong tau. " tanya Eni.
"Eh, maaf. " jawab Dewi.
"Yaudah, sekarang kita ke ruang spesialis kandungan. " ajak Eni.
Dewi mengikuti Eni, keduanya bersama dengan suster menuju ke ruangan spesialis.
Di dalam ruangan, suster menunjukkan pasien yang akan diperiksa, tepatnya Dewi, Dewi diarahkan menuju ke kasur untuk segera diperiksa.
"Suaminya dimana? " tanya dokter yang sedang memeriksa.
Dewi membeku, ia merasa bingung ingin menjawab pertanyaan tersebut, karena ia tidak tahu ingin beralasan seperti apa untuk sekarang.
"Suaminya ada, lagi kerja, sekarang saya yang kebetulan nemenin. "
Eni menjawab pertanyaan tersebut, dengan alasan bahwa pasangan Dewi sedang bekerja, padahal fakta yang sebenarnya tidak seperti itu untuk sekarang.
Tampaknya dokter kandungan tersebut kurang percaya dengan alasan tersebut.
"Sepertinya alasannya tidak valid, adiknya belum menikah, bukan? "
Akhirnya Eni dan Dewi menjadi terdiam, keduanya tidak bisa beralasan lagi, karena dengan spontan dokter tersebut langsung menebaknya dengan benar.
"Jangan panik, saya akan jaga privasi pasien. Kalian bisa memeriksa kandungan, asalkan tidak meminta dengan saya untuk mengajukan ab*rsi, ilegal. "
Eni sedikit tersentil dengan pernyataan tersebut, ia mengumpat dalam hati, karena dokter tersebut menyinggungnya.
"Umur ibunya berapa? " tanya dokter.
"Baru masuk 20 tahun, dok. " jawab Dewi.
"Begitu ya? Masih muda ternyata, tapi tidak apa, umurnya sudah termasuk produktif untuk hamil. "
Guyonan dari dokter tersebut tidak membuat Dewi tenang, ia secara langsung harus ditanyai umurnya dan statusnya, karena ia tidak mengerti apa apa selain hanya menjawab dengan jujur.
"Boleh dibuka sedikit ya? " tanya dokter tersebut.
Dewi menganggukan kepalanya, perutnya dioleskan dengan gel, kemudian ia melihat alat yang akan ditempelkan di perutnya.
Dewi sebenarnya merasa sedikit geli, namun ia sambil diarahkan di layar untuk melihat kondisinya.
"Lihat? Itu calon bayinya. "
Dewi tidak ingin melihatnya, ia sengaja menulikan pendengarannya dan membutakan pengelihatannya, ia menunjukkan kode kode kepada Eni, ia ingin progres ini dipercepat semestinya ia tidak ingin terus ditanya, ia tidak nyaman dengan kondisi di dalam ruangan, dan lebih tepatnya kondisinya yang akan dijelaskan dengan detail dalam bentuk bukti yang ditunjukkan.
__ADS_1
"Dok, bisa periksanya agak cepatan sedikit? Soalnya ibunya udah nggak nyaman itu. " tanya Eni.
"Baik, sebentar ya, kita lihat kondisinya, apa-- "
"Cepat sedikit, dok! " tegur Dewi.
Dewi akhirnya mengeluarkan suara, ia menegur dokter yang sedang memeriksa tersebut, dan akhirnya dokter tersebut mengerti dengan permintaan Dewi barusan.
"Saya ingin meminta fotonya, boleh? " tanya Dewi.
"Baik, hasilnya akan saya berikan dengan buku panduannya. " jawab dokter.
Selesainya memeriksa kandungan, Dewi dan Eni duduk dan mendengarkan apa yang disampaikan oleh dokter, terutama hal tersebut mengarah dengan Dewi lebih tepatnya, meminta Dewi untuk tidak bertindak nekat selama kehamilan yang masih terbilang muda, Dewi juga hanya menganggukan kepalanya, agar ia cepat untuk pergi dari ruangan tersebut.
"Fotonya biar aku pegang, kamu nggak mau sama sekali untuk nyimpen foto ini kan? " tanya Eni.
Dewi menganggukan kepalanya, ekspresi sayu itu yang bisa menjelaskan kondisinya sekarang, bahwa ia tidak menginginkan bukti berupa foto tersebut dengan ia yang akan memegangnya.
