
Sebulan berlalu, Dewi menjalani kehidupannya seperti biasanya, memang sekarang dirinya tidak terlalu khawatir seperti sebelumnya, karena Gusti dan Bella yang jarang mendatangi lagi kamar apartemen yang ia tempati.
Dewi juga menyadari, bahwa perkembangan janinnya mulai terasa, ia juga dapat melihatnya dengan ukuran perutnya yang sudah mulai membesar itu, dan juga ia sering mengabadikannya lewat foto dan cermin, karena itu adalah momen yang tidak akan terulang kembali.
"Wah, ternyata sudah membesar. " ucap Dewi
"Tampaknya beberapa bulan lagi, kita akan berpisah, nak. " ucap Dewi dengan perutnya.
Dewi mengelus perutnya dan mengobrol dengan kandungan nya, walaupun ia merasa tenang untuk sekarang, namun ancaman selalu menunggu dirinya, ia yang tidak bisa memenuhi persyaratan dari Bella, dan sekarang ia terjebak dengan persyaratan yang tidak bisa ia penuhi.
"Ah, waktu begitu cepat berlalu, tidak disangka sudah sebesar ini sekarang. "
Dewi berjalan ke arah balkon kamar apartemennya, ia membuka pintu kaca balkonnya, ia kembali masuk ke dalam apartemennya untuk mengambil sesuatu.
Dewi dengan keranjang berisi baju yang selesai dicuci, perlahan ia membawanya ke luar, syukur saja bobot dari pakaian yang akan ia jemur tidak terlalu berat, sehingga Dewi tidak terlalu sulit untuk membawa pakaiannya ke balkon untuk dijemur.
Jelly tengah duduk berjemur di balkon, ia menjemur dirinya sambil menemani Dewi yang tengah menjemur pakaian, tampak bahwa anjing itu sangat menikmati cuaca pagi yang indah, dengan badannya yang sudah terjemur sinar matahari pagi.
"Kamu suka sinar matahari pagi ya, Jelly? " tanya Dewi.
Jelly hanya menguap, dan ia mendengus kecil kemudian tertidur, Dewi tersenyum melihat anjingnya yang menggeliat manja di lantai balkon.
"Kamu sangat menggemaskan, Jelly. " puji Dewi.
Dewi mengangkat kembali keranjang pakaiannya, ia berjalan ke dalam dan sedikit menutup pintu balkon apartemennya, karena anjing peliharaannya sedang berada di luar.
Rencananya Dewi akan menghabiskan waktunya dengan menonton, tapi mengingat bahwa apartemen nya berantakan dan makan siang yang belum disiapkan, Dewi mengurungkan niatnya untuk bersantai sebelum semuanya beres.
Dengan santai, Dewi membereskan rumahnya, tak perlu waktu yang lama saja ia sudah bisa membereskan ruang utamanya yang terlihat berantakan itu.
"Akhirnya selesai, tinggal masak dan makan saja. " ucap Dewi.
Dewi berjalan ke arah dapur, ia berencana untuk sarapan, bersamaan dengan Jelly yang masuk ke dalam apartemen, tampaknya ia tahu bahwa Dewi akan memasak, entah itu ia akan mengganggu Dewi makan atau sekedar ia menemani Dewi memasak di dapur.
"Kita sarapan bersama, kamu belum makan juga. " ucap Dewi.
Dewi mengambil mangkuk makanan milik Jelly, tak lupa juga ia memilih makanan yang berada di dalam lemari, ia menaruh makanan kering di piring anjing peliharaannya itu, kemudian ia memberikannya pada Jelly, Jelly memakannya dengan sukarela dan lahap, sehingga Dewi melihatnya dengan senyumannya.
"Habiskan ya, Jelly. " ucap Dewi.
Dewi bangkit, dengan nafasnya yang terengah engah kemudian berdiri, ia memutuskan untuk memasak makanan untuknya.
Saat membuka lemari pendingin, Dewi baru ingat, bahwa bahan bahan masakannya habis, membuatnya mengurungkan niatnya untuk memasak makanan dan memilih untuk keluar membeli bahan bahan masakan yang ia butuhkan untuk memasak.
"Jelly, sepertinya aku akan pergi membeli bahan makanan terlebih dahulu, karena ternyata bahan bahannya sudah habis. " ucap Dewi.
Jelly menatap ke arah Dewi, ia melanjutkan makannya, sedangkan Dewi berjalan keluar untuk pergi ke minimarket.
Dewi mengambil tas beserta dompetnya, tak lupa ia catatan bahan makanan yang akan ia beli sebelumnya ia bawa, ia meletakkannya ke dalam tasnya kemudian mulai bergegas menuju ke minimarket.
.
Membutuhkan waktu 15 menit untuk berjalan menuju ke minimarket yang tak jauh dari gedung apartemen, Dewi akhirnya sampai di minimarket tersebut.
