
...Happy reading š§”...
......................
Suasana pagi yang sangat dingin, bahkan hampir membeku seperti es, cuaca yang sebentar lagi akan menjadi musim dingin sudah diprediksi oleh orang orang di negara tersebut, contohnya saja dari makanan ataupunĀ Fashion untuk bulan tersebut yang sudah terlihat berbeda dari sebelumnya.
Sehilir perjalanan kota yang ramai akan orang orang, Gusti dan Dewi berjalan menuju ke restoran yang tak jauh dari hotel yang mereka tempati.
Aroma masakan yang tercium di sepanjang jalan, melangkahkan kaki kedua orang tersebut di salah satu restoran yang berada di sana.
Di dalam restoran tersebut, Gusti dan Dewi mencari tempat duduk dan menemukan tempat kosong yang berada di dekat jendela, tempat makan yang bagus sambil menikmati suasana orang orang yang berjalan di depan restoran.
"Please select the food on the menu.Ā "
Beberapa hidangan yang dipilih oleh Gusti, Dewi hanya melihat menu yang ada di papan menu, ia tertarik dengan bentuk makanannya walaupun tidak mengerti dengan nama makanan yang ada di papan menu tersebut.
Gusti memesan beberapa makanan, kemudian pelayan tersebut pergi, Gusti tersenyum ke arah Dewi dan mencari topik pembicaraan.
"Kalau tahu begini, saya lebih memilih di dalam kamar hotel saja, om. "
Gusti tersenyum dengan ucapan Dewi.
"Ya, kalau kamu ingin saya memakanmu seharian lebih, Dewina, maka saya akan menurutinya. " ucap Gusti.
Dewi terkejut, tentu ia tidak menginginkan hal tersebut, yang ada ia tidak akan menikmati suasana kota Paris tersebut dan menghabiskan waktunya hanya untuk digerayangi oleh Gusti.
"Setelah dipikir kembali, lebih bagus jika berjalan jalan seperti ini, om. Walaupun udara dingin, setidaknya dapat menambah kekebalan imun saya menghadapi udara dingin, hehe... "
Gusti menggelengkan kepalanya, ada ada saja baginya alasan dari Dewi untuk menghindar, sebuah lawakan yang bagus untuknya di negeri Paris.
Tak lama pesanan yang sebelumnya dipesan akhirnya datang, pelayan menaruh makanan yang dipesan di atas meja dan menyusunnya dengan rapi, kemudian Gusti mengambil salah satu piring yang berisi Ratatouille, ia membaginya dan menyuruh Dewi untuk menyicipi makanan tersebut.
"Cicipi makanan ini, Dewina. " ucap Gusti memberikan piring berisi Ratatouille tersebut pada Dewi.
Dewi mengambil garpu, setengah suapan setengah Ratatouille tersebut masuk ke mulutnya, perlahan ia mengunyahnya dan menikmati makanan tersebut, sayangnya, ekspresi wajah Dewi tidak dapat berbohong, ia tidak menikmati makanan tersebut dan menjauhkan piring tersebut di depannya.
"What wrong, honey? Why you don't enjoy your meal?Ā " tanya Gusti sambil mengunyah makanannya.
"Sepertinya makanan ini tidak cocok untuk saya makan. " jawab Dewi.
Dewi menjauhkan makanan tersebut, ia merasa bahwa makanan tersebut tidak bisa dinikmati untuk ia makan.
"Ratatouille, bukankah itu makanan kebanggaan negeri ini, Dewina? Mengapa kamu tidak menyukainya? " tanya Gusti.
Dewi menggelengkan kepalanya. "Kurang cocok untuk lidah saya, om, sepertinya masakan gurih lainnya sangat bagus untuk saya cicipi. "
Gusti menganggukan kepalanya, ia memberikan makanan yang dipesan sebelumnya, dengan ukuran makanan yang lebih kecil, tetapi disusun dengan bumbu dan hiasan lainnya.
"Begitu ternyata. Bagaimana dengan ini, Foie Gras dan Beef Bourguignon, saya rasa cocok untuk memenuhi lidah gurihmu itu, Dewina. " ucap Gusti.
Dewi mengambil garpunya, satu kali tusukan ia dapatkan, ditambah Gusti terkejut melihat Dewi yang langsung memakan Foie Gras itu secara langsung.
Ekspresi Dewi tidak tertolong, ia tampak tidak menikmati hati angsa tersebut, baginya begitu aneh dan berlemak.
"Makanan ini begitu aneh. " ucap Dewi.
