Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)

Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)
Eps 28: Saya juga butuh kebebasan, Om!


__ADS_3

...Happy reading 🧔...


......................


Setelah beberapa hari tragedi kemarahan itu terjadi, Gusti tidak seperti biasanya, ia banyak diam dan ekspresinya tidak mendukung, ia juga terkadang bergumam dan mengumpat, tampak kesal dengan sesuatu yang ia ingat.


Gusti tidak hangat seperti sebelumnya, bahkan saat istrinya memulai keributan, ia tidak peduli dengan apa yang diucapkan dengannya, memulai perdebatan saja membuatnya terkadang kesal bahkan ingin sekali ia berbuat kasar.


"Papa, apakah bisa menemani kami ke rumah oma? " tanya Gina.


Gusti menatap anaknya dengan tatapan penuh benci, padahal tidak sama sekali anaknya melakukan kesalahan apapun dengannya.


"Pergilah sendiri, papa sibuk. " ucap Gusti.


Gusti meninggalkan anaknya, Gina yang pastinya tidak terbiasa melihat papanya yang berubah pastinya terkejut, jarang sekali ia melihat papanya sedingin itu dengannya.


"Pa, apakah-- "


"Gita, dan juga Gina, papa minta kalian jangan mengganggu papa terlebih dahulu, lakukan tugas sesuai keinginan kalian sendiri tanpa mengganggu papa. Papa sibuk. " ucap Gusti.


Gita mengerutkan keningnya, sementara Gusti pergi meninggalkannya.


"Kak, papa mengapa hari ini berbeda dari biasanya? Bahkan, dia sempat memarahi kakak. " tanya Gina.


Gita memeluk adiknya, ia menenangkan adiknya yang hampir ingin menangis.


"Tidak apa apa, mungkin papa banyak kerjaan, makanya dia nggak sengaja marah sama kita, dek. " ucap Gita menenangkan Gina.


......................


'Dewi, kami harus menunggu dimana, nak? '


Dewi mengemasi barang barangnya, rencananya ia akan pulang ke desa, karena ia sebelumnya sudah berjanji akan pulang ketika sebulan sudah berada di kota.


"Barang barang Dewi lumayan banyak, apa Dewi minta bantuan Firdaus saja ya? "


'Firdaus akan pergi ke kota lusa, nak, sepertinya akan lama jika kamu akan kesini. '


"Sepertinya iya, kalau Dewi minta tolong Firdaus, lusa dia baru ada di kota mengantarkan borongan nya. " ucap Dewi.


Eni mengangkat barang barang yang sebelumnya disusun oleh Dewi, ia ikut membantu Dewi untuk membereskan barang barang yang ingin dibawa.


"Iya, akan Dewi pikirkan nanti, kalaupun tidak ada pilihan lain, maka menyewa mobil sayur akan jadi pilihan Dewi. " ucap Dewi.


Dewi mematikan ponselnya, ia melanjutkan membereskan barang barangnya, tak butuh waktu lama, Dewi selesai membereskan barang barangnya dan duduk bersama dengan Eni.


"Gila sih, mau pulang ke desa kayak pindahan aja, mana hampir setengah barang di kosan juga yang mau dibawa. " ucap Eni.


"Sebagian barang barangnya ingin saya taruh di rumah saja, karena saya tidak ingin saat lulus, barang barang banyak tertinggal disini, termasuk pemberian om Gusti. " ucap Dewi.


Eni menganggukan kepalanya, ia mengingat sesuatu.


"Eh Wi, btw, om Gusti kemana aja sih beberapa hari ini? Soalnya jarang lagi tuh ponsel kamu nerima panggilan dia? " tanya Eni penasaran.


Dewi mencoba berpikir, ia mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya.


"Oh ya, saya baru ingat. Sebelumnya, om Gusti dengan rekan kerjanya ada perseteruan, saya tidak terlalu menyimak, tetapi saat terakhir bertemu tepatnya saat pulang, om Gusti suasana hatinya sedang tidak baik. " jelas Dewi.


"Loh, sekarang gimana? " tanya Eni sekali lagi.


"Tidak tahu, saya saja tidak tahu dengan kondisi om Gusti sekarang, saya juga tidak ingin mengganggu om Gusti terlebih dahulu. " jawab Dewi.


