
...Happy reading š§”...
......................
"Om, untuk sementara ini Dewi pamit dulu, Dewi dapat kabar dari desa, kalau ada musibah di sana. "
Gusti mengerutkan keningnya, ia merasa bahwa itu dadakan, karena ia ingin mengajak Dewi untuk minum bersama tetapi ani ani nya itu sendiri mempunyai kesibukan lainnya, bahkan tengah ditimpa musibah.
"Ya, saya beri izin. Kalau begitu, naik apa kamu malam malam begini menuju ke desa? Angkot jarang sekali mengangkut penumpang malam malam seperti ini. " tanya Gusti.
Dewi baru terpikir, ia baru ingat, ingin naik apa ia untuk ke desa, sementara angkot menuju ke desa untuk malam hari saja tidak ada.
"Saya lupa, om. " ucap Dewi.
"Berangkatnya benar malam ini? " tanya Gusti.
"Iya, karena besok paman saya sudah mulai dikuburkan, makanya saya dari malam ini harus berangkat. " jawab Dewi.
Gusti menganggukkan kepalanya, ia mengajak Dewi untuk masuk ke dalam mobil, sebelumnya Dewi bingung dengan tujuan Gusti mengajaknya ke dalam mobil.
"Masuk lah. "
"Tapi kan om, saya pamit untuk pulang ke desa, apa om tidak memberi izin? " tanya Dewi.
"Bukan begitu, manis, saya ingin antar kamu sampai ke desa. Tenang saja, saya yakin dengan mobil ini, kita tidak akan dibegal saat di perbatasan. " ucap Gusti.
Tanpa berpikir panjang, Dewi menerima ajakan dari Gusti, ia membawa barang barangnya ke dalam mobil, ia memasukkan barang barangnya ke kursi belakang dan duduk di kursi sebelah pengemudi, Gusti ikut memasuki mobilnya dan mengemudikan nya menuju ke jalan perbatasan desa dan kota.
Di sepanjang perjalanan, Dewi melihat ke arah jendela, panjangnya perjalanan menuju ke perbatasan membuatnya mengantuk, tetapi ia berusaha untuk membuka matanya yang ingin tertutup itu.
"Kalau ngantuk, tidur saja, Dewi. " celetuk Gusti.
Dewi menggelengkan kepalanya, ia meminum air dalam botol tersebut dan membenarkan posisi duduknya.
"Om, kalau malam seperti ini, om tidak dicari sama istrinya om? " tanya Dewi.
"Tidak, saya juga sudah terbiasa tidak sama sekali pulang, lagipula urusan saya terlalu banyak hingga sampai tidak pulang ke rumah. " jawab Gusti.
Dewi menganggukkan kepalanya, cukup sampai situ saja ia bertanya, karena itu adalah urusan Gusti sendiri mengapa tidak pulang ke rumah sama sekali.
......................
Karena perjalanan cukup panjang, akhirnya secara tidak sadar Dewi tertidur, ia sendiri sudah mengantuk dari awal ingin berangkat ke desa, sedangkan Gusti masih melanjutkan perjalanannya sampai ia merasa ikut lelah.
'Dewina, bangun... '
Suara samar samar terdengar di telinga Dewi, ia menatap ke sebelahnya, bahwa Gusti membangunkannya.
"Ya, ada apa, om? " tanya Dewi.
"Sudah sampai, saya antar sampai disini saja, lokasinya tidak jauh kan? " tanya Gusti.
"Tidak om, setelah jalan ini, tempat nya tak jauh dari mobilnya om. Sebelumnya, terimakasih ya om sudah mengantarkan saya sampai ke desa. "
"Ya, kalau begitu, saya akan bantu kamu angkat barang barang, setelah ini saya langsung pergi. "
Dewi membuka pintu mobil, ia berjalan di tepi jalan dan melihat mobil Gusti yang berbalik untuk pulang ke kota.
Dewi membawa barang barangnya, ia memasuki gerbang menuju ke dalam desa.
Dari kejauhan dapat dilihat, sebuah bendera kuning tertancap di tanaman, dan beberapa kursi yang terletak di depan rumah.
Dewi memasuki rumah tersebut dan menghampiri bibinya, sudah terlihat jenazah pamannya yang sudah ditutup kain di tengah tengah pelayat.
