Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)

Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)
Eps 12 : Kudapatkan Dewi untuk semalam


__ADS_3

...Happy reading 🧔...


......................


Di seberang kota di dunia malam, sekumpulan manusia dengan para penggoda berbondong-bondong menikmati suasana dunia malam.


Tepatnya di diskotik, hamparan manusia dengan dentuman lagu seiring berirama di setiap nadanya.


Gadis gadis, pria lajang, maupun laki-laki tua banyak yang menikmati suasana diskotik, entah itu melepas penat ataupun berusaha memuaskan hasratnya masing-masing.


Tak terkecuali Eni, mucikari itu selalu hadir di tempat diskotik itu, entah itu memandu para orang orang beserta murid-muridnya untuk melayani ataupun mengajari mereka bersama dengan pelanggannya.


Eni menikmati malam nya bersama para ani ani yang ada, jika ada pelanggan yang datang, maka uang akan selalu masuk ke kantongnya.


"Eni, saya butuh bicara sekarang. "


Laki-laki yang tidak asing, yaitu Gusti, ia menghampiri Eni yang tengah duduk menikmati minumannya.


"Ya, ada apa, Gusti? " tanya Eni.


Gusti duduk, kakinya bersila menunjukkan kewibawaannya, ia mengambil minuman dan menghidupkan rokoknya.


"Sebelumnya ini seputar Dewina, saya butuh dia untuk bisa melayani saya lebih dari sebelumnya. " ucap Gusti.


"Oh ya, soal apa yang butuh dikembangkan untuk Dewi, Gusti? "


"Kamu bisa ajarkan ia minum? Saya yakin, kamu pasti bisa mengajarinya. Saya membayar kamu untuk bisa melatih Dewi seperti sebelum sebelumnya, saya masih membutuhkan salah satu dari diri Dewina itu. " jawab Gusti.


"Tentu saja, dengan seperti itu, kamu bisa menikmatinya tanpa ada pemberontakan, bukan? " tanya Eni sekali lagi.


"Kamu tahu diri saya ternyata, tidak sia sia saya membayar kamu sebagai mucikari untuk mencari wanita penghibur saya. " ucap Gusti penuh sanjungan.


Eni tersenyum sambil menikmati minumannya. "Tenang saja, sepulangnya Dewina itu dari desa, saya akan ajarkan dia cara melayani anda dengan baik. Tapi, anda dapat memberikan bayaran lebih untuk Dewina itu sendiri, kan? "


"Tentu, berapapun saya akan siapkan. " jawab Gusti.


"Ya bagus, lagipula Dewina sekarang sudah mengerti soal uang, bagaimanapun dia akan menuruti kehendak anda dan arahan dari saya. Saya akan latih dia, tinggal anda yang akan menyusun skenarionya sendiri. " ucap Eni.


Gusti tersenyum, ia mengangkat gelasnya dan mengajak Eni untuk bersulang, mereka menikmati minuman bersama di hamparan manusia manusia lainnya.


......................


"Ikan semur kecap sudah siap. "


Warsita beserta keluarganya menghidangkan makan malam, ikan hasil tangkapan Firdaus tadi ia masak menjadi semur kecap, ikan tersebut menjadi lauk mereka untuk makan malam ini bersama lauk lainnya.


"Baunya sangat harum, ibu memang pandai memasak. " puji Dewi.


"Biasa saja, masakan ibu memang selalu seperti ini, kamu saja yang tidak lagi makan di rumah karena ke luar desa. " ucap Warsita.


"Ibu sama saja seperti bapak, selalu rindu Dewi di rumah. " ucap Dewi.


"Bagaimana lagi? Kamu anak satu satunya kami, tidak heran jika kami sangat merindukanmu. " ucap Taufik.


Dewi hanya tersenyum, ia mulai memakan makanan yang ada di atas meja.


"Dewi, kamu di sini mau beberapa hari? " tanya Warsita.


"Besok lusa Dewi akan pulang ke kota lagi, bu, karena di kasih izin hanya dua hari bisa di desa, makanya Dewi sempatkan waktu untuk bisa libur di sini sampai lusa malam Dewi berangkat lagi. " jawab Dewi.


"Begitu ternyata, cepat sekali. "


"Kapan kapan kalau sudah libur semesteran, Dewi akan pulang ke desa lagi, pak, tenang saja, Dewi akan bawa buah tangan dari kota buat diantar ke desa. " ucap Dewi.


