Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)

Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)
Eps 36: Perselingkuhan yang Tercium


__ADS_3

...Happy reading 🧔...


......................


"Duh, ini bagaimana untuk bisa keluar kamar? "


Dewi mencari cara untuk keluar dari kamar hotel tersebut, ia disekap di dalam kamar hotel yang terkunci itu, mencari cara untuk bisa keluar dari kamar tersebut.


Bermacam cara Dewi lakukan untuk bisa keluar dari hotel tersebut, mulai dari ingin keluar dari jendela kamar, sayangnya jendelanya terkunci, Gusti sangat pintar untuk mengetahui sela sela untuk bisa kabur dari tempat tersebut.


Memutar otak untuk pergi dari tempat tersebut, sayangnya Dewi tidak menemukan jalan keluar sama sekali, ia layaknya tikus masuk dalam perangkap.


Dewi akhirnya menyerah, ia bersandar di pinggir ranjang dan melipat kedua tangannya kemudian membenamkan wajahnya di sela sela lutut kakinya.


"Ibu, bapak, Dewi dijebak... " keluh Dewi.


Dewi menangis, ia tidak suka dengan dirinya yang dikurung seperti sekarang, ditambah lagi ponselnya yang dirampas oleh Gusti, disengajakan agar ia tidak bisa menghubungi siapa saja.


Dewi mencium sebuah aroma, dan suara lift terdengar di dalam ruangan tersebut, sebuah lift mini terbuka dengan makanan yang tertera di nampan yang berada di lift mini tersebut.


Dewi mendekat, ia menatap kosong ke arah makanan tersebut, Dewi tidak sama sekali ingin memakan makanan tersebut dan memilih mengangkut makanan tersebut kemudian membuangnya di kotak sampah, seolah bahwa ia sudah memakan makanan tersebut.


"Biar tahu rasa, bahwa aku juga bisa bertindak seperti ini! "


Dewi melempar nampan tersebut, ia pergi dari dapur kemudian berencana untuk sekedar menonton televisi.


......................


Di kosan, tepatnya di gerbang, pak Danu dan Jelly tampak menunggu kedatangan Dewi, karena sedari tadi siang tidak ada tanda tanda Dewi yang pulang, seperti Dewi sedang melarikan diri dari kosan.


Jelly terus terusan menggonggong, ia merasa bahwa tidak merasa aman dengan keadaannya sekarang, bahkan Jelly sampai terus terusan berlari ke atas dan kebawah untuk menghampiri Dewi.


Tak ada tanda tanda Dewi yang sudah pulang, menanti datangnya Dewi dari depan gerbang, sayangnya, sudah beberapa jam tidak ada tanda tanda Dewi akan pulang.


"Jeli, kemari dengan saya. " panggil pak Danu.


Jelly mendekat, dengan suaranya yang sudah terlihat sedih, ia duduk dan menyenderkan badannya di bangku pos jaga dan mulai mencoba untuk tidur, tidak ada pilihan lain selain tidur.


Pak Danu duduk di samping Jelly, perlahan ia elus kepala anjing tersebut yang tengah tertidur dan menatapnya dengan tatapan sedih.


"Tidak apa apa, saya yakin, jika majikan kamu akan pulang sebentar lagi, tunggu disini. " ucap pak Danu.


Tak lama seseorang berjalan menuju ke dalam kosan, Jelly terbangun dari tidurnya dan melihat siapa yang datang kali ini.


"Pak, tumben Jelly ada di sini? "


Itu adalah Eni, setelah sekian lama ia tak terlihat di kosan, akhirnya ia pulang ke kosan, Jelly bangun dan menyambut kedatangan Eni yang tampak baru pulang dari suatu tempat.


"Kenapa Jelly disini? Dewi kemana? " tanya Eni.


"Saya tidak tahu keberadaan neng Dewi, semenjak tadi siang tidak ada tanda tanda bahwa neng Dewi pulang, saya takutnya kalau terjadi apa apa saat dijalan. " jawab pak Danu.


Eni menjadi ikut khawatir, ia mengingat pesan yang dikirimkan oleh Gusti sebelumnya, sebuah surat ancaman yang tertera di pesan chat, bahwa Gusti tidak akan diam dan memulai permainan dengan Dewi.