"Dewi."
Dewi merespon panggilan tersebut, bibinya yang memanggilnya, Dewi berlari sekencang mungkin untuk segera memeluk bibinya yang tengah berduka.
"Bibi, turut berdukacita ya, maaf Dewi baru sampai pagi hari ini. " ucap Dewi.
"Tidak apa apa, Wi, kamu datang saja sudah cukup bagi bibi, apalagi sebelum paman kamu dikebumikan. Sebelumnya, ia berpesan, kalau paman kamu meninggal, ia minta kamu datang untuk lihat jenazahnya. " pesan bibi Dewi, Jaenab.
Dewi terus memeluk bibinya, ia tahu bahwa bibinya sedang terpukul untuk sekarang, suami yang dicintai telah pergi untuk selamanya.
Dewi juga merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan, berasal dari salah satu pelayat yang datang, entah rasanya itu begitu dekat bahkan yang membuat Dewi itu sendiri kesal untuk melihatnya lagi.
"Jaenab, turut berdukacita ya, mungkin suami kamu sakitnya tidak tertolong lagi. "
Suara yang familiar terdengar di telinga Dewi, tak lain itu adalah tetangganya sendiri, bu Sri, yang juga ia ikut melayat suami dari bibinya Dewi.
__ADS_1
Dewi tidak senang, karena Sri adalah biang masalah di keluarga Dewi, bahkan berani sekali merendahkan keluarganya dengan kata-kata sindiran, tetapi Dewi memilih untuk tidak menggubris musuhnya tersebut.
Suasana berkabung semakin terasa, disaat pamannya akan dibalut kain, tangis pecah keluar dari mulut para keluarga yang berada di ruangan tersebut.
Disaat tengah berkabung, bu Sri ada ada saja ulah nya, bahkan bertanya saja tidak sesuai dengan kondisi.
"Dewi, katanya kamu kuliah di luar kota ya? " tanya bu Sri.
"Jelas bu, saya kuliah di luar kota, kalau tidak, bagaimana bisa saya sering bertukar kabar kepada ibu bapak saya di desa? " jawab Dewi.
"Oh iya lupa, soalnya ibu sama bapak kamu di desa ini mah jarang lagi minjem ponsel anak saya. "
Dewi menghela nafas, sepertinya akan memulai keributan dengan keluarganya lagi.
"Kok tumben ya, bapak sama ibu kamu jarang lagi pinjam ponsel anak saya? Apa mereka tidak perlu bertukar kabar sama kamu? "
Dewi tak tahan, ia menghentakkan meja yang diatasnya bersusun makanan.
"Ini momen berkabung untuk keluarga saya, anda sebagai tetangga saja tidak tahu sopan santun! " tegas Dewi.
"Wah, habis pulang dari kota sudah bisa melawan saya ya? Ajaran orang kota memang menyesatkan. " ejek bu Sri.
"Anda ingin melihat ponsel? Ini, saya lihat kan ponsel milik saya, agar anda tidak lagi merendahkan keluarga saya! "
Dewi menunjukkan ponselnya, ponsel tersebut berbeda dari orang-orang di desa kebanyakan, hanya anak bu Sri saja yang mengerti tipe ponsel bagus.
"Bu, itu ponselnya mahal! Kenapa Ayu tidak pernah dibelikan seperti itu?! " teriak Ayu, anak bu Sri.
"Bentuk kameranya aneh seperti itu, memangnya berapa harganya? " remeh bu Sri.
"21 juta, itu yang Ayu inginkan, bu! " jawab Ayu.
Bu Sri terkejut, ternyata walaupun bentuk dari ponsel milik Dewi aneh baginya, ternyata harganya tidak main main, melebihi harga handphone yang sekeluarga nya miliki, tidak berbanding dengan satu ponsel milik Dewi.
"Dapat darimana kamu beli ponsel harganya segituan?! Melacur ya saat di kota?! Atau kamu jadi simpanan suami orang?! "
Dewi terkejut, pertanyaan dari bu Sri hampir menebak pekerjaannya selama di kota, ia melotot ke arah bu Sri dan terdiam.