"Tentu saja terasa aneh, satu kali suapan kamu dapatkan, maka rasa nikmat dari hati angsa itu akan berubah menjadi aneh. " ucap Gusti.
Dewi akhirnya menyadari, bahwa yang ia makan itu adalah hati angsa, tetapi ukurannya berbeda dari biasanya, lebih besar dan warnanya berbeda.
Saatnya Dewi mulai mencicipi Beef Bourguignon, tampak ekspresi nya sangat menikmati makanan tersebut, hanya saja ia mendramatisir rasa yang ada di makanan tersebut.
"Kenapa? Apa kurang cocok lagi? " tanya Gusti.
"Daripada hati angsa tadi, saya lebih menyukai masakan daging ini, makanannya tidak jauh berbeda dari makanan di negara kita, om. " jawab Dewi.
Gusti tersenyum sambil memakan makanannya.
"Kamu, tidak terlepas dari masakan di negeri sendiri, tapi tak mengapa, kamu masih ingat tempat kelahiranmu sendiri. " ucap Gusti.
Dewi menikmati makanan tersebut, walaupun suapan suapan nya lebih besar, tetapi ia sangat menikmati makanan yang berbumbu dan berdaging tersebut.
"Dewina, saya yakin, ini pengalaman pertama anda mencoba masakan yang berbeda dari negara kita sendiri. "
"Tentu saja, om, pengalaman pertama saya untuk menikmati masakan dari negara lain, ini menjadi pengalaman baru bagi saya di negara ini. " ucap Dewi.
"Pengalaman baru bagi saya yah, menara Paris itu yang menyaksikan permainan kita semalam di dalam kamar hotel itu, Dewina. "
__ADS_1
Dewi hampir tersedak, ia meminum teh hambar yang berada tak jauh dari dirinya, lagi lagi ucapan cabul dari Gusti menganggu kenikmatan ia mengunyah makanan yang ada di meja makan tersebut.
......................
Selesainya makan, Gusti dan Dewi berencana untuk berjalan jalan mengelilingi kota Paris tersebut, Dewi menikmati udara dingin dan pemandangan orang orang dari kapal pesiar yang berada di sungai Seine, sungguh pemandangan pagi yang indah di kota cinta tersebut.
"Om, lihat, kapal kapal kecil yang mengikuti kapal pesiar itu! Bukankah itu sangat indah? " tanya Dewi penuh antusias.
"Jika kamu ingin menaiki kapal itu, saya bisa pesankan untuk kita naiki, Dewina. "
"Sepertinya tidak dulu, om, saya takut air, apalagi musim yang mulai dingin seperti sekarang. " tolak Dewi.
Saat tengah berjalan, Gusti mengenggam tangan Dewi, Dewi menatap genggaman tersebut dengan penuh kejutan, seketika Gusti mengenggam tangannya.
"Jalan jalan kesini rasanya seperti saya sedang jalan jalan bersama pasangan saya dulu. " ucap Gusti.
Dewi tertarik dengan istilah Gusti barusan, ia mulai bertanya tentang kehidupan berpasangan Gusti dengan pasangan sugar daddynya tersebut.
"Om, kenapa sekarang seperti ini? " tanya Dewi.
Gusti menghela nafasnya. "Saya hanya kurang bahagia saja. "
Dewi menaikkan alisnya, ia masih belum masuk dengan ucapan Gusti barusan.
"Saya kurang bahagia untuk sekarang, makanya saya butuh kamu sebagai teman saya. " jelas Gusti.
"Tapi, sebelumnya om terlihat bahagia dengan istri om saat di Singapura kemarin, om dan istri om seperti saling mencintai? " tanya Dewi.
"Anda tahu Dewina? Hidup itu penuh drama, gimmick dan image, saya melakukannya hanya untuk membahagiakan kedua anak saya saja. Hubungan kami tidaklah sebaik dulu saat saya memergokinya berselingkuh. " jawab Gusti.
Dewi merasa sedih, baru kali ini dirinya mengetahui apa yang sedang terjadi, bahwa Gusti berlaku seperti itu karena ia tidak bahagia atas pernikahannya.
Dewi merangkul lengan Gusti seraya mengelus lengan Gusti, perlahan dan menenangkan.
"Sabar ya, om, saya tidak bisa berbuat apa apa selain menenangkan om seperti sekarang. Saya tidak bisa bertindak lebih. " ucap Dewi.
Gusti menghela nafasnya, ia mengelus tangan lentik milik Dewi, dan mengenggamnya.
"Terimakasih Dewina, kamu penenang bagi saya. " ucap Gusti.
