Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)

Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)
Eps 41: Syarat yang harus di penuhi


__ADS_3

...Happy reading 🧔...


......................


"Ternyata benar, saya tidak salah kan, tuan Gusti? "


Gusti terkejut, ia sekarang hanya bisa terdiam, karena Bella sudah memergokinya yang sudah berselingkuh dengan Dewi, dengan beberapa bukti yang sudah ditemukan oleh istrinya.


"Apa? Apa lagi alasan yang ingin anda keluarkan? Menyalahkan saya yang ketahuan memergoki perselingkuhan anda yang luarbiasa ini? " tanya Bella.


Gusti akhirnya kalah, ia menghela nafasnya dan mer*mas ubun ubun rambutnya, tak tahu ingin beralasan apalagi, selain mengangkat kedua tangannya ke atas.


"Baik, saya akan mengaku, saya kalah dengan strategi kamu. Apa yang kamu inginkan, Bella? " tanya Gusti.


Bella tersenyum, ia mendekat ke arah Gusti dan menurunkan kedua lengan Gusti, ia mencium pipi dan bibir suaminya dan mengelus kedua pipi suaminya.


"Saya ingin anda temukan siapa yang bisa mengenalkan anda dengan Dewi itu, dan saya ingin Dewi berhadapan dengan saya, jangan sampai kalian berdua kabur ke luar negeri secepat itu. " ucap Bella.


Gusti menuruti kehendak istrinya itu, ia gagal untuk menyembunyikan semuanya, karena ia saja sudah ketahuan dari awal.


"Baik, besok saya akan atur pertemuan dengan Dewi, dan Eni yang kamu sebut barusan, akan saya perintahkan anak buah saya untuk menangkapnya, terserah dengan kamu nantinya. "


Bella tersenyum, ia kembali mencium suaminya itu dengan mesra.


"Bagus, anda memang selalu menjadi yang terbaik, sayang. "


Gusti menjauhkan dirinya dari Bella, tetapi Bella tetap tersenyum di depan wajah suaminya, seolah-olah tidak masalah baginya untuk menyelesaikan semua nya.


"Sementara saya akan memegang akses ponsel anda, karena saya tahu, bahwa suami saya ini sungguh pandai. " ucap Bella.


"Berhenti, kamu bebas untuk mengatur semuanya. "


......................


"Udahlah, ngapain ditangisin, Wi? Kamu juga kan nggak mau kalau sampai orang orang tahu kalau kamu lagi hamil. "


Dewi menangis tersedu sedu, ia masih merasakan sedih, entah mengapa perasaannya sudah tidak karuan, seperti ia yang dikendalikan dengan hormon nya.


"Wi, duh, susah bujuk kamu ini. " ucap Eni.


"Entah, saya merasa sedih saja ketika sebelumnya om Gusti merencanakan itu, mungkin saja saya takut ketika om Gusti sudah merencanakan hal tersebut. " ucap Dewi.


Namun Eni tak peduli dengan ucapan Dewi barusan, ia lebih memilih untuk proses itu dipercepat, karena akan membahayakan dirinya sendiri, terutama bisnis yang sedang ia jalani.


'Maaf Wi, tapi sekarang ini demi bisnis yang aku jalani, soalnya dari sini aku bisa bertahan, walaupun kamu juga akhirnya kena imbasnya. ' gumam Eni dalam hati.


"Oh iya, kamu nggak ke tempat kerja kamu? Bukannya kamu sekarang sudah baikan badannya kan? Lagipula udah beberapa hari juga. " tanya Eni.


Eni mengalihkan topik, ia ingin Dewi bisa melupakan hal hal tersebut, karena ia tidak ingin jika Dewi akan terus terusan mengingat masalah yang dihadapi, ia ingin Dewi berhenti menangis dan segera mengalihkan nya ke hal yang lainnya.


"Tubuh saya rasanya cepat lelah, Eni, saya rasanya ingin beristirahat saja hari ini, jarang sekali saya cepat lelah seperti sekarang. " ucap Dewi.


