
...Happy reading š§”...
......................
"Beberapa klien penting sudah berada di ruangan, mereka menanti kehadiran tuan. "
"Baik, aturkan pertemuan sebelumnya, saya akan menjumpainya ketika semuanya sudah diatur. "
Gusti berjalan menuju ke lorong, dengan asistennya, ia menyusuri lorong untuk berjumpa dengan kliennya.
"Lama tidak berjumpa, Gustiawan, anda tidak berubah sama sekali, masih terlihat awet muda. "
Sebuah pujian yang biasa bagi Gusti, senyumnya mewakili ucapan terimakasih, Gusti duduk dan menyilakan salah satu kakinya.
"Saya sadar umur saya sudah tua, memuji saya seperti itu kadang membuat saya agak kesal. " ucap Gusti.
"Bisa saja, baik, kita sebaiknya mulai saja. "
Obrolan bisnis tak jauh dari investasi dan lainnya, bahkan authorpun tak tahu apa yang sedang diobrolkan, sebuah obrolan penting yang tidak akan dimengerti oleh orang awam..
"Bisnis kali ini sepertinya akan pergi ke luar negeri, tepatnya Paris. "
Gusti terkejut, ada apa dengan Paris, hingga itu menjadi jalan satu satunya untuk pergi ke negara seberang untuk merencanakan bisnis.
"Mendadak, tetapi cukup bagus untuk ke sana, bukankah tujuan baik selalu menanti di negeri seberang? " tanya Gusti.
"Benar sekali, tuan Gustiawan, saya yakin, daya tarik investor disana akan menjamin kerjasama oleh kita. Ingatlah, disana selain urusan bisnis, bukankah dengan daya tarikmu bisa mengambil beberapa gadis yang ada di sana? "
"Hentikan, jika anak gadisku mendengar hal ini, bisa saja kedua anak gadisku meremuk wajahku, karena aku yang mengaku diriku masih muda. " ucap Gusti.
"Anda ternyata bisa bercanda juga, Gustiawan. "
Kedua orang tersebut tertawa, kemudian melanjutkan meminum secangkir kopi yang sudah disiapkan, urusan bisnis mereka berujung membuat obrolan candaan.
......................
"Tuhan, ambil saja beban kuliahku, ini sangat menyiksa...! "
Dewi menjatuhkan wajahnya di tumpukan kertas yang menjadi tumpuan untuk wajahnya mendarat, Eni yang melihatnya hanya bisa tersenyum, karena temannya itu tampak kesal dengan makalah yang sedang dikerjakan.
"Akhirnya, kamu bisa merasakan apa yang kemarin terjadi sama aku, stressnya pasti meresap ke ubun ubun. " ucap Eni.
"Kuliah ternyata tidak seperti pekerjaan rumah saat bersekolah, tapi ini seperti pendidikan mematikan! "
"Masih ada banyak tantangan lain, Wi, ini ibaratnya kayak jalan yang baru mulai, dan juga kita baru di semester 1, semester mematikan lainnya akan menanti kita. Siapkan mentalmu, Dewi. "
Dewi kacau, pikirannya tak jauh dari masalah, satu masalah yang muncul membuatnya menjadi kesal, Dewi lebih memilih untuk menjatuhkan kepalanya lagi ke arah kertas kertas yang menumpuk.
Tak lama ponselnya berdering, Dewi dengan malas mengambil ponselnya yang terus terusan berdering, dan itu sangat menganggu pendengaran keduanya, termasuk Eni yang meminta Dewi segera mengangjat telepon tersebut.
"Tinggal ambil aja, Wi, susah amat! "
Eni kesal, ia mengambil ponsel milik Dewi yang tergeletak yang terus terusan mengeluarkan dering, ia melihat siapa yang menelpon Dewi, seketika ekspresinya berbeda dari sebelumnya.
"Hei, lihat, siapa yang tengah menelpon! "
Dewi bangkit, telinganya seketika disodorkan ponsel miliknya, tentu saja Dewi terkejut dan memegang ponsel miliknya.
"Om Gusti? Apa dia kurang puas bertemu dengan ku semalaman? " gumam Dewi.
Dewi mengangkat telpon nya.
