Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)

Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)
Eps 61: Refresing


__ADS_3

...Happy reading 🧔...


......................


"Siapa yang menyuruhmu untuk bunuh diri seperti ini? "


Gusti menghentikan niat Dewi yang ingin mencelakai dirinya sendiri, Dewi menatap ke arah Gusti dengan air matanya yang mengalir, dan sorot matanya yang terlihat kecewa.


"Berhenti bersikap aneh seperti ini, dan ada apa dengan hidungmu itu? " tanya Gusti.


"Apa pedulinya om dengan saya? " tanya Dewi.


Gusti mengerutkan keningnya, kemudian ia mengambil pisau tersebut dari Dewi dan melemparkannya ke lantai.


"Karena saya bertanggung jawab atas dirimu, Dewina. " jawab Gusti.


Dewi hanya tersenyum, dibalik air matanya yang terus mengalir dengan deras, ia tidak bisa melawan dan hanya melemahkan dirinya hingga terhuyung ke lantai, Gusti yang melihat hal tersebut kemudian menahan bobot badan Dewi yang ingin terjatuh ke lantai.


"Dewina! "


"Saya lelah, om. " lirih Dewi.


Tak lama setelah lirih itu terdengar, Dewi mulai menangis tersedu sedu, hingga membuat Gusti langsung menatap ke arah gadis itu dengan tatapan prihatin.


"Saya lelah, om, saya lelah harus hidup seperti ini... Saya tidak sanggup, saya lemah, saya lelah menghadapi masalah ini sendirian, sementara om dan bu Bella terus saja membuat saya stress dan tertekan... " isak tangis Dewi.


"Dewina, kamu-- "


"Saya tahu bahwa saya gagal mengandung seorang bayi laki laki untuk memenuhi persyaratan dari bu Bella, tapi apa yang om dan bu Bella lakukan dengan saya? Om sebagai ayah dari anak ini tidak sama sekali ingin membantu dan mendukung saya melewati tekanan yang saya alami, dan om juga selalu lari dari tanggungjawab apa yang sudah om perbuat bersama saya. Sementara bu Bella, dia seperti memperlakukan saya layaknya boneka eksperimen, saya selalu sakit ketika dia yang datang dengan ucapan dan tindakan yang menyakitkan bagi saya. Kalian tidak pernah merasa iba dengan saya, saya yang hanya seorang gadis desa yang dungu dan bodoh, gadis desa yang tergiur akan biaya lebih tanpa tahu apa yang harus saya kerjakan demi bisa membalas budi kedua orangtua saya. Saya tahu semuanya berasal dari om, semuanya memang berasal dari om sendiri, tapi pernahkah om berpikir bahwa saya melakukannya itu dalam keadaan yang sudah sangat mendesak, dan akhirnya saya terjebak, saya hamil diluar nikah dan saya harus menghadapi keinginan istrinya om itu sendiri. " ungkap Dewi.


Tangisan yang masih berlanjut, sampai sampai Dewi tersedak, Gusti memintanya untuk berhenti, namun Dewi masih mengungkapkannya hingga air mata yang keluar sangat banyak dari sebelumnya.


"Dewina, sudah, hentikan. " ucap Gusti.


"Saya sedih, ketika saya terjebak seperti ini, saya harus menghadapinya sendiri. Saya bisa terima apapun konsekuensinya dari om maupun bu Bella, tapi saya minta, tolong hargai dan dukung saya sebelum saya menghadapi konsekuensi yang kalian perbuat sebelum anak saya lahir, saya hanya minta itu saja, tidak lebih dari itu, saya sudah lelah untuk hidup terkekang seperti ini... "


Ungkapan hati Dewi akhirnya dapat didengar oleh Gusti, laki laki itu menatap prihatin ke arah gadis tersebut, isak tangis Dewi terdengar sangat pilu, tampak rasa sakit dan lelah yang sudah lama dipendam akhirnya dikeluarkan juga, Gusti langsung memeluk Dewi dengan erat.


