Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)

Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)
Eps 32: Mengakui


__ADS_3

...Happy reading 🧔...


......................


Dewi menjalani kehidupannya dengan baik, walaupun kedua orang tuanya yang sering menghampirinya saat di kosan, Dewi masih tetap melayani kedua orangtuanya walaupun hanya sekedar bertemu dan mengajak kedua orang tuanya hanya sekedar berjalan jalan.


Di waktu libur juga Dewi mengajak Jelly untuk jalan jalan, sekedar menghilangkan penat ataupun ingin berjalan jalan, karena selama ini ia sibuk dengan perkuliahan dan bekerja di restoran.


"Jelly, ambil! "


Dihamparan rumput yang luas, Dewi melemparkan frisbee yang ia pinjam dari penghuni kosan yang kemarin digunakan untuk bermain bersama saat di kosan.


Jelly dari semak semak berlari membawa frisbee yang digigitnya kemudian berlari ke arah Dewi, Dewi mengambil frisbee tersebut, nafasnya tak beraturan, Dewi kelelahan karena berlarian dengan Jelly di taman, ia memutuskan untuk duduk di kursi taman yang tak jauh dari tempatnya berlarian dengan anjing peliharaannya.


Saat Dewi berjalan untuk duduk di kursi taman, Jelly dari belakang berlari dan menghadang langkahnya, ia menggonggong dan memberikan frisbee yang ia ambil tersebut kepada Dewi.


"Jelly, nanti lagi kita bermainnya ya, aku capek. " ucap Dewi.


Dewi duduk, kemudian diikuti oleh Jelly yang duduk di atas kursi tersebut.


"Jelly, kamu membuatku kelelahan, larimu terlalu cepat. " ucap Dewi.


Jelly hanya menggonggong, kemudian anjing tersebut mendekat ke arah Dewi dan duduk di samping Dewi, Dewi yang ngos ngosan ia sempatkan untuk mengelus Jelly yang tengah bermanja dengannya.


Seorang wanita menghampiri Dewi dan Jelly yang tengah duduk bersama, tak ada angin maupun hujan, secara tiba tiba wanita tersebut memukul Jelly, tentu saja Jelly melompat terkejut dengan tindakan yang begitu spontan.


"Bu, kenapa memukuli anjing saya? " tanya Dewi tidak terima.


"Anjingmu itu, mengganggu sekali, badannya sudah besar dan menghalangi kursi taman. Hama saja ingin dipelihara, tidak berguna! "


Bukannya merasa bersalah, malah wanita tersebut keras sendiri seperti tidak ingin disalahkan, tentu saja Dewi tidak terima dan melawan.


"Kalau ibunya ingin duduk, saya bisa menyuruh anjing saya untuk turun, kenapa begitu kasar?! "


Perdebatan terjadi, hingga akhirnya wanita tersebut mengambil batu, rencananya ingin melempar Dewi, tetapi sayangnya Jelly melindungi Dewi yang ingin dilempar dengan batu.


Suara kaingan dari anjing terdengar, tentu saja orang orang ditaman langsung mendekat, mereka melerai keributan yang terjadi dan wanita tua tersebut ditahan, sementara Dewi menyelamatkan Jelly yang kepalanya berdarah karena lemparan batu tersebut.


Beberapa orang yang berada di taman membantu Dewi untuk mengobati Jelly yang tengah terluka, Jelly hanya diam dan mengeluarkan suara sedih saat sedang diobati oleh orang orang yang berada di dekatnya.


"Sekali lagi saya berterimakasih, karena telah membantu saya mengobati peliharaan saya. " ucap Dewi.


Dewi mengajak Jelly untuk pulang, ia membawa Jelly di pelukannya menuju ke kosan, cukup hari ini saja untuk berjalan bersama di taman.


Saat memasuki gerbang kosan, satpam yang sedang berjaga kemudian melihat Jelly yang diangkat oleh Dewi, ditambah lagi dengan balutan luka yang ada di kepala Jelly.


"Loh, si Jeli kenapa neng? Apa yang terjadi dengan Jeli? " tanya satpam tersebut.


