
...Happy reading š§”...
......................
"Apa kamu tahu dimana suami saya sekarang, Ruben? "
Tampak kedua orang yang sedang berdiskusi di suatu ruangan, itu adalah Bella dan Ruben, keduanya sedang berdiskusi, lebih tepatnya asisten Gusti yang diinterogasi dengan Bella.
"Saya tidak tahu dengan keberadaan tuan Gusti, karena saya mencoba menghubungi tuan Gusti saja, status panggilan hanya memanggil saja, nyonya. " jawab Ruben.
Bella menggeram, ia kesal dengan tidak tahunya keberadaan Gusti sama sekali, sedangkan ia ingin menghubungi Dewi saja ia tidak tahu dengan nomor gadis tersebut.
"Panggil Fano segera, saya butuh bantuannya untuk melacak keberadaan Gusti. " perintah Bella.
Ruben menganggukan kepalanya, kemudian ia keluar menuju keruangan lainnya, menyisakan Bella yang sedang duduk dan menatap barang barang yang ada di atas meja kerjanya.
"Saya tahu, bahwa kamu pasti tak jauh dari Dewi, Gustiawan. " gumam Bella.
Bella mengotak atik laptop yang ada di dekatnya, menyetel ke kamera pengawas, dan tidak ada sama sekali tanda tanda Gusti yang berada di kamar Dewi, hanya terlihat Dewi yang sedang tertidur di kasur dan sebagian barang yang belum sama sekali di bereskan, Bella gagal mengetahui keberadaan Gusti dikamar apartemen yang ditempati oleh Dewi.
"Sial, dimana keberadaan suamiku! "
Bella kesal sendiri, ia mencoba untuk mencari kembali keberadaan suaminya, walaupun hal tersebut bisa dikatakan merupakan hal yang sia sia ia lakukan.
......................
Keesokan harinya, Dewi terbangun dari tidurnya, ia sebelumnya mencium aroma sesuatu yang masuk ke hidungnya, aroma lembut dan menyengat dapat ia rasakan saat terbangun dari tidurnya.
Dewi beranjak dari tempat tidur, ia mengikuti aroma tersebut dan arahnya menuju ke dapur, sepertinya seseorang sedang memasak sesuatu yang tercium sangat lezat.
Saat keluar dari kamar, Dewi melihat sofa yang sebelumnya sudah dibereskan, ia berjalan ke arah dapur untuk melihat siapa yang sedang berada di dapur tersebut.
Secara langsung Dewi berpapasan dengan Gusti, terlihat laki laki tersebut sedang memasak sesuatu yang sangat menarik perhatian hidungnya.
"Om, sedang memasak? " tanya Dewi.
Gusti menganggukan kepalanya. "Ya, kamu duduk saja disana, ambil masakan yang sudah saya buat untuk kamu. "
Dewi duduk, ia melihat masakan yang terlihat di atas meja tersebut, kemudian satu masakan yang baru saja dibuat ditaruh di atas meja tersebut, perkumpulan makanan hijau dan campuran lainnya terlihat di piring masakan yang sebelumnya sudah dibuat.
"Ini semua sayuran, om? " tanya Dewi.
Gusti duduk, ia mengambil piring dan menyendokkan makanan yang ada. "Tidak, beberapa campuran dari makanan yang ada di sayur itu sudah saya tambahkan, agar kamu bisa tetap menikmati masakan ini. "
Dewi duduk, ia mengambil piringnya dan ikut memakannya, satu suapan masuk kemulutnya, dan mengunyahnya dengan perlahan.
"Makanannya sungguh sehat sekali, om, apa ini benar om yang memasaknya? " tanya Dewi.
"Tentu saja, kamu kira siapa lagi yang berada di kamar ini selain kamu dan saya? "
Dewi tersenyum, ia duduk dan mulai memakan makanan yang dibuat oleh Gusti, hampir dari makanannya tidak gagal, Dewi bahkan dapat menikmati makanan tersebut hingga dua suapan ia terima.
"Enak sekali om, saya suka. " puji Dewi.
Gusti ikut memakan makanan tersebut, ia menatap Dewi dan ingin mengatakan sesuatu padanya.
"Kamu selama ini sering makan hotpot kan? Hentikan selalu terus terusan makan itu, walaupun di lidah kamu rasanya sangat nikmat. "
"Tapi om, hotpot yang sering Dewi pesan selalu ada sayurnya, nyaris tidak ada yang terlewatkan dengan makanan itu. " ucap Dewi.
