
...Happy reading 🧡...
......................
Setelah kejadian tersebut, hubungan Dewi dan Eni tidak begitu baik, mungkin saja Eni masih merasa kesal dengan Dewi yang sekarang sudah mulai memberontak.
Dewi juga sekarang sudah mulai mencoba melupakan kejadian tersebut, karena ia tidak ingin kejadian itu mengganggu pola pikirnya, ia ingin fokus dengan perkuliahannya.
Dewi juga tidak ingin banyak melamun, melamun membuatnya semakin berpikiran tentang kejadian yang menimpa nya, kadang malam hari ia sering meringis sendiri karena semua itu.
Dewi menyendiri, pulang kuliah atau kerja hanya langsung masuk ke kamarnya, tidak seperti biasanya ia akan menghampiri Eni, saat bertemu Eni saja bahkan ia canggung untuk memulai obrolan terlebih dahulu.
Suara ponselnya sering berdering, selama itu bukan Gusti, ia tetap mengangkat telponnya, ia tidak ingin jika ia terhubung dengan Gusti lagi.
Dewi memang merasa pemasukannya sekarang tidak sebanyak sebelumnya, ia secara perlahan-lahan mulai ingin memutus kerja dengan Gusti, ia takut jika kembali dicekoki minuman dan ketika tidak sadarkan diri tubuhnya akan habis digempur lagi oleh Gusti, akan menjadi boneka pemuas dalam satu malam saja nantinya.
"Begini ya rasanya kesepian? " tanya Dewi pada dirinya sendiri.
Tak lama ponsel milik Dewi berdering, ia melihat siapa yang menelponnya, ternyata itu adalah orang tuanya sendiri, Dewi segera mengangkat telepon tersebut.
'Halo nak, apa kabar sekarang kamu di sana? ' tanya Taufik dari telepon.
Dewi tersenyum, ia menganggukan kepalanya. "Dewi baik baik saja disini, pak, lihat saja bagaimana Dewi sekarang? " ucap Dewi.
Dewi mengobrol santai dengan kedua orangtuanya, hingga suasana seketika hening.
'Apa kamu tidak rindu rumah, Dewina? ' tanya Warsita.
"Maafkan Dewi, bu, sepertinya bulan ini Dewi tidak bisa pulang, Dewi sedang mengerjakan makalah kuliah. Sepertinya tidak bisa pulang ke desa. " jawab Dewi.
'Oalah begitu, yasudah ya nak, kamu belajar yang bagus di sana, kamu masih punya cita cita yang bagus untuk nantinya, Wi. ' ucap Taufik.
Dewi menganggukan kepalanya, tampak ia terharu dengan ucapan kedua orang tuanya, ia mengingat kata kata bapaknya barusan.
"Baik, Dewi akan belajar sungguh-sungguh, sampai Dewi bisa menjadi seorang dokter. " ucap Dewi.
'Ya sudah ya nak, kalau begitu kami matikan teleponnya, sudah siang, kami ingin ke ladang dulu. '
"Iya Pak, sampai jumpa. "
Panggilan tersebut akhirnya berakhir, Dewi meletakkan ponselnya di atas meja, kemudian ia melipat kedua tangannya di atas meja dan menyenderkan wajahnya di kedua tangannya.
"Aku merindukan kalian di desa, bapak dan ibu. " lirih Dewi.
Dewi baru ingat, bahwa ia harus ke minimarket untuk bekerja, dengan cepat ia membereskan diri untuk segera berangkat ke minimarket.
Saat keluar kamar, Dewi tidak melihat Eni sama sekali, biasanya kamar Eni tidak akan terkunci, dan semenjak mereka saling tidak teguran, sekarang kamar Eni selalu terkunci dari depan, kadang Dewi merindukan masa masa saat mereka bersama sebagai teman.
"Yasudahlah, memang kemarin saling marah marahan. " ucap Dewi.
Dewi bergegas turun ke bawah, ia berjalan menuju ke minimarket.
......................
Suasana minimarket seperti biasanya, bahkan sering kali pelanggan keluar masuk dengan alasan tidak ada barang yang mereka cari sama sekali.