"Bu, kalau mau ribut, panggil saja anak ibu yang kedua, kita adu jotos kalau berani. "
Tiba-tiba seorang laki-laki datang dari dalam ruangan, ia menantang bu Sri yang sudah membuat keributan di suasana berduka itu, pelayat lainnya menatap jijik ke arah bu Sri, bagaimana bisa bagi mereka orang gila seperti bu Sri datang membawa keributan.
"Bu, kalau mau buat ulah jangan disini, pak Joko baru saja meninggal, tidak ada etika sama sekali. " celetuk salah satu pelayat.
"Terimakasih Fir, sudah mengusir bu Sri dari rumah. " ucap Dewi.
"Iya Wi, sama sama, saya juga tidak suka saat bapak saya baru saja meninggal, tiba-tiba orang seperti dia membuat keributan di depan jenazah bapak saya. "
Firdaus, merupakan sepupu Dewi di desa, ia adalah anak satu satunya dari bibi dan paman Dewi.
"Fir, bapak sudah mau dimandikan, kamu ikut mandikan juga ya nak? "
"Iya mak, Firdaus ke belakang. "
Setelah semuanya selesai, mereka mulai mendo'akan dan berjalan ke arah kuburan untuk segera dikebumikan.
Selesai menguburkan dan semacamnya, semua pelayat pergi, hanya tersisa para keluarga saja yang berada di kuburan.
"Bibi, kalau begitu Dewi sama bapak dan ibu pamit pulang, soalnya Dewi belum sempat pulang ke rumah. "
"Iya Wi, terimakasih sudah repot repot datang ke desa, bibi yakin kamu pasti masih capek setelah semalaman di perjalanan. " ucap bibi Jaenab.
Dewi dan kedua orangtuanya meninggalkan kuburan, mereka berencana untuk segera pulang, karena Dewi masih merasa lelah saat semalaman di perjalanan, itupun bersyukur karena Gusti mengantarkannya sampai ke desa.
Sesampainya di rumah, Taufik dan Warsita menyuruh Dewi untuk beristirahat, mereka tahu anaknya merasa kelelahan, Dewi menurutinya dan beranjak jalan menuju ke dalam kamarnya.
......................
Siang hari tiba, Dewi terbangun, karena kicauan dari burung di luar rumah yang membangunkannya, Dewi menguap dan membuka jendela kamarnya, dari dalam kamarnya terhampar suasana desa dan sawah yang tak jauh dari rumahnya.
Dewi merasa rumahnya terlalu hening, ia berjalan ke luar kamarnya dan melihat suasana kamarnya, tidak ada orang sama sekali.
"Bapak sama ibu sepertinya sudah ke sawah, aku susul saja kalau begitu. "
Dewi mencari sendalnya, ia memakainya dan berjalan menuju ke luar rumah, sebelumnya ia mengunci pintu rumahnya sebelum pergi ke ladang sawah.
Suasana desa yang begitu asri, Dewi tidak menemukan suasana tersebut di kota, terkadang ia merindukan suasana tersebut dikala bekerja dan berkuliah di kota.
"Dewi...! "
__ADS_1
Dari kejauhan bapak dan ibu Dewi memanggil Dewi dari jauh, Dewi berlari menuju ke pondok yang ada di sawah tersebut.
"Dewi habis bangun tidur? " tanya Taufik.
"Iya, karena kicauan burung diluar rumah, makanya Dewi terbangun. " jawab Dewi.
Dewi duduk di tengah kedua orang tuanya, sambil melihat suasana desa, Dewi menikmati hamparan angin yang berhembus di ubun ubunnya.
"Dewi rindu suasana desa ini, pak. Suasana yang selalu Dewi rindukan saat di kota. " ucap Dewi.
"Ya, kalau Dewi selalu rindu Desa, selalulah pulang ke sini, ibu dan bapak kesepian saat di rumah tanpa kamu. " ucap Taufik.
"Dewi kan kuliah, pak, kuliahnya juga sambil kerja. Kalau saja ada kampus di desa, mungkin Dewi tidak akan merantau di kota untuk menempuh pendidikan dan mengumpulkan uang dari bekerja di sana. " jelas Dewi.