"Sebelumnya, saya berterimakasih dengan kamu, Eni, dengan begini akhirnya saya tau, pesan kedua orangtua yang saya langgar dan saya akhirnya mendapat imbasnya. Sekali lagi, terimakasih. "
Eni merasa bahwa Dewi yang kecewa dengannya, bahkan Dewi meninggalkannya yang terdiam dengan foto hasil pemeriksaan kandungan milik Dewi.
Kemana Dewi pergi? Dewi sengaja meninggalkan Eni yang masih berada di rumah sakit, ia berjalan ke taman dan mencari tempat yang jauh dari keramaian, setidaknya masih berada di dekat taman bermain anak anak.
Salah satu bangku Dewi tempati, ia menghela nafasnya dan mengusap kasar wajahnya, ia benar benar bingung dengan keadaannya sekarang, karena ia yang harus mengalami pengalaman yang seharusnya tidak harus ia rasakan sekarang, yaitu ia yang akhirnya hamil.
Dewi tidak dapat menahan rasa di benak hatinya, ia akhirnya menangis tersedu sedu dengan apa yang terjadi dengannya.
Dewi membenci situasi ini, karena ia harus menanggung perbuatannya sebelumnya, ia mengutuk dirinya yang bodoh hingga sekarang akhirnya ia hamil.
Salah satu bola menyentuh kakinya, Dewi yang tengah menangis kemudian melihat bola yang menggelinding di kakinya, ia juga mendengar langkah kaki yang mendekat ke arahnya.
"Tante, bola..... "
Seorang anak kecil berlari ke arah Dewi, anak kecil laki laki yang terlihat berumur 5 tahun itu meminta bola yang menggelinding tersebut, Dewi mengusap air matanya dan mengambil bola tersebut.
"Ini, ambil. "
Dewi menyerahkan bola yang menggelinding di kakinya, kemudian anak kecil tersebut meraih bola tersebut di pelukannya.
"Terimakasih, tante. "
Langkah kecil yang tengah berlari itu kemudian membawa bola tersebut menjauh dari Dewi, Dewi melihat anak tersebut berlari ke perkumpulannya kembali dengan tatapan sayu.
"Apakah calon anak ini akan seperti anak itu? Kecil dan polos, akan berkembang seperti itu? " gumam Dewi sambil bertanya pada dirinya sendiri.
Dewi menggelengkan kepalanya, ia terlalu jauh untuk berpikir seindah itu.
"Sayang sekali, calon anak ini tidak akan seberuntung anak kecil itu, karena anak ini merupakan dari kesalahanku dan om Gusti. " tolak Dewi.
......................
Suasana malam yang sangat dingin, bahkan rasa dingin tersebut dapat menusuk ke kulit.
Dewi pulang dengan menggosokkan lengannya, ia merasakan kedinginan pada dirinya, menuju ke kosan ia berjalan dengan menggigil.
Dari depan gerbang terlihat satpam dan seekor anjing yang tengah duduk, itu adalah pak Danu dan Jelly yang sedang duduk menatap ke luar gerbang, entah apa yang dilihat selain mobil maupun motor yang melintas di depan kosan tersebut.
Jelly langsung menyambut Dewi, dengan gonggongan menyapa ia mendekat dengan Dewi dan mengelus kaki Dewi dengan bulu bulu kuning lebatnya itu.
"Maaf pak, kebetulan saya habis pulang dari taman, rasanya kurang jika sehabis sakit untuk tidak berkeliling di sekitar kota. " jawab Dewi.
"Gimana si eneng ini? Kalau sakit, istirahat, bukannya keluyuran, neng. " ucap pak Danu.
Dewi hanya tersenyum, ia berterimakasih dengan pak Danu yang sudah menjaga Jelly selama ia berada di luar kosan untuk memeriksakan dirinya.
Langkahnya menuju ke atas menambah hatinya untuk berpikiran buruk, ia merasakan bingung, sedih dan kesal di dirinya, karena masih teringat hal yang terjadi dengan dirinya.
Dewi menutup pintu kamarnya, ia juga merasa bahwa tidak ada keberadaan Eni di sebelah kamarnya, namun Dewi tidak peduli dan memilih untuk mengganti bajunya dan segera tidur, karena ia benar benar merasa lelah.