"Eh Dewi, itu di depan jangan lupa di pel, nanti pak bos datang ke sini bagi gaji buat kita. " perintah Novi.
Dewi yang sedang menyusun barang di dekat meja kasir langsung menatap ke arah Novi, ia sedikit mengkerut kan keningnya dan bertanya sekali lagi.
"Tapi kak, saya hari ini bagian kasir, sedangkan yang mendapatkan tugas membersihkan minimarket itu Farel dan Mutia. " ucap Dewi.
"Ck, udah naik pangkat kamu sampe bantah kakak senior kamu?! Udah, kerjain sana, nggak dikerjain yang ada kita semua kena imbasnya! " tegas Novi.
Dewi diam, ia akhirnya keluar dari meja kasir, menuju ke ruang peralatan untuk mengambil alat kebersihan.
Novi tersenyum miring, sangat mudah membuat anak baru seperti Dewi ia perintah, ia merasa seperti benar-benar menjadi kakak senior di minimarket, padahal ia adalah penindas berkedok senior.
Dewi mengerjakan perintah dari Novi, tiba-tiba ponselnya berdering, ia mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelpon, dan itu ternyata Gusti, Dewi memilih mematikan telepon tersebut dan melanjutkan pekerjaan nya.
Sepanjang ia bekerja dalam membersihkan depan minimarket, Dewi terus terusan menerima telpon dari Gusti, entah apa yang diinginkan laki laki itu sehingga masih ingin menghubungi nya terus menerus.
"Sial, nggak tau kalau dari tadi orang-orang yang bolak balik itu maling barang...! "
Novi dilanda panik, karena ia tidak memantau keadaan kamera pengawas karena keasyikan membuat konten joget di aplikasi, ia tidak menyadari bahwa ada orang yang sedaritadi bolak balik itu adalah orang yang mencuri barang, ia panik jika nanti bosnya akan memeriksa keadaan kamera pengawas hari ini, karena setiap pembagian gaji maka bosnya akan memantau keadaan barang dari kamera pengawas.
Saat Dewi masuk ke dalam minimarket, ide bulus Novi mulai bekerja, ia ingin agar Dewi yang kena imbasnya, secara ia tidak ingin jika uang gajinya berkurang, bisa saja biayanya sehari-harinya tidak tercukupi.
"Dewi! " panggil Novi.
Novi keluar dari meja kasir, ia menghampiri Dewi dan mengambil peralatan bersih bersih yang dipegang oleh Dewi.
"Loh, ada apa, kak? " tanya Dewi.
__ADS_1
"Udah, kamu balik ke meja kasir sono sambil mantau kamera pengawas, biar aku yang lanjut bersih bersih di belakang. " ucap Novi.
Dewi berpikir sejenak, kemudian ia memberikan peralatan bersih bersih tersebut kepada Novi, ia berjalan menuju ke meja kasir sesuai perintah dari Novi.
'Mampus! Rasain lu, sekarang gua aman karena sekarang lu yang kena imbasnya! '
Novi tersenyum, ia ingin tertawa, sayangnya itu hanya bisa di dalam hati saja.
Saat suasana mulai sunyi, orang yang ditunggu akhirnya datang, Dewi beserta karyawan lainnya mulai merapikan mulai dari pakaian hingga rambut, kemudian mendekat ke arah bosnya dan berjejer berbaris rapi.
"Hari ini adalah hari yang membahagiakan bagi kalian, dan saya sendiri, karena marketing penjualan bulan ini sangat bagus. Beri tepuk tangan untuk kalian sendiri. "
Para karyawan kemudian memberi tepuk tangan yang meriah, karena kepuasan bosnya dalam mereka memajukan penjualan membuat mereka akhirnya diapresiasi oleh bos mereka sendiri.
Sebelumnya, bos minimarket tersebut memeriksa keadaan minimarket miliknya, mulai dari barang barang, keadaan gudang, kebersihan minimarket, hingga susunan uang yang ada di dalam mesin kasir.