Eni merasa resah untuk sekarang, bahwasannya Dewi yang menghilang seperti sekarang, yang ia takutkan jika Gusti tidak sama sekali akan mengembalikan Dewi.


"Kalo gitu, aku coba buat nelpon keadaannya. " ucap Eni.


Eni mengambil ponselnya, ia mencari nomor Dewi kemudian mencoba menelponnya.


Eni sebenarnya panik dengan keadaan Dewi yang dikatakan sedari tadi siang tidak pulang sama sekali, ia takut jika Dewi memang benar benar diculik oleh Gusti dan diamankan di suatu tempat yang berbeda.


Sekian lama menelpon, tidak ada tanda tanda bahwa Dewi akan mengangkat teleponnya, bahkan panggilan tidak terjawab hingga berkali kali, Eni semakin yakin, bahwa Gusti telah mengambil tindakan tersebut dan ponsel Dewi pastinya sudah di tangan Gusti.


"Pak, kayaknya temenku nginep di rumah paman sama bibinya, kita yakini aja ya kalau Dewi bisa pulang besok. " ucap Eni.


"Neng Dewi yang ngasih tau? " tanya pak Danu.


"Nggak, biasanya kalau kayak gini, dia tuh nginep di rumah omnya. Yaudah, Jelly ikut saya saja dulu, pak. " jawab Eni.


Jelly mengikuti Eni, menuju ke lantai atas, dengan tatapan kosong ia mulai berpikir sesuatu.


'Semoga aja Gusti nggak nyiksa Dewi karena permainannya. ' gumam Eni dalam hati.


......................


Di dalam hotel, Dewi melemparkan bantal ke arah televisi, dengan perasaan mood yang buruk, ia melemparkan benda tersebut ke arah televisi.


"Siaran televisi yang tidak bagus! " umpat Dewi.


Dewi memilih untuk mematikan televisi tersebut, ia menyenderkan tubuhnya di sofa dan menatap langit langit kamar hotel tersebut, hanya hampa dengan kebosanan yang dapat ia rasakan.


"Seperti ini ya rasanya terjebak? "


Dewi menghela nafasnya, tak lama perutnya berbunyi, menandakan bahwa ingin diisi oleh makanan, namun di dalam kamar hotel tersebut hanya tersedia buah saja, Dewi tidak terbiasa memakan buah kecuali ketika ia menginginkannya.


Sekarang Dewi memikirkan satu hal, ia merasakan lapar, sedaritadi saat berada di kamar hotel, ia mulai kebingungan mencari makanan yang dapat ia makan hari itu juga.


Suara lift itu lagi lagi berbunyi kembali, Dewi menyadari ada sesuatu yang dibawa di lift tersebut, dengan cepat Dewi berlari ke arah lift tersebut dan mencoba membuka lift makanan tersebut diantarkan.


Sepiring makanan yang terlihat nikmat ada di lift tersebut, Dewi mengambilnya kemudian melihat makanan tersebut, tidak ada tanda tanda yang aneh pada makanan tersebut, sehingga dengan lahap ia memakan makanannya itu.


"Makanan yang nikmat sekali. " gumam Dewi.


Dewi memakannya dengan lahap, tidak peduli jika ia terlihat kacau, yang ada di pikirannya sekarang adalah makan, jarang sekali ia akan bersikap seperti itu kecuali jika ia merasa stress dengan keadaan, Dewi seakan gila dengan keadaan yang memaksanya dan dirinya yang terkurung sendirian di kamar hotel itu, dengan menunggu keajaiban datang membantunya.


"Enak, semuanya enak... "


Dewi pingsan, sepertinya makanan yang tengah ia makan diletakkan obat, sehingga ia terkena efeknya dan sekarang ia pingsan dengan makanan yang berhamburan di lantai.


Setelah sekian lama tergeletak, sebuah langkah kaki terdengar dari kamar hotel tersebut, kemudian mengangkat tubuh ringan tersebut.


"Tampaknya obat membuatmu tidur, manis? "


Gusti mengangkat Dewi menuju ke kasur, ia membaringkan tubuh Dewi kemudian secara perlahan ia duduk dan melihat wajah Dewi yang sedang tertidur, tepatnya tengah pingsan.