"Dewina, maafkan saya, saya yang sudah membawa kamu sampai kamu harus sesulit ini menghadapinya sendiri. Maafkan saya, saya egois. " ucap Gusti.


Dewi yang mendengar hal tersebut kemudian melebarkan matanya, ia kemudian kembali menangis, karena terharu ungkapan hatinya akhirnya didengar secara langsung oleh Gusti.


Gusti memegang kedua bahu Dewi, ia mengusap air mata Dewi yang mengalir, meminta Dewi untuk berhenti menangis, dan sesekali mengucapkan maaf sambil mengelus perut Dewi.


"Kemarilah, berdiri, akan saya obati hidungmu yang berdarah itu. " ucap Gusti.


Gusti membantu Dewi untuk berdiri, ia mengiring Dewi ke arah meja makan dan mendudukkan Dewi di atas kursi, sementara ia mencari kotak obat untuk mengambil obat pembersih luka.


"Kemari, saya obati pelan pelan saja. " ucap Gusti.


Dengan telaten, Gusti membersihkan bekas darah yang mengering itu dengan kain bersih, kemudian ia menggulung kapas yang dibalut dengan kain kasa, kemudian menyumpalnya di hidung Dewi yang masih mengeluarkan darah.


.


"Alasan Dewina mengundurkan diri, ini bisa bapak lihat dulu. "


Daniel yang sedang bekerja kemudian dikejutkan dengan sebuah surat laporan beserta surat pengunduran diri karyawan nya, ia segera mengambil surat surat tersebut dan mulai membacanya satu persatu.


"Ini barusan tadi siang Dewi mengantarkannya ke kantor? " tanya Daniel dengan asistennya.


"Betul pak, barusan tadi siang Dewina datang dan memberikan surat ini, saya tidak menyangka saja dia secara tiba tiba mengundurkan diri dari perusahaan. " jawab asisten Daniel.


Daniel membacanya satu persatu, dan akhirnya dari surat keterangan pengunduran diri itu dibuang, Daniel tampak merasa janggal dengan pengunduran tersebut.


"Alasan macam apa ini? Ini saya anggap tidak sah. " tolak Daniel.


Daniel menaruh kertas berisi surat pengunduran tersebut ke dalam laci, sebelumnya ia melihat hasil laporan yang telah dibuat oleh Dewi, ia juga merasa penasaran, mengapa karyawannya yaitu Dewi secara tiba tiba mengundurkan diri dari pekerjaan yang telah diberikan oleh Daniel.


"Terlihat seperti apa Dewi datang ke sini tadi? " tanya Daniel.


"Yah, dia keliatan kayak panikan gitu, pak. Jarang sekali lihat Dewi kayak gitu semenjak hampir sebulan dia jarang mengirimkan laporan ke kantor, dan juga banyak perubahan dari Dewi sekarang. " jelas karyawati tersebut.


"Perubahan kayak gimana maksudnya? " tanya Daniel.


"Sekarang Dewi terlihat gemukan, melihatnya seperti itu jadi semakin khawatir, takutnya selama sebulan ini dia tidak dalam keadaaan baik baik saja. "


Daniel memegang dagunya, kemudian ia ikut berpikiran yang sama dengan karyawannya katakan barusan, bisa jadi sesuatu sedang terjadi pada Dewi, sehingga sebulan tidak bertemu, dan sekarang secara tiba tiba mengirimkan surat pengunduran diri.


"Nanti kirimkan saja pesan dengan Dewi, bahwa saya butuh alasannya kenapa ia memilih untuk mengundurkan diri dari pekerjaan ini. " ucap Daniel.


"Baik pak, akan saya sampaikan. "


Karyawati tersebut kemudian keluar dari ruangan Daniel, sementara Daniel masih memikirkan alasan Dewi berhenti bekerja.


"Dewi, sebenarnya apa yang terjadi sama kamu? " gumam Daniel bertanya pada dirinya sendiri.


.


