Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)

Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)
Eps 24 : Peduli


__ADS_3

...Happy reading 🧔...


......................


'Seseorang mengatasnamakan bapak dan ibu untuk membayar hutang rentenir, nak, sementara tadi siang bapak dihajar orang orang rentenir nak, mereka memaksa kami untuk membayar hutang yang sebelumnya tidak kami punyai, kami takut disini, nak... '


Dewi terkejut, ketika ia berada di kota, sementara ada orang jahat yang ingin menyakiti kedua orang tuanya.


"Siapa bu?! Apa ibu sudah melaporkan tindak kekerasan itu dengan pak lurah?! " tanya Dewi cemas.


'Sudah nak, karena bantuan warga disini, mereka membantu kita untuk melaporkan tindak kekerasan yang terjadi sama bapak kamu. Ibu cemas akan keadaannya sekarang.... ' ucap Warsita gemetaran.


Dewi menggigit kuku jari telunjuknya, ia berusaha berpikir keras, karena hal ini menyangkut pada keselamatan kedua orang tuanya.


Pikiran Dewi sebenarnya menuju kepada bu Sri, tetapi ia tidak ingin berburuk sangka, Dewi lebih memilih jalan lain untuk bisa membantu kedua orangtua nya sekarang.


"Dewi akan cari jalan keluarnya, bu, tapi sekarang tolong jaga bapak dulu, Dewi akan berusaha— "


'Bu, kenapa ibu menelpon Dewi?! Jangan ganggu anak kita dulu, bu! '


Suara Taufik yang memanggil ibunya, Dewi mendengar perdebatan kedua orang tuanya di telepon dan mendengarkan seksama debat kedua orang tuanya.


'Ibu hanya memberitahukan saja, Pak. '


'Tidak, nanti anak kita akan kewalahan membantu kita. Bapak tidak ingin Dewi anak satu satunya kita, akan merasa kerepotan karena masalah kita berdua, bu! ' tegas Taufik.


"Tidak, Dewi tidak sama sekali-- "


'Tak usah repot repot, nak, kami bisa sendiri, jangan menjadikan kami alasan untuk kamu bekerja keras disana, kami akan baik baik saja disini. Belajarlah yang pintar ya, nak. '


Taufik mengakhiri panggilan telepon, kemudian Dewi menatap ponselnya dan kembali menelpon kedua orangtuanya, sayangnya, sepertinya Taufik tidak mengangkat panggilannya, karena ayahnya itu memilih untuk tidak merepotkannya.


Dewi menitikkan air matanya, tidak terbesit sama sekali dalam pikirannya bahwa kedua orangtuanya begitu merepotkannya, Dewi bekerja dan mengirimkan sedikit uangnya itupun untuk membuktikan bahwa ia sudah berusaha di kota mencari kerja dan berkuliah, itupun sekarang ia bekerja melayani Gusti yang notabene nya adalah pelayan untuk Gusti, tepatnya Dewi adalah wanita simpanan.


"Ya Tuhan, mengapa ini menjadi begitu rumit? Aku tidak pernah sama sekali berbuat jahat dengan orang lain, tapi mengapa ada saja yang ingin mencelakakan keluarga maupun diriku ini? "


Dewi mengeluh, karena hidupnya begitu rumit dan selalu dijebak oleh orang lain, entah apapun, ada saja fenomena yang selalu menimpanya tanpa ia inginkan.


Bahkan orang orang yang berada di sekitar lorong kampus melihat Dewi yang tengah menangis, berhiliran orang orang yang lewat melihat Dewi yang tengah meringkuk sendirian, entah tatapan aneh atau apapun ditampilkan di setiap sorot mata yang memandangnya.


"Wi, Dewi...! "


Seseorang memanggil Dewi dari kejauhan, kemudian langkahnya mendekat, Eni menghampiri Dewi yang tengah meringkuk di dekat ruang jurusan kedokteran.


"Wi, kamu kenapa? Loh, kok kamu nangis gini? " tanya Eni khawatir.