Hingga saat pemeriksaan kamera pengawas, Novi tersenyum sambil menunduk, ia tidak sabar melihat reaksi bosnya ketika melihat ada sebagian barang yang hilang.
Ekspresi bos minimarket tersebut mulai berubah, dengan keadaan panik memantau kamera pengawas tersebut, karena ada pencuri yang mengambil barang barangnya.
"Siapa yang terakhir ada di meja kasir bagian memantau kamera?! "
Semua mengarah ke Dewi, Dewi seketika terkejut, ia kemudian dipanggil dan mendekat ke arah bosnya.
"Mana amplop yang barusan saya berikan tadi?! " tanya bos minimarket tersebut.
Dewi memberikan amplop yang baru saja diterimanya kemudian diambil, sebagian uangnya kemudian dikeluarkan dan sekarang isinya sangat sedikit.
"Ini gaji kamu, dipotong karena kamu lalai. Masa kamu tidak lihat kamera pengawas kalau ada yang mencuri barang barang yang ada di rak kosmetik, bukannya kakak senior kamu sudah kasih arahan, bahwa kamu harus memantau monitor ini sepanjang melayani para pelanggan?! " bentak bos minimarket tersebut.
"Ta—tapi pak Heri, yang mendapat bagian memantau kamera pengawas itu kak Novi, saya hanya bagian kasir, kebetulan saja saya mendapat bagian bersih bersih... " ucap Dewi menyela.
Novi yang tersenyum kemudian menunjukkan ekspresi marah, ia berakting seolah-olah ia tidak bersalah sama sekali.
"Eh, masalah lo itu nggak pantau kamera pengawas ya, kok malah nyambung ke bersih bersih? Lo gak mau salah ya jadi orang? Lo itu nggak mantau kamera pengawas ya, ditambah lagi nih ponsel lo yang terus terusan bunyi, itu ganggu tau nggak?! Gua tuh daritadi bersih bersih, nggak lihat apa lo daritadi?! " bantah Novi.
"Tuh lihat pak, saya lagi bersih bersih saja dia nggak liat, apalagi mantau kamera pengawas? " sambung Novi tak ingin bersalah.
Pak Heri kemudian menggelengkan kepalanya, ia mengambil kertas, surat peringatan pertama untuk Dewi dan memberikannya kepada Dewi sambil mengomel.
Dewi lagi lagi diomeli, sepanjang ia bekerja di bagian kasir ia selalu terganggu oleh dering handphone nya yang selalu mendapat pesan dari Gusti, ditambah lagi Novi yang tidak ingin disalahkan bahwa Novi lah yang tidak memantau kamera pengawas, itu saja dialihkan ke dirinya setelah barang yang disebutkan bosnya itu barusaja hilang.
......................
Saat menuju ke kamarnya, Eni dari kamarnya kemudian keluar, Dewi secara langsung berpapasan dengan Eni dan mereka terpaku, secara mereka langsung saling bertatapan setelah beberapa hari tidak bertemu.
"Mau kemana, Eni? " tanya Dewi.
Baru kali itu akhirnya Dewi bertegur sapa kembali pada Eni, Eni masih menatapnya sinis kemudian mengarahkan pandangannya pada Dewi.
"Ingin bertemu gadun ku, kenapa? " ketus Eni.
Dewi menganggukan kepalanya, ia tersenyum dengan Eni.
"Ngapain senyum senyum kayak gitu? " tanya Eni.
"Tidak, saya senang saja ketika bisa bertegur sapa dengan kamu lagi, saya juga merasa bahwa kemarin saya keterlaluan sudah membentak kamu, saat itu saya sedang emosi sekali sehingga saya tidak sengaja membentak kamu. " jawab Dewi.
"Iya." ucap Eni singkat.
"Lagipula biaya kuliah nggak ada yang murah, Dewi, kamu tuh harusnya bersyukur bisa ketemu sama om Gusti. Kamu juga dapat uang itu siapa lagi kalau bukan om Gusti, lihat, sampai kamu kuliah pun biayanya rata rata dari nemenin om Gusti. Perkara perawan aja sampai segitunya kamu, Wi, minta aja bayaran sama dia buat balikin perawan kamu, mudah kok. " ucap Eni.