"Jelly dilempari batu. "


"Apa? Sama siapa kepalanya dilempari batu? " tanya satpam khawatir.


"Tidak tahu, yang jelas sebenarnya Jelly melindungi Dewi dari lemparan batu, Jelly tidak tahu bahwa batu sampai bisa melukai dirinya sendiri. " jawab Dewi.


Satpam mendekat, ia merasa sedih ketika Jelly yang terluka, kemudian Dewi pamit ke atas untuk membiarkan Jelly beristirahat.


Dewi menuju ke kamarnya, sedangkan ia melihat Eni yang baru keluar dari kamar, keduanya berpapasan di depan pintu kamar, Eni menatap ke arah Jelly dan mendekat.


"Wi, Jelly kenapa? " tanya Eni cemas.


"Jelly melindungi saya dari lemparan batu, itulah kenapa Jelly sampai terluka. "


Eni mendekat, ia memeluk anjing tersebut dan menatap sedih ke arah Jelly, Jelly mengendus badan Eni dan menaruh kepalanya di lengan Eni, seperti sedang mengadu dengan Eni.


"Yaudah Wi, aku yakin kamu pasti mau pergi ke kampus, kalau gitu biar aku jagain Jelly sampai sore. " ucap Eni.


Dewi menganggukan kepalanya, ia benar benar terbantu dengan Eni yang menawarkan bantuan padanya.


"Terimakasih, Ni, kalau begitu saya akan siap siap dahulu untuk pergi ke kampus. Makanan Jelly nanti akan saya ambil, saya berterimakasih karena kamu sudah membantu saya. " ucap Dewi.


Dewi bersiap siap, sebelum mandi, ia memberikan beberapa makanan untuk Jelly, Dewi akan menitipkan peliharaanya kepada Eni sementara ia akan berangkat menuju ke kampus.


Selesai membersihkan diri, Dewi keluar dari kamarnya, ia memberikan kunci kamarnya agar Eni lebih mudah mengambil keperluan Jelly di dalam kamarnya.


"Ni, kalau begitu saya pergi dulu ya, titip Jelly dengan kamu. " ucap Dewi.


"Iya Wi, hati hati. "


Saat sedang berpamitan, Jelly menatap Dewi dengan tatapan tidak ingin berpisah, tetapi Dewi berusaha meminta Jelly untuk bisa terlepas darinya sementara.


"Jelly, nanti aku akan pulang, kamu istirahat saja dulu ya, agar cepat sembuh. " ucap Dewi.


Jelly melolong, sedangkan Dewi berjalan menjauh dari kamarnya, hanya suara lolongan yang terdengar di lorong hingga di tangga lantai bawah.


Dewi turun, kemudian satpam membantu Dewi membuka pintu gerbang, Dewi menganggukan kepalanya sebagai membalas sapaan tersebut.


Dewi berdiri di depan gerbang, kemudian ia menemukan taksi dan menaikinya untuk segera datang ke kampus.


......................


Sepanjang mata kuliah Dewi tidak fokus dengan pembelajarannya, ia masih terpikir dengan keadaan Jelly di kosan, tetapi ia mengingat bahwa hari ini ia juga bekerja sampai petang di restoran, ia juga semakin bertambah bingung dengan mengatur jadwalnya untuk hari ini, cukup padat baginya untuk mengurus semuanya secara sekaligus tanpa bantuan siapapun.


Waktu pembelajaran akhirnya selesai, Dewi keluar dari ruangannya untuk segera bergegas pulang, setidaknya melihat keadaan Jelly dan langsung pergi ke restoran itu lebih bagus, dapat mengurangi rasa kekhawatirannya dengan anjing peliharaannya.


Saat tengah berjalan ke lorong, Dewi berpapasan dengan Eni, ia terkejut ketika melihat temannya yang sekarang sedang berada di kampus, padahal sebelumnya berjanji akan menjaga anjing peliharaanya yang tengah sakit.


Dewi mendekat, ia menghampiri Eni.


"Eni! " panggil Dewi.


Eni terkejut, ia memegang dadanya dan menghela nafasnya, ternyata itu adalah Dewi yang menegurnya.