"Iya juga, bapak lupa. "
Dari kejauhan, Dewi melihat seseorang yang berjalan ke arah aliran sungai kecil, dengan membawa peralatan pancing dan duduk di dekat bebatuan.
"Itu Firdaus, setiap hari ia selalu memancing di sana, itupun kalau sedang tidak ada borongan ke kota. " jelas Taufik.
"Dewi boleh kesana, pak? " tanya Dewi.
"Boleh, Dewi samperin sana si Firdaus. " jawab Taufik.
"Bapak sama ibu mau pulang dulu, kamu mau ke dekat Firdaus kan? " tanya Warsita.
Dewi menganggukan kepalanya, ia berjalan mendekati Firdaus, rencananya ingin mengejutkan Firdaus yang sedang memancing itu.
"Hayoo! "
Laki-laki itu terkejut hingga hampir jatuh ke sungai, ia melihat ke belakang, ternyata Dewi yang mengejutkannya dari belakang.
"Astaga Wi, kamu mengagetkan saya saja. " ucap Firdaus.
Dewi tertawa, ia duduk di sebelah Firdaus dan menemaninya yang sedang memancing.
"Bagaimana di kota? Lancar lancar saja? " tanya Firdaus.
Dewi menceritakan tentang kehidupannya di kota, sebagian ia ceritakan kehidupan nya di kota kecuali tentang Gusti, karena ia dipesankan oleh Eni untuk tidak memberitahukan bahwa ia adalah simpanan dari Gusti.
"Eneng Wiwi sampean tidak rindu desa? " tanya Firdaus.
"Wiwi selalu rindu desa, tetapi tidak dengan orang orangnya, apalagi bu Sri yang membuat gaduh saat paman Joko meninggal. Wiwi kesal saja, bagaimana bisa bibi Jaenab sama bapak mengundang orang seperti dia? Tidak heran kalau anaknya yang nomor 5 sama anaknya yang bontot dikucilkan anak desa ini. " jawab Dewi sambil melemparkan batu ke air.
"Wi, saya lagi mancing! " pekik Firdaus.
"Maaf, Wiwi tidak tahu! " panik Dewi.
Semula hening lagi, karena keduanya fokus memancing, tak lama Firdaus berdeham.
"Wi, setelah beberapa hari disini, kamu pasti pulang lagi ke kota kan? " tanya Firdaus.
"Iya, Wiwi akan pulang lagi ke kota, karena Dewi masih dalam waktu kuliah dan bekerja di kota, Fir. " jawab Dewi.
Firdaus menganggukan kepalanya.
"Fir, saat di kota, Dewi titip bapak sama ibu ya di desa, soalnya Dewi masih khawatir dengan keadaan ibu dan bapak di desa kalau masih ada bu Sri. " pesan Dewi pada Firdaus.
Firdaus menganggukan kepalanya, ia menyetujui pesan dari Dewi.
"Ya, saya akan jaga bapak dan ibu Wiwi, Wiwi jaga diri ya di kota, kota tidak seindah yang dipikirkan soalnya. " ucap Firdaus.
Dewi menganggukan kepalanya, mereka melanjutkan memancing nya.
......................
Keasyikan bercerita membuat waktu tak terasa sudah sore hari, Firdaus mendapatkan banyak ikan dan ia membagikan sebagian ikannya untuk Dewi, mereka saling pamit untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Dewi pulang... "
Taufik dan Warsita melihat anaknya yang baru saja pulang, Dewi memberikan ikan tersebut kepada ibunya, ia meminta ibunya memasak ikan tersebut untuk dimakan ketika makan malam nanti.
"Ibu, bapak, Dewi boleh bicara sesuatu? " tanya Dewi.
"Boleh nak, silahkan. " jawab Taufik.
"Ibu, bapak, jika bu Sri buat ulah lagi, kasih laporan saja sama Firdaus, dia siap untuk membantu bapak dan ibu selama Dewi di kota. " pesan Dewi.
"Tidak apa apa, nak, biar nanti Tuhan akan buka mata hatinya agar tidak bergelap mata untuk mengganggu keluarga kita lagi. " ucap Taufik.
__ADS_1
Dewi hanya menghela nafas, kedua orangtuanya begitu pasrah akan keadaan, entah itu dalam ekonomi maupun diganggu oleh orang lain.
...****************...