Eni memanyunkan bibirnya, bersamaan dengan ia yang masih penasaran dengan cerita dari Dewi.


"Ulangtahun nggak mau ngasih tau, masalah om Gusti juga nggak mau ngasih tau, mau hidup privasi apa? "Ā  tanya Eni.


"Tidak, memang itu kenyataannya, saya tidak tahu bagaimana perkembangannya om Gusti sekarang, Ni. " jawab Dewi.


"Nggak seru ah, skip aja. "


Pintu kamar Dewi diketuk dari luar, pemilik kamar yang pastinya bangkit dan melihat siapa yang mengetuk pintu kamarnya.


"Permisi, apa ini benar kamar atas nama Dewina Ayunda Ningsih? "


Ternyata yang mengetuk pintu kamarnya adalah pengantar paket, Dewi menganggukan kepalanya.


"Ya, saya Dewi. Sebelumnya, ada apa ya? " tanya Dewi.


"Kiriman paket atas nama Firdaus Firmansyah, dengan nama penerimanya Dewina Ayunda Ningsih. " jawab kurir tersebut.


Jarang sekali Dewi menerima hadiah dari Firdaus saat hari ulang tahunnya, bahkan kotak yang ukurannya lumayan besar.


"Taruh saja di dalam. " ucap Dewi.


Kurir tersebut masuk dan mengangkat kotak tersebut ke dalam kamar Dewi, selesai menaruhnya Dewi mengucapkan terimakasih dan menutup pintu kamarnya.


"Cieee, baru tau sekarang dekat sama yang namanya Firdaus, siapa tuh Firdaus? " tanya Eni.


"Oh, dia sepupu saya, baik sekali dia memberikan hadiah untuk hari ulang tahun saya. Kita lihat, apa yang diberikan oleh sepupu saya. " jawab Dewi.


Eni lagi lagi ekspresinya berubah, karena ia tidak mendapat keinginan sesuai dengan pemikirannya, seperti sekarang saat ia berpikiran aneh aneh.


"Wah, baju! "


Dewi mengambil baju yang berada di kotak besar tersebut, beberapa baju lainnya masih berada di kotak tersebut dan ia mengeluarkannya satu persatu.


Dimulai dari baju, beberapa potong baju, kemudian bermacam-macam jenis snack makanan, dan peralatan makan juga berada di dalam kotak tersebut, bagi Dewi, Firdaus sangat niat hingga semua yang berguna diberikan kepadanya.


"Saya perlu memberitahukan hadiah yang diberikannya, semoga saja ia tahu dan senang jika hadiahnya sudah diberikan untuk saya. "


Dewi mengambil ponselnya, kemudian ia mencari nomor Firdaus dan mencoba menelponnya.


Sayang, ditunggu hingga beberapa menit, tetapi tidak diangkat, Dewi yakin bahwa saat siang hari saat di desa, Firdaus pasti sedang memancing hingga waktu petang tiba.


"Saya lupa, bahwa sepupu saya kalau siang hari tidak bisa dihubungi. "


Dewi meletakkan ponselnya di lantai, sementara ia harus bersiap siap pergi ke kampus, karena ia ada kelas untuk hari ini, dan saat siang hari maka ia akan bekerja di restoran.


"Sepertinya saya perlu bersiap siap, Ni, tidak apa saya tinggal? " tanya Dewi.


"Nggak papa, tenang, aku nggak bakal ngambil barang punya kamu kok. " jawab Eni sambil mengacungkan jempolnya.


"Saya tidak seperti itu, Eni, saya percaya dengan kamu. "


Dewi beranjak dari tempat duduknya, ia bersiap siap untuk pergi ke kampus, pastinya dengan baju baru yang diberikan oleh Firdaus, karena ia ingin mencoba baju baru pemberian sepupunya itu.


"Seriusan? Langsung mau kamu pake, Wi? " tanya Eni.


"Tentu saja, saya ingin mencoba baju baru pemberian dari sepupu saya, apalagi jenis bajunya sangat bagus untuk dipakai saat pergi ke kampus. " jawab Dewi.


Eni mengerutkan keningnya. "Tapi kan baju baru tuh perlu dicuci dulu sebelum dipakai, nanti yang ada baju kamu bau loh, Wi. "


"Hah?! Yang benar, Ni? " tanya Dewi tak percaya.