"Dewi? Aku kira siapa tadi, ngagetin aja. " ucap Eni.


"Kamu kenapa berada di kampus? Bukannya sebelumnya kamu ingin menjaga anjing saya yang sedang sakit, Eni? " tanya Dewi.


Eni ber oh ria, ia menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Sakit apanya? Jelly saja sekarang sedang bermain dengan pak Danu, godaan frisbee kayaknya yang bikin Jelly jadi lupa sama sakitnya. " jelas Eni.


Dewi terperangah, bagaimana anjing peliharaannya yang tadinya sakit bisa aktif lagi dengan bermain frisbee bersama satpam yang tengah berjaga.


"Jadi, sekarang Jelly bersama dengan satpam kita, pak Danu namanya? " tanya Dewi.


Eni menganggukan kepalanya. "Iya lah, kalau nggak, nggak bakalan mungkin aku disini, Wi. " ucap Eni.


"Begitu, baiklah, saya akan pergi dahulu, karena saya hari ini akan bekerja di restoran. " ucap Dewi.


"Eh Wi, jangan lupa samperin dulu Jelly di kosan, biar dia nggak terlalu kangen sama kamu. " pesan Eni.


"Malah jika saya pulang, yang ada saya tidak akan dilepaskan oleh Jelly. Jelly itu om Gusti versi hewan. " ucap Dewi.


"Heh, masa om ganteng kayak om Gusti kamu samain kayak Jelly? Beda jauh tau! " tegur Eni.


Dewi hanya mengangkat kedua bahunya, toh bagi Dewi itu adalah ibarat yang cocok dengan kedua makhluk yang sangat posesif baginya, jika Jelly yang tidak ingin Dewi pergi kemana mana dan peduli dengan hewan lainnya, maka sama halnya dengan Gusti yang tidak ingin melepaskannya dengan mudah.


Tak lama ponsel Dewi berdering, Dewi merogoh kantongnya dan melihat siapa yang menelponnya, itu adalah Gusti.


Dewi terkejut dan memegang dadanya, baginya Gusti seperti memperpanjang umurnya, karena setelah mengumpat Gusti, Gusti selalu ada kapanpun itu.


"Panjang umur! " ucap Dewi.


"Siapa Wi? Om Gusti yang nelpon? " tanya Eni.


Dewi menganggukan kepalanya, kemudian ia mengangkat telepon tersebut dan menyuruh Eni untuk diam sejenak sementara ia mengobrol dengan Gusti.


"Halo om, ada apa? " tanya Dewi.


'Dewina, bisakah kita akan bertemu untuk malam ini? '


"Hmmmm, tapi om--"


'Saya tidak akan terima penolakan, dan itu harus kamu turuti. '


Dewi mengusap wajahnya dengan kasar, sementara Eni hanya tersenyum melihatnya yang tengah kebingungan dengan costumernya.


"Baik, tapi ada beberapa urusan yang akan saya kerjakan terlebih dahulu sebelum bertemu dengan om, apa itu bisa? " tanya Dewi.


'Jika itu bisa membuatmu senang, saya akan turuti, Dewina. ' jawab Gusti.


"Baik om, terimakasih sudah mendengar keinginan saya. " ucap Dewi.


'Lakukan dengan baik untuk malam ini, Dewina, saya ingin sensasi baru lagi memuaskan saya. ' ucap Gusti.


"Akan saya usahakan, kalau begitu, saya akan matikan panggilannya. " ucap Dewi.


Dewi mengakhiri panggilan tersebut, ia memasukkan ponselnya lagi ke dalam tas, kemudian menatap ke arah Eni.


"Tenang aja, Jelly sama aku aja nanti malam, kamu pergi samperin om Gusti aja, masalah Jelly biar aku yang urus. " ucap Eni meyakinkan.


"Serius? Saya tidak ingin jika Jelly tidak kamu lihat, apalagi dia seharian penuh terus terusan bermain dengan frisbee yang selalu dipegang sama pak satpam. " ingat Dewi.