"You look so beautifull, honey... " puji Gusti.


Gusti mencium kilat bibir Dewi, ia tidak sama sekali ingin memulai permainan, rasanya tidak seru jika tidak ada suara saat bermain, Gusti memilih untuk pergi dari kamar dan meninggalkan ponsel milik Dewi yang ia pegang sebelumnya.


Gusti memilih untuk pulang, ia tidak ingin jika seseorang mengetahui bahwa ia habis menyekap gadis di dalam hotel dan sekarang gadis tersebut tengah pingsan.


Sebelumnya, Gusti akan mengunci kamar tersebut, karena ia tidak ingin jika Dewi kabur dan sesuka hati berkeliaran di luar, dan lagi lagi akan lancang dengannya.

__ADS_1


......................


Sampai malampun Eni belum bisa tidur, karena ia melamun dan melihat Jelly yang duduk di depan pintu tanpa bergeming, sepertinya Jelly masih menunggu kehadiran Dewi yang menghampiri Eni dan menjumpainya.


"Jelly... " panggil Eni.


Jelly mengarahkan kepalanya dan melihat Eni dari pintu, Eni mengayunkan tangan untuk menyuruh Jelly mendekat dengannya, sayangnya, Jelly masih tidak menurut dan memilih untuk diam di tempatnya, sesekali menggonggong dengan suara menyedihkan.


Eni akhirnya tidak tinggal diam, ia mulai mendekat ke arah Jelly dan berusaha membujuk anjing tersebut, walaupun Jelly masih keras dengan pilihannya, tetapi akhirnya ia menurutinya dan mendekati Eni.


"Tidur disampingku, sini. " ucap Eni menepuk-nepuk kasurnya.


Jelly mendekat, ia membaringkan badannya dan kepalanya bersender di pangkuan Eni, ia tertidur dengan nafas yang tidak teratur.


Eni mengelus kepala Jelly, ia masih merenung, dan juga ia sesekali memeriksa chat terakhir dan kapan terakhir kali Dewi membuka pesan, sayangnya, status akun Dewi menunjukkan bahwa kemarin terakhir kali Dewi aktif, hal itu tambah membuat Eni tambah khawatir dengan keadaan Dewi.


Namun Eni tetap berinisiatif untuk menelpon Gusti, karena Gusti, laki laki itu yang membuat Eni tidak bisa tidur lelap akibat temannya yang disekap.


Di dalam mobil, tepatnya mobil yang sudah terparkir di depan rumah, Gusti mengambil ponselnya yang terus saja berdering, ia melihat dan mengangkat teleponnya.


"Ya, ada apa? " tanya Gusti.


'Gusti, ini nggak lucu, balikin Dewi sekarang juga, kamu tau bahwa dia terus dicari dengan peliharaannya. '


Gusti hanya tersenyum, ia tertawa dan kembali serius dengan tatapannya.


"Dengar, saya tidak akan mengembalikannya, saya yakin, jika saya lepas, maka dia akan berbuat lancang lagi dengan saya. Biarkan saya yang urus semuanya, termasuk Dewina itu sendiri! " tegas Gusti.


Gusti mematikan ponselnya, ia menaruhnya di dalam kantongnya dan berjalan ke dalam rumahnya.


"Baru saja pulang, Gustiawan? "


Gusti terkejut, saat menaiki tangga teras rumahnya, sudah ada Bella yang berdiri di atas menunggu nya dari bawah.


"Gila, kamu seperti hantu, mengejutkan saja! " tegas Gusti.


"Dasar anda saja yang mendramatisir kejadian, hanya ditanya saja seperti sedang menjadi buronan saja. " ucap Bella.


Gusti menggelengkan kepalanya, ia menaiki tangga teras rumahnya dan berjalan menuju ke dalam rumah, sementara Bella mengikutinya dari belakang.


"Kamu berselingkuh, bukan? "


Langkah Gusti terhenti, ia menatap kesal ke arah Bella.


"Dalam rangka apa kamu menuduh saya berselingkuh? Apa anda sudah gila, hingga dengan sesuka hati menanyakan bahwa saya berselingkuh? " tanya Gusti.


