Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)

Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)
Eps 63: Muak


__ADS_3

"Apa tidak bisa kamu memperbaikinya? Saya sudah bayar kamu untuk memperbaikinya! "


Bella sedang menelpon seseorang yang tak lain adalah pelayannya, ia tampak tidak puas dengan apa yang dilakukan oleh pelayannya yang tidak telaten memantau suaminya.


'Maafkan saya, nyonya, namun tuan Gusti sangat tahu untuk bisa menghindar dari pantauan kami, nyonya Bella. '


"Dasar cara bekerjamu saja yang tidak becus! Saya tidak tahu, pokoknya saya tidak ingin sampai suami saya kembali ke pangkuan selingkuhannya itu, titik! "


Bella langsung mematikan ponselnya, ia masih merasa tidak yakin jika harus membiarkan Gusti berada di luar jangkauannya, karena ia tidak ingin jika suaminya itu akan betah bersama Dewi.


Akhir akhir ini Gusti sering keluar rumah tanpa mengingat pulang, hal tersebut membuat Bella menjadi curiga, cemburu, dan overthinking, ia tidak ingin jika Gusti akan benar benar luluh dengan Dewi, gadis yang kini tengah mengandung anak suaminya.


"Aku tidak akan membiarkan Gusti jatuh ditangan gadis desa sialan itu! Walaupun itu dia yang sedang mengandung anak suamiku, jangan kira aku akan memberikan Gusti seutuhnya! " umpat Bella.


Bella pergi meninggalkan ruangannya, ia merasa kesal jika harus berdiam diri di dalam ruangannya itu tanpa melakukan apapun, yang ada malah ia akan selalu teringat dengan Dewi.


.


"Ini harganya mulai naik ya? "


Dewi bersama dengan anjing peliharaannya melihat harga makanan peliharaan di rak toko, Dewi terkejut ketika harga makanan anjingnya sudah mulai naik tidak seperti sebelumnya, karena baru kali ini ia kembali ke supermarket untuk membeli makanan anjingnya.


"Jelly, kamu makan produk lain saja ya, kalau kita masih memilih produk ini dari sebelumnya, bisa bisa kamu harus irit makanan alias diet. " ucap Dewi.


Dewi meletakkan lagi makanan anjing di raknya kembali, ia melihat kembali produk makanan anjing lainnya dan menemukan produk lain yang harganya lumayan terjangkau.


"Ini bagus. "


Dewi meletakkan makanan anjing tersebut di troli belanjaannya, kemudian ia berjalan menuju ke meja kasir untuk membayar total belanjaan yang sudah ia ambil.


"Totalnya 590 ribu. "


Dewi mengeluarkan kartu debit dari dompetnya, ia memberikannya kepada kasir tersebut, setelah membayar ia membawa kantong plastik berisi belanjaan tersebut keluar supermarket.


Bersama dengan Jelly, Dewi menaiki taksi bersama dengan anjing peliharaannya menuju ke apartemen.


Sepanjang perjalanan, Dewi tersenyum melihat anjing peliharaannya yang sangat penasaran dengan suasana kota, Dewi tahu, hampir 2 bulan ia dan anjingnya tidak sama sekali keluar dari apartemennya, karena Dewi masih merasa sering lelah setelah ia membereskan apartemen dan juga tiba tiba badannya sering sakit.


"Nanti kalau ada waktu luang, kita keluar untuk jalan jalan ya, Jelly. " ucap Dewi.


Memakan waktu 20 menit untuk sampai di apartemen, Dewi dan Jelly keluar dari taksi, bersamaan dengan membawa barang barang yang sudah dibeli, mereka berjalan menuju ke dalam gedung apartemen, setelahnya mereka menaiki lift menuju ke kamar apartemennya.


Dewi mengambil kartu akses di dalam tasnya, kemudian ia membuka pintu kamar apartemennya, dan bersamaan masuk dengan anjing peliharaannya ke dalam apartemen.


"Habis berbelanja? "


Seseorang yang berada di dalam kamar apartemen, Dewi terkejut ketika seseorang bersuara di dalam kamarnya, ia melihat ke dalam dan menemukan Gusti yang sedang duduk di ruang tamu, dengan memangku laptop, terlihat bahwa laki laki itu sedang bekerja.