Di lain tempat, Gusti yang tertidur di atas kasur milik Dewi, ia tertidur dan memindahkan posisinya, sambil meraba raba keadaan kasur dalam keadaan mata terpejam, ia menyadari bahwa ia tidak merasakan apa apa di atas kasur tersebut.


Gusti membuka matanya, ia kembali meraba kasurnya, kemudian ia sadar bahwa ia tidak merasakan Dewi berada di kasur tersebut, Dewi tidak ada di kasur.


Gusti segera bangkit dari tempat tidur, ia mencari keberadaan Dewi, ia keluar dari kamar dan mencari Dewi, takutnya Dewi akan berbuat nekat kembali saat lepas dari hadapannya.


"Dewi, Dewina. " panggil Gusti.


Terasa angin berhembus dari ruang utama, angin dingin itu tak lain dari angin malam yang berhembus dari luar, Gusti bisa menebak bahwa angin tersebut berasal dari balkon apartemen, perasaan Gusti semakin tidak enak ketika melihat pintu balkon apartemen itu terbuka.


Saat menuju ke balkon, Gusti melihat seseorang sedang berdiri termenung menatap ke arah bulan, hembusan angin tampak menghembus rambut panjang itu, Dewi menatap ke langit dengan tatapan sendu dan sedih.


"Dewina. "


Panggilan itu memanggil namanya, Dewi mengarahkan pandangannya ke arah belakang, Gusti dapat melihat sorot mata Dewi, sendu dan kosong terpancar dari mata gadis tersebut.


Seketika Dewi langsung memalingkan wajahnya, kembali Dewi menatap ke langit kembali, ia tidak ingin melihat wajah Gusti sama sekali.


Gusti mengerti, dari sikap Dewi barusan menunjukkan bahwa gadis itu masih kesal dan marah, ia tahu bahwa mood wanita hamil memang sering berbeda beda, namun ia tidak ingin membalasnya dengan memarahi Dewi.


"Kenapa om mencari saya? Seharusnya om tidur saja, saya tahu om sedang kelelahan. " tanya Dewi.


Gusti menggelengkan kepalanya, kemudian ia mendekat ke arah Dewi, bersampingan dengan Dewi, ia menyenderkan kedua lengannya di pinggir pagar balkon dan melakukan hal yang sama dengan Dewi.


"Saya lebih tenang disini sementara. " ucap Dewi.


"Yah, sama saja. " ucap Gusti.


Dewi tersenyum mengarah ke langit, sementara Gusti menatap ke arah Dewi, saat Gusti ingin menyentuh bahu Dewi, Dewi sudah menyadari bahwa sebuah tangan sedang mendekati bahunya.


"Jangan dekati saya untuk sementara, om, biarkan saya berdiam diri disini terlebih dahulu. " ucap Dewi.


Langkah Gusti terhenti, Gusti kemudian menghela nafasnya, dan ia hanya menatap nanar ke arah Dewi, ia tahu bahwa gadis itu sedang sedih, Gusti berinisiatif memasangkan jasnya di bahu Dewi.


Dewi tersenyak ketika sebuah jas melekat di bahunya, Dewi menatap ke arah belakang, Gusti membaluti bahunya dengan jas milik Gusti.


"Kenapa om? " tanya Dewi.


"Tidak, saya pikir kamu masih akan berada di luar, selama kamu diluar, kamu jangan sampai kedinginan saja. " jawab Gusti.

__ADS_1


Gusti kemudian meninggalkan Dewi yang sedang merenung di balkon, Dewi menyentuh jas itu dan memilih untuk masuk saja, sebelumnya ia menutup pintu balkon dan menguncinya.


"Apa kamu lapar? " tanya Gusti.


Dewi menganggukkan kepalanya. "Saya sebenarnya lapar, tapi untuk makan malam sepertinya tidak bagus untuk saya yang sedang hamil begini. "


"Tidak apa, makan saja jika kamu merasa lapar, lagipula orang hamil tidak boleh menahan seleranya, akan berpengaruh dengan anaknya nanti. " jawab Gusti.