Taufik menganggukan kepalanya. "Nak, selama di kota kamu tidak berbuat aneh aneh kan? "


Dewi tersedak, ia batuk hingga membuatnya hampir memuntahkan makanannya, Warsita mengambil air minum dan menyuruh Dewi untuk meminumnya.


"Kamu kenapa, Wi? " tanya Warsita.


"Tertelan duri ikan, bu, makanya sampai tersedak. " ucap Dewi.


Warsita menggelengkan kepalanya, ia duduk kembali dan melanjutkan makannya.


"Tidak, Dewi tidak macam macam di kota, pak. Lihat saja, Dewi masih kuliah di kota, dan juga masih bisa mengirim uang dengan ibu dan bapak di desa. " ucap Dewi.


Taufik akhirnya percaya, ia melanjutkan makannya, begitupun dengan Dewi dan Warsita.


Dewi beserta kedua orangtuanya menikmati makan malam bersama, walaupun dibenak hati Dewi merasakan sedikit beban, karena ia menyembunyikan sesuatu dari kedua orangtuanya.


......................


Dua hari telah berlalu, Dewi membereskan barang barang yang sebelumnya ia bawa, ia berencana pulang sore hari, karena malam hari pastinya tidak ada angkot yang bisa mengangkut penumpang yang perjalanannya jauh.


"Bapak, ibu, Dewi pamit untuk pulang ke kota lagi ya, bapak sama ibu jaga kesehatan nya di sini, kalau ada apa apa beritahu Firdaus. " pesan Dewi.

__ADS_1


"Tampaknya kamu masih belum yakin kami menjaga diri di desa, nak. Baiklah, kalau itu keinginan kamu, kami akan penuhi. " ucap Taufik.


Dewi mengangkut barang-barang yang ia bawa, tak lama para pemuda lagi lagi berkumpul di depan rumah kedua orangtuanya Dewi, Taufik mencoba mengusir para pemuda tersebut untuk tidak menganggu perjalanan Dewi menuju ke kota.


"Eneng Wiwi, kok nggak di sini? " tanya salah satu pemuda.


"Iya neng, nggak kangen kita semua? Abang selalu nungguin eneng dari kota buat balik ke desa. " ucap salah satu pemuda lainnya.


"Sudah, jangan ganggu anak saya, dia ingin menempuh pendidikan di kota terlebih dahulu, jika dia lulus, baru boleh kunjungi rumah saya untuk melamarnya. " usir Taufik.


Bukannya mereda, malah para pemuda-pemuda yang ada di depan rumahnya, mereka merasa bahwa itu merupakan kesempatan yang bagus untuk memperbaiki diri masing-masing sebelum sang Dewi itu akan pulang ke desa lagi setelah lulus kuliah.


Seperti biasa, jika ada kesenangan, pasti kesuraman datang, seperti bu Sri yang julit dengan Dewi yang selalu diperebutkan oleh pemuda-pemuda yang ada di desa, ia merasa iri ketika anaknya yang ke tiga tidak sama sekali bernasib seperti Dewi, yaitu Ayu.


"Dengar tuh kata bapak saya. Ya sudah, saya pamit dulu ke kota ya, kakak kakak dan abang abang sekalian, sampai jumpa lagi. "


Ucapan tersebut yang sangat diinginkan sedari dulu Dewi ingin pergi ke kota, para pemuda-pemuda tersebut ingin bersalaman dengan Dewi, tetapi Taufik menepis tangan tangan nakal pemuda pemuda yang mengusik anaknya.


"Sudah, kang, lanjutkan perjalanannya. " perintah Taufik.


Sopir angkot tersebut mulai menjalankan angkotnya, pada pemuda-pemuda tersebut mulai mengejar angkot tersebut, Dewi mengeluarkan kepalanya dari jendela dan melambaikan tangannya ke arah para pemuda tersebut.


"Dadah eneng Wiwi...! " sorak para pemuda pemuda tersebut.


Taufik dan Warsita menggelengkan kepala, baru saja anaknya pulang, para pemuda pemuda di desa lagi lagi mengusik anaknya, saat Dewi di desa saja yang menjaga anaknya adalah Firdaus saat Dewi keluar rumah.


"Anak kita ada saja rezekinya, apalagi rezeki jodohnya sendiri, banyak sekali malah. " ucap Taufik.