"Om, sejak kapan ada disini? " tanya Dewi.


"Sejam yang lalu, saya pikir sambil melihat keadaanmu, saya bisa sambil bekerja di apartemen ini. " jawab Gusti.


Saat menatap ke arah laptop, Dewi merasa kurang nyaman melihat Gusti yang memangku laptop.


"Om, om tahu tidak kalau laki laki tidak baik jika memangku laptop di paha, karena akan berpengaruh dengan kesehatan vitalitas dan kesuburan om nantinya? " ucap Dewi.


Mata Gusti beralih kepada Dewi, ia memudian meletakkan laptopnya di samping dan melipat kedua tangannya, dengan tatapannya mengarah ke gadis yang mengomentarinya barusan.


"Jika semua itu dapat mempengaruhi kesuburan saya sebagai seorang pria karena hal ini, kenapa saya sampai bisa menghamili Bella dan kamu? " tanya Gusti dengan nada menantang.


Dewi terdiam, ia tersentak dengan pertanyaan yang menantang itu, memang tidak salah ucapan Gusti barusan, namun ucapan itu membuat wajahnya memerah karena malu mendengarnya.


"Hah, itu dua hal yang berbeda, om, saya hanya ingin memberitahukan om saja. "


"Ya sudah, sebaiknya kamu membuatkan makan siang untuk saya, saya sudah merasa lapar. " ucap Gusti.


Dewi menganggukkan kepalanya. "Baik om, saya akan membuatkan makan siang. "


Dewi berjalan ke arah dapur, sedangkan Jelly mendekat kepada Gusti, Gusti kembali mengerjakan pekerjaannya kembali, tanpa mereka sadari, bahwa kamera pengawas sedang memantau mereka berdua.


.


"Sialan! "


Bella yang sedang memantau kamera pengawas kemudian melemparkan pot bunga yang ada di atas meja kerjanya, kemudian ia memukul meja kerjanya karena merasa kesal ketika melihat kamera pengawas di apartemen yang sedang ditempati oleh Dewi, Bella merasa kesal ketika ia melihat suaminya yang sedang berada di dalam apartemen itu.


"Ternyata selama ini anda sering sekali mengunjungi simpanan anda itu ya, Gustiawan?! "


"Nyonya, ada apa sebelumnya? "


Dari pintu luar, asisten Bella menghampiri ruangan milik Bella, ia sebelumnya mendengar keributan dari luar ruangan dan mencoba menghampiri ruangan tersebut.


"Ada apa apanya?! Untuk apa kamu masuk ke ruangan saya jika kamu tidak bisa membantu saya sama sekali?! " bentak Bella.


"Maaf nyonya, saya salah. "


"Dimana pesuruh saya sebelumnya? Apa mereka tidak sama sekali melakukan tugas mereka sebelumnya?! " tanya Bella dengan nada tinggi.


"Sebelumnya, mereka sudah mengetahui keberadaan tuan Gusti dimana, tuan Gusti seringkali berada di sebuah kamar apartemen miliknya, maka dari itu, pesuruh nyonya Bella tidak bisa mengusik keberadaan tuan Gusti, karena tuan Gusti sudah meminta Ruben untuk menolak permintaan orang lain yang ingin menemui tuan Gusti di apartemen itu. " jelas asisten Bella.


Bella akhirnya mengerti, ia mer*mas ubun ubun rambutnya dan menggebrak meja.


"Tidak heran mengapa pesuruh saya tidak bisa memasuki apartemen itu, ternyata Gustiawan itu sudah meminta asistennya itu untuk menjauhinya dari orang yang mencari keberadaannya. Awas saja dia! "


Bella meninggalkan ruangannya, diikuti oleh asistennya, tak lupa asisten tersebut menutup pintu ruangan kerja itu dan mengikuti Bella.


"Sejak kapan kamu mulai memasak cumi seperti ini? "


Di meja makan, tepatnya di dapur apartemen milik Gusti, Gusti dan Dewi makan siang bersama, mereka memakan makanan yang berdasarkan makanan laut di atas meja makan tersebut, dan Gusti bertanya tentang perihal tersebut kepada Dewi.