Bisa dibilang, minimarket yang Dewi kunjungi itu merupakan minimarket baru, ia juga baru mendatangi minimarket tersebut untuk pertama kali setelah seringnya ia membeli stok kebutuhan dapur untuk sebulan, dan kali ini ia ingin membeli di minimarket tersebut.
Dewi sudah membiasakan dirinya untuk berjalan kaki, karena bisa dibilang bahwa usia kandungannya sudah memasuki trimester 3, hal tersebut membuatnya untuk membiasakan berjalan kaki karena katanya akan memperlancar ketika melahirkan nantinya.
Mengingat melahirkan, hal yang ditakutkan oleh Dewi bukanlah soal ia yang akan melahirkan secara normal ataupun sesar, melainkan kehidupan dirinya dan calon anaknya kedepannya, karena ia yang akan menghadapi hukuman yang diberikan oleh Bella padanya dan anaknya.
Dewi memang berdamai pada dirinya dan menerima keberadaan anaknya, namun ia mengkhawatirkan dirinya yang akan berpisah dari anaknya saat ia menghadapi hukuman penjara yang dibuat oleh Bella dan dijatuhkan padanya.
"Tidak apa, aku akan mencari jalanku sendiri. " ucap Dewi.
Dewi melihat daftar belanjaan miliknya, pertama ia akan mengambil bahan lauk pauk, setelahnya ia akan mengambil bumbu dan penyedap, selebihnya mungkin ia akan mengambil camilan dan lainnya.
Saat berjalan ke arah rak rak tempat bumbu dapur berada, Dewi menemukan bumbu yang ia inginkan, kemudian ia menaruhnya di dalam keranjang troli miliknya.
"Kalau tidak salah, memang kalau masih awal ngeliat jenis kelamin kandungan kurang akurat, yang awalnya cowok taunya cewek, udah beberapa kali sering kayak gitu. "
__ADS_1
Dewi menguping pembicaraan orang-orang yang berada di minimarket, tepatnya para ibu ibu yang tengah berbelanja, dan kebetulan pembicaraan itu terkait dengan jenis kelamin calon bayi.
Karena dirinya tertarik, Dewi sesekali melewati tempat para ibu ibu yang sedang mengobrol, dan juga seperti berpura pura mencari barang di rak yang tak jauh dari tempat para ibu ibu itu mengobrol.
"Eh, ini contohnya, sini gabung yuk, bumil. "
Dewi merasa bahwa ia terpanggil, ia menatap ke para ibu ibu yang sedang berkumpul dan mengobrol itu, ia menunjuk ke arah dirinya dan bertanya.
"Saya? " tanya Dewi.
"Iya, ayo sini gabung. " jawab salah satu ibu ibu.
Dewi yang masih ragu ragu mencoba mendekat ke perkumpulan ibu ibu tersebut, kemudian ia berkumpul dengan ibu ibu tersebut.
"Ini beneran hamil kan? "
"Iya, saya sedang hamil. " jawab Dewi.
"Sudah berapa bulan? " tanya ibu ibu lainnya.
"Sudah 6 bulan, sebentar lagi akan masuk 7. " jawab Dewi.
"Keren, walaupun udah mau masuk trimester 3, badannya masih kayak gemuk aja. "
"Tergantung tubuh ibu hamilnya, tapi ini sudah termasuk bagus, karena badannya masih terjaga. "
"Sudah tahu jenis kelamin anaknya? "
Dewi tidak ingin menambah kesedihannya, ia menggelengkan kepalanya agar tidak membuat dirinya merasa sedih.
"Belum, saya belum tahu jenis kelamin anak saya. " jawab Dewi.
"Wah, cepat diperiksa ya, biar tidak penasaran. "
"Tapi nggak papa, mungkin aja dibikin nggak diperiksa dulu, soalnya bisa jadi mau gender reveal. "
"Wah iya juga, tapi harus siap siap 2 nama untuk calon bayinya, biar nggak kerepotan nyari namanya. "
"Boleh, silahkan. " jawab Dewi.
Perkumpulan ibu ibu tersebut mengelus perut Dewi, Dewi yang melihat hal tersebut pastinya sangat senang, karena dengan seperti itu, seperti selayaknya ia sangat dihargai atas kehamilannya.
"Semoga adek bayinya cowok deh, rugi kalau nggak mirip ibunya, kan ibunya cantik begini. " puji salah satu ibu ibu tersebut.
Dewi menjadi tersipu malu, karena baru saja ia dipuji oleh orang lain, dan juga ia menjadi kesenangan karena orang lain yang tidak ia kenal bisa memujinya seperti itu.
"Sehat sehat ya, ibunya. "
"Terimakasih. " ucap Dewi.
.
Selesai berbelanja, Dewi memutuskan untuk pulang, barang yang ia bawa cukup banyak, namun tidak berat seperti kelihatannya, karena isinya tidak terlalu berat.