Bella menaikkan bibirnya. "Tidak, bukannya saya berhak menanyakan dengan suami saya, apakah di luar sana dia tengah berselingkuh? " tanya Bella.


Gusti cepat sekali panas, bahkan ia menyiapkan nafasnya untuk membantah tuduhan tersebut.


"Saya tidak sama sekali selingkuh, mengerti?! " bentak Gusti.


Bella tersenyum miring, ia tidak percaya dengan ucapan Gusti.


"Anda berbohong atau sengaja menutupinya kan? Berhentilah berbohong di depan saya, Gustiawan. " tanya Bella.


"Bella, saya tegaskan dengan kamu, berhenti menuduh saya bahwa saya berselingkuh! Saya bekerja selama di luar, dan kamu harus tahu itu! " tegas Gusti.


"Santai saja, saya hanya bertanya, memangnya salah ya, Gustiawan! "


Gina menutup telinganya, dari atas ia turun ke bawah untuk menghampiri kedua orang tua nya yang tengah dilanda api keributan dalam rumah tangga.


"Mama, papa, kami minta kalian jangan kayak gini, kalian tidak bosan apa selalu berkelahi seperti ini? " tanya Gina.


"Hentikan Gina, kembali ke kamarmu sekarang, tidak usah hiraukan mama dan papa disini! " bentak Bella.


Gina menjadi takut, ia bersembunyi di belakang Gusti dan melindungi dirinya di belakang ayahnya.


"Jangan berbicara dengan nada tinggi kepada anakku, Bella! Kamu tahu bahwa Gina punya serangan panik, jangan sesekali kamu membentak nya seperti itu! " tegas Gusti.


"Sudahlah! Anda dan anak anda sama saja, membuat saya pusing dengan kalian! Ayahnya tukang selingkuh, anaknya penyakitan! " bentak Bella.


Gusti menampar Bella untuk kedua kalinya, karena ia cukup tersinggung dengan ucapan tersebut, dan Gusti akhirnya menunjuk ke arah Bella.


"Kamu tidak apa menghina saya, tapi ingat, jangan sampai anak saya yang ikut kamu hina! Kamu tidak sadar, kamu yang melahirkannya kemudian kamu juga yang menghinanya! Orang gila! " tegas Gusti.


Gusti membawa anaknya menuju ke atas, sedangkan Bella menghela nafas kasar, ia merasa ingin menangis tetapi ia berusaha untuk tidak terlihat lemah akibat tamparan tersebut.


"Jika kamu tidak ingin mengaku, biarkan saya yang membongkar nya, Gustiawan! " ancam Bella.


Bella meninggalkan ruang tamu, ia menyusul ke atas dan berencana untuk menghampiri seseorang di salah satu ruangan.


"Papa, apakah doa kami kurang? "


Gusti yang sedang menarik selimut anaknya kemudian menatap anaknya, ia duduk di samping ranjang dan mengelus rambut anaknya, yaitu Gina.


"Berdo'a? Do'a apa yang kamu ucapkan, sayang? " tanya Gusti.


Gina memegang tangan Gusti, tangan remaja yang masih kecil itu menggenggam tangan laki laki dewasa dengan erat.


"Kami selalu berdo'a, agar papa dan mama tidak lagi seperti ini, kami rindu papa dan mama yang saling menyayangi, sesekali kita menikmati waktu bersama di lapangan rumah kita. Papa tahu, kami tidak masalah kalau kalian sibuk di luar, tapi kami merindukan kalian yang saling menyayangi. Kami rindu... " lirih Gina.


Gusti menatap sedih ke anaknya, curhatan anak 12 tahun itu cukup mengenai hatinya, tak lama anaknya terlelap dan tertidur pulas.


Gusti menarik selimut anaknya hingga sebatas bahu, perlahan ia menepuk-nepuk pelan bahu anaknya, dan juga ia mengelus rambut anaknya dengan perlahan.


"Nak, maafkan papa, papa tahu kalian merindukan hal tersebut, tapi papa tidak bisa melupakan perilaku mama kalian setahun yang lalu. " ucap Gusti.


Gusti mencium kening anak bungsunya, tak lupa juga ia menghampiri anak sulungnya dan mencium kening anaknya.