Dewi menggelengkan kepalanya, ia menolak untuk dituruti kehendaknya, dan ia memilih untuk meminum air yang ada di atas meja.


"Saya mau tidur saja, om, sudah malam juga, saya merasa lelah. " ucap Dewi.


Gusti menganggukkan kepalanya. "Ya, kamu istirahat sana, saya juga mau pergi. "


Dewi berjalan menuju ke kamarnya, sementara Gusti menatap ke arah Dewi, ia memilih untuk tidak mengusik Dewi yang moodnya tidak stabil itu dan memilih untuk pergi meninggalkan Dewi.


.


"Ya, kamu atur saja jadwal untuk saya bertemu dengan notaris, ada perjanjian yang saya akan batalkan. "


'Baik nyonya, saya akan atur jadwalnya setelah pertemuan klien saat makan siang. '


Bella mematikan ponselnya, disisi lain ia sangat senang ketika berhasil memuaskan emosinya dengan Dewi, dan sekarang ia berencana untuk membuat perjanjian baru dengan Dewi, hatinya berbisik seolah tidak sabar untuk menyiksa Dewi lagi, bagaimanapun caranya asal ia merasa puas untuk menyiksa simpanan suaminya itu.


"Bella! "


Bella mengenal suara tersebut, terdengar suara bentakan memanggil namanya, ia tahu bahwa itu suara Gusti yang memanggilnya, tetapi dengan nada marah.


"Disini kamu ternyata! " bentak Gusti.


"Hei, apa yang terjadi dengan anda, sehingga pulang dengan keadaan sedang marah marah seperti ini? " tanya Bella.


Tanpa basa basi, Gusti langsung meraih kedua tanga Bella, secara langsung keduanya berhadapan, namun Bella harus menghadapi wajah suaminya yang sedang marah itu.


"Katakan, tangan mana yang kemarin kamu gunakan untuk memukuli Dewi? " tanya Gusti.


Bella meneguk liurnya, ia tahu, bahwa dirinya sudah ketahuan oleh Gusti, dan sekarang ia berhadapan langsung dengan Gusti yang sedang marah itu.


Tatapan tajam mengarah ke arah Bella, kedua tangannya dipegang oleh suaminya, dan sekarang pergerakannya benar-benar dilumpuhkan oleh Gusti.


"Sepertinya tangan kananmu terlihat kuat, mungkin ini yang kemarin membuat Dewi hampir babak belur. "


Gusti mencekam tangan Bella dengan kuat, hingga Bella berteriak kesakitan, suaminya mer*mas tangannya dengan kuat.


"Sakit! Hentikan, Gustiawan! " teriak Bella.


"Ini belum cukup, akan saya tambahkan! "


Gusti menambah kekuatan cekaman nya, ia membuat Bella benar-benar berteriak kesakitan dan mengeluarkan air matanya.


"Hentikan, saya kesakitan karena ini! " teriak Bella memohon.


Gusti menghempaskan tangan Bella, tangan wanita tersebut memerah, hingga Bella merasa tangannya panas karena cekaman itu.


"Anda berbuat kasar seperti ini dengan saya hanya karena simpanan anda, Gustiawan? Betapa teganya anda memperlakukan saya layaknya sandera? " lirih Bella.


Gusti menatap kesal dengan Bella, kemudian ia memojokkan Bella, sehingga Bella tidak bisa melawan Gusti.


"Karena kamu tidak punya hati, dan saya juga tidak ingin melakukan kekerasan dengan kamu, tapi apa? Kamu membuat saya terus terusan kesal, sehingga saya akhirnya melakukan kekerasan dengan kamu! " tegas Gusti.


Air mata Bella akhirnya mengalir, ia tidak tahan ketika suaminya mengeluarkan kata bahwa ia tidak akan berbuat kekerasan, padahal semenjak Gusti mengenal Dewi, Gusti mendadak suka main kasar padanya.