"Iya, kamu mau bau baju kamu bercampur keringat, terus bau bajunya nggak enak lagi pas dipake ulang? " jawab Eni dan bertanya balik dengan Dewi.

__ADS_1


Dewi langsung percaya, ia langsung mengganti bajunya dengan baju lainnya, kemudian ia memakai baju yang ia miliki sebelumnya.


"Yasudah, kalau begitu saya pergi dahulu ya, Ni, takutnya terlambat. " pamit Dewi.


Eni menganggukan kepalanya, ia mengantarkan Dewi ke depan kamarnya, kemudian melambaikan tangannya.


"Hati hati. "


Dewi melambaikan tangannya sambil berlari menuju ke bawah, ia dengan cepat menuju ke bawah, berdiri di depan gerbang dan mendapatkan taksi.


Di dalam taksi, Dewi memeriksa barang barangnya, ia memastikan bahwa barang barangnya tidak tertinggal, apalagi barang barang saat ingin berkuliah hari ini.


Perlu setengah jam menuju ke kampus dan akhirnya sampai ke tujuan, Dewi berjalan santai menuju ke ruangannya, karena masih setengah jam ia masuk kelas untuk hari ini.


Di tempat lain, terlihat orang orang yang berkumpul dan bersorak dengan suara lantang, tampak seru dengan apa yang dilihat sehingga orang orang yang ada di sana berteriak keras.


Dewi ikut penasaran dengan apa yang terjadi, sehingga ia ikut menyaksikan apa yang terjadi di kerumunan tersebut.


"Lagi, lagi, lagi! "


Ternyata yang memulai keributan tersebut adalah kakak senior Dewi sebelumnya, tepatnya Imelda, tampak perkelahian yang terjadi di taman kampus, dibalik teriakan, pastinya sindiran dari mahasiswa mahasiswi lainnya terdengar.


"Ribut gegara apaan tuh? "


"Halah, paling nggak jauh dari om om, tau sendiri sih Imelda itu ayam kampus, jadi nggak heran kalau kek gitu. "


"Hahahaha, iya juga, om om aja direbutin, apa spesialnya coba? Pelakor berkedok sugar baby. "


Dewi agak tersinggung dengan ucapan sebagian mahasiswa mahasiswi lainnya, karena ia tidak jauh seperti Imelda, hanya saja ia tidak menyadarinya.


"Berhenti! "


Akhirnya para kerumunan pergi dari kedua orang yang sedang berkelahi, karena datangnya pembina dan mahasiswa senior di tengah keributan tersebut, Dewi ikut berlari untuk meninggalkan keributan tersebut.


"Nggak seru ah, tiba tiba datang aja pembina sama senior, padahal lagi seru serunya lihat mereka ribut. "


"Iya tuh, kan lumayan ada hiburan sebelum masuk kelas. "


Dewi menatap mahasiswa mahasiswi lainnya yang tengah mengumpat Imelda, bahwa mereka senang jika ada keributan.


'Ada ada saja orang zaman sekarang, orang berkelahi dibilang hiburan. ' ucap Dewi dalam hati.


......................


Setelah perkuliah selesai, Dewi keluar dari ruangan, ia merenggangkan tubuhnya yang lelah karena kebanyakan duduk, Dewi berjalan dengan santai untuk menuju ke restoran tempat ia bekerja.


Suasana seperti biasanya, Dewi menatap hilir kota, ia menatap mobil maupun motor yang lewat sambil berjalan menuju ke restoran.


Restoran ramai seperti biasanya, karena waktu makan siang yang membuat pengunjung ramai, membuat restoran tersebut tidak pernah sepi pengunjung, apalagi setiap minggunya masakan selalu berubah ubah jenis menunya.


Dewi berjalan ke belakang, karyawan bolak balik karena mereka dituntut untuk cepat membuat pesanan dari pengunjung yang datang, sementara ia harus cepat membersihkan peralatan makan yang ada di belakang.


"Baru datang lo? " tanya Cantika.


"Ya, setiap jam pagi sampai siang, itu jam saya berkuliah, makanya terkadang saya agak terlambat pergi ke restoran. " jawab Dewi.