"Selamat malam, anak anak. "


Gusti keluar dari kamar anak anaknya, kemudian ia pergi entah kemana.


Di ruangan lainnya, tepatnya ruang kerja milik Bella, Bella memanggil asisten pribadi suaminya untuk menghadap dengannya kemudian ia memberikan sebuah botol kecil yang berisi cairan di dalamnya.


"Apa ini, nyonya? " tanya asisten tersebut.


"Saya tahu, bahwa suami saya menyembunyikan perselingkuhannya, jadi saya minta dengan kamu, selipkan obat tetes ini ke minuman atau makanan Gusti ketika dia sedang lengah. " perintah Bella.


Asisten pribadi Gusti merasa ragu, tetapi Bella terus terusan memaksanya untuk sesekali mengkhianati tuannya sendiri.


"Tidak, saya tidak bisa. "

__ADS_1


"Baik, apa selama ini kamu yang sudah menyuruh suami saya untuk berselingkuh, Ruben? " tanya Bella.


Tentu saja Ruben langsung menggelengkan kepalanya, bagaimana bisa, ia hanya seorang asisten menghasut tuannya sendiri untuk berselingkuh, itu saja karena tuannya sendirilah yang berulah sehingga ia juga terkena imbasnya.


"Kalau tidak, mengapa kamu tidak mau menghianati suami saya sekali saja? Saya rasa itu tidak masalah sama sekali. " tanya Bella terus terusan menekan.


Akhirnya Ruben menuruti perintah Bella, jelas itu dengan keberaniannya yang sangat tipis, karena baru kali ini ia akan mengkhianati tuannya sendiri.


"Bagus, sekarang ikutilah suami saya, saya ingin dia akan dapat balasannya kali ini. "


Ruben menganggukkan kepalanya, kemudian ia berlari menuju ke luar ruangan.


......................


"Ruben! Ruben! "


Dari lantai bawah, terdengar Gusti yang memanggil asistennya, tak lama asistennya turun dan menghampiri Gusti.


"Ya, ada apa, tuan? " tanya Ruben.


"Tumben kamu ke lantai atas, biasanya kamu akan sibuk di ruang perpustakaan dengan semua buku yang kamu temukan disana? " tanya Gusti.


Ruben merasa gugup, ia hanya menggelengkan kepalanya.


"Tidak, kebetulan saja saya sedang berada di atas, tuan. " jawab Ruben.


Gusti menganggukan kepalanya, ia menghela nafasnya dengan kasar dan mengusap wajahnya.


"Ya sudah, kamu siapkan mobil, bawa saya kembali ke hotel. " perintah Gusti.


Ruben menganggukan kepalanya, ia mendahului Gusti menuju ke mobil.


"Silahkan, tuan. "


Ruben membukakan pintu untuk Gusti, Gusti menaiki mobilnya, kemudian ia berlari ke arah kursi kemudi dan menjalankan mobilnya.


Sepanjang perjalanan, Gusti hanya melamun, ia masih terpikirkan dengan ucapan Gina, anak bungsunya yang mencurahkan isi hatinya.


"Ada apa gerangan, tuan? " tanya Ruben.


"Tidak, saya hanya memikirkan ucapan anak saya tadi, ternyata dia punya impian yang sangat sederhana. " jawab Gusti.


"Begitu ya, tuan. "


"Hanya saja saya merasa terenyuh, dia dan kakaknya hanya meminta agar saya dan istri saya bisa akur kembali. Ternyata keinginan yang sangat sederhana namun mendalam. " ucap Gusti.


Ruben hanya menyimak ucapan tuannya.


"Saya berpikir, bagaimana jika dengan mempunyai simpanan, sama saja saya sedang menghancurkan impian kecilnya, mungkin saya akan menjadi ayah yang bodoh untuk kedua putri saya sendiri. " ucap Gusti dengan nada mendalam.


Ruben hanya diam, namun hatinya menjawab, ia tahu bahwa tuannya hanya melarikan diri dari masalah rumahtangga yang sedang dialami, tetapi tidak menemukan jalan keluar dan harus tetap bisa membahagiakan buah hatinya sendiri.