"Semenjak anda mengenal Dewi itu, anda suka main kasar dengan saya. Apa anda sadar, selama Dewi berada dengan anda, setiap saya bertanya siapa Dewina itu, anda selalu tiba tiba berbicara kasar dengan saya, dan sebelum saya mengetahui kalau anda berselingkuh dengan Dewina itu, pipi saya yang selama 17 tahun kita menikah, baru kali itu anda menampar saya dan menghina saya. Anda seketika menjadi monster bagi rumah ini karena simpanan anda, Gustiawan! Saya benci dengan kehadiran gadis desa itu! "


Gusti hanya menatap Bella dengan tatapan biasa, tidak seperti saat melihat Dewi menangis, Gusti malah menatap Bella dengan tatapan yang remeh, seakan ia tidak peduli dengan perasaan hati istrinya sendiri.


Bella menatap tidak percaya dengan Gusti, ia masih tetap mengungkit masa lalu Bella, tentu saja Bella tidak terima terus terusan dipojokkan dengan masalah lama yang tidak separah seperti suaminya itu sendiri.


"Hei, anda sendiri juga berselingkuh, Gustiawan! Saya berselingkuh karena anda tidak punya waktu dengan anda, saya juga tidak pernah melakukan hubungan suami istri dengan mantan manager perusahaan anda. Sedangkan anda? Anda berselingkuh dengan membawa hasil, buktinya saja gadis itu akhirnya hamil, dan kalian tidak becus mengurusinya sampai sampai sayalah yang turun tangan untuk ini! " tegas Bella.


"Sudahlah, tetap saja yang memulai semua ini dari kamu kan? "


Begitu santainya Gusti membalikkan fakta, tentu saja Bella tidak terima, ia langsung menampar wajah Gusti dengan keras hingga suara tersebut nyaring, namun Gusti tidak terima dan memilih membalasnya dengan mendorong Bella hingga tersungkur.


"Saya akan pergi bersama Dewi, sepertinya dia yang lebih lemah darimu bukan? Buktinya saja kamu bisa melawannya, dan sekarang kamu bisa melawan saya. " ucap Gusti.


Gusti berjongkok, kemudian ia menepuk nepuk pipi Bella, dan menatap remeh kepada istrinya itu.


"Jaga dirimu disini, saya akan pergi. "


Gusti berjalan meninggalkan Bella yang tersungkur, sedangkan Bella menatapnya dengan tatapan kesal, karena ia tidak menyangka bahwa Gusti akan seegois itu dengannya.


"Gustiawan! Kau laki laki biadab! B*jingan! " teriak Bella.


Gusti tidak memperdulikan umpatan yang dilontarkan oleh istrinya, ia memilih untuk pergi meninggalkan rumah untuk pergi ke perusahaan miliknya, banyak pekerjaan yang selalu menantinya.


.


Keesokan harinya, Dewi terbangun dari tidurnya, seluruh tubuhnya terasa pegal karena tidurnya semalam tidak nyenyak karena mengingat sesuatu yang membuatnya tidak bisa melupakannya, ingatannya malam hari yang membuatnya menjadi tidak bisa menenangkan diri selama sehari.


"Untuk apa terlalu dipikirkan? Toh juga akan berakhir buruk. " gumam Dewi.


Jelly masuk ke kamar, ia menghampiri Dewi dengan membawa piring makannya, Dewi melupakan makan untuk anjing peliharaannya, sambil meminta maaf ia mengelus kepala Jelly dan meraih piring makan milik anjing peliharaannya itu.


Dewi membuka bungkus makanan anjing, kemudian ia menaruhnya di dalam piring dan memberikannya pada Jelly, Jelly memakan makanannya dengan lahap, sementara Dewi menatap anjingnya dengan serius, dan sesekali tersenyum kecil.


"Makannya lahap sekali, apa begitu rasanya hidup seperti anjing? " gumam Dewi.


Dewi bertanya pada dirinya sendiri, kemudian ia mengambil air minum untuk ia minum, rasanya sangat melegakan ketika air masuk ke tenggorokannya.