"Bagi saya tak apa jika saya menemaninya, tetapi saya kecewa ketika om Gusti berani membuat saya tidak sadar agar dia bisa menggerayangi saya. Saya sangat menjaga kesucian saya, sayangnya sekarang tidak lagi, saya tidak suci lagi. " ucap Dewi.
"Sekarang, kamu masih mau ketemu sama om Gusti nggak? " tanya Eni.
Dewi menggelengkan kepalanya, Eni hanya memutar mata malas dan berdecak, ia menggelengkan kepalanya dan menghela nafasnya, Dewi tidak bisa dibujuk untuk kembali melayani Gusti.
"Yaudah, terserah sama kamu sendiri, toh nanti nyesel sendiri kamu, karena nggak ngambil kesempatan buat barengan sama om Gusti. " ucap Eni.
"Saya tetap memilih pilihan saya, Ni. " ucap Dewi.
"Terserah kamu sendiri, yaudah, aku mau pergi dulu. "
Eni meninggalkan Dewi yang berdiri di depan pintu, Dewi hanya diam dan kembali masuk ke kamarnya.
Semuanya berjalan baik, bahkan Dewi merasa lebih tenang sekarang, karena Gusti sudah tidak sering mengirimkan pesan ataupun menelponnya lagi, ditambah tidak lagi memberatkan pikirannya.
Eni terus saja menuntutnya untuk bisa menemani Gusti, tetapi Dewi sudah tahu, jika sekali lagi kembali dengan Gusti, bisa saja ia akan dinikmati kembali oleh laki-laki itu.
Dewi tetap menjalani keseharian nya dengan baik, baik itu perkuliahan maupun pekerjaannya, walaupun begitu ia masih merasa kesal dengan Novi, karenanya Dewi mendapatkan hukuman beserta surat peringatan pertama kali karena ulah bulus Novi itu sendiri.
Hatinya terasa bergejolak, panas dan mendidih, Dewi menginginkan Novi diberikan karma yaitu kandungannya mengalami keguguran.
__ADS_1
......................
"Dewi, khodam apalagi yang kerja sama kamu? Kok bisa ngeri banget sih? " tanya Mutia.
Dewi yang baru masuk kerja mengerutkan keningnya, ia mendekat dan menaruh tasnya disamping meja kasir.
"Memangnya ada apa ya? " tanya Dewi.
"Tau nggak, kalau Novi baru saja dilarikan ke rumah sakit! Dia keguguran pas lagi di kamar mandi! " ucap Mutia penuh penekanan.
Dewi terkejut, bagaimana bisa ungkapan hatinya begitu cepat didengar oleh Tuhan, padahal itu hanyalah ungkapan kemarahannya saja ketika mengingat perlakuan Novi kepadanya.
"Saya turut prihatin atas kejadian ini... " lirih Dewi.
"Wi, kalau kami ada salah salah kata, mohon dimaafin ya, kami tau kok kami banyak nyinggung kamu, tapi jangan do'ain yang jelek jelek ya buat kami semua, pliss ya Wi... " ucap Randi.
Semua teman teman kerja Dewi menundukkan kepala mereka sambil membentuk tangan sungkem, bahwa mereka takut akan Dewi yang berdoa jelek untuk mereka, dalam hati Dewi ia merasakan panik, ucapan dan ungkapan hatinya begitu cepat didengar oleh Tuhan.
"Ya, kalian tidak ada salah sama saya, saya tidak pernah berdo'a yang buruk untuk teman teman saya sendiri. Kalian semua baik, saya sangat berterimakasih sudah bisa berkenalan dengan kalian semua. " ucap Dewi.
Semuanya menghela nafas lega, mereka tidak perlu khawatir dengan Dewi, Dewi menggelengkan kepalanya dan kembali bekerja.
Langkah kaki menuju ke arah minimarket, kemudian pintu mulailah terbuka, suara pintu yang tidak berbunyi tersebut namun membuat para pegawai masih tetap melayani.