Saat ingin menutup matanya, secara tiba tiba Dewi merasakan mual, ia berlari ke kamar mandi untuk segera mengeluarkan isi di dalam peluhnya, ia membuang semua rasa mualnya di kamar mandi.
Di tempat lainnya, tepatnya di tempat hiburan sejuta umat, terlihat wanita dengan pakaian modis yang tengah berjalan dengan tas mewahnya, menghampiri seseorang yang tengah duduk bersantai di sofa yang berada tak jauh dari tempatnya melangkah.
"Gusti, bisakah kita berbicara sekarang? Ini penting. "
Eni sedang menghampiri Gusti, Gusti yang tengah bersantai itu kemudian menaruh gelasnya di meja, dan menatap ke arah Eni.
"Ini perlu dibicarakan disini, atau-- "
"Kita butuh ruang, hanya empat mata saja. " ucap Eni.
Gusti menganggukan kepalanya, akhirnya ia mengikuti keinginan Eni, keduanya mencari tempat yang khusus untuk tempat pembicaraan yang cocok untuk sekarang.
Tepatnya di ruangan khusus, Gusti dan Eni memasuki ruangan tersebut, ruangan yang hanya diisi oleh orang orang yang tidak ingin berbaur, tetapi tetap merasakan suasana pesta di luar, keduanya memilih tempat yang sudah ditentukan.
"Katakan, apa pembahasan dalam pembicaraan ini? " tanya Gusti.
Eni meneguk liurnya, sedangkan Gusti menuangkan minuman di gelasnya, meminumnya seraya menunggu Eni yang akan memulai pembicaraan tersebut.
"Dewi hamil. "
Gusti tersedak, sementara Eni hanya menutup matanya dan menghela nafas panjang, keduanya pastinya tidak percaya dengan ucapan tersebut.
"Bagaimana bisa? Apa kamu tidak sama sekali memberikan obat pada Dewi sebelumnya?! " tanya Gusti dengan tegas.
"Saya tidak tahu sama sekali, saya yakin anda tidak mengantisipasi kondisi anda dan Dewi malam itu, karena kalau dilihat Dewi sudah jarang mengonsumsi obat itu lagi. Jadi, tidak mustahil Dewi bisa kebobolan seperti ini. " jawab Eni.
Gusti gusar, nafasnya sudah membara, ia ingin mengamuk di ruangan tersebut tetapi tidak bisa, ia memilih melemparkan gelas kaca yang ia pegang dan dilemparkan ke lantai, suara nyaring gelas tersebut hampir menggema di ruangan tersebut.
"Tidak, tidak mungkin seperti ini, agh sialan! " geram Gusti.
"Mau bagaimanapun, aku akan memberitahukan hal ini terlebih dahulu dengan kamu, sebelum kamu memutuskan apa yang akan dilakukan, Gustiawan. " ucap Eni.
Gusti duduk, ia menghela nafas dan kembali menuangkan minumannya, tetapi Eni langsung mengambil botol minuman tersebut untuk menjauh dari Gusti.
"Saya butuh jawaban dari orang yang masih sadar, bukan jawaban dari orang yang mabuk! " tegas Eni.
Gusti menutup matanya dan menarik nafasnya. "Baik, saya akan ajak Dewi untuk mengg*gurkan kandungannya di luar negeri. "
__ADS_1
Eni cukup terkejut dengan pernyataan tersebut, padahal sudah biasa baginya dalam menghadapi masalah tersebut yang dialami oleh anak anak didiknya, dan mengalihkannya untuk mengurusnya ke luar negeri.
"Besok bawa Dewi dengan saya, biarkan saya mengurusinya. " ucap Gusti.
"Baik, Dewi akan bertemu dengan kamu besok, kuharap kamu jangan kabur, atau kamu dan aku akan hancur bersama. " ucap Eni.
Eni membawa tasnya, sebelumnya ia mengeluarkan bukti bukti yang ia bawa, Gusti tidak ingin melihatnya dan memilih untuk Eni bawa pulang, karena dengan melihat bukti tersebut akan membuatnya tambah stress.
Gusti mengambil minuman yang sebelumnya diambil oleh Eni, menuangkannya ke dalam gelas, kemudian kembali meminumnya kembali.