"Kebetulan saya sedang tertarik dengan masakan yang ada di sosial media, om, makanya hari ini saya memasak cumi saos barbeque ini. " jawab Dewi.


Gusti menganggukkan kepalanya, dan ia kembali memakan makan siang tersebut.


Selesai makan, Gusti berdiri dari kursinya, bersama dengan Dewi ia membawakan peralatan makan yang sudah digunakan, namun Dewi meminta Gusti untuk tidak mengerjakannya, karena semuanya akan Dewi kerjakan tanpa merepotkan Gusti sama sekali.


"Saya akan pergi, terimakasih sudah membuatkan saya makan siang, masakanmu nikmat. "


Dewi tersenyum, ia menganggukkan kepalanya, karena Gusti yang memuji masakannya yang enak, ia merasa sangat dihargai ketika orang lain menikmati masakannya yang bisa dibilang terlalu remeh itu.

__ADS_1


"Baik om, sampai jumpa. " ucap Dewi.


Gusti meninggalkan apartemen tersebut, sedangkan Dewi mulai membereskan peralatan masak dan makan yang sudah digunakan, bersama dengan Jelly yang menemaninya.


.


Menunjukkan suasana malam hari, sebuah mobil memasuki halaman rumah mewah nan megah, bersama dengan para pelayan dan pengawal rumah yang berada di halaman tersebut menyambut kedatangan mobil tersebut.


"Selamat malam, tuan. "


Gusti disambut ramah oleh para pelayannya, kemudian ia memasuki rumahnya, dan disambut kembali dengan pelayan rumahnya yang sedang lewat membawa barang.


"Selamat malam, tuan Gustiawan. "


Langkah Gusti terhenti, ia menoleh ke sampingnya, benar saja, suara tersebut adalah suara Bella, selalu jika Bella menyambutnya seperti para pelayannya, maka tak lain istrinya itu tengah mengejek kehadirannya, namun ia memilih menjawab sambutan tersebut walaupun nantinya Bella akan membuat keributan dengannya.


"Selamat malam, kamu belum tidur sama sekali ternyata. " jawab Gusti.


"Oh, tentu saja saya tidak bisa tidur, ketika suami saya bersama dengan simpanannya. "


Gusti kembali menghela nafas, Bella mendekati Gusti, dan memutari tubuh suaminya itu layaknya ia tengah menginterogasi Gusti.


"Kalau saya lihat anda lebih perhatian akan simpanan anda ketimbang saya sebagai istri sah anda ya? "


Bella terlihat kesal, ia sebenarnya cemburu, karena Gusti lebih memilih menjaga perasaan Dewi ketimbang dirinya, namun Gusti hanya menatap biasa padanya seolah ucapannya begitu tidak terlalu penting untuk ditanggapi, Gusti memilih untuk pergi meninggalkan Bella yang akan memulai keributan dengannya.


"Hei anda, Gustiawan! Jangan kabur begitu saja, kita belum selesai! "


Bella mengejar Gusti yang meninggalkannya, sedangkan langkah Gusti begitu cepat menuju ke tangga, laki laki itu memilih untuk pergi menuju ke ruangannya, ia tidak memperdulikan Bella yang berteriak memanggilnya, ia lebih menganggap istrinya itu seperti orang gila.


"Gustiawan, jangan buat saya marah! " teriak Bella.


Gusti meraih kursinya, ia duduk di kursinya dan melihat kembali berkas berkas yang ada di mejanya, fokusnya kembali kacau ketika Bella menggebrak mejanya, ia menghela nafasnya dan menatap dengan serius ke arah Bella.


"Katakan, maumu apa sekarang? " tanya Gusti.


"Anda sengaja tidak mendengar pertanyaan saya dibawah tadi? Apakah anda sebegitu tidak pedulinya dengan saya ketimbang dengan simpanan anda yang ada di apartemen milik anda itu?! " tanya Bella dengan tegas.


Gusti menyenderkan tubuhnya, ia menyilangkan kakinya dan menatap ke arah Bella dengan tatapan remeh.


"Kamu cemburu? " tanya Gusti.


Bella tersentak, ia menghela nafasnya dan kembali menggebrak meja.


"Tidak! Saya tidak sudi cemburu hanya untuk seorang simpanan! " bantah Bella.