Biasanya pagi hari ini Dewi selalu sarapan, namun sekarang tidak sama sekali, ia tidak n*fsu makan sama sekali, entah karena ia menahan rasa laparnya atau belum sama sekali ingin makan.


"Rasanya sangat lelah. "


Tak lama, terdengar suara pintu yang terbuka aksesnya, Dewi menegakkan tubuhnya dan bangkit dari tempat duduknya, ia berencana untuk bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke ruang utama.


Dewi berjalan ke ruang utama, ia segera berpapasan dengan Gusti, laki laki itu membawa sebuah kantong kertas, seperti berisi sebuah makanan atau benda lainnya.


"Om Gusti? Ada apa pagi pagi sudah kemari? " tanya Dewi.


Gusti memberikan kantong kertas tersebut dengan Dewi, Dewi dapat merasakan dan dapat menghirup aroma yang ada di dalam kantong kertas tersebut.


"Om, ini makanan? " tanya Dewi.


"Ya, itu makanan untukmu, segeralah makan, saya yakin kamu pasti belum sarapan setelah malam tadi kamu tidak makan sama sekali. " jawab Gusti.


Dewi meneguk liurnya, aromanya memang sangat harum, ia tidak sabar untuk memakannya dan berjalan meninggalkan Gusti.


Gusti mengikuti Dewi dari belakang, ia melihat Dewi membuka makanan yang telah dibelinya, dan kemudian ia duduk di samping Dewi.


Dewi memakan lahap sebuah sandwich yang sangat berisi itu, dengan saus yang cocok dengan roti isi tersebut, tanpa mengingat siapa yang ada di sekitarnya sendiri.


"Om, sudah makan? " tanya Dewi.


Dewi menyodorkan roti yang sudah ia makan, kemudian menawarkannya kepada Gusti, Gusti menggelengkan kepalanya menolak tawaran dari Dewi.


"Tidak, kamu makan saja, saya tahu kamu sangat lapar. " tolak Gusti.

__ADS_1


Dewi menundukkan kepalanya sedikit. "Maaf om, saya malu. "


"Tidak apa, habiskan saja, setelah kamu selesai makan, saya akan ajak kamu untuk relaksasi di luar. " ucap Gusti.


Kunyah Dewi terhenti, ia menatap ke arah Gusti, dan dengan raut wajah yang tidak yakin ketika Gusti mengajaknya untuk pergi relaksasi di luar apartemen, tindakan Dewi langsung menolak ajakan tersebut.


"Tidak, saya tidak mau, tidak usah, om. " ucap Dewi.


Gusti mengerutkan keningnya, ia tahu sepertinya Dewi salah paham dengan maksudnya, padahal secara murni Gusti ingin mengajak Dewi untuk berjalan jalan.


"Dewina, kamu menganggap saya mengajakmu untuk bermain? Tidak, saya sedang mengontrolnya agar tidak mengganggu kehamilanmu. Saya hanya ingin mengajakmu untuk jalan jalan saja, hanya itu. " jelas Gusti.


Dewi merasa tidak yakin, namun ia sedikit percaya dengan ucapan Gusti yang terakhir, bahwa Gusti hanya ingin mengajaknya jalan jalan saja, Dewi juga berpikir, bahwa ia memang merindukan jalan jalan ke tempat yang sangat menenangkan baginya.


"Apakah tempat menenangkan untuk kita datangi, om? " tanya Dewi.


"Kalau itu maumu, saya akan ajak kamu ke sana, saya punya tempat yang cocok untuk kamu datangi bersama saya. " jawab Gusti.


Dewi tampak bersemangat, ia kembali menghabiskan sandwich yang ia makan, kemudian ia melanjutkan makannya hingga habis.


.


Selesai menyiapkan semuanya, Gusti dan Dewi akhirnya bersama sama pergi ke luar kota, tujuan awal mereka adalah berlibur, walaupun tidak tahu apa yang membuat Gusti akhirnya bisa mengambil waktunya untuk berlibur, padahal Gusti adalah tipikal laki laki pekerja keras dan sibuk.