Satu tegukan tersebut Gusti lakukan, semakin banyak tegukan maka itulah yang membuatnya akhirnya roboh, Gusti sengaja merobohkan dirinya untuk bisa lari sebentar dengan masalah baru yang ia hadapi sekarang.
"Dewina, kamu gadis desa yang polos, tapi bodoh... "
......................
Keesokan harinya Dewi terbangun dari tidurnya, ia terbangun karena kakinya yang tiba tiba merasa kram, itu menyakitkan dan membuatnya secara tiba tiba langsung terbangun.
Jelly ikut terbangun, karena Dewi yang membuat gerakan spontan, dan itu membuatnya terbangun dari tidur kemudian melihat Dewi.
"Jelly, maaf jika saya membangunkanmu. " ucap Dewi.
Tiba tiba pintu kamar Dewi diketuk dari luar, Dewi bangkit dari tempat tidur dengan kakinya yang masih terasa nyeri karena pasca kram kakinya yang menyerangnya.
Dewi membuka pintu kamarnya, Eni secara tiba tiba masuk dan melihat Dewi dengan tatapan mencari sesuatu.
"Eni, ada apa? " tanya Dewi.
Eni mencekam kedua bahu Dewi, dan membalikkan Dewi kemudian mendorong Dewi menuju ke belakang.
"Sekarang kamu siap siap, kita bakalan ketemu sama seseorang sekarang. " ucap Eni.
Dewi masih merasa bingung, sedangkan Eni membantunya untuk berkemas, Dewi meminta Eni untuk menunggunya di luar sementara ia yang akan segera bersiap siap untuk berkemas.
Menunggu beberapa menit untuk siap, akhirnya Dewi selesai, Eni melihat Dewi dan berjalan mendahului Dewi.
Dewi dengan Jelly yang mengikutinya, ia turun ke bawah dan mengikuti Eni untuk bertanya apa yang sedang terjadi, dan akan bertemu dengan siapa.
Tujuan Dewi dan Eni sebenarnya mengarah ke taman, Dewi merasa aneh ketika Eni yang mengajaknya, tak lama dari kejauhan kedua gadis tersebut melihat ke siluet seseorang, dari belakang familiar dan membuat Dewi ngeh akan sesuatu, itu adalah Gusti.
"Eni, kenapa om Gusti kebetulan ada di sana? " tanya Dewi.
"Samperin, ada hal yang perlu kalian bicarakan berdua, kamu samperin om Gusti nya disana. " jawab Eni.
Dewi merasa tidak sabar, langkahnya begitu lebar untuk segera menghampiri Gusti, ia akhirnya sampai dan menghampiri Gusti.
"Om, om ingin meninggalkan saya? " tanya Dewi khawatir.
Belum saja Gusti menjawab Dewi sudah memotong pembicaraan, ia meminta Dewi untuk diam dan mendengarkannya.
"Tidak, saya tidak meninggalkan kamu sekarang. Saya akan bantu kamu untuk sekarang, karena sebelumnya saya sudah dicurigai oleh istri saya sendiri, apalagi sekarang kamu tahu tahu sudah hamil begini sama saya. " jawab Gusti.
"Bagaimana? Apakah harus saya melahirkan anak ini, om? Saya takut, saya masih muda, saya belum menikah, tetapi saya sudah hamil begini, om. Saya takut jika kedua orangtua saya mengetahui saya seperti ini, saya takut sekali, om... " lirih Dewi.
Gusti menarik nafasnya, kemudian ia menghela nafasnya dengan kasar.
"Ayo ke luar negeri, kita ajukan permintaan untuk ab*rsi. "
Dewi terkejut, ia tidak menyangka bahwa jawaban tersebut tak lain akan memb*nuh nyawa lainnya.
"Om, om ingin saya untuk memb*nuh calon bayi ini? " tanya Dewi tak percaya.
"Tidak ada yang dapat kita lakukan selain ini. Kita akan ajukan ab*rsi di luar negeri, saya dan kamu, bukan lainnya yang akan menghadapi ini. " ucap Gusti.
Dewi masih ragu, ditengah ragu, bimbang dan takut dapat ia rasakan, bagaimana jika bayi yang masih mungil akan dib*nuh dengan cara yang belum sama sekali ia rasakan.
"Kenapa? " tanya Gusti.
