Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)

Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)
Eps 15 : Dewi dan Uang


__ADS_3

...Happy reading 🧔...


......................


Beberapa hari berlalu, semua kegiatan Dewi berjalan seperti biasanya, cuma yang membuat jantungnya berdegup terlalu kencang ketika bertemu dengan Gusti, ditambah lagi Gusti yang begitu cabul ketika membeli barang yang dikhususkan untuk orang dewasa dan mengajaknya untuk mencoba barang tersebut bersama, alias berhubungan dewasa.


"Syukur saja Farel dan Randi baik, mereka yang melindungiku dari godaan om Gusti kemarin. " gumam Dewi.


Eni dari belakang membawa kue kukus buatannya, itu kebetulan ia melihat cara membuat kue kukus di sosial media, hingga terbesit ingin mencobanya juga dengan menyuruh Dewi berbelanja bahan bahan kue kukus tersebut di minimarket tempat Dewi bekerja.


"Silahkan, madam... " ucap Eni.


Kue yang sudah terpotong tersebut diberikan pada Dewi, Dewi mencobanya satu, dan reaksinya menunjukkan bahwa kue tersebut sangat nikmat.


"Enak sekali, ini benar hanya di kukus saja? " tanya Dewi.


"Ya, iya dong, namanya aja kue kukus, gimana nggak kalo rasanya lain gitu? " tanya Eni balik.


Dewi hanya tersenyum, ia melanjutkan memakan kuenya, kemudian sambil fokus untuk mengerjakan makalahnya.


"Saya kemarin bertemu om Gusti lagi. " ucap Dewi.


"Eh, seriusan? " tanya Eni.


"Ya, beberapa hari yang lalu tepatnya, dia berbelanja barang khusus orang dewasa kepada saya. Cuma saya tidak suka saja, dia cabul, sengaja memancing saya dengan barang tersebut untuk mencobanya kepada saya, syukur saja teman teman kerja saya sangat baik, mereka memberitahukan bahwa om Gusti memberi kode untuk saya bisa berhubungan lagi dengannya. " jawab Dewi.


"Aduh, kok malah dianggurin sih? Itu tuh kesempatan, Wi, duh segininya kamu sekarang ya? " tanya Eni penuh kesal.


"Saya tidak suka, saya masih geli mengingatnya. " ucap Dewi.


"Oh ayolah, mau sampe kapan sih mau menjauh dari om Gusti mu itu? Semua sumber uang tuh perkara mudah kalau sama dia, Wi, apalagi kalau sekarang biaya kosan jatuh tempo lusa. Memang cukup sama uang gaji dari minimarket kamu itu? " tanya Eni.


Dewi tidak menjawab, ia menggelengkan kepalanya, hampir setengah mati rasanya Eni membujuknya untuk bisa melayani Gusti kembali, sayang sekali Dewi masih kekeuh dengan pilihannya.


Eni mulai menyerah, ia memilih memakan kue kukusnya dan ikut melanjutkan makalah kuliahnya.


Dewi tidak peduli apapun yang diucapkan oleh Eni, ia memilih untuk tidak berdebat panjang dan tetap memilih pilihan pertamanya.


"Ya sudah, kalau begitu saya balik ke kamar saya lagi, soalnya sudah mau ke kampus sejam lagi. "


"Iya, nanti datang lagi kesini ya, aku mau masak lagi nih, masih penasaran sama masakan lain di sosmed. " ucap Eni.


Dewi menganggukan kepalanya, kemudian ia beranjak dari kamar Eni, untuk segera bersiap siap ke kampus.


Seperti biasa, Dewi fokus dengan pembelajaran yang dijelaskan di depan oleh dosennya, ia juga mencatat beberapa penjelasan yang sudah dijelaskan di depan.


......................


Selesai mengikuti mata kuliah, Dewi segera pulang, ia tidak ingin jika berlama-lama di kampus, karena ia sedang tidak ada kegiatan ditambah sekarang waktunya untuk bekerja di minimarket.


Sebelumnya Dewi pulang terlebih dahulu ke kosannya, dari luar kamar tepatnya disamping kamar nya, tercium lagi aroma masakan lainnya, sepertinya Eni serius dalam memasak makanan yang ada di sosial media itu.


"Tidak apa, lumayan kalau Eni sudah rajin memasak di kosan. " ucap Dewi.