Kesenangan tersebut tak berjalan lama, tak lama seseorang bersiul di belakang Gusti dan Dewi, tentu saja hal tersebut mengejutkan keduanya, Gusti berpaling ke belakang dan melihat siapa yang usil, ternyata itu adalah rekan kerjanya.
"Gustiawan? Oh wow, very extraordinary, is this really a Gustiawan that i know? "
Gusti hanya diam, ia sedikit menjauh dari Dewi, karena rekan kerjanya itu sangat ember bahkan bisa memancing emosinya.
Sambil bersiul, rekan kerja Gusti menatap Dewi dengan tatapan menggoda, tentu saja dengan melihat Dewi yang sangat mempesona itu membuat rekan kerja Gusti langsung menyukainya.
"Ternyata, ke luar negeri seperti ini, kamu masih sempat bawa cadangan ke negara ini? Aku beritahu istrimu, habis asetmu akan dia potong. "
Sambil tertawa seraya mengejek, rekan kerja Gusti juga seperti melayangkan ancaman, bahwa akan memberitahukan sikapnya di luar ketika sedang tidak ada di rumah.
"Kamu ingin memberitahukan Bella, pengadu? " tanya Gusti.
"Ohoho, cepat sekali anda panas, sesuai penampilan anda, so hot. Tenang, itu hanya ejekan semata, ini bukannya urusan para laki laki diluar, bukan? "
Tak lama ekspresi Gusti berubah menjadi tertawa, bahkan Dewi bingung, cepat sekali Gusti berubah suasana hatinya, yang tadinya terlihat marah sekarang berubah menjadi tertawa.
"Anda pintar sekali memancing emosi saya ya, Sandi? " ucap Gusti sambil mengandeng bahu rekan kerjanya tersebut.
Keduanya tertawa bersama, kemudian saling mengobrol, mengejutkan, Dewi hanya bisa terheran dengan sikap Gusti, tapi ia hanya bisa diam.
"Katakan, apakah kamu ingin mengobrol tentang bisnis untuk pagi hari ini dengan klien saya di negara ini? Bagaimana kalau kita membicarakannya sambil meminum kopi? "
"Tentu saja, kamu duluan, seigneur Gustiawan. "
Gusti dan rekan kerjanya mendahului, beserta rombongan lainnya pastinya mengikuti bos mereka, termasuk Dewi.
......................
Untuk seminggu lamanya, Dewi dan Gusti akhirnya memutuskan untuk pulang, keduanya sudah menghabiskan waktu di Paris, bisnis dan percintaan satu malam tergabung di negara yang dijuluki kota cinta tersebut, menghantarkan keduanya menikmati waktu bersama saat berada di sana.
Dengan menaiki jet pribadi milik Gusti, Dewi dan Gusti akhirnya pulang, perjalanan kembali ke negara mereka pastinya lama dan menunggu waktu seharian bahkan sampai satu hari penuh untuk kembali ke negara mereka.
Dewi, gadis itu memilih melelapkan dirinya, karena ia tidak ingin Gusti kelabakan dengan dirinya yang mabuk udara, hal tersebut memalukan jika dilihat oleh Gusti.
Sebelumnya Dewi membeli beberapa oleh oleh untuk Eni, itu bersamaan dengan Gusti yang membeli oleh oleh untuk anak anak gadisnya.
__ADS_1
Dimata Dewi, Gusti adalah seorang ayah yang sangat bertanggungjawab dan penyayang, Gusti sangat menyayangi kedua anaknya, walaupun dengan istrinya sendiri sedang dalam keadaan yang tidak baik sebagai suami dan istri.
Perjalanan yang jauh dan memakan waktu yang lama itupun berakhir, dengan datangnya sinar matahari pagi, menandakan sudah satu hari penuh penerbangan menuju ke negara asal.
Gusti yang tengah fokus mengarah ke laptopnya kemudian tersadarkan oleh pilot jet, memberitahukan bahwa jet sebentar lagi akan mendarat, itu membuat Gusti tersadar dari pekerjaannya dan mulai membangunkan Dewi.
Gusti membangunkan Dewi dengan lembut, seperti sebelumnya, ia mengelus rambut gadis tersebut dan mengeluarkan kata kata manis untuk membangunkan Dewi, tentu saja cara tersebut efektif dan akhirnya dapat membangunkan Dewi.
"Dewina, bangunlah, manis... " ucap Gusti.
Dewi terbangun, ia menatap ke sekitarnya, kemudian ia melihat ke arah Gusti, ia bangkit dan merenggangkan tubuhnya.
"Apa kita sudah sampai, om? " tanya Dewi.
"Sebentar lagi. Ayo, sekarang bangun dan cuci wajahmu. " jawab Gusti.