Tak lupa, dengan mengajak Jelly, liburan Dewi kali ini sangat berkesan, ia memang menginginkan bisa sebebas itu setelah hampir 6 bulan ia harus dikurung dalam tahanan Gusti dan Bella.


Perjalanan jauh tak begitu membuat Dewi lelah, ia sangat menanti liburan di luar kota itu, jika sesampainya ia di sana, ia akan membuang nafasnya yang begah selama berada di kota, dan akan menghirup udara liburan itu.


"Ya, kita sudah sampai. "


Dewi bersama dengan Jelly turun, mereka menghirup nafas lega, dan juga mereka segera berjalan ke arah tempat wisata tersebut, Gusti mengikuti Dewi dari belakang.


Penampilan mereka terlihat biasa biasa saja, dan sekarang mereka berbaur dengan para pengunjung lainnya, Dewi tertarik dengan wisata air, yaitu kapal kapalan yang ada di atas danau, tentu saja sorot matanya mengarah ke arah kapal yang sedang mengapung itu.


"Kenapa? Kamu ingin menaiki kapal itu? " tanya Gusti.


"Iya om, terlihat sangat menarik bagi saya, apakah boleh? " tanya Dewi.


Gusti menganggukkan kepalanya. "Padahal sebelumnya saat di Paris, kamu tidak berani menaiki kapal seperti yang ada di sana, kenapa secara tiba tiba langsung berani? "


"Saya sendiri tidak tahu, om, semenjak saya hamil, entah mengapa saya suka sekali melihat air. " jawab Dewi.


Gusti menyetujui keinginan Dewi, ia mengikuti Dewi yang berjalan menuju ke kapal yang sudah ditunjuk, walaupun terlihat bahwa kapal itu guncangannya lumayan kuat, namun itu tidak membuat Dewi takut, ia tetap ingin menaikinya bersama dengan Gusti dan Jelly.


Terlihat bahwa Gusti yang sangat takut jika kapalnya bergoyang, namun tidak dengan Dewi, ia sangat senang ketika menaiki kapal tersebut, hingga tak ingin terlepas dari kapal yang baru saja ia naiki itu.


"Dewina, saya ingin duduk sebentar, kaki saya gemetaran. " ucap Gusti.


"Oh iya om, saya juga ingin duduk sebentar. "


Gusti dan Dewi duduk bersamaan, dengan Jelly yang ikut duduk dan berakhir berguling guling di hamparan rumput, pohon yang rindang menutupi sinar matahari, hingga angin sepoi sepoi terasa berembus di rambut mereka.


"Anginnya sejuk, saya sangat menikmatinya. "


"Kapan terakhir kali saya menikmati cuaca seindah ini? " tanya Gusti pada dirinya sendiri.


Dewi tersenyum, ia kemudian memegang tangan Gusti dan mengelusnya, Gusti menatap ke arah Dewi.


"Saya yakin terakhir kali om menikmati cuaca seindah ini pastinya sebelum saya bersama dengan om, saya yakin, kenangan indah yang pernah om nikmati bersama yang om cintai, namun om sengaja melupakannya. Tidak apa om, kembalilah mengingatnya, karena itu sangat berharga. " ucap Dewi.


Gusti hanya diam, kemudian ia memalingkan wajahnya, seolah ia tidak ingin mengingat apa yang diucapkan oleh Dewi, Dewi yang melihat itu tentu saja menjadi tidak enak, karena sudah menghancurkan suasana yang tadi sempat menyenangkan.


"Maaf om, jika saya menyinggung. " ucap Dewi.


"Tidak, ucapanmu benar, tapi saya tidak ingin mengingatnya lagi. "


Dewi menganggukkan kepalanya. "Baik om. "


Dewi melihat ke sekitar, matanya tertuju ke arah orang orang yang sedang bermain panah, ia kembali tertarik melihat hal tersebut, tentu saja Gusti cepat menyadarinya.


"Kamu ingin mencobanya? " tanya Gusti.