"Ya, sebelumnya, ada apa om? " tanya Dewi.
'Manisku, tampaknya esok hari merupakan hari kamu akan sibuk kembali. Kamu akan pergi bersama saya menuju ke Paris. Bukankah ini sebuah kejutan, bahwa saya akan membawamu untuk pergi ke luar negeri lagi? ' tanya Gusti di telepon.
Dewi terkejut, bagaimana bisa secara mendadak bahwa Gusti akan mengajaknya ke luar negeri, sementara masih banyak tugas yang harus ia kerjakan.
'Tampaknya saya terlalu lama menunggu jawabanmu, manis... '
Terdengar ketukan jari yang beradu dengan meja, Gusti sudah menunggu jawabannya, Dewi mrnggelengkan kepalanya dan berpikir tentang makalah yang sedang ia kerjakan.
"Sepertinya tidak bisa, saya sedang sibuk menyelesaikan makalah saya, om, om sendiri tahu bahwa saya sibuk dengan perkuliahan saya. " ucap Dewi.
'Hanya hal sekecil itu? Akan saya sewakan joki tugas kuliah, berapapun akan saya bayar hanya untuk menyelesaikan makalah yang sedang kamu kerjakan, Dewina. '
Dewi hanya diam, namun ia tidak menjawab terlebih dahulu.
"Om, ini adalah masalah yang berbeda, bukankah-- "
'Bukankah sebelumnya kita memiliki kesepakatan? Keuntungan 50:50, kita harus saling menguntungkan atas kesepakatan yang sudah kita buat, manis? '
Dewi menepuk keningnya, ia tidak bisa menjawab apa apa lagi, hanya akan memperpanjang permasalahan yang ada.
Tetapi ia berpikir sejenak, bahwa ia juga membutuhkan uang, karena ia tetap ingin membantu kedua orangtuanya di desa.
"Apakah ini benar benar mendadak? Dan juga, apakah saya harus terburu buru dengan membereskan beberapa barang yang akan saya bawa? Bukankah terlalu mendadak sangat tidak baik untuk menyiapkan sesuatu? "
'Tidak usah khawatir soal itu, besok pagi kita akan berangkat, Dewina. '
Dewi tambah tercengang, dengan mudahnya mengatakan pagi akan menyiapkan keberangkatan, sementara jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi, akankah ia tidak tertidur karena ia akan berangkat pagi hari dengan tidur hanya menghitung jam?
Panggilan ditutup, lagi lagi Dewi menjatuhkan wajahnya di tumpukan kertas, ia benar benar merasa lelah, ditambah lagi perjalanan mendadak dari Gusti yang mengajaknya ke luar negeri.
"Ada apa, Wi? " tanya Eni.
"Penerbangan menuju ke Paris, sepertinya saya akan pingsan, Eni. " ucap Dewi.
__ADS_1
"Keren, kapan itu bakal direncanain? Aku bisa bantu kamu buat beresin barang barang punya kamu. " tawar Eni.
Dewi sebenarnya malas, tetapi ia harus menuruti kehendak dari Gusti, ia juga merasa konyol, mengapa harus membuat kesepakatan yang tidak sepenuhnya dapat ia penuhi.
......................
Gusti kembali ke kediamannya, suasananya tak beda dari sebelumnya, bahwa ia akan melihat istrinya yang lagi lagi bertanya keberadaannya semalaman.
"Gustiawan, anda-- "
"Anda kemana saja semalaman? Apakah baru sekarang anda baru ingat rumah? Dan ya, saya pulang dari bekerja, kemudian ingin membereskan beberapa barang barang miliik saya. "
Gusti menirukan ucapan istrinya, kemudian ia menjawab alasannya, tetap saja ia tidak merubah alasannya untuk menjawab alasan yang sebenarnya.
"Bisakah anda jangan membuat api, tuan Gustiawan? Anda bahkan meniru ucapan saya barusan, apakah itu penampilan wibawa Khairul Gustiawan yang sebenarnya? "
Gusti menghela nafasnya, ia memilih naik ke atas untuk segera membereskan barang barangnya, Bella mengikutinya dari belakang dan mengejar suaminya yang meninggalkan perdebatan yang begitu cepat berlalu.