"Pilih jodohnya satu saja, anaknya lurah juga bagus. " ucap Warsita.


"Ibu ada ada saja, anaknya pak lurah juga pastinya mikir dua kali untuk bisa menerima keluarga kita, bu. " ucap Taufik.


"Tau ah, kita ke ladang saja ya, pak. " ajak Warsita.


Dewi memainkan ponselnya, ia baru melihat isi pesan hanya hari di saat ia berangkat kembali ke kota, ternyata banyak pesan dari Eni selama dua hari ia berada di desa.


"Neng, jangan main ponsel dulu di jalan sebelum sampai ke perbatasan. "


Dewi menuruti arahan dari supir angkot tersebut, ia memasukkan ponselnya dan fokus melihat ke arah jalan menuju ke perbatasan kota.


......................


Sepanjang perjalanan hanya kantuk yang dirasakan, bersama penumpang lainnya menuju ke kota, sesampainya di perbatasan barulah Dewi melanjutkan melihat isi pesan di ponselnya, beberapa menit yang lalu Eni menelponnya.


Dewi menelpon kembali, tak lama diangkat oleh Eni.


"Halo Ni, ada apa? " tanya Dewi.


'Wi, kamu udah mau pulang kan? ' tanya Eni dari telepon.


"Iya, saya akan pulang hari ini, saya yakin kalau batas hari libur saya hanya dua hari, tidak bisa lebih. " jawab Dewi.


'Good, pulang cepat cepat ya, aku mau nunjukin sesuatu. ' ucap Eni.


Eni mematikan telponnya, ia memasukkan lagi ponsel miliknya ke dalam tasnya kembali.


Sesampainya di depan gerbang kosannya, Eni sudah menunggunya di depan gerbang tersebut, terlihat sorot wajahnya yang tidak sabar menyambut Dewi yang sudah pulang dari desa saat malam hari.


"Sini, biar aku bawain. "


Eni penuh semangat dalam menyambut Dewi, Dewi hanya diam dan mengikuti Eni dari belakang.


"Ikut aku ke kamarku, yuk. " ajak Eni.


Dewi sampai bingung, jarang sekali Eni berperilaku seperti itu, yang ia tahu Eni adalah wanita cuek sebelum ditegur duluan.


Eni menunjukkan berbagai minuman di dalam botol, Dewi melihat sebagian, ada salah satu merk minuman yang ia kenal dan itu dapat memabukkan.


"Aku bakal ngajarin kamu buat minum minum hari ini, Wi! " girang Eni.


"Ni, tapi minuman ini dapat memabukkan, saya tidak bisa minum. " tolak Dewi.


"Gak tau pokoknya, ini, ambil, terus minum sedikit aja. "


Eni menyodorkan setengah gelas minuman tersebut, ia tetap menyuruh Dewi untuk bisa mencicipi nya sedikit, itupun penuh dengan paksaan agar Dewi bisa meminumnya.


Dewi memuntahkan minuman tersebut, ia tidak cocok dengan minuman tersebut, karena ia sebelumnya tidak ada riwayat meminum minuman keras.


"Kok dimuntahin sih?! " tanya Eni kesal.


"Saya tidak bisa, Ni. " ucap Dewi.


Eni memutar mata malas dan berdecak, baginya Dewi sedang beralasan saja. "Belajar dong, Wi, jadi ani ani tuh harus pinter godain gadun kita, apalagi nanti nemenin dia buat minum minum. "


"Tapi bau minumannya menyengat, Eni, saya tidak tahan mencium baunya. " jelas Dewi.

__ADS_1


"Yaudah lah, nggak bisa maksa juga. "


Eni mengambil bermacam-macam minuman yang ada, kemudian ia menaruhnya lagi ke dalam lemari.


"Sekali lagi maaf ya, Ni. " ucap Dewi.


"Ya." singkat Eni.


"Nanti malam om Gusti ada keperluan sama kamu, dia mau kamu nemenin dia. " ucap Eni.


"Ya, saya akan temani om Gusti nanti malam, sebelumnya terimakasih sudah memberitahukan berita ini pada saya. " ucap Dewi.


Dewi kembali ke kamarnya, ia sebelumnya memeriksa pesan di ponselnya, ternyata Gusti mengirimkan sebuah pesan, Dewi membukanya dan membacanya.