"Aman, nanti kalau si Jelly bandel pengen main frisbee terus, bakal kubuang atau dibakar aja. " ucap Eni.


Dewi berjalan meninggalkan Eni, sementara Eni melambaikan tangannya ke arah Dewi yang tengah berjalan ke luar kampus.


Saat sedang berjalan menuju ke lorong kampus, Dewi berpapasan dengan Daniel, mahasiswa jurusan hukum tersebut terlihat baru saja sampai di kampus, sementara ia berencana untuk segera pulang dan bekerja.


"Dewi, baru keluar ruangan? " tanya Daniel.


Dewi menganggukan kepalanya, sambil tersenyum manis ia mengatakan semuanya dengan Daniel.


"Ya, saya baru saja keluar ruangan, dan sekarang rencananya ingin segera pulang. " jawab Dewi.


Daniel menganggukan kepalanya, dengan senyuman manis tersebut membuat Dewi luluh, ia sangat menyukai keunikan dan tampilan laki laki itu.


"Dewi, boleh saya mengatakan sesuatu? "


Dewi mengerutkan keningnya. "Ingin bertanya soal apa, Daniel? " tanya Dewi.


Daniel mendekat, dengan senyumannya ia menatap Dewi dan ingin mengatakan sesuatu.


"Dewi, nanti malam kamu ada acara nggak? "


Daniel bertanya dengan Dewi, tetapi Dewi baru ingat dengan janjinya nanti malam, yaitu akan bertemu lagi dengan Gusti nanti malam.


"Sepertinya nanti malam saya tidak bisa, Daniel, karena saya ada acara di kosan, jadinya tidak enak jika pergi saja tanpa mengikuti acara di kosan nanti malam. " tolak Dewi.


Daniel menganggukan kepalanya, namun ekspresi wajahnya tidak dapat dibohongi, bahwa ia kecewa ketika Dewi sedang tidak bisa bersama dengan dirinya.


"Kalau begitu lainkali saja bagaimana? Bukankah itu lebih bagus, Daniel? " tanya Dewi.


"Tidak usah bernegosiasi seperti itu, nanti saja akan kita pikirkan bersama. " jawab Daniel.


Dewi hanya tersenyum, ia hanya bisa diam saat Daniel menunjukkan kekecewaannya.


"Kalau begitu, saya pergi dahulu, saya akan bekerja siang ini. " pamit Dewi.


Dewi bergegas menuju ke restoran yang tak jauh dari kampusnya.


......................


Sesampainya di restoran, Dewi membersihkan semua peralatan makan, hampir itu saja pekerjaan yang selalu ia kerjakan saat bekerja, dengan gaji yang tak begitu banyak untuk juru cuci piring.


"Wi, selama kerja disini, lo ngerasa enak nggak? " tanya Cantika.


Dewi dan Cantika duduk bersama, Cantika juga kali ini mendapat gilran untuk bagian cuci piring, kebetulan juga itu bisa menjadi hukumannya karena ia yang tengah bermasalah di restoran.


"Biasa saja, saya tidak menemukan keistimewaan apapun itu, saya hanya tahu bahwa sekarang saya tengah bekerja menjadi juru cuci piring. " jelas Dewi.


Cantika menganggukan kepalanya.


"Gaji sekecil ini tidak meyakinkan kita untuk betah dengan pekerjaan ini. Rasanya pengen keluar aja dari kerjaan kayak gini, mana udah kena hukuman juga sebelumnya sama pemilik restoran ini. " ucap Cantika.


"Itu pilihanmu sendiri, Can, kamu bisa memutuskan keputusan yang ingin kamu ungkapkan, dan saya berfungsi sebagai pendengar. " ucap Dewi.

__ADS_1


Cantika berdecak. "Ah, nggak seru ngobol sama elo, Wi, jawabannya biasa banget. "


Dewi hanya tersenyum, ia kemudian melanjutkan pekerjaannya, sambil suara omelan temannya yang terus terusan mengeluh dengan piring dan peralatan makan lainnya yang belum sama sekali selesai, seperti tidak ada habis habisnya.