Dewi sadar siapa yang berada di sampingnya, ia mengusap air matanya dan melihat Eni yang berdiri di sampingnya, Dewi bangkit dan menghilangkan bulir air matanya.


"Tidak, saya hanya bersedih saja, Ni. Terimakasih sudah bertanya kondisi saya, kamu sangat baik kepada saya. " jawab Dewi.


Namun hati dan ekspresi tak bisa dibohongi, Eni masih belum puas, ia kembali bertanya namun jawabannya sama, Eni akhirnya membawa Dewi menjauh dari lorong dan membawa Dewi ke sesuatu tempay yang baginya tidak satupun orang akan kepo akan obrolan mereka berdua.


.


"Apa?! Orang tua kamu dipukul orang yang tidak dikenal?! "


Dewi menganggukan kepalanya, kemudian ia mengusap air matanya yang mengalir, kemudian Eni mengelus bahu Dewi untuk menenangkan Dewi.


"Berapa hutangnya, Wi? " tanya Eni.


"Saya tidak tahu, sepertinya total hutangnya besar, buktinya bapak saya dipukul hingga babak belur oleh rentenir di desa. " jawab Dewi sesenggukan.


Eni menganggukan kepalanya.


"Saya sepertinya harus bekerja sekarang, maaf, saya duluan ya, Eni. "


Eni menganggukan kepalanya, kemudian Dewi bangkit dari kursi dan berjalan menuju ke tempat ia bekerja, hanya dengan berjalan kaki, ia sudah sampai ke restoran tempat ia bekerja.

__ADS_1


Dewi sampai ke tempat ia bekerja, tanpa basa basi ia langsung memasuki ruangan belakang tempat restoran itu berada, segera memakai celemek, kemudian ia mulai membereskan piring dan peralatan masak yang akan ia cuci.


"Oke, piring baru bakal diantar! "


Cantika memasuki ruangan belakang, tepatnya ruang piring piring atau keperluan masakan berada, tempatnya tak jauh dari tempat mencuci piring dan semacamnya.


Di tempat mencuci piring, Cantika melihat Dewi yang tengah melamun, tidak biasanya Dewi akan diam, setidaknya Dewi akan menatap ke belakang dan akan menyapa siapapun yang masuk ke ruangan belakang.


Cantika mempunyai ide cemerlang, itu bisa sebuah keisengan, yaitu ia akan mengejutkan Dewi dari belakang seperti biasanya ia akan mengerjai orang orang yang tengah diam seperti Dewi sekarang.


Cantika mengambil langkah, ancang ancang untuk mendekati Dewi, langkahnya terlalu pelan.


"Dor! "


Dewi hampir menjatuhkan piringnya, kemudian ia mengambil nafasnya dalam dalam, ia terkejut dengan seseorang yang mengagetkannya dari belakang.


"Cantika? Kamu mengagetkan saya saja, hampir saja saya menjatuhkan piring ini. " ucap Dewi.


"Hei, ngelamunin apaan lo, Wi? " tanya Cantika.


Dewi diam, ia tidak akan menceritakan apa yang terjadi padanya, ditambah lagi, Cantika adalah orang yang baru ia kenal beberapa hari yang lalu.


"Tidak, tidak, saya hanya kepikiran dengan lauk nanti malam, soalnya sudah beberapa hari saya tidak masak di kosan, jadinya hari ini saya ingin memasak sesuatu, sayangnya saya tidak tahu apa yang ingin saya masak. " jawab Dewi.


Cantika ber-oh ria, ternyata dilema anak kosan yang tak perlu ia ketahui, Cantika bahkan berdecak malas dengan obrolan seputar dilema anak kosan yang sibuk dengan menu yang akan dimakan hari ini.


"Yaudah deh, semangat mencari ide untuk masakannya hari ini, good luck ya! "


Cantika meninggalkan Dewi dengan beberapa piring yang ia pegang, kemudian berjalan menuju ke depan untuk mengantarkan piring piring yang baru, Dewi dapat bernafas lega dan ia melanjutkan pekerjaanya.