Cantika menganggukan kepalanya.


"Cantika, kamu sebelumnya dengar tidak kalau restoran ini ada peraturan baru? " tanya Dewi.


Cantika menganggukan kepalanya. "Iya, barusan dengar dari pekerja dapur, baru rumor doang sih, nggak tau bener atau nggaknya. "


"Begitu ya? Saya dengar kalau tidak telaten, akan dipecat. "


"Yeee, kalau udah ada peraturan kayak gitu dari dulu, udah setengah karyawan restoran ini yang udah dipecat. Gini ya, itu tuh kalau lo nggak hati hati kerjanya, bisa aja kinerja sesuai gaji. " ucap Cantika.


"Maka dari itu, saya berencana untuk fokus bekerja, waktu mengobrol nya dikurangi saja dahulu. Nanti setelah selesai bekerja, barulah kita mengobrol sepuasnya. " jelas Dewi.


"Percaya amat sama omonganmu, Wi. Kini aja kita tuh lagi ngobrol, bisa amat dipercaya. " bantah Cantika.


"Oh, iya juga, saya lupa. "


"Ada yang namanya Dewina disini? " tanya salah satu karyawan.


Dewi yang merasa namanya dipanggil kemudian merespon panggilan tersebut.


"Ya, saya Dewi. " jawab Dewi.


"Ada yang nyariin kamu tuh diluar, susul sono. "


Dewi melepaskan celemeknya, ia membersihkan tangannya dan menyusul ke luar, ia mengikuti karyawan lain tersebut untuk menemui siapa yang memanggilnya.


Saat berada di salah satu meja, Dewi mengenal seseorang tersebut, laki laki yang ia kenal, yaitu Gusti.


"Samperin sono, gua nggak nggak tahan lihat mukanya, salting berat. "


Dewi ditinggalkan oleh karyawan tersebut, ia menghampiri Gusti dan menegur Gusti dari belakang.


"Om, ada apa? " tanya Dewi.


Tanpa menjawab, Gusti mempersilahkan Dewi untuk duduk, sementara Dewi mengikuti perintah Gusti dan duduk sehadapan dengan Gusti.


"Apa kamu ingin memesan minuman? Saya akan bayar. " tawar Gusti.


Dewi menggelengkan kepalanya. "Tidak usah, om, saya tidak ingin minum. " tolak Dewi.


Gusti menganggukan kepalanya, kemudian ia menaruh cangkir kopinya di meja.


"Langsung saja, Dewi, saya ingin bertanya denganmu. Bagaimana semenjak kamu bertemu dengan saya dan bekerja dengan saya? " tanya Gusti.


Dewi terbelalak, ia menatap ke bawah dan mengalihkan pandangannya ke arah ruang restoran, kemudian ia menganggukan kepalanya.


"Ya, selama ini saya baik baik saja saat bekerja dengan om. " jawab Dewi.


Gusti menganggukan kepalanya.


"Jika kamu sudah menjawab seperti itu... "


Dewi penasaran dengan ucapan Gusti.


"Kamu siap bekerja di bawah tekanan saya, Dewina? "


Dewi tentu saja terkejut, bagaimana Gusti bisa berubah secepat itu, lebih menuntut pekerjaan dan terkadang berlaku semaunya, sedangkan Dewi saja tidak sempat menikmati waktunya sendiri, bahkan mengunjungi desa saja tidak sempat.


"Tapi, tapi om-- "


"Saya tidak ingin dengar sama sekali alasanmu, Dewina. Bukankah kamu adalah wanita penurut, dengan apapun resikonya kamu sudah terima? " tanya Gusti.


"Om, saya selalu mengikuti om apapun itu, tapi dibawah tekanan? Bukannya om tidak pernah mengatakan hal ini kepada saya? " tanya Dewi.


"Dan sekarang ya, kamu harus terima itu semua. Selama kamu berada sama saya, maka kamu harus terima itu, Dewina. " ucap Gusti.


Dewi mengerutkan keningnya. "Ini tidak adil, om. "


Gusti mengangkat bahunya, ia seakan tidak peduli dengan ucapan Dewi barusan.

__ADS_1


"Hidup selalu tidak adil, manis. "


Dewi menatap tidak senang dengan Gusti, sementara Gusti menikmati secangkir kopinya.