Hari yang begitu panas untuk pergi keluar, namun Dewi secepatnya pulang ke gedung apartemen dan segera menuju ke kamar apartemennya, karena ia tidak sabar lagi untuk memasak makanan karena merasa lapar, Dewi menaiki lift untuk menuju ke kamar apartemennya.
Butuh beberapa menit untuk sampai, akhirnya Dewi membawa barang barangnya, ia merogoh tasnya dan mengambil kartu akses kamarnya.
"Aku pulang. "
Dewi terkejut ketika melihat siapa yang memasuki apartemennya, Gusti yang masuk ke apartemennya dan terlihat masuk dari balkon bersama dengan anjing peliharaannya.
"Om, ada apa? " tanya Dewi.
"Tidak, saya hanya mengunjungimu saja, kamu tidak memasak? " tanya Gusti.
"Saya baru saja pulang dari minimarket, om, habis membeli kebutuhan dapur yang sempat habis. " jawab Dewi.
Gusti hanya menganggukkan kepalanya, tak lupa juga ia memberikan sesuatu yang ada di kantong kertas kepada Dewi, Dewi bisa menebak bahwa itu adalah makanan.
__ADS_1
"Saya tahu kamu sering tidak sarapan, saya belikan makanan untukmu. " ucap Gusti.
Dewi tersenyum, ia menganggukkan kepalanya.
"Terimakasih makanannya, om. "
Dewi membuka kantong kertas tersebut, sebuah makanan yang sangat Dewi sukai kemudian ia memakannya, ia duduk bersama dengan Gusti di sofa yang berada di ruang utama.
"Kamu membeli apa saja? " tanya Gusti.
"Bahan bahan dapur, camilan, dan kebutuhan lainnya. Maaf jika harus pemborosan, om. " ucap Dewi.
"Tidak apa, kamu tanggungjawab saya sekarang, gunakan saja uang yang ada di dalam kartu itu untuk kebutuhan kamu. " ucap Gusti.
Dewi menganggukkan kepalanya, kemudian kembali memakan makanannya lagi.
"Om. " panggil Dewi.
"Ya, ada apa? " tanya Gusti.
"Nama anak anak om siapa saja? "
Gusti mengerutkan keningnya, ia menatap ke arah Dewi dengan penuh pertanyaan.
"Kenapa kamu bertanya nama anak anak saya? " tanya Gusti.
"Tidak, saya hanya ingin menyamakan nama calon anak saya dengan kakak kakaknya saja, tidak apa bukan? " tanya Dewi.
Gusti menganggukkan kepalanya.
"Nama anak saya yang pertama adalah Anggita Yolanda Gustiawan, nama anak saya yang kedua adalah Regina Alina Gustiawan, ya saya memanggil mereka dengan nama sebutan mereka saja. Kamu ingin menamai anakmu seperti apa? " tanya Gusti.
Dewi berpikir sejenak, ia mengambil ponselnya dan melihat catatan sebelumnya, dan menyampaikannya kepada Gusti.
"Rencananya saya ingin mengambil 2 nama, tapi nama nama ini berbeda dengan jenis kelaminnya. " jawab Dewi.
"Berbeda? Bukannya anakmu jenis kelaminnya perempuan? " tanya Gusti.
"Ya, saya tahu itu, tetapi tadi saat saya sedang berkumpul dengan perkumpulan ibu ibu lainnya di minimarket, mereka menceritakan bahwa jenis kelamin calon bayi itu bisa berubah walaupun ada kesalahan pada saat pemeriksaan, jadinya saya ingin menyiapkan nama untuk calon anak saya, om. " jelas Dewi.
Gusti sebenarnya ingin mengatakan yang sebenarnya kepada Dewi, namun dari sorot mata gadis itu terlihat akan penuh harapan, hal tersebut membuatnya menjadi tidak ingin membuat harapan Dewi langsung pupus begitu saja.
"Baik, katakan, apa saja kedua nama itu? Saya akan bantu sempurnakan. " tanya Gusti.
Dewi yang mendengar hal tersebut kemudian tak percaya, ia kemudian tersenyum ketika Gusti yang bertanya dan akan membantunya.
"Ini om. "
Dewi menyerahkan ponselnya kepada Gusti, kemudian Gusti melihat nama yang diberikan oleh Dewi, satu persatu ia membacanya dan tersenyum.
"Nama yang bagus. " puji Gusti.
"Terimakasih, om. " ucap Dewi.
Dewi mengelus perutnya, kemudian ia tersenyum.
"Saya berharap untuk anak saya itu nama yang pertama, om. " ucap Dewi.
"Nama yang pertama? " tanya Gusti.
"Ya, Galuh Aditya Khairul Pratama, saya menginginkan nama tersebut untuk calon anak saya. " jawab Dewi.
Gusti menghargai keinginan Dewi, ia menganggukkan kepalanya, seraya ia menyentuh perut Dewi.
"Apapun itu keinginanmu, jaga dia baik baik. " ucap Gusti.
Dewi menganggukkan kepalanya.
"Baik om, saya akan jaga dia baik baik. "
__ADS_1
*********