Dewi memasuki kamarnya, ia segera berkemas dan bergegas ke minimarket, tanpa mengganggu Eni yang sedang sibuk dikamarnya hari itu.


Menuju ke minimarket, Dewi memasuki minimarket tempat ia bekerja, dari meja kasir terlihat teman temannya yang tengah berjaga, ia berjalan menuju ke belakang untuk menaruh barangnya kemudian berjalan menuju ke ruang peralatan kebersihan, karena ia mendapat bagian untuk kebersihan hari ini.


Tiba-tiba suara gaduh terdengar dari meja kasir, Dewi yang mendengar dari belakang kemudian menjadi penasaran, ia menaruh peralatan bersih bersihnya di belakang dan bergegas menuju ke depan.


'Novi! Jangan ngerusuh disini woi! '


Teriakan Farel terdengar begitu keras, Dewi menjadi penasaran, apa yang dilakukan oleh Novi di dekat teman temannya.


"Akhirnya lo ada di sini! " teriak Novi.


Novi mencekam kerah baju Dewi, Dewi terkejut ketika diperlakukan secara tiba-tiba.


"Kamu kan udah do'akan aku keguguran?! Kurang ajar! " bentak Novi.


Dewi tidak terima, ia menepis tangan Novi, kemudian menjauh dari Novi.


"Saya tidak mendo'akan sama sekali, mengapa kamu sering menuduh saya yang tidak tidak?! " bantah Dewi.


"Itu yang namanya hukum tabur tuai! Kamu sendiri tengah hamil malah sering buat ulah, ditambah lagi saya terus yang jadi sasarannya! Tidak heran jika kamu keguguran! " lawan Dewi.


Novi tersulut emosi, kedua wanita tersebut akhirnya berkelahi, mereka hingga membuat keributan di dalam minimarket.


Para karyawan lainnya berusaha melerai Dewi dari Novi, karena Novi bermain kasar dengan Dewi, tetapi sepertinya Dewi juga ikut berkelahi dengan Novi.


"Wi! Udah, udah Wi! " teriak Mita.


Dewi tidak ingin kalah, dengan kekuatannya ia mencoba mendorong Novi, Novi terjatuh di dekat susunan botol minuman sirup dan botol tersebut pecah.


Novi pun tidak ingin mengalah, ia menarik rambut Dewi, mereka tak peduli saat pecahan botol tersebut mengenai tubuh mereka.

__ADS_1


Mengambil kesempatan, Novi mengambil pecahan kaca tersebut dan melukai wajah Dewi, Dewi meringis kesakitan, dan ia memukul Novi dengan botol sirup yang masih utuh, hingga Novi akhirnya tidak dapat membalas.


"Dewi, pipi kamu berdarah! " teriak Mutia.


Tak lama setelah itu, pak Heri, pemilik minimarket itu, kebetulan mengunjungi kembali minimarket miliknya, tujuannya mengambil laporan.


Alangkah terkejutnya ia, ketika melihat susunan botol sirup beserta barang barang lainnya sudah tergeletak di lantai dan sebagainya pecah, ia juga melihat kedua wanita yang menjadi dalang keributan dan kerusuhan di minimarket nya.


"Apa yang terjadi dengan minimarket milik saya?! " teriak pak Heri.


Seluruh karyawan minimarket tersebut ikut terkejut, ditambah lagi Dewi dan Novi yang menjadi pelaku utama nya, mereka terkejut ketika melihat pemilik minimarket tersebut datang dan melihat kekacauan yang sudah terjadi.


"Ternyata kalian kalian lagi, kemari! " teriak pak Heri.


Dewi berjalan secara pelan ke arah pak Heri, diikuti oleh Novi yang mencoba bangkit dari lantai, mereka berhadapan dengan pemilik minimarket tersebut.


"Kalian berdua, tidak ada habis habisnya membuat keributan! Lihat, apa yang kalian lakukan sekarang?! Kalian sudah merusak sebagian barang barang milik saya! "


"Ini semua karena Novi, pak, dari kemarin ia ingin terus terusan mengusik saya, saya juga tidak akan terpancing jika bukan dia yang mengusik saya, pak! " bantah Dewi.


"Kurang ajar lo! Kepala gua bocor gara-gara lo, sekarang lo yang seolah jadi korban di depan pak Heri?! " bantah Novi.


"Diam! " bentak pak Heri.


Pak Heri mengambil kertas yang ada di dekat meja kasir, semua karyawan hanya bisa terdiam, karena kertas tersebut berisi surat pemberhentian bekerja alias di pecat.