"Baik, sepertinya waktu makan siang telah habis, dan saya yakin kita harus kembali bekerja. "


Dewi menganggukan kepalanya, ia mengambil cangkir kopi milik Gusti dan berdiri.


"Oh ya Dewina, saya ingin nanti malam kamu menemani saya untuk meet gala, saya yakin kamu punya waktu untuk menemani saya. "


Dewi menghela nafasnya. "Baik om, akan saya usahakan. "


Gusti tersenyum, ia meninggalkan mejanya, sementara Dewi menatap belakang punggung pria tersebut dengan tatapan tidak senang, karena terkesan mendadak.


Dewi berjalan ke dapur dengan menghentakkan kakinya, ia tampak begitu kesal ketika Gusti yang begitu mendadak dan terkesan memaksanya.


Tidak ada yang melihat Dewi yang kesal, ia memakai celemeknya dan melanjutkan pekerjaanya, ingin sekali sambil mengerjakan pekerjaannya itu diiringi dengan tangisannya.


Dewi mengingat kedua orangtuanya, ia mengambil ponselnya untuk memberitahukannya dengan kedua orangtuanya bahwa ia tidak akan bisa pulang untuk beberapa hari kedepan.


Tak lama setelah menunggu panggilan tersambung, akhirnya teleponnya diangkat oleh kedua orangtuanya.


"Halo, bapak, ibu, ini Dewi. "


'Ya nak, ada apa? '


Suara khas nan lembut itu membuat hati Dewi terenyuh, ia merindukan suara tersebut, tetapi ia tidak sanggup untuk menangis di depan keduanya.


"Bu, pak, sepertinya Dewi tidak bisa pulang ke desa esok lusa, karena pekerjaan mendadak di kota. "


'Nak... '


Dewi ingin menangis, tetapi ia menahan air matanya agar tidak keluar sama sekali.


"Maaf, Dewi minta maaf, karena sudah membatalkan rencana untuk pulang ke desa secepat ini. Dewi tahu, bahwa kalian sangat menanti kedatangan Dewi untuk kembali ke desa. "


'Begitu ya? Tidak apa, nak, kalau begitu kapan kapan saja ya, semangat belajarnya di sana, kami menunggu kabar baik dari kamu. '


Dewi menganggukan kepalanya dan menjawab ucapan keduanya, kemudian Dewi mengakhiri panggilan tersebut.


Tak lama setelah mendapat telpon dari kedua orang tuanya, barulah Firdaus menelponnya, Dewi dengan cepat mengangkat telpon dari sepupunya tersebut.


"Halo Fir, maaf sebelumnya menelpon, saya cuma mengatakan terimakasih dengan kamu, karena sudah memberikan saya hadiah. " ucap Dewi.


'Oh ya, sama sama, neng Wiwi, semoga suka dengan hadiah dari saya, saya harap eneng tidak kecewa dengan hadiah saya. '


"Tidak, saya suka dengan hadiah yang kamu berikan, saya suka. " ucap Dewi.


'Baik neng, kalau begitu, saya matikan dahulu, soalnya ada barang yang ingin diantarkan. '


PanggilanĀ  berakhir, Dewi meletakkan ponselnya di dalam kantongnya, kemudian ia melanjutkan pekerjaannya walaupun ia masih sedih dengan memberitahukan bahwa ia tidak bisa pulang dengan cepat ke desa.


......................


Malam harinya, Dewi bersama Gusti pergi te tempat yang sudah ditentukan sebelumnya, dengan baju yang sebelumnya sudah diberikan oleh Gusti, tinggal ia pakai dan ia tunjukkan pada Gusti.


Di pesta tersebut banyak sekali para tamu tamu yang datang, dengan berbagai gaya dari baju dan keunikan berpakaian terlihat di sana, termasuk Dewi sendiri.


"Gustiawan, sebelumnya anda tidak pernah sama sekali ingin menghadiri meet gala seperti sekarang, bagus, pemandangan baru disini. "


Gusti berjabat tangan, kemudian ia mengikuti rekan kerjanya menuju ke dalam, bersamaan dengan Dewi yang mengikuti Gusti dari belakang.