"Yasudah, Can, kamu susun piring saja sana, biar saya yang melanjutkan membersihkan piring piring dan semacamnya. " ucap Dewi.


"Nah, yang kayak gini kek disuruh dari tadi, jadinya nggak kerepotan buat ngotorin tangan pake sabun cuci piring. " ucap Cantika sambil merenggangkan tubuhnya.


Dewi hanya tersenyum, Cantika tidak tahu seberapa banyak piring yang akan disusun, tak lama setelahnya suara keluhan dan teriakan geram terdengar di ruang piring, suara Cantika yang tampak mengeluhkan banyaknya piring yang akan disusun.


'Siksa dunia! ' teriak Cantika.


Dewi hanya tertawa, ia tahu bahwa teman kerjanya akan berkata seperti itu, Dewi yang membersihkan piring sambil tertawa mendengar berbagai keluhan Cantika di ruang piring.


......................


Malam harinya Dewi bersiap siap, sehabis pulang bekerja ia langsung membersihkan dirinya, karena ia tahu bahwa malam ini merupakan malam yang akan dinanti oleh Gusti, yaitu Dewi yang lagai lagi akan bermain kembali dengan Gusti.


Di kamar Eni, terlihat Jelly yang sedang mendekati Dewi, Dewi mengelus anjing kesayangannya itu dan pamit dengan Dewi.


"Jelly, aku pergi dulu ya, sementara kamu akan bersama dengan Eni lagi, setelah selesai aku akan pulang. " pamit Dewi pada Jelly.


Jelly membunyikan suara sedih, sedangkan Dewi berusaha membujuknya.


"Nggak papa, Jelly, Dewi tuh kerja demi kamu, doain dia kerjanya lancar aja. " ucap Eni pada Jelly.


"Yasudah, kalau begitu saya pergi dahulu, sampai jumpa lagi, Jelly. " pamit Dewi.


Dewi keluar dari kamar Eni, sedangkan Jelly merenung sedih dan mengeluarkan suara layaknya sedang sedih, ia tidak ingin terpisah dari Dewi.


Dewi berjalan menuju ke luar, kebetulan pak Danu, satpam yang sedang berjaga, tidak ada sama sekali di depan gerbang kosan, bisa saja pak Danu sedang berpatroli di sekitar kosan, tak lama taksi lewat dan Dewi menaiki taksi tersebut.


Perlu beberapa menit untuk sampai di gedung apartemen milik Gusti, Dewi membayar biaya taksi kemudian ia memasuki gedung apartemen tersebut, kali ini ia begitu santai, karena ia memegang salah satu cadangan kartu akses kamar apartemen milik Gusti.


Menaiki lift, akhirnya Dewi sampai di lantai tempat kamar Gusti berada, ia merogoh dompetnya dan mengambil kartu akses yang ada di dompetnya.


Saat memasuki kamar, terlihat bahwa suasana kamar tersebut berbeda, dengan Gusti yang sudah berada di dalam kamar membuat Dewi yakin bahwa Gusti sudah menunggunya dari lama.


"Come om, honey... "


Dewi mendekat, sebelumnya ia menutup pintu kamar tersebut, tak lama ia dipeluk dari belakang oleh Gusti, ia diperlakukan dengan romantis oleh Gusti hingga membuatnya ikut terbawa dalam suasana tersebut.


Perlahan namun pasti, Dewi dan Gusti melancarkan alur permainan mereka, hingga waktu yang ditunggu tunggu telah tiba, Dewi dan Gusti akhirnya memainkan permainan mereka berdua.


Permainan tersebut akhirnya terhenti setelah setengah jam bermain, keduanya beristirahat, salah satunya pastinya membutuhkan waktu beristirahat terlebih dahulu.


Gusti duduk di pinggir ranjang, tak lama Dewi memikirkan sesuatu yang bagus, dengan usil mengigit telinga Gusti, titik kelemahan laki-laki itu yang ia gigit, alhasil Gusti terbelalak dan melihat Dewi yang iseng dengannya.


"Dewina, kamu menggoda saya ya? " tanya Gusti.


"Om, ingin lagi? " tawar Dewi.