"Kita bahkan belum berbicara hari ini, dan bahkan anda dapat meniru pertanyaan saya untuk anda? Apa Gustiawan akan menjadi burung beo? "
"Tidak, itu adalah bahasa yang selalu saya dengan dari kamu, Bella, saya membantumu untuk menghemat biaya setiap kata yang keluar dari mulutmu itu. " jawab Gusti.
Gusti mengambil koper yang berada di lemarinya, Bella tercengang ketika suaminya itu mengambil koper yang ada di dalam lemari.
"Hei, anda ingin kemana dengan koper itu, anda merencanakan kabur dari kediaman ini, tuan Gustiawan? " tanya Bella.
"Tidak, tentu saja ini adalah urusan bisnis. Saya akan berangkat ke Paris pagi ini. "
Bella terkejut, ia tercengang dengan jawaban Gusti.
"Ingin ke luar negeri? Wow, luar biasa sekali anda, bagaimana dengan klien saya yang secara resmi ingin bertemu dengan anda? " tanya Bella.
Gusti tersenyum, tetapi ia langsung memiringkan senyumnya, dan mendekat ke arah Bella, tidak ada jarak antara mereka yang saling bertatapan secara langsung.
"Itu bukanlah urusan saya, tetapi urusanmu, jangan halangi saya untuk pergi ke luar negeri, kita punya bisnis masing-masing, dan jangan sampai salah satu keributan ini jadi penghalang untuk berbisnis, Bella. " ucap Gusti.
Bella terdiam, ia tidak percaya dengan jawaban Gusti, Gusti mengambil kopernya dan mendekati Bella, bahkan Gusti mengelus rambut istrinya terlalu keras hingga rambutnya berantakan.
"Kerja bagus, Bella, selama saya pergi, setidaknya kamu akan menghemat tenagamu untuk berdebat dengan saya.Ā Adios. "
Gusti mengeret kopernya, sementara Bella berteriak kesal, bagaimana bisa urusan bisnis yang sebelumnya dijanjikan maka hari ini akan berakhir begitu saja?
"Tampaknya kamu ingin memulai permainan dengan saya, tuan Gustiawan. " gumam Bella.
"Kemari tuan, akan saya angkatkan. "
Gusti memberikan kopernya, kemudian pelayan membukakan pintu mobil untuk ia masuk, Gusti masuk dan duduk di kursi belakang, tak lama sorot matanya mengarah ke arah balkon, tampak Bella yang memantaunya dari balkon, dengan tatapan seperti memantaunya, tetapi Gusti memilih untuk tersenyum dari balik kaca mobil sebagai balasannya.
"Wi, nggak lucu loh, ayo bangun. "
Eni berusaha membangunkan Dewi, namun Dewi tampaknya masih terlelap di tidurnya, bahkan alarm yang berada di sebelahnya tidak mampu memintanya untuk bangun dari tidurnya.
"Dewi, om Gusti nih nelponin kamu, ayo bangun dong....! "
Dewi hanya bergumam, tak lama ia kembali tidur, tidak biasanya Dewi akan seperti itu, ia mengenal temannya itu yang sangatĀ rajin itu di pagi ini akan terlambat, entah itu kuliah ataupun menghubungi Gusti.
Eni merasa lelah untuk membangunkan Dewi, ia juga ikut merasa mengantuk, bagaimana tidak? Hampir semalaman ia full membantu Dewi mengerjakan makalah ataupun membereskan barang barang milik Dewi, dan akhirnya ia ikut tertidur di samping Dewi.
"Kenapa tidak diangkat sama sekali? "
"Tuan, sepertinya perlu dijemput? Saya yakin, anda akan lama menunggu partner anda. "
Gusti menganggukan kepalanya. "Benar, arahkan saya menuju kosannya. "
Tujuan Gusti akhirnya menuju ke kosan Dewi, ia yakin, bahwa gadis itu sengaja melupakan kesepakatan semalam dan memilih kabur darinya.
Sesampainya di depan gerbang kosan, Gusti turun, ia berjalan menuju ke arah gerbang, dan sebelumnya ia berjumpa dengan satpam.