"Kalau tidak, untuk apa kamu menginginkan saya lebih memperhatikan kamu? Bukankah mempertahankan Dewi merupakan keinginanmu? " tanya Gusti.


Bella mendidih, wajahnya memerah, kepalan tangannya semakin erat, lagi lagi Bella menggebrak meja tersebut hingga berkas yang ada di atas meja tersebut jatuh ke bawah, Gusti melihat berkasnya jatuh ia hanya melirik dan kembali melirik lagi ke arah Bella yang terlihat kesal padanya.


"Kamu ingin ribut dengan saya? " tanya Gusti.


"Ya, saya ingin! Sedari tadi itulah yang saya inginkan! Meminta dan menuntut anda agar anda tahu, bahwa saya berhak memiliki anda sepenuhnya! Saya berhak menuntut anda untuk selalu bersama saya, tapi apa yang saya dapatkan? Anda semakin intim dengan Dewi ketimbang saya! " tegas Bella.


"Kamu sendiri tahu, bahwa saya memperhatikannya karena bayinya bukan? " tanya Gusti kembali.


Bella menghempaskan barang milik Gusti yang berada di atas meja kerja tersebut, Gusti terlihat tidak bisa menahan emosinya, ia menggenggam tangan Bella yang arogan itu, dan mencekamnya hingga membuat Bella berteriak kesakitan.


Gusti menghempaskan tangan Bella, Bella memegang tangannya yang terasa panas akibat genggaman tersebut, ia ingin menangis dan menatap benci ke arah Gusti.


"Anda lihat saja nanti, saya akan melakukan sesuatu untuk membalas perbuatan anda! "


Bella keluar dari ruang kerja milik Gusti, sementara Gusti kembali mengambil berkasnya yang dihempas oleh Bella, ia sendiri sudah tidak ingin mengurusi urusan istrinya itu yang seringkali mengajaknya untuk berkelahi.


"Jangan kira saya akan diam saja, Gustiawan! Saya memang akan mempertahankan anda, namun dengan perlakuan anda seperti ini dengan saya, akan saya balas perbuatan anda! "


Bella ingin melempar tas yang ia pegang, namun ia mengurungkan niatnya itu, kembali Bella menaruh tasnya kembali ke dalam lemari tas, dan menutup pintu lemari tersebut.


Bella mengatur nafasnya, ia mencoba untuk meringankan penat di kepalanya, Bella memikirkan sesuatu untuk bisa membalas Gusti yang membuat hatinya sakit, tak bisa menahan rasa sakitnya, Bella meneteskan air matanya karena masih mengingat ucapan Gusti yang membuatnya sakit dan tidak bisa membalas perlakuan suaminya.


"Aku sudah tidak tahan, aku akan menghubungi papa mertuaku! "


Bella mengambil ponselnya yang ada di meja riasnya, dan keluar dari ruang tasnya untuk menelpon seseorang.


.


'Saya tidak tahu bagaimana lagi pah, saya sudah muak dengan perlakuan anak papa dengan saya! Saya muak! '


Di sisi lain, terlihat pria tua yang mendapatkan telepon dari seseorang, dengan ekspresi wajahnya yang kesal ia menganggukkan kepalanya.


"Baik Bella, biarkan papa yang menangani anak itu. "


Panggilan berakhir, laki laki tua itu kemudian membanting teleponnya ke bawah, tak lama berselang, seseorang masuk ke ruangannya.


"Tuan Donny, bisakah-- "


"Handle dulu pertemuannya, saya ada urusan sebentar dengan anak saya. "


Laki laki tua yang bernama Donny itu kemudian bangkit dari tempat duduknya, dengan berkas yang dipegangnya kemudian ia memberikannya kepada asistennya, sementara ia ingin pergi ke suatu tempat.


"Gustiawan, kamu membuat saya sering terancam. "


Bella meletakkan ponselnya di meja, kemudian ia menghela nafasnya dan tersenyum, tampak senyumnya sangat puas dan tertawa ketika keinginannya terkabulkan.


"Akhirnya aku bisa membalas perlakuan kamu dengan papamu, Gustiawan! "


.