"Apa kamu bisa jamin jika di jamur dan sayurannya benar benar bersih dan higienis? Kamu tahu, jika di jamurnya mengandung bakteri Listeria yang bisa membahayakan tubuh. Untuk manusia dewasa saja berbahaya, apalagi kandunganmu yang masih kecil itu. Kamu mau mengg*gurkan kandungan kamu? " tanya Gusti.
Dewi merasa takut, makanannya hampir tak tertelan, ia tidak ingin bahwa makanan yang selama ini ia makan dapat membahayakannya.
Selesai memakan makanan tersebut, Dewi mulai satu persatu membereskan peralatan makan, sementara Gusti memilih untuk membersihkan diri dan berkemas untuk segera pergi dari kamar apartemen itu untuk bekerja kembali.
"Saya akan pergi sebentar lagi, kamu siapkan jadwal saya untuk sementara ini. "
Gusti mematikan ponselnya, ia melihat beberapa pesan dan panggilan dari Bella, namun ia memilih untuk mengabaikannya dan tidak lagi menghiraukannya, ia sibuk dengan urusannya sendiri.
"Om, jas milik om. "
Dewi menyerahkan jas milik Gusti, Gusti mengambilnya dan memakainya, kemudian menggunakan jam mahalnya dan segera bersiap untuk pergi ke perusahaannya.
"Saya akan pergi, mungkin jika nanti akan ada jadwal mendadak, kamu harus siap siap. " pesan Gusti.
Dewi tidak mengerti maksud tersebut, tetapi ia memilih untuk menganggukan kepalanya, Dewi mengantarkan Gusti sampai ke depan dan mereka terpisah.
__ADS_1
Dewi juga ingin segera bersiap siap terlebih dahulu, ia juga akan pergi ke kampus setelah ia menyelesaikan berberes kamarnya.
Tak butuh waktu lama untuk membereskan kamar apartemen nya, dimulai dengan menyapu kamarnya dan membuang sampah yang ada di kamarnya.
Setelah selesai, Dewi memutuskan untuk segera membersihkan diri dan berkemas untuk pergi ke kampus, jadwalnya masih seperti biasa, hanya saja nanti seperti yang di beritahukan sebelumnya oleh Gusti, akan ada jadwal mendadak yang mengharuskan dirinya untuk segera bersiap siap.
"Siipp, akhirnya selesai. "
Dewi menenteng tasnya, kemudian ia menatap ke arah kamera pengawas, dan melambaikan tangannya sebagai tanda pamit untuk pergi ke luar.
......................
"Tuan, akan ada jadwal jumpa makan siang dengan klien dari perusahaan emas, apa akan dimasukkan dalam list? "
Gusti mengerutkan keningnya, bagaimana jadwalnya yang sebelumnya sudah tersusun sekarang kacau balau, dan ada pertambahan dari jadwal lainnya, jadwal pertemuan yang sebelumnya tidak ia ketahui.
"Mengapa jadwalnya tidak beraturan, siapa yang mengaturnya? " tanya Gusti.
"Saya yang mengatur jadwalnya. "
Suara yang familiar terdengar di ruangan tersebut, seorang wanita yang keluar dari ruang sekretaris dan berjalan ke arah Gusti, Gusti menghela nafas malasnya dan mengusap wajahnya.
"Erin, silahkan keluar terlebih dahulu, saya ada obrolan sejenak dengan Bella. " ucap Gusti.
"Kenapa kamu minta sekretaris saya untuk mengatur jadwal seperti ini? Kamu mencoba menyabotase saya? " tanya Gusti.
"Tidak, untuk apa saya menyabotase anda? Kita kan partner kerja, saya tidak salah jika saya menambah list jadwal pertemuan dengan anda, lagipula klien menunggu kehadiran saya. " ucap Bella.
"Katakan, apa mau kamu setelah ini, saya tahu dibalik semua ini pastinya kamu punya tujuan tersendiri. "
Bella tersenyum, saat ingin mendekat, Gusti menyuruh Bella untuk tidak mendekatinya.
"Jangan dekati saya, katakan saja dari jauh. "
"Baik, saya ingin saat makan siang, anda menemani Dewi untuk memeriksakan kandungannya. " ucap Bella.