Dentuman suara lagu yang cukup memekakkan telinga, Dewi hanya menyaksikan Gusti dan rekan kerja Gusti sedang berbincang, entah soal apa yang sedang mereka ucapkan.


"Apakah kita boleh memulai tarian bersama? "


Gusti menawarkan menari bersama, dan Dewi hanya menganggukan kepalanya, keduanya menuju ke panggung tempat orang orang berdansa bersama, tampak orang orang tersebut menikmatinya.


"Menarilah, manis, saya ingin melihat kamu seperti itu. " ucap Gusti.


Dewi menurutinya, tak lama secara tiba tiba ada yang menyentuh benda privasinya, Dewi dilecehkan oleh salah satu tamu yang ada di sana.


"Om! "


Dewi berteriak, tentu saja itu membuat Gusti terkejut, bahkan beberapa tamu yang ada mengarah kepada keduanya, hal tersebut pastinya membuat Gusti malu.


"Dewina, kenapa kamu berteriak seperti itu?! Memalukan! " tegas Gusti.


Dewi terbelalak, ia tidak percaya dengan ucapan Gusti, bukannya bertanya malah ia dibentak oleh Gusti, tentu saja Dewi kecewa dan meninggalkan panggung tersebut.


Bersamaan dengan Dewi, Gusti mengikuti Dewi dari belakang, ia ingin menegur Dewi yang bersikap mendadak seperti itu dan mempermalukannya.


"Dewina! Dewina! '


Dewi berhenti di belakang, ia kemudian membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah Gusti.


"Mengapa kamu mempermalukan saya? Kamu tidak tahu, bahwa itu membuat saya malu? " tanya Gusti.


"Om tidak tahu, bahwa saya dilecehkan oleh salah satu tamu yang ada di pesta barusan, itu yang membuat saya terkejut. " jawab Dewi.


Tampaknya Gusti tidak percaya dan ia tidak peduli dengan apa yang terjadi, Gusti terus terusan menyudutkan Dewi, hingga Dewi berteriak kesal dan histeris.


"Kenapa om begitu egois?! Saya korban, dan om yang menyudutkan saya! " teriak Dewi histeris.


"Tapi dengan seperti itu, semua orang menatap ke arah kita, saya beritahu kamu! " tegas Gusti.


Dewi diam, ia menghela nafasnya.


"Saya menikmati waktu saat bersama dengan om, tapi saya minta, saya butuh waktu untuk menyendiri, om. Saya masih ingin ketenangan yang bisa saya nikmati sendiran, tanpa tekanan dari om untuk beberapa hari. Tapi dengan seperti ini, maaf, saya tidak bisa. "


Dewi menyerah, ia memilih untuk pergi meninggalkan Gusti.


Tapi apadaya, Gusti tidak secepat itu melepaskan Dewi, Gusti memegang lengan Dewi, ia menahan gadis tersebut agar Dewi tidak terlepas darinya.


"Om, lepaskan saya! " teriak Dewi.


"Jika bersama saya, maka resiko apapun harus kamu terima, walaupun kamu tidak menyukainya sama sekali, Dewina. " ucap Gusti mengancam.


"Saya juga ingin dihargai, om, saya ingin bebas untuk sehari saja! "


"Berapa hargamu? Bukankah setara dengan beberapa tas, bayaran maupun jam mahal yang sudah saya berikan untukmu? "


Dewi terkejut, ia tidak menyangka bahwa ia akan direndahkan, bahkan harga dirinya layaknya tas yang sudah diberikan dengan Gusti sebelumnya.


"Katakan! Katakan, Dewina! Berapa harga dirimu? Berapapun itu, akan saya bayar! " teriak Gusti.


Dewi merasa direndahkan, ia menampar wajah Gusti untuk pertama kalinya, Gusti terkejut dan melihat Dewi dengan amarah.


"Dewina Ayunda Ningsih! "


"Kenapa? Om juga ingin menyakiti saya?! Silahkan, sekalian bunuh saja saya kalau om mau! " tantang Dewi.


"Saya ingin hidup normal, saya tidak ingin jika selalu bertemu dengan om Gusti terus menerus, saya ingin hidup bebas! " tegas Dewi.


Dewi meninggalkan gedung tersebut, sementara Gusti menggeram emosi, ia tidak menyangka bahwa malam ini akan kacau.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2