"Dewi, sepertinya saya tidak bisa menerima kamu kembali bekerja di sini, kamu seringkali lalai, saya tidak suka pegawai lalai apalagi kasir! Lihat, ditambah lagi kamu sudah membuat keributan di minimarket! "


Pak Heri memberikan kertas tersebut kepada Dewi, kemudian memberikannya lagi kepada Novi.


"Dan kamu, Novi, kamu juga akan saya pecat! Kamu juga kerjanya nggak becus, banyak keluhan dari pelanggan lewat aplikasi yang membahas tentang kamu yang terlalu acuh melayani pelanggan! "


Novi dan Dewi di pecat hari itu juga, dengan uang gaji terakhir mereka, itu adalah penghasilan terakhir mereka hari itu.


"Sekarang, pergi! " perintah pak Heri.


Novi menatap sinis kepada Dewi, kemudian mengeluarkan ancaman.


"Awas lo, mati lo sama gua! " ancam Novi.


Dewi menatap kesal, ia berjalan ke arah ruang karyawan untuk mengambil barang barang miliknya, ia kemudian mengangkut barang barang, tak lupa klip namanya ia lepaskan sebagai tanda bahwa ia tidak lagi bekerja di minimarket tersebut.


Dewi berjalan keluar, kemudian teman temannya yang sudah ada di depan pintu keluar mendekati nya, mereka memeluk Dewi dan memberi dukungan untuk Dewi.


"Iya Wi, maaf, kami nggak bisa bantu kamu tadi, kami nggak becus jadi temen kamu... " lirih Mutia.


Dewi meneteskan air matanya, ia menganggukkan kepalanya, ia tersenyum seolah-olah tidak terjadi apa apa.


"Tidak apa apa, saya mengerti. " jawab Dewi.


Teman teman Dewi mengusap air mata mereka, mereka tidak rela ketika Dewi di pecat karena Novi, mereka menyayangkan kejadian tersebut disebabkan penindas alias Novi itu yang tiba-tiba masuk ke minimarket dan mencari keributan.


"Kalau begitu, saya pamit, terimakasih waktunya untuk selama ini ya, teman teman. " ucap Dewi.


Farel, Randi, Mutia dan Mita melambaikan tangan, sebagai tanda perpisahan mereka untuk terakhir kalinya kepada Dewi.


Dewi keluar dari minimarket, dengan jalan yang perlahan dan raut wajah yang lesu, ia berjalan menuju ke kosannya.


......................


Dewi berusaha untuk kuat, ia naik ke tangga menuju ke dalam kamarnya.


Dewi berbaring, ia menghela nafasnya dan menahan air matanya, mengambil ponselnya dan melihat lowongan pekerjaan yang ada untuk sekarang.


Tak lama setelah itu, Dewi mendapat panggilan dari nomor telepon kedua orang tuanya, Dewi berusaha menghilangkan isak tangisnya yang barusaja keluar tadi.


"Halo pak, bu, apa kabar? " tanya Dewi.


'Baik nak, bagaimana kamu di sana, nak? ' tanya Taufik.


Dewi menarik nafasnya. "Ya, Dewi baik baik saja di sini, selalu baik, mungkin... "


'Dewi, ini mengenai pengiriman uang. Maaf sebelumnya ya, nak, sepertinya kami belum bisa kirim uang selama dua bulan ini, karena musim penghujan, padi dan kopi bibitnya rusak. ' jelas Taufik.


Begitu susahnya kedua orangtuanya di desa, Dewi menjadi bertambah sedih, karena kedua orangtuanya sedang kesusahan di desa karena gagal panen besar besaran.


"Bu, pak, tidak apa, Dewi masih mampu untuk membiayai biaya Dewi disini sendiri, tidak apa apa... " ucap Dewi.


Dewi menahan isak tangisnya, ia benar benar sial hari ini, sudah di pecat dari pekerjaan, tagihan bayaran kamar kosannya sudah jatuh tempo, uangnya sudah mulai berkurang, ditambah lagi biaya hidup nya selama di kota terhambat karena kedua orangtuanya gagal panen besar besaran di desa.


"Tidak mengapa, pak, bu, kalau begitu Dewi matikan dahulu teleponnya, soalnya Dewi mau keluar kamar dulu. " pamit Dewi.