"Ah, saya paling benci jika kamu meminta saya untuk melakukan hal yang aneh aneh seperti ini. Lagipula, kenapa kamu secara tiba tiba ingin mengetahui perkembangan kandungannya Dewina? Kamu sengaja ingin mencelakakan dia yang masih terlalu dini itu? "
"Hei, mengapa pikiran anda begitu negatif? Bukankah tugas seorang 'ayah' memang seperti itu, papa Gustiawan? "
Gusti menggebrak mejanya, kemudian menatap Bella dengan tatapan kesal.
"Terserah, saya tidak takut. "
Gusti menggebrak mejanya, kemudian meninggalkan ruangannya, hanya tersisa Bella saja yang berada di ruangan tersebut tanpa ada seorangpun berada di ruangan itu.
"Semoga anda senang, Gustiawan. "
Di lain tempat, terlihat Dewi yang sedang menunggu taksi atau ojek di depan kampus, menunggu pesanannya sampai, dan ia memeriksa ponselnya terus menerus.
Tak lama ponselnya berdering, ia melihat siapa yang menelponnya, dan ia mengangkat telepon tersebut.
"Halo om, ada apa? "
'Dimana kamu? Apa sedang ada di apartemen? Kamu sudah bersiap siap dengan jadwal yang saya katakan tadi pagi. '
Dewi menepuk keningnya. "Ya, saya sedang berada di kampus, om. Sekarang saya ingin pergi ke tempat kerja saya. "
'Batu! Sudah saya katakan, jangan kerja terlebih dahulu untuk sekarang! Kamu tidak dengar nasehat saya yang sebelumnya mengenai membahayakan kandungan?! '
Lagi lagi Dewi membuat Gusti kembali memarahinya, Dewi hanya diam dan menjauhkan telinganya dari ponselnya.
'Sekarang, saya akan jemput kamu di kampus. Jangan sekali kali kamu mencoba bekerja untuk hari ini, atau saya akan berbuat sesuatu yang tidak kamu duga! '
Dewi terkejut, ia kembali bertanya, sayangnya Gusti sudah mematikan teleponnya dan ia mungkin akan menunggu Gusti, karena ia tidak berani dengan ancaman dari Gusti.
Tak butuh waktu lama, mobil Gusti berhenti di depan Dewi secara langsung, Dewi tidak percaya bahwa Gusti benar-benar menjemputnya.
"Naiklah. "
Dewi membuka pintu mobil, kemudian ia duduk di depan bersamaan dengan Gusti, Gusti menjalankan mobilnya sementara Dewi memasang sabuk pengaman.
"Om, kita mau kemana? Kenapa terburu-buru sekali? " tanya Dewi.
"Sekarang, kita ke rumah sakit, Bella istriku itu menyuruh ku untuk menemanimu pertama kali periksa kandungan, tampaknya ia sangat penasaran dengan perkembangan calon anak itu. " ucap Gusti.
"Ibu Bella penasaran dengan kandungan saya, om? " tanya Dewi.
__ADS_1
"Tidak tahu, yang jelas dia meminta seperti itu biasanya dia sedang berulah. Saya tidak tahu apa maksudnya menyuruh saya untuk menemani kamu memeriksa kandungan. Ya, lagipula sudah hampir sebulan kamu tidak lagi memeriksa kandungan kamu. " jelas Gusti.
Dewi menganggukan kepalanya, kemudian keduanya fokus menatap ke depan untuk menuju ke rumah sakit.
Sebelumnya Dewi sudah mendaftarkan dirinya saat pemeriksaan pertama, dan sekarang ia hanya memeriksakan lanjutan dari sebelumnya.
"Selamat datang, ingin pemeriksaan lagi, dik? " tanya dokter.
"Ya, saya ingin kembali memeriksa kandungan saya, dok. " ucap Dewi.
Dewi diarahkan ke kasur, kemudian ia mulai diperiksa kandungan nya oleh dokter tersebut, sebelumnya dioleskan gel kemudian alat tersebut menempel di perutnya.
"Perkembangannya seperti biasa, sangat bagus, tapi di umur sekarang dijaga sementara ya adik bayinya. " pesan dokter tersebut.
"Baik dok, saya akan jaga. "
"Sebelumnya, adik ini ditemani oleh suaminya ya? "
Dewi menatap ke arah Gusti, ia langsung merasa bingung untuk menjawab pertanyaan dari dokter tersebut.
"Bukan, saya pamannya, kebetulan saya ingin menemani keponakan saya memeriksa kandungan nya. " jawab Gusti dengan santai.