"Mencari siapa, tuan? " tanya satpam tersebut.
"Dewina, saya mencari Dewina, apakah dia ada di kosannya? " tanya Gusti.
"Sebelumnya, apakah tuan memiliki hubungan dengan Dewina? "
"Ya, saya pamannya, apakah bisa saya bertemu dengannya? " tanya Gusti.
Begitu mudah mengelabui satpam seperti penjaga kosan itu, satpam tersebut mempercayai ucapan Gusti, dan dengan mudah mempersilahkan Gusti untuk masuk ke area kosan.
"Kemari, tuan. " tunjuk satpam.
Pintu kamar Dewi diketuk dari luar, tentu saja yang belum mendatangi alam mimpi seperti Eni tersadar akan ketukan tersebut, ia bangkit dari tempat tidurnya dan mulai beranjak menuju pintu.
"Siapa-- "
Eni terkejut, siapa yang berdiri di depannya adalah Gusti, bagaimana bisa laki laki itu bisa memasuki area kosan.
"Sebelumnya terimakasih, apakah kamu bisa meninggalkan kami disini? " tanya Gusti pada satpam tersebut.
"Baik tuan, saya pergi dulu. "
Tersisa Gusti dan Eni saja di kamar tersebut, Eni mengarah kepada Dewi yang tengah tertidur, Gusti mendekat ke arah Dewi dan mengelus rambut Dewi.
"Manis, bangunlah, ingin beberapa lama kamu menjadi putri tidur? "
Dewi menikmati elusan tersebut, hingga ia terbangun dan membuka matanya dengan perlahan, itu adalah Gusti.
Tentu saja Dewi langsung terkejut, itu bukan mimpi, melainkan Gusti yang benar benar ada di depannya, segera Dewi bangkit dan mengusap matanya.
__ADS_1
"Berapa lama kamu akan menghabiskan waktumu untuk tidur, nona manis? "
Dewi terkejut, segera ia bergegas menuju ke kamar mandi, ia butuh bersiap siap segera sementara Gusti akan menunggunya siap.
......................
"Hati hati, Dewi! "
Eni mengantarkan Dewi dan Gusti hingga ke depan gerbang, kedua orang itu menaiki mobil dan membuka sedikit kaca, mereka mengucapkan pamit kemudian mobil menjauh dari kosan.
Tujuan keduanya menuju ke bandara, dengan cepat keduanya bersama salah satu asisten untuk menyiapkan penerbangan ke Paris menggunakan jet pribadi, baru kali itu Dewi menaiki jet selain pesawat.
Namun bukan itu yang dicari oleh Dewi, ia ingin tidur seraya penerbangan menuju ke Paris, Dewi bersandar di kursi yang panjang untuk ia sandarkan tubuhnya, Dewi benar benar mengantuk.
"Dewina, selaku penerbangan ini berlangsung, saya ingin-- "
Gusti terhenti, ia melihat Dewi yang tengah tertidur, gadis itu benar benar mengantuk semenjak sebelum penerbangan melesat.
Gusti mengambil selimut yang berada di bawah kaki Dewi, ia menarik selimut tersebut hingga ke bahu Dewi, perlahan ia menatap wajah gadis tersebut dengan lembut.
"Dewina, nama yang sempurna untuk gadis sesempurna dirimu, manis. "
Penerbangan yang cukup memakan waktu, berada di udara hingga 17 jam lamanya, akhirnya jet mendarat di bandara udara Paris Charles de Gaulle.
Dewi terbangun, ia melihat di sekitarnya dan pemandangannya berbeda dari sebelumnya, bahwa ia berada di suatu tempat yang baru, pastinya Dewi terkejut dan melihat siapa yang berada di sampingnya, tidur sambil duduk bersandar, itu adalah Gusti.
"Om, om Gusti...! "
Gusti terbangun, ia menatap ke arah Dewi.
"Bagaimana, manis? "
"Kita, kita berada di mana, om? " tanya Dewi panik.
"Tentu saja Paris, bagaimana bisa kamu melupakan penerbangan ini, manis? "
Dewi mengingatnya, kemudian ia mengusap wajahnya, ia baru ingat bahwa penerbangan tersebut menuju ke Paris.