Tak lama ponselnya berbunyi, Dewi merogoh kantong celananya dan melihat siapa yang mengirimkan pesan padanya, itu adalah ibunya dari desa, Dewi mencuci tangannya dan mengeringkannya dengan mengusapkannya di celananya, dan mulai membaca isi pesan dari ibunya.


Tertulis di pesan tersebut bertotalkan 30 juta, tentu saja itu membuat Dewi terkejut, darimana ia akan mencari uang sebanyak itu, sementara ia bekerja sebagai juru cuci piring di restoran.


Tetapi bukan Dewi namanya jika tidak ingin berbuat nekat, ia akan berbuat apapun demi bisa membantu seseorang, karena jiwa sosialnya begitu kuat sehingga rela berbuat apapun demi seseorang yang ia sayangi.


Bahkan, Dewi mengetik kepada orangtuanya bahwa ia akan mencari jalan keluar, Dewi mengatakan bahwa ia akan berusaha membantu kedua orangtuanya untuk membayar hutang tersebut.


.


Malam harinya, Dewi pulang dari restoran, ia menunggu di halte bus untuk menunggu bus ataupun taksi yang lewat, karena ia ingin pulang menuju ke kosan, ia tidak percaya lagi dengan ucapan Cantika lagi, karena rekannya itu terkenal sangat jahil.


Tak lama setelahnya, sebuah mobil berhenti di depannya, siapalagi kalau bukan mobil Gusti yang terparkir di depannya.


"Baru pulang, manis? "


Dewi terkejut, benar, itu adalah Gusti, bagaimana laki laki itu bisa mengetahuinya bahwa ia sudah pulang, tetapi Dewi memilih untuk diam dan tersenyum ke arah Gusti.


"Ya, saya baru saja pulang, om, dan juga saya mau pulang ke kosan. " jawab Dewi.


Tatapan Gusti terlihat sangat berg*irah, bahkan ia melihat Dewi dengan tatapan menggoda, ia mempersilahkan Dewi untuk masuk ke mobilnya.


"Masuklah. "


Dewi tanpa ragu ragu langsung memasuki mobil milik Gusti, ia duduk disamping Gusti, kemudian memakai seatbelt.


"Om, baru pulang bekerja? " tanya Dewi.


"Tidak, saya masih punya kesibukan nanti malam, sekarang, saya ingin membawa kamu bersenang senang, apa kamu mau? " tanya Gusti.


"Bersenang senang? Apa kita akan menyewa tempat? " tanya Dewi penasaran.


"Sepertinya tidak, manis, saya tidak ingin bermain hari ini, tetapi saya ingin mengajak kamu bersenang senang, seperti berbelanja atau sekedar menemani saya saja, tidak keberatan, kan? "


Dewi merasa bahwa itu bisa menjadi jalan keluarnya, tanpa berpikir panjang ia menyetujui apa yang Gusti ucapkan tadi, hal tersebut tentu membuat Gusti menjadi senang, ia mengelus kepala Dewi hingga membuat rambut Dewi menjadi kacau.


"Sekarang, kamu bisa membuat saya senang ya, Dewina? " puji Gusti.

__ADS_1


"Saya sudah cukup belajar dari Eni, om, cukup menyenangkan bisa terus bersama om. "


"Saya juga senang, melihat perubahan kamu sekarang, Dewi. Teruskan, saya akan menunggu kejutan lainnya yang akan diajarkan oleh Eni untuk kamu tunjukkan dengan saya. " ucap Gusti.


Keduanya tertawa bersama, kemudian Gusti fokus menatap ke depan, sebaliknya, Dewi akhirnya merenung ke arah samping, agar ia tidak terlihat menyimpan sesuatu di depan Gusti.


'Maafkan saya, om Gusti, ini semata-mata saya lakukan untuk bapak dan ibu saya di desa, yang sedang dikejar rentenir karena sembarang orang mengatasnamakan mereka dalam menagih uang. '


Sepanjang malam, Dewi hanya mengikuti Gusti saja dan hanya di dalam mobil saja untuk waktu yang lama, dan ujung ujungnya Gusti akhirnya menginginkan sebuah permainan, dan mereka melakukannya di dalam mobil lagi.