"Kenapa tiba tiba laki laki itu menghubungi saya, Ruben? "


"Saya tidak tahu, tuan, tapi saya diminta untuk menyampaikannya dengan tuan, bukan urusan pekerjaan tepatnya. " jawab Ruben.


"Pintar sekali membuang waktu saya. "


Gusti bersama dengan asistennya berjalan menuju ke kafe, pertemuannya kali ini di kafe, entah apa yang akan ia jumpai di kafe tersebut bersama dengan seseorang.


"Senang bisa bertemu dengan anda, Gustiawan. "


Ekspresi wajah Gusti langsung berubah menjadi kesal, kali ini ia bertemu dengan ayahnya, Donny.

__ADS_1


"Kenapa kali ini anda meminta bertemu dengan saya? " tanya Gusti.


"Oh, ternyata anda masih mengingat hal itu, Gustiawan? "


"Huh, sampai kapanpun saya tidak akan melupakannya. " jawab Gusti.


Donny dan Gusti duduk bersamaan, kedua pria dewasa itu duduk bersamaan, namun Gusti yang memilih memalingkan wajahnya karena ia benci ketika melihat Donny.


"Akhir akhir ini, saya dengar rumahtangga anda sedang goyah, benarkah itu Gustiawan? "


Gusti yang ingin meminum minumannya kemudian menghentikan niatnya, ia meletakkan kembali cangkir minumannya ke meja, dan menatap Donny dengan tatapan menantang.


"Untuk apa papa kembali mengurusi rumah tangga saya? Bukankah saya sudah berhak mengatur rumah tangga saya? Saya bukan Gusti yang berumur 27 tahun lagi, tapi saya adalah Gusti yang berumur 42 tahun sekarang. " ucap Gusti.


"Jawaban yang menantang, apa ini masalah wanita lain, Gustiawan? " tanya Donny.


Gusti tersenyum miring. "Kalau iya, memangnya anda mau apa? "


Donny tersenyum, dibalik janggut putihnya yang tipis itu kemudian ia tertawa, Gusti mengerutkan keningnya ketika melihat laki laki itu tertawa ke arahnya.


"Memang buah jatuh tak jauh dari pohonnya, ternyata darahmu dan darahku kental, kamu juga selingkuh dari istrimu yang berharga itu. " ucap Donny.


"Jangan samakan saya dengan anda, setidaknya saya tidak meninggalkan anak anak saya demi wanita simpanan, tidak seperti anda memperlakukan ibu saya dengan tidak manusiawi! "


Emosi Gusti memuncak, sedangkan Donny melihat Gusti dengan tatapan mengejek, laki laki tua itu tampak senang ketika melihat anaknya yang kesal dengan ucapannya.


"Tidak ada bedanya jika kamu menyelingkuhi istrimu itu, Gusti, kamu sepertinya merasakan bahwa nikmatnya memiliki wanita lain bukan? Berhentilah munafik, Gustiawan. "


"Saya tidak senang dengan menyamai diri saya dengan anda, setitik persamaan pun saya tidak ingin jika harus disamakan dengan anda, Donny! " bentak Gusti.


Gusti bangkit dari tempat duduknya, kemudian ia menunjuk ke arah Donny.


"Walaupun saya berselingkuh, saya tidak sebrengsek anda yang berani menyiksa ibu saya dan menghamili selingkuhan anda dan membunuhnya! Saya tidak sudi menganggap anda sebagai ayah saya! "


Gusti langsung meninggalkan kursinya, sedangkan Donny memegang dadanya dan wajahnya terlihat kesakitan, tak lama, seorang asisten wanita mendekati Donny dan membimbing Donny untuk bangkit dari tempat duduknya.


"Tuan, kita segera ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi tuan lagi. " ucap asisten wanita tersebut.


"Bawa saya segera, saya sudah tidak tahan. " ucap Donny.


.


"Tuan, jangan minum terlalu banyak. "


Ruben memberitahukan tuannya yang sedang meminum minuman keras, Gusti tampak tidak kuat meneguk satu gelas yang sudah ia tuangkan, kemudian ia meletakkannya dengan kasar di atas meja dan tumpah.


"Tuan. "


"Bawa saya pulang, bawa saya pulang ke apartemen, Ruben. " ucap Gusti.