"Kemari, kita akan turun setelah ini. "
Dewi mengikuti Gusti dari belakang, bersamaan dengan asistennya, mereka mendahului dan berjalan keluar jet.
Suasana dingin terasa di bandara tersebut, Dewi menggigil kedinginan, karena ia lupa menggunakan baju tebal.
"What wrong, honey? " tanya Gusti.
"Disini dingin sekali, om, padahal sebelumnya saya pernah pergi bersama om ke luar negeri dan dalam cuaca dingin, tetapi disini sangat dingin. " ucap Dewi.
Gusti mengerti, kemudian ia melepaskan jaket yang ia gunakan dan membalutinya ke bahu Dewi.
"Pakai saja jaket saya, agar kamu tidak kedinginan sama sekali. "
Dewi menerima jaket tersebut, ia menariknya dan memakai jaket tersebut, wajahnya seketika memanas saat menggunakan jaket milik Gusti.
Menggunakan taksi menuju ke hotel, Dewi menatap kota Paris, gedung gedung hingga menara Eiffel terlihat jelas, pastinya Dewi mendapat pemandangan baru di negara itu.
"Take that picture, Dewina. "
Dewi mengambil foto negara tersebut, semua jepretannya mengabadikan pemandangan negara tersebut.
Sesampainya di hotel, pelayan hotel langsung menyambut Gusti dan Dewi, mengambil koper kemudian mengarahkan keduanya menuju ke dalam.
Bahasa Gusti yang sedang memesan salah satu ruangan membuat Dewi bingung, tetapi ia hanya bisa menganggukan kepalanya.
Menggunakan lift, Gusti dan Dewi sampai ke lantai tempat mereka memesan kamar, pelayan tersebut menunjukkan kamar yang dituju dan membuka pintu kamar tersebut.
Saat memasuki kamar, Dewi terpana akan pemandangan yang berada di balkon kamar hotel tersebut, karena pemandangan tersebut mengarah ke menara Eiffel.
"Indahnya! Ini pemandangan yang bagus! " ucap Dewi dengan girang.
Dari belakang, Gusti memeluk pinggang Dewi, kemudian menjatuhkan wajahnya di tengkuk leher Dewi dan menggoda Dewi dengan berbisik.
"Dewina, saya menginginkan permainan pertama di negara ini. "
"Om, baru saja ingin beristirahat, om sudah meminta lagi dengan saya. " ucap Dewi.
"Tujuan saya ke sini untuk mengajakmu bersantai dan menikmati malam dengan tenang, saya juga suka jika kamu yang terus melayani saya. " ucap Gusti.
Gusti langsung mengangkat Dewi, menjatuhkannya di kasur dan menggoda Dewi dengan kata kata manisnya.
"You look so beautifull, honey.... " bisik Gusti.
"Om... uh... "
.
Keesokan harinya, Dewi terbangun dari tidurnya, ia melihat dirinya kacau, karena permainan yang sebelumnya ia lakukan.
Dewi melihat di kasurnya, sebuah cairan yang menempel di kasur, cairan tersebut hampir seperti krim, tetapi saat ia periksa di sekitar tidak ada sama sekali krim di dekatnya
"Selamat pagi, Dewina. "
Dewi bangkit, ia menatap ke arah balkon, terlihat Gusti yang tengah berdiri sambil meminum secangkir kopi, cahaya matahari menyinari wajah Gusti yang menawan itu, tentu saja pemandangan itu membuat perasaan Dewi menjadi tidak karuan, Gusti pria tua yang menawan dan panas.
"Sepertinya sebelum bertemu dengan klien saya, bagaimana kita mengisi perut kita dengan makanan? Bukankah itu hal yang baik? " tanya Gusti.
"Saya butuh bersiap siap dahulu, om, bisakah om menunggu saya untuk membersihkan diri terlebih dahulu? "
__ADS_1
Gusti tanpa menjawab ia mengangguk, ia mempersilahkan Dewi untuk bersiap siap terlebih dahulu, sebelum mereka keluar untuk mencari restoran sebagai tempat mereka sarapan pagi.
...****************...