Eni menganggukan kepalanya, ia berdiri dan beranjak dari tempat duduknya.


"Kamu mau kemana, Eni? " tanya Dewi.


"Bukannya aku mau ke kampus? Aku kan bentar lagi mau masuk jam kuliah. " jawab Eni.


Dewi melihat jam dinding yang ada di kamar Eni, ia merasa aneh ketika Eni yang lebih awal ingin pergi ke kampus, karena pada dasarnya Eni sangat suka terlambat untuk berangkat ke kampus, hidup temannya itu sungguh santai dan tidak memperdulikan apapun.


Tetapi sekarang temannya terlihat sangat terburu buru, dan juga sering terlihat lebih sering cemas daripada dirinya, padahal yang benar benar merasa kesulitan untuk sekarang adalah Dewi sendiri.


"Udah ya, kamu sama Jelly di sini aja dulu, nanti aku bakalan pulang secepatnya kalau udah dari kampus. " pamit Eni.


"Baik, hati hati dijalan ya, Eni. " ucap Dewi.


Eni membawa tas dan barang barang lain miliknya, ia membuka pintu kamarnya dan kemudian menutupinya.


Dewi kembali berbaring, ia mengambil ponselnya dan lagi lagi mengirimkan pesan untuk Gusti, sudah menjadi kesehariannya mulai sekarang sering menghubungi ataupun bertanya tentang rencana tersebut, tapi sayangnya tidak ada jawaban sama sekali, hal itu yang akhirnya membuat Dewi tambah cemas, karena Gusti tidak meresponnya lagi seperti sebelumnya.


"Om Gusti, saya harap jangan sampai meninggalkan saya... " lirih Dewi.

__ADS_1


......................


Di tempat lainnya, terlihat tempat yang sebelumnya tidak pernah terlihat sebelumnya, wanita muda yang masuk ke tempat tersebut dengan penampilannya yang masih terbilang muda.


"Kak Eni! "


Eni yang sedang berjalan ke dalam tempat tersebut mengarah ke belakang, ia melihat anak didiknya yang berlari ke arahnya dengan membawa sesuatu.


"Ada apa, Yunita? " tanya Eni.


"Kak, bagaimana dengan anak baru yang kakak kenalkan sebelumnya sama kami? Nita dengar kalau dia kebobolan ya? " tanya anak didiknya tersebut.


Eni menatap kesal, ia mendekat ke arah anak didiknya itu dengan tatapan tajam.


"Tau darimana kamu? " tanya Eni dengan kesal.


Tak lama polisi datang dari belakang, dengan mengacungkan pistol ke arahnya.


"Angkat tangan semuanya! "


Eni dan beberapa anak didiknya kemudian terkejut, mereka akhirnya mengangkat kedua tangan mereka ke atas dan terkaku ketika polisi polisi yang berlari dan menangkap mereka semua.


Polisi mendekat ke arah Eni, kemudian mengeluarkan borgol, tangan Eni dihadapkan ke belakang kemudian kedua tangannya di borgol.


"Yunita, kamu sekarang udah pinter ya berkhianat dengan saya! " tegas Eni.


"Tentu saja itu saya, bukan anak buahmu, Eni. "


Eni menatap ke arah suara itu berasal, seorang wanita dengan gaya yang elegan dan modis berjalan ke arahnya, ia tampak mengenal wanita itu dan tercengang.


"Kamu? Siapa kamu?! "


Wanita tersebut adalah Bella, ia yang menjadi dalang dari penangkapan ini, karena ia yang akhirnya menangkap Eni.


"Kamu tidak tahu siapa saya? "


Bella menyodorkan tangannya ke arah Eni, dengan senyuman yang seolah mengejek ia menatap Eni dengan tatapan seperti itu.


"Perkenalkan, saya Bella, istrinya Khairul Gustiawan. Kamu mengenal Gusti bukan? "


"Bawa langsung ke kantor, seluruh yang ada ditempat ini harap disegel! " perintah Bella.