"Saya takut, om, saya takut, karena ini bersangkutan dengan nyawa. " jawab Dewi.
Gusti menggelengkan kepalanya, ia memegang kedua bahu Dewi, dan menatap Dewi dengan tatapan tajam, itu membuat Dewi menjadi takut.
"Dewina, ini pilihan terakhir kita, jangan sampai dengan hadirnya calon bayi itu dapat membuat saya dan kamu akhirnya ketahuan dengan Bella istri saya, saya juga tidak ingin seorang bayi lahir tanpa ada hubungan apapun, mengerti? " ucap Gusti.
Ucapan Gusti menusuk, namun itulah kenyataannya, bahwa kedua pihak sama sama panik dan tidak ingin bertanggungjawab, ditambah lagi jika Bella, istrinya Gusti, akan mengetahui hal ini, bisa saja nanti akan berdampak untuk keduanya.
"Pertimbangkan hal itu, Dewina, saya minta jangan ada kata menolak untuk hal ini, karena saya murni tidak ingin seorang bayi dengan darah saya lahir dari rahimmu, Dewina. " ucap Gusti.
Lagi lagi ucapan yang menusuk terdengar lagi di telinga Dewi, kata kata menyakitkan itu kembali menusuknya.
Gusti meninggalkan Dewi yang terdiam kaku di taman, sedangkan Eni menghampiri Dewi yang terkaku diam.
"Wi, are you okay? " tanya Eni.
Dewi menggelengkan kepalanya, tetesan air matanya tak dapat berbohong, ia menangis dengan pernyataan tersebut dan memilih untuk meninggalkan taman.
......................
Setelah beberapa hari berlalu, Gusti sudah mengatur semuanya, dimulai dari keberangkatan hingga memesan jadwal dengan dokter di luar negeri, Gusti ingin semua berjalan dengan lancar tanpa seorangpun tahu, kecuali Dewi.
Disaat pengajuan sedang berjalan, terus terusan Dewi bertanya kabar dengan Gusti, ia masih khawatir jika keberangkatan ke luar negeri itu bisa saja dibatalkan, karena ia dan Gusti mempunyai rencana untuk mengajukan ab*rsi di luar negeri.
Gusti saja sampai pusing yang terus terusan menerima pesan dari Dewi, ia seperti dikejar kejar oleh seseorang, tetapi ia akan bersikap tenang tanpa gegabah.
Namun seperti layaknya b*ngkai, disimpan rapat maka baunya akan tercium juga, ditambah lagi insting dan pemikiran yang pintar, Bella bisa melihat keanehan dan keganjilan yang disembunyikan oleh suaminya, bahkan ia menyewa seseorang untuk bisa membongkar apa yang sedang disembunyikan oleh Gusti itu sendiri.
Mungkin karena pemikiran yang benar benar kosong dan kacau, sampai saja Gusti melupakan ponselnya yang masih hidup itu dibiarkan di meja nakas kamarnya, tentu saja hal tersebut tidak bisa dilewatkan oleh Bella, Bella akhirnya memegang bukti tersebut.
"Tidak, besok akan dimulai, dan kamu atur semuanya, Ruben. "
Gusti mengatur jadwalnya dengan asistennya, sedangkan asistennya menjalankan perintahnya, Gusti menghela nafasnya dan berjalan kembali menuju ke kamarnya.
Pintu yang terbuka, Gusti menyadari sesuatu, seseorang memasuki kamarnya, tentu saja ia panik dan segera berlari ke dalam kamar, karena mengingat ponselnya yang belum sama sekali ia matikan.
"Om, bagaimana dengan berangkatnya? Jangan sampai dibatalkan, saya takut atas kehamilan ini... "
Suara yang Gusti kenal, benar, Bella dengan ponsel miliknya yang berada di tangan istrinya itu terlihat menyala, dan Bella membacakan pesan baru yang tersampaikan oleh istrinya.
"Ternyata benar, saya tidak salah bukan, tuan Gusti? " tanya Bella.
__ADS_1
Gusti hanya diam, wajahnya begitu panik, karena Bella sudah membongkar kebusukannya, dengan bukti perselingkuhannya dengan Dewi yang tak tahu didapatkan darimana semua bukti itu, dan bukti cek kehamilan milik Dewi.
...****************...