Dewi tanpa menjawabnya ia langsung menganggukkan kepalanya, Dewi tertarik dengan bermain anak panah, hingga akhirnya Gusti mengikuti Dewi yang ingin mencoba bermain panah.


"Saya ingin coba satu. "


Dewi memegang busur dan anak panah, sebelumnya ia mengambil posisi yang sudah ditempatkan oleh pelatih, dan juga Dewi diberi satu persatu petunjuk oleh pelatih tersebut.


Terlihat bahwa Dewi sangat tidak nyaman dengan pelatih tersebut, namun Gusti memilih untuk diam, dan ia akan memberi pelajaran dengan pelatih tersebut.


"Yah, busurnya tidak kena. " ucap pelatih tersebut.


Raut wajah Dewi terlihat kecewa, Gusti tidak senang melihatnya, ia mengambil busur milik Dewi beserta anak panah yang sebelumnya dimiliki oleh Dewi, kali ini ia yang memainkannya.


"Biarkan saya yang memainkannya, waktu untuk bermain ini sampai anak panah ini habis, bukan? "


Gusti mengambil ancang ancang, tanpa arahan dari pelatih tersebut, langkahnya begitu yakin, Gusti mengambil salah satu anak panah dan mulai menarik busurnya.


Clap!


Satu bidikan mengenai titik merah, pelatih tersebut tercengang melihat keahlian Gusti yang secara tiba-tiba langsung melesat ke bidikan yang ada di papan.


Namun satu saja tidak cukup, Gusti mencoba menghabiskan anak panah yang ia punya, menargetkan nya di setiap papan panah itu, hingga bidikannya tidak ada satupun yang tidak melesat dari titik merah.


Semua tercengang, termasuk dengan Dewi, keahlian tiba-tiba itu secara langsung ditunjukkan oleh Gusti, semua yang melihat kemudian bertepuk tangan, walaupun umur Gusti tidak lagi muda, bukan berarti kemampuannya ikut tua.


"Pak, bagaimana bapak bisa tepat sasaran? Apa bapak pelatih panah? " tanya pelatih tersebut.


"Tidak, hanya keahlian saya saja. Ini, saya sudah selesai. "


Pelatih tersebut memberikan sebuah kotak berisi buku buku novel yang diinginkan Dewi, Dewi menerimanya dengan senang hati, hari harinya sangat bahagia di luar kota saat ini.


.


"Cukup Dewina, saya lelah. "


Waktu yang dihabiskan hampir seharian, Dewi dan Gusti mencari tempat duduk mereka berdua, kemudian mereka menemukannya di pinggir danau dan duduk di rerumputan.


Wajah sumringah Dewi terpancar di senyumnya, Gusti lega melihatnya, karena selepas kejadian yang hampir merenggut nyawa gadis itu, sekarang akhirnya gadis itu bahagia dengan harinya.


"Maaf om, saya bersemangat sekali ke sini, sampai-sampai tidak ingat kalau saya sedang hamil. " ucap Dewi.


"Kamu senang disini? " tanya Gusti.


"Iya, saya sangat senang, banyak pengalaman baru disini, saya sangat menikmati nya. " jawab Dewi.


"Syukurlah, saya senang mendengarnya. " ucap Gusti.


Gusti menatap ke arah danau, dan secara tiba-tiba seseorang mencium pipinya dengan lembut, Gusti menatap ke sebelahnya dan itu adalah Dewi.


"Dewi? "


"Terimakasih harinya, om, saya sangat bahagia sekali. Setelah sekian lama terkurung, ketika seperti ini, rasanya sangat bebas dan sangat menyenangkan. Terimakasih ya, om. "


Dewi mengucapkan terimakasih, sedangkan Gusti tersenyum ke arah Dewi, keduanya saling bertatapan, dan akhirnya Gusti merangkul Dewi sambil melihat matahari yang tenggelam.


"Semoga anakku bisa melihat pemandangan disini. " gumam Dewi.

__ADS_1


***********


__ADS_2