Eni beserta anak anak didiknya dibawa ke kantor polisi, ia menatap kesal ke arah Bella yang tampak senang melihatnya akhirnya di tangkap, ia kalah telak untuk sekarang.


Bella melihat semua rombongan tersebut dibawa oleh kepolisian, ia berbalik arah menatap ke arah Gusti.


"Apa ini yang kamu inginkan? " tanya Gusti.


"Benar, dan sekarang saya ingin satu hal lagi yang perlu anda tunjukkan, Gusti. " jawab Bella.


"Baik, apa rencana kamu selanjutnya ini ingin bertemu dengan Dewina? Sesuai dengan keinginanmu dari lama, bukan? "


"Oh suamiku yang sangat manis, saya sangat beruntung dengan suami yang sepintar anda. "


Gusti menjauhkan dirinya dari Bella yang lagi lagi menggodanya, tepatnya menggoda dan mengejeknya, ia meninggalkan Bella yang tersenyum bahagia atas kekalahannya kali ini.


......................


"Eni kemana? Kenapa dia belum pulang sama sekali? "


Sudah seharian lebih Dewi berada di kamar milik Eni, jarang sekali baginya Eni yang tidak pulang hampir beberapa lama ia ditinggalkan, jika biasanya Eni akan pulang atau setidaknya memberitahu bahwa ia tidak akan pulang malam ini, tetapi malam ini berbeda, Eni sama sekali tidak melakukan kedua hal tersebut.


Dewi lagi lagi merasa mual, namun itu hanya sebentar, karena ia merasa tertahan dan ia menghela nafasnya.


Pintu kamar yang diketuk dari luar, Dewi beranjak dari tempat tidur dan ia segera berjalan menuju ke pintu kamar temannya itu, mungkin saja itu adalah Eni yang sudah pulang.


"Sebentar. "


Dewi membuka pintu kamarnya, dari depan terlihat bahwa siluet orang lain, Dewi menatap tidak percaya siapa yang berada di depannya.


"Kebetulan sekali kita langsung bertemu ya, Dewina? Bagaimana kabarnya, bumil? "

__ADS_1


Dewi benar benar terkejut kali ini, karena ia yang benar benar secara langsung dengan Bella, dan juga Bella yang sudah secara terang terangan menyebutnya dengan sebutan ibu hamil.


"Bagaimana kehamilannya? Menyenangkan? Senang bisa tampung benih suamiku, kan? " tanya Bella.


Dewi langsung menarik tangan Bella ke dalam, diikuti oleh Gusti yang ikut masuk ke dalam kamar, tujuannya agar bisa di diskusikan di dalam tanpa didengar oleh siapapun di luar.


"Kenapa? Sudah tahu malu sekarang? " tanya Bella.


"Saya minta pada ibu, jangan bicarakan hal ini di luar, saya tidak ingin jika orang orang tahu tentang keadaan saya. " ucap Dewi dengan pelan.


Bella tersenyum sinis. "Akan lebih baik jika orang tahu, agar kamu tau akibatnya! "


Dewi terdiam, ia melihat Gusti yang diam dan memalingkan muka seakan ia yang tidak ingin disalahkan, keduanya akhirnya ketahuan dengan Bella.


"Sebelumnya, dimana teman saya? Karena mustahil ibu bisa sampai ke sini. " tanya Dewi.


"Kamu bertanya tentang Eni? Dia mucikari bodoh, kamu masuk jebakannya sekarang. " ucap Bella.


Dewi masih bingung dengan maksud Bella barusan.


"Jebakan? Eni menjebak saya? "


Bella tersenyum, ia tertawa dan menatap Gusti, kemudian jarinya yang menunjuk ke arah Dewi.


"Gustiawan, saya sampai tidak percaya anda ingin menjadikan gadis ini sebagai simpanan anda. Anda ini senang yang polos ya? "


Bella mendekat ke arah Dewi, kemudian menatap Dewi dari keseluruhan.