Dokter tersebut menganggukan kepalanya, walaupun terlihat bahwa dokter tersebut tidak percaya dengan ucapan Gusti barusan.
"Lain kali suruh saja suami adiknya sendiri ya, om, biar suaminya bisa melihat perkembangan calon bayinya. "
Gusti menatap kesal ke arah dokter tersebut, sedangkan Dewi menatap ke arah layar tersebut.
"Ingin mendengar detak jantung adik bayinya? " tawar dokter tersebut.
Dewi menganggukan kepalanya, dengan perasaan ragu ia menyetujuinya.
Saat mendengar detak jantung sang bayi, Dewi langsung merasa panik, cemas, bahkan ketakutan, ia langsung menjauhkan alat USG tersebut dari perutnya.
"Jauhkan, jauhkan dari saya.... "
Alat USG tersebut hampir terjatuh, respon dokter dan Gusti terlihat terkejut ketika Dewi yang secara tiba tiba bereaksi.
"Dik, ada apa? "
Tanpa menjawab pertanyaan tersebut, Dewi segera turun dari kasur, ia membenarkan kembali bajunya dan duduk di tepi ranjang.
"Saya rasa sudah cukup, dokter, terimakasih. " ucap Dewi.
Dewi berdiri, ia berjalan ke arah meja dokter, Gusti dan dokter tersebut berjalan ke arah meja tersebut.
"Adiknya jangan banyak cemas, bekerja dan semacamnya ya, karena umur janin adik ini masih 5 minggu, jadi tolong dijaga pola makan dan istirahat nya ya. "
Dewi diberikan vitamin dan saran susu kehamilan yang disarankan oleh dokter, kemudian Gusti dan Dewi keluar dari ruangan tersebut.
Saat berjalan ke lorong, Dewi yang merasa bimbang untuk bertanya dengan Gusti, suasananya sunyi, karena keduanya tidak sama sekali ada percakapan.
"Om. " panggil Dewi.
Gusti menatap ke arah Dewi. "Ada apa? "
"Om, bagaimana kedepannya? Saya tidak ingin jika bayi ini tidak sesuai keinginan istrinya om? " tanya Dewi penuh kekhawatiran.
Gusti menghela nafasnya. "Saya tidak tahu apa yang terjadi kedepannya selain menunggu hasil, jika kamu khawatirkan sekarang, maka itu bisa membebankan kamu sendiri. "
Dewi mengelus perutnya, ia melihat hasil USG yang telah ia jalani, kantong kecil yang terpampang di foto tersebut memperlihatkan kandungannya yang masih mungil.
"Kalau saja kita tidak bertindak seperti ini, apakah saya dan om tidak perlu melewati kesulitan ini bersama calon anak ini? Saya sering merasa takut dan berdosa ketika melahirkannya nantinya. " tanya Dewi.
Gusti memegang lengan Dewi, dan langkahnya terhenti, sorot mata Gusti menjelaskan apa yang diluapkan dalam hatinya.
"Dengan mengatakan hal seperti ini, secara tidak langsung kamu ingin menyalahkan saya, bukan? " tanya Gusti dengan tatapan tajamnya.
Dewi tertegun, ia takut ketika melihat Gusti yang terlihat serius dengan ucapannya, ditambah lagi sorot matanya yang membuat Dewi menjadi semakin takut dengan Gusti.
"Tidak, saya tidak menyalahi om... Saya bersumpah, saya hanya menyesalinya saja tanpa menyalahi om... " ucap Dewi gemetaran.
"Bagimu saja kamu bilang bahwa tidak sama sekali menyalahkan saya, tapi dari nada kamu terlihat sangat menyesal. Jika saja malam itu saya tidak mabuk dan minuman saya tidak ditaruh obat, mungkin anak itu tidak mungkin hadir di perut kamu sekarang! " tegas Gusti.
Gusti menghempas lengan Dewi, kemudian berjalan meninggalkan Dewi yang berdiri di lorong rumah sakit, ucapan Gusti cukup membuat Dewi menjadi sakit, ia memegang d*danya yang terasa sesak.
Dewi tahu, bahwa kedua belah pihak, yaitu Gusti dan dirinya, tidak menginginkan calon bayi yang sedang dikandung, sayang sekali Bella yang menyuruhnya untuk mempertahankan kandungan nya yang masih muda itu hingga nanti saat akan dilahirkan.
__ADS_1
...****************...