Ruben hanya menuruti keinginan Gusti, ia tahu bahwa tuannya itu tengah stress karena pertemuan dengan orangtua tuannya, Ruben merangkul bahu Gusti untuk membawa tuannya pergi dari bar malam itu.


"Ruben, bawa saya pada Dewina... " lirih Gusti.


"Baik tuan, kita akan segera kesana. "


Suasana hujan malam hari mengiringi hembusan angin dingin, sebuah mobil mewah tersebut berjalan menjauh dari bar malam, tujuan selanjutnya adalah sebuah gedung apartemen dan ingin menjumpai seseorang yang berada di apartemen tersebut.


"Jelly, jangan buka gorden nya lagi, tutup kembali. "


Jelly yang sedang memainkan gorden balkon kemudian menjauh dan duduk di sofa, sedangkan Dewi mendekati jendela balkonnya dan menatap pemandangan malam hari yang sempat turun hujan.


"Lebat sekali hujannya. " gumam Dewi.


Suara bel terdengar dari dalam ruangan apartemen tersebut, Dewi menghampiri suara bel kamar apartemennya dan membuka pintu kamar apartemen tersebut.


"Siapa? "


Saat membuka pintu, Dewi melihat seseorang yang ada di depannya, laki laki yang tidak asing baginya, yaitu Gusti, namun laki laki itu dalam keadaan mabuk sedang menghampiri dirinya di apartemen tersebut.


"Dewina. "


"Om, kenapa datang ke sini dalam keadaan mabuk? Ini bisa membahayakan saya. " tanya Dewi.


Gusti yang sempoyongan kemudian menjatuhkan dirinya dipelukan Dewi, Dewi tidak mampu menahan tubuh besar Gusti itu hingga ia ikut terduduk ke bawah, Gusti memeluk tubuhnya dan menyenderkan kepalanya di bahu Dewi.


"Dewi, saya kacau... "


Dewi tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Gusti, namun ia tidak sanggup menahan bobot berat badan Gusti, dan juga rasanya tidak nyaman ketika laki laki itu memeluknya, perutnya yang besar itu terhimpit diantara pelukan tersebut.


"Om, tolong sedikit berdiri, saya akan bawa om ke kursi sofa untuk beristirahat. " ucap Dewi.


Gusti dengan kesadarannya yang sedikit itu kemudian menuruti ucapan Dewi, ia ikut berdiri, Dewi merangkul bahu Gusti dan membawanya ke ruang utama untuk dibaringkan di sofa.


Bau menyengat dari tubuh Gusti membuat Dewi sedikit mual, namun ia memilih untuk diam, karena tidak ada gunanya mengobrol dengan orang yang sedang mabuk seperti Gusti sekarang.


Di ruang utama, Dewi membaringkan tubuh Gusti dengan perlahan di sofa, ia kemudian membenarkan posisi bantal sofa di kepala Gusti, kemudian menyelimuti Gusti dengan selimut tipis yang ada di dekat sofa.


"Om, saya ambilkan air minum dulu ya. " ucap Dewi.


Dewi berjalan menuju ke dapur, ia mengambilkan gelas dan air minum untuk Gusti minum, ia tahu bahwa orang mabuk akan merasa haus saat ia akan sadar.


Merasa bahwa hal tersebut sia sia, Dewi membantu Gusti untuk bangkit dan memberikan air minum, dengan keberanian yang sedikit, Dewi membantu Gusti untuk duduk dan memberikan air minum untuk Gusti.


"Duduk sebentar om, minum air dulu. "


Gusti meraih gelas tersebut, Dewi membantu Gusti untuk meminum air tersebut dengan baik, tegukan demi tegukan Gusti habiskan air minum tersebut sampai tandas.


"Om, istirahat dulu ya. " ucap Dewi.


Saat bangkit dari sofa, lengan Dewi ditarik oleh Gusti, Dewi hampir terjatuh dan badannya dipeluk oleh Gusti, dagu Gusti bersandar di bahu Dewi.


"Dewi... " lirih Gusti.


Dewi memeluk tubuh Gusti dan mengelus punggung laki laki itu, kemudian bertanya.


"Ya, kenapa om? " tanya Dewi.


"Dewina, bantu saya untuk bercerai. "

__ADS_1


*


__ADS_2