"Kamu itu dijebak, lihatlah sekarang, bahkan sudah hamil saja kamu masih mempercayainya. Kamu tahu, bahwa kamu dijual olehnya karena kepolosan kamu, dan suami saya yang membeli kamu. Sekarang, dia sudah saya tangkap atas penipuan dan prostitusi. Apa kamu ingin menyusul temanmu itu dipenjara, Dewina? " tanya Bella.


Dewi terkejut, ia merasa ciut ketika Bella yang mengancamnya memenjarakannya, ia berlutut dan menangis di depan Bella.


"Jangan, saya mohon, jangan penjarakan saya, bu, saya takut jika saya dipenjara, dan kedua orangtua saya tahu karena sebab saya dipenjara. Saya mohon, jangan penjarakan saya, berikan saya kesempatan... " mohon Dewi.


"Saya akan beri kamu kesempatan dan bayaran, asal kamu bisa memenuhi syarat yang saja ajukan dengan kamu, di atas kertas ini dan berupa tanda tangan kamu. "


Dewi sudah buta sekarang, ia tidak tahu ingin berbuat apalagi, jika mengadu akan membuatnya hancur karena ulahnya.


"Apapun itu, saya akan turuti, bu. " ucap Dewi.


"Baik, saya akan lindungi, jaga dan turuti kehamilan kamu dari saat ini hingga kamu akan melahirkan anak itu. Dengan syarat, saya ingin anak yang kamu lahirkan adalah anak laki-laki. "


Dewi terkejut, bagaimana bisa Bella memintanya untuk melahirkan anak laki-laki, sementara dirinya saja tidak tahu apa jenis kelamin janinnya sendiri.


"Ta--tapi, tapi bagaimana bisa, bu? Saya tidak bisa mengaturnya... "


"Persetan dengan segala usahamu nanti, saya ingin kamu bisa memenuhi persyaratan dari saya, jika kamu tidak ingin bernasib sama dengan temanmu. " ucap Bella.


Dewi menunjukkan ekspresi bingung.


"Jika kamu berhasil melahirkan seorang bayi laki-laki, saya akan berikan apa saja yang kamu mau. Jika perempuan, mohon maaf, saya akan tuntut kamu ke pengadilan atas dugaan penipuan dan penggelapan uang serta aset barang mewah atas nama suami saya sendiri. " ucap Bella.


Dewi akhirnya terdiam, ia panik, karena jika ia tidak bisa melahirkan seorang anak laki-laki, maka ia akan dipenjarakan oleh Bella.


"Bagaimana? Kamu sanggup bukan? Dan sekarang, kamu bisa katakan, apa yang kamu inginkan jika kamu berhasil melahirkan anak laki laki? " tanya Bella.


Dewi diam, ia menggelengkan kepalanya.


"Saya belum bisa berpikir apapun untuk perjanjian persyaratan ini, saya bingung sekarang. " ucap Dewi.


Bella menghela nafasnya. "Baik, sekarang, kamu kemasi semua barang barang kamu, sementara sampai bayimu lahir, kamu akan tinggal di apartemen milik suami saya. "


Dewi terkejut dengan ucapan Bella barusan.


"Apa? Kenapa saya akan tinggal di sana? " tanya Dewi.


"Agar saya tahu, bahwa kamu tidak akan berbuat nekat dengan dirimu sendiri, saya yakin dengan pertemuan seperti ini, kamu akan berbuat nekat, terutama dengan suami saya sendiri. Kamu mengerti? "


Dewi diam, kemudian Bella menatapnya dengan remeh, meninggalkannya bersama dengan Gusti di kamar tersebut.


"Maafkan saya, kita ketahuan untuk ini. "

__ADS_1


Gusti meninggalkan kamar tersebut, sedangkan Dewi terduduk di ujung ranjang, ia mengusap kasar wajahnya kemudian ia menangis, ia benar benar terjebak oleh Eni, dan kini berakhir di dalam kandang permainan yang dibuat oleh Bella untuknya.


...****************...


__ADS_2