Kebetulan Dewi hanya sendiri, entah kemana semua teman temannya, mungkin sibuk membereskan barang yang baru saja masuk ke gudang dan sebagian menyusunnya di rak barang barang yang sesuai dengan tempatnya.
"Selamat datang—"
Dewi terhenti, siapa yang ditatap olehnya adalah orang yang selama ini tidak ingin ia tatap, Gusti yang masuk ke minimarket dan secara tidak sengaja bertemu dengan Dewi.
"Kamu bekerja di sini, Dewi? "
Setelah sekian lama, akhirnya Dewi bertemu kembali dengan Gusti, Dewi dirasa tidak perlu lagi bertemu untuk menghampiri Gusti, sekarang Gusti yang menghampiri nya di minimarket.
"Ya, saya bekerja disini, om. " ucap Dewi.
"Sebelumnya, om mau apa? " tanya Dewi pelan.
Gusti memberikan beberapa kaleng bir, kemudian menunjuk ke arah belakang Dewi.
"Saya ingin yang dibelakang kamu itu. " tunjuk Gusti.
Sebuah kotak berisi barang, bertuliskan di kaca etalase khusus dewasa, Dewi belum sama sekali ngeh dan dengan entengnya mengambil kotak tersebut.
Sebelum memberikan barang tersebut, Dewi meneliti gambar di kotak tersebut, ia masih penasaran mengapa benda tersebut ada di etalase khusus itu.
"Ini om? " tanya Dewi.
"Ya, benar. " jawab Gusti.
"Kegunaannya ini untuk apa ya, om? " tanya Dewi sekali lagi.
Gusti yang melihat barang yang dibelinya kemudian sorot matanya mengarah ke Dewi, dengan senyuman menggoda ia tersenyum miring, senyuman cabul dipancarkan.
"Apa kamu mau coba bersama saya? "
Farel dan Randi yang tak sengaja mendengarnya kemudian terkejut, mereka mendekati Dewi dan melindungi Dewi.
"Jangan om, ini masalahnya anak baru, dia juga anaknya polos banget, bisa aja dia kaget ditabok pisangnya om. " ucap Farel.
"Woi, jangan bikin Dewi tambah bingung! " teriak Randi.
"Hei, jangan ngobrol yang mesum mesum! Ini masih di tempat kerja, di rumah sendiri saja sono kalau mau cerita mesum! " teriak Mita.
Gusti hanya tersenyum, ia memberikan kartu debit miliknya untuk membayar barang yang ia beli, bukan main main, mata para kasir terarah ke kartu yang sedang dipegang Dewi tersebut.
"Sampai jumpa, silahkan kembali berbelanja lagi. " ucap Dewi.
"Wi, kamu nggak sadar ato apa sih? " tanya Farel.
"Memangnya ada apa? " tanya Dewi kebingungan.
"Astaga Wi, baru aja kamu tuh mau diajak berhubungan sama tuh om, itu barang tuh buat pengaman kalo lagi berhubungan, kok kamu sampai nggak tau sih, Wi?! " tanya Randi panik.
"Duh, syukur aja kita ada ya, kalo nggak si Dewina yang polos ini digerayangi sama tuh om, ya walaupun tuh om mayan ganteng lah, hehe... " ucap Mutia.
Farel dari belakang menoyor kepala Mutia, otak wanita tersebut tak lain dari lelaki tampan, selalu membuatnya sakit kepala ketika teman kerjanya yang begitu memandang fisik.
"Udah, orang cabul kayak gitu kamu suka. Dewi, kalo ada yang beli barang yang ada di belakang etalase itu, kamu nggak usah banyak nanya kegunaannya, itu pengaman namanya, biar kamu sebagai perempuan nggak hamil karena alat itu, mengerti? " ingat Farel.
Seketika wajah Dewi memerah, ia menganggukan kepalanya dan kembali bekerja.
Dewi selamat dari ucapan Gusti barusan, hampir saja ia terlalu jauh untuk mengetahui benda tersebut.
__ADS_1
...****************...