Dewi menganggukkan kepalanya, kemudian ia beranjak menuju ke kamar mandi yang berada di jet tersebut.
Dua puluh menit lamanya, akhirnya jet milik Gusti telah mendarat di bandara, dengan beberapa asisten Gusti membantu Gusti dan Dewi untuk turun dari jet tersebut.
"Sepertinya kita akan pulang bersama, Dewina. Kemari, saya akan mengantarkan kamu menuju ke kosanmu. " tawar Gusti.
Dewi hanya menurutinya, diikuti oleh beberapa asisten Gusti, mereka berjalan menuju ke luar bandara.
Selama di perjalanan, Dewi tak henti hentinya menguap, karena ia sangat mengantuk bahkan ia ingin tertidur kembali, tetapi Gusti menyadarkannya dengan obrolan yang mengejutkannya.
"Sabar manis, sebentar lagi kamu akan sampai ke kosanmu. Sebelumnya, saya sudah menghubungi temanmu, Eni. "
"Untuk apa menelpon Eni, om? Bukankah terlalu awal untuk membangunkan Eni? " tanya Dewi.
"Sebenarnya, Eni sendiri yang bersedia menyambutmu untuk pulang, karena ia tahu bahwa kamu akan merasakan kelelahan sehabis pulang dari luar negeri bersama saya, jadi, kamu tunggu saja. " ucap Gusti.
......................
Sesampainya di kosan, dari depan gerbang terlihat siluet seseorang, bahwa Eni benar benar menunggu kehadiran Dewi yang barusaja pulang dari Paris, Dewi pastinya merasa itu sebuah kejutan, bahwa temannya benar benar menantinya.
"Eni benar benar menepati kata katanya. " gumam Dewi.
"Ya, kamu tidak salah memilih teman sepertinya. "
Dewi keluar dari mobil, supir Gusti mengeluarkan koper beserta barang barang lainnya dari dalam bagasi, sementara Dewi dipeluk secara girang oleh Eni.
"Akhirnya balik juga, i miss you, Wi. " ucap Eni.
"Ya, hari yang bagus untuk hari ini, Eni, karena kamu bertemu dengan temanmu. " ucap Gusti.
"Tentu saja, om, saya sangat merindukan teman saya ini, terimakasih sudah mengajaknya untuk bersenang senang. " ucap Eni.
Gusti menganggukan kepalanya. "Kalau begitu, saya pergi dahulu. "
Sopir mobil Gusti menutup bagasi dan pintu belakang, kemudian Gusti membuka sedikit kaca jendela mobilnya dan melambaikan tangan, mobil berjalan dan meninggalkan kedua gadis kosan tersebut.
Eni langsung merangkul bahu Dewi, ia membantu Dewi mengangkat barang barang milik Dewi dan membimbingnya menuju ke atas.
"Capek banget nih kayaknya? " tanya Eni.
"Tentu saja, saya kelelahan untuk beberapa hari ini, semoga hari ini saya dapat beristirahat dengan baik. " jawab Dewi.
Eni tersenyum, kemudian ia membantu Dewi membuka pintu kamar Dewi dan masuk bersama di dalam kamar tersebut.
Dewi melepaskan dirinya dari Eni, kemudian ia mengambil salah satu barang untuk Eni, ia berjalan dan memberikan barang tersebut pada Eni.
"Apa itu, Wi? " tanya Eni.
"Saya memberikan kamu hadiah berupa oleh oleh dari sana, semoga kamu senang. " jawab Dewi.
Eni menerima oleh oleh tersebut dengan sukacita, dengan gembira ia mengambil oleh oleh tersebut dan tersenyum ke arah Dewi.
"Makasih oleh olehnya, Dewi...! " ucap Eni dengan girang.
"Sama sama, saya sangat senang jika kamu menerimanya dengan senang hati. " ucap Dewi.
"Wi, pasti selama di Paris, kamu dan om Gusti terus terusan ngelakuin nya di sana kan? " tanya Eni.
"Bagaimana lagi Ni? Saya hanya bisa menurutinya saja, saya juga sudah terlanjur rusak, untuk apa saya menolak, jika pelanggan sudah bayar saya. "
"Tidak mengapa, manis, setidaknya liburan bersama om Gusti menambah list kamu liburan di luar negeri, setidaknya liburan gratis sih, hehe.... " ucap Eni.
__ADS_1
Dewi tersenyum, ia menarik hidung Eni hingga Eni merasa sesak, keduanya akhirnya bergelut hingga saling merobohkan diri di atas kasur dan tertawa bersama.
...****************...