Gusti mengirimkan salah satu foto, berisi jam tangan yang terlihat sangat mahal, dan terlihat sangat elegant.


Dewi tergiur dengan jam tangan tersebut, ia menyetujui panggilan Gusti nanti malam, hanya untuk mendapatkan uang dan jam tangan tersebut, ia yakin hanya menemani Gusti seperti biasa.


......................


Malam harinya Dewi telah bersiap siap, kali ini Gusti mengerahkan supirnya untuk menjemput Dewi, karena Gusti menunggu kedatangan Dewi saja ke bar, tempat baru Gusti untuk bersantai di malam hari.


Menuju ke bar, banyak bermacam-macam para tamu memasuki gedung bar tersebut, suasana malam nan sunyi dari luar, tetapi akan terdengar lantunan musik klasik ketika memasuki di dalamnya.


Suasananya berbeda dari diskotik, disini dipenuhi orang-orang yang hanya menikmati minuman dan bernyanyi bersama, bar berkedok karaoke, hampir tidak sama sekali terdengar bahwa tempat itu disegel.


"Hello honey, wow, you look so beautifull, honey... " puji Gusti.


Dewi tersenyum, ia duduk di sebelah Gusti dan menaruh tasnya di meja.


Gusti mengeluarkan jam tangan tersebut di depan Dewi, ia memberikannya kepada Dewi, Dewi menatap kilauan yang terpancar dari jam tangan tersebut, sangatlah berkilau dan elegant.


"Just for you, honey. Take that. " ucap Gusti.


Gusti menyodorkan jam tangan tersebut kepada Dewi, Dewi mengambilnya dengan penuh wajah bahagia.


"Terimakasih, om. " ucap Dewi.


Gusti tersenyum, kemudian melanjutkan menghirup rokoknya.


"Kamu bisa minum, kan? " tanya Gusti.


Dewi sepertinya salah pengertian, di maksud oleh Gusti adalah minum minuman keras, tetapi dianggap oleh Dewi adalah minum air yang pastinya bisa ia minum.


"Saya pesan minumannya. "


"Ya, silahkan tuan. " ucap barista tersebut.


"Wine putih saja, patner saya lebih suka wine putih. " ucap Gustiawan.


Teknik barista di bar tersebut sangatlah ahli, bahkan sebagiannya sedang meracik minuman dengan keahlian yang sudah didalami.


"Silakan."


Gusti memberikan segelas kecil wine putih tersebut kepada Dewi, sementara ia meminum Vodka.


Tanpa berpikir panjang Dewi meminumnya tanpa beban, tak lama ia dapat merasakan pahit di ujung tenggorokannya, dan sensasi aroma alkohol di tenggorokan, Dewi ingin memuntahkannya.


"Om, ini... "


"Minumlah sekali lagi, manis. "


Gusti mengambil botol wine putih tersebut dan menuangkannya ke gelas Dewi, Dewi hanya menurut dan Gusti menyuruhnya untuk meminum wine tersebut, ia tidak bisa menolak minuman tersebut, karena Gusti lagi lagi mendesaknya untuk meminumnya saja dan tidak peduli keluhannya sama sekali.


Lama lama efeknya mulai terasa, Dewi terus terusan mengedipkan matanya, dan sesekali terasa kalau ia mengantuk.


Gusti menunggu reaksi tersebut, ia tersenyum dan menyenggol bahu Dewi.


"Dewi? " panggil Gusti.


Dewi berusaha menatap ke arah Gusti, ia merasa gerah pada badannya.


"Om, panas... " keluh Dewi.


"Ya, mari ikut saya, manis, saya akan bantu dinginkan kamu. "


Gusti memboyong Dewi menuju ke ruangan lain yang berada di bar, dengan kartu akses berupa kepemilikan anggota yang membuatnya tidak perlu dipersulit untuk masuk ke ruangan tersebut, salah satu ruangan Gusti pilih dan ia masuk bersama dengan Dewi.


Dewi dibaringkan, Gusti menyentuh setiap inci wajah Dewi, kemudian menikmati keindahan wanita tersebut.


"Dewina, malam ini kamu menjadi milikku. "


Perlahan namun pasti, Gusti telah mendapatkan apa yang ia inginkan dari Dewi, Dewi tidak sadar sama sekali bahwa ia sudah dimiliki oleh Gusti untuk malam itu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2