"Bayaran untukmu, manis, saya sangat suka pengalaman ini dimainkan untuk beberapa kali. " ucap Gusti.


"Banyak nya, saya suka, om... "


Dewi mengambil uang yang diberikan oleh Gusti, kemudian ia simpan di dalam tasnya, ia berencana akan terus menabung untuk pembayaran hutang kedua orang tuanya dan juga biaya kuliahnya.


"Baik, apa kamu mau pulang sekarang, Dewina? " tanya Gusti.


"Saya akan mengikuti om Gusti saja. " jawab Dewi.


"Jika kamu ikut saya, kamu tidak akan pernah pulang ke kosanmu lagi. "


Dewi tertegun, bahkan ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa ia terkejut dengan ucapan Gusti, itu seakan menakutinya yang mengatakan bahwa ia tidak akan kembali.


"Baik om, saya pilih pulang ke kosan saja. " ucap Dewi.


Gusti mengangguk paham, ia menjalankan mobilnya untuk mengantarkan simpanannya itu menuju ke kosan.


.


Memakan waktu 20 menit, akhirnya Dewi sampai di kosannya, ia mengucapkan terimakasih.


"Sebelumnya, saya sangat sangat berterimakasih pada om, malam ini sungguh luar biasa. " puji Gusti.


"Oh ya? Kalau begitu, kita akan merencanakannya untuk malam malam selanjutnya, dan saya suka ketika kamu yang menjadi komandonya, Dewina. " ucap Gusti.


Dewi mendekat, ia mencium kilat bibir Gusti, hal tersebut membuat Gusti terkejut dan tersenyum seolah tak percaya, Dewi mengerti cara untuk menggodanya.


"Saya duluan, om, sampai jumpa lagi. "


Dewi melambaikan tangan dan menutup pintu mobil Gusti, Gusti membunyikan klakson kemudian pergi dari kosan Dewi.


Suasana lantai bawah terasa mencekam, apalagi sebelumnya ada penemuan jenazah di kamar bawah, siapa yang tidak takut dengan penemuan jenazah yang sudah beberapa hari membusuk di kamar mandi kosan.


Perlahan, Dewi menaiki tangga menuju ke atas, ia berjalan ke kamar dan melihat Eni yang baru saja keluar kamar, Dewi menyapa Eni dan memanggil temannya itu.


"Eni. " panggil Dewi.


Eni melihat ke arah Dewi, kemudian mengacakkan kedua pinggangnya sambil menatap ke arah Dewi.


"Wah, pulangnya malem banget, abis darimana nih? " tanya Eni.


"Biasa, saya habis pulang dari restoran, kemudian saya bertemu dengan om Gusti, dia seperti penyelamat bagi saya. " ucap Dewi.


"Iya dong, dia tuh penyelamat, apapun yang kamu mau, dia pasti nurutin, iya nggak? "


Dewi menganggukan kepalanya, kemudian ia menunjukkan amplop yang diberikan oleh Gusti, totalnya banyak sehingga membuat Eni tercengang.


"Wih, mantap, buat apa nih nanti, Wi? " tanya Eni.


Dewi tersenyum. "Tentu saja, uang ini akan saya gunakan untuk membantu kedua orangtua saya di desa, Ni. " jawab Dewi sumringah.


"Kamu terlalu peduli dengan orangtua mu, Wi, padahal itu tugas mereka sendiri. " ucap Eni.


"Bagaimana lagi? Hanya ini yang dapat saya berikan untuk kedua orangtua saya, Eni. Kalau saja mereka tahu apa yang saya lakukan di kota, mungkin saya tidak akan hidup saat ini, saya hanya bisa membahagiakan mereka hanya dengan uang ini saja. " ucap Dewi.


"Ya, alasannya selalu itu itu aja, aku masuk dulu ya ke kamar, capek. "

__ADS_1


Eni dan Dewi saling melambaikan tangan, keduanya memasuki kamar masing masing untuk beristirahat karena lelah sehabis bekerja ataupun karena tugas lain di luar kosan.


...****************...


__ADS_2