Siapa laki-laki yang bisa menolak tawaran tersebut, apalagi Gusti, lelaki tersebut memang candu akan diri Dewi, entah karena Bella kurang menarik lagi baginya, ataupun Dewi begitu spesial di matanya.


Dewi menatap Gusti dengan tatapan kagum, kemudian dari belakang ia memeluk Gusti dari belakang, dan juga ia ingin memberitahukan sesuatu pada Gusti.


"Om, boleh saya mengatakan sesuatu sama om? " tanya Dewi.


"Katakan, apa itu, manis? " tanya Gusti.


Dewi masih ragu, namun ia mencoba untuk mengakuinya, sorot mata Gusti yang begitu dalam sudah membuatnya terhipnotis.


"Saya cinta sama om. "


Gusti terkejut, baru kali ini setelah beberapa simpanan yang ia miliki menyatakan perasaan cinta padanya, padahal hubungannya dengan Dewi hanya sebatas simpanan dan wanita bayaran.


Gusti melepaskan pelukan Dewi, ia berdiri dan memakai pakaiannya, tentu saja Dewi terkejut dengan reaksi tersebut, karena Gusti yang langsung ingin meninggalkannya.


"Saya rasa sudah cukup disini. Ini, sebagai bayaranmu. "


Gusti menyerahkan amplop coklat berisi segepok uang, sementara Dewi hanya melihat laki laki tersebut meninggalkannya karena ucapannya barusan.


Dewi menatap amplop tersebut, tak lama air matanya menetes, Dewi mengusap air matanya dengan sekali usap, ia berencana ingin segera pulang, karena malam tersebut membuat hatinya begitu hancur.


Dengan taksi lagi, Dewi sampai di depan gerbang kosan, ia turun dan berjalan menuju ke dalam, kemudian menaiki tangga menuju ke lantai dua.


Dewi berjalan dengan tidak bersemangat menuju ke kamarnya, ia sebelumnya ingin memberitahukan Eni dan akan mengobrol sebentar.


Dewi mengetuk pintu kamar temannya, suara sahutan dari dalam kamar terdengar, Eni membuka pintu kamarnya dan melihat Dewi yang kacau.


"Astaga, ini beneran kamu, Wi?! " teriak Eni.


Bukannya mereda, Dewi menambah tangisannya, membuat Eni menjadi kelabakan mengurus temannya yang tampak tengah patah hati.


"Ada apa? Ayo, kita ceritain di dalam aja! "


Dewi masuk ke kamar Eni, kemudian Eni menutup pintu kamarnya dan mulai mengobrol apa yang sedang terjadi.


"Apa?! Kamu ngaku kalau kamu cinta sama om Gusti?! " tanya Eni heboh.


Dewi sesenggukan, kemudian menganggukan kepalanya.


"Tetapi, itu benar benar isi hati saya, saya tidak menyangka bahwa om Gusti akan menolak saya.... " lirih Dewi.


"Jangan terlalu mengikuti kata hati, Wi. Walaupun kamu sudah menjadi simpanan, jangan sampai kamu benar-benar menjadi selingkuhan om Gusti. Asal kamu tau, om Gusti hanya menginginkan kamu sebatas tubuh kamu aja, dia nggak bisa cinta sama kamu. " ucap Eni.


Dewi mengusap air matanya, perasaan kecewa harus ia terima, karena fakta dari ucapan temannya padanya bahwa tuan tidak akan pernah mencintai pelayan.


"Saya bodoh ya, Ni? " tanya Dewi sesenggukan.


"Nggak, manusiawi kok kamu bisa mencintai seseorang, dan semoga juga dengan ini kamu bisa tahu, bahwa om Gusti tidak mencintaimu. " ucap Eni.


"Tapi saya ingin menangis, rasanya bodoh sekali mencintai sendirian saja tanpa berbalas... " lirih Dewi.


Eni dan Jelly berusaha menenangkan Dewi, walaupun akhirnya Dewi akan tertidur, tetapi kedua makhluk itu berusaha membuat Dewi melupakan masalahnya sejenak.


...**********...

__ADS_1


__ADS_2