Tetapi sekarang Ruben harus menepati perintah dari istri tuannya sendiri, ia tahu ini beresiko, namun jika mengingkari perintah dari nyonya nya, maka ia akan ditendang secara tidak terhormat.


Sesampainya di hotel, Ruben turun dan membukakan pintu mobilnya, Gusti keluar dan berjalan ke dalam, hingga diikuti oleh Ruben menuju ke dalam.


Sesuai dugaan Ruben sebelumnya, bahwa tuannya jika punya pikiran, maka akan lari ke minum minuman, tapi dengan hal tersebut, maka itu adalah kesempatan baginya untuk menaruh obat yang diberikan oleh nyonya nya.


"Berikan saya minuman. " perintah Gusti.


Ruben hanya berdiri di samping tuannya, ia menunggu tuannya yang setengah sadar dan dengan kesempatan itu, maka ia bisa menaruh obat tersebut di minuman tuannya.


"Gina, maafkan papa... Papa akhirnya gagal jadi papa yang baik... "


Setelah lama meminum minuman keras, Ruben merasa waktu itu tepat dengan yang diperkirakan, ia mulai mendekati minuman yang sudah dituangkan, dengan obat yang sudah diberikan dari Bella, Ruben meneteskan beberapa tetes obat tersebut ke dalam minuman milik Gusti.


"Saya gagal bukan jadi seorang ayah, Ruben? " tanya Gusti dengan nada suaranya yang mulai serak.


Ruben hanya bisa diam, ia melihat Gusti yang dengan langsung meneguk minuman tersebut sekali hisap.


Gusti roboh, hingga membuat Ruben khawatir dengan reaksi yang terjadi dengan tuannya, butuh beberapa waktu untuk ia melihat bahwa tuannya bereaksi.


"Duh... "


Satu kata yang keluar dari mulut Gusti, Ruben terkejut dan membantu Gusti untuk duduk, terlihat wajah Gusti yang sudah memerah, dan matanya yang terbuka seperti sedang tidak mabuk.


"Tuan, apakah... "


"Tidak, saya bisa sendiri...! " tegas Gusti.


Gusti memegang kepalanya, dengan jalan yang sempoyongan, membuatnya menjadi tidak karuan.


'Sial, kepalaku rasanya pusing! ' ucap Gusti dalam hati.


"Tuan, kalau tidak kuat, saya bantu. " ucap Ruben.


"Arahkan saya ke kamar, cepat! " perintah Gusti.


Ruben menganggukan kepalanya, sepertinya tuannya sudah bereaksi, dengan menggandeng Gusti dari tempat duduk, ia mengarahkan ke dalam lift untuk menuju ke lantai tempat kamar milik tuannya berada.


......................


Di dalam kamar, Dewi menangis, ia tidak dapat berbuat apa apa dikamar tersebut, kartu internetnya sudah diambil dan ponselnya yang sebagian nomor telah hilang, membuat nya tidak tahu ingin menghubungi siapa lagi untuk meminta bantuan.


"Aku bodoh, bodoh sekali...! " umpat Dewi pada dirinya.


Terdengar pintu kamar yang dibuka, Dewi menatap ke arah pintu dan ia terkejut, Gusti memasuki kamar hotel tersebut.


"Om...? "


Penampilan Gusti yang kacau, ditambah lagi wajahnya yang memerah, secara tiba-tiba Gusti berlari ke arahnya dan mulai menyerangnya.


"Om, tidak! " teriak Dewi.


Mungkin efek obat, Gusti tidak peduli dengan teriakan tersebut, ia menjadi sangat liar, hingga ia menyiksa Dewi, dengan mencekiknya dan mulai bermain dengan Dewi.


Permainan begitu kasar, hingga Dewi tidak dapat berbuat apa apa, ia diperlakukan layaknya sebuah boneka yang sesuka hati dipenuhi h*srat maupun disiksa habis habisan.


"Om, sakit! Hentikan om! Om tidak pernah sekasar ini dengan saya...! " pekik Dewi.


"Diam! " tegas Gusti.


Permainan begitu panjang, hingga akhirnya Gusti melewati batas, sedangkan Dewi sudah melemas dan pingsan, tatapan kabur hingga membuatnya tidak sadar apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2