Dewi mematikan telepon tersebut, akhirnya yang ia tahan sedaritadi pecah sekarang, ia menangis, di balik bantalnya ia menangis dengan kuat, ia berusaha memendamkan suara tangisnya dengan bantal, agar Eni tidak mendengarkan tangisannya.


"Ibu, bapak, Dewi sudah tidak tahan...! " teriak Dewi di balik bantal.

__ADS_1


Dewi menangis begitu kuat, hingga air matanya sudah hampir memenuhi bantalnya, ia menangis begitu lama hingga akhirnya ia tidak sadarkan diri.


Dewi bisa pingsan ketika ia menangis begitu lama, karena saat menangis kepalanya begitu sakit hingga ia dapat tidak sadarkan diri saat menangis terlalu lama.


......................


'Wi, Dewi, sadar Wi...! '


Suara samar samar terdengar di telinga Dewi, Dewi terbangun dan melihat siluet bayangan seseorang, itu adalah Eni, dengan wajah panik ia berusaha membangunkan Dewi.


"Eni, ada apa...? " lirih Dewi sambil bertanya.


"Ada apa gimana? Kamu tuh yang harusnya aku tanya, kok kamu nggak sadarkan diri? Kamu pingsan barusan?! " tanya Eni panik.


"Kepala saya sakit, Ni, saya tidak sadar apa yang sedang terjadi... " lirih Dewi.


"Kamu kayaknya habis nangis, ada apa, Wi? " tanya Eni penuh penasaran.


Dewi menatap Eni, tak lama ia menangis, Eni terkejut dan mendekati Dewi.


"Loh, kok nangis?! " cemas Eni.


"Saya di pecat, Ni, saya di pecat dari tempat saya bekerja...! " tangis Dewi histeris.


Eni mengerti, Dewi menangis karena hal tersebut, ia memeluk Dewi dan berusaha menenangkan Dewi.


Sepanjang Dewi menangis, Eni menghibur Dewi semampunya, karena ia bukan tipe yang dapat menghibur orang.


"Sekarang, bagaimana Wi? Apa kamu mau balik temenin om Gusti lagi? " tanya Eni penuh rasa penasaran.


Dewi langsung memegang kepalanya, kepalanya bertambah sakit ketika membahas tentang Gusti, ia meminta Eni untuk menjauh darinya.


"Saya pusing sekarang, Eni, saya mohon, jangan bahas tentang om Gusti lagi, saya ingin beristirahat untuk sejenak. " mohon Dewi.


Eni hanya diam, ia memilih untuk pergi dari kamar Dewi, sebelumnya ia menaruh makanan buatannya di atas meja belajar Dewi.


"Di makan Wi, aku udah buatin nya susah payah. " ucap Eni.


Eni menutup pintu kamar Dewi.


Di atas kasur, Dewi duduk meringkuk, ia melamun, pikirannya kosong sekarang.


Dewi dilanda kebingungan, karena ia tidak tahu ingin berbuat apalagi, uang gaji terakhirnya tidak mencukupi biaya membayar kamar kosnya, ditambah lagi uang makan dan segala rupa yang dibutuhkannya, Dewi buntu sekarang.


Ponsel tak jauh darinya, Dewi mengambil ponsel tersebut dan menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong, ia seperti mencari sesuatu di ponselnya tersebut.


Tak lama suara memanggil telepon terdengar di kamar tersebut, Dewi sedang menelpon seseorang, tak lama panggilan tersebut diangkat oleh orang yang dituju.


"Ya, saya akan kesana. "


Dewi menaruh ponselnya, ia bangkit dari tempat tidur menuju ke kamar mandi nya.


......................


Tepatnya di salah satu gedung apartemen, Dewi memasuki gedung tersebut, ia mencari seseorang yang sudah menempatkan posisi tempat pertemuan akan direncanakan.


Salah satu ruangan telah dituju, Dewi mengetuk pintu ruangan tersebut, tak lama pintu tersebut terbuka sendiri, Dewi masuk di dalamnya.


"Angin apa yang membawamu kemari, Dewina? "


Seseorang bertanya dengan Dewi, Dewi meletakkan tasnya di atas meja, dan mendekat ke arah laki-laki yang tengah duduk di sofa.


"Om, saya ingin kembali temani om. " ucap Dewi.


Dewi menghampiri Gusti untuk pertama kalinya, itupun karena ia sudah merencanakannya kepada Gusti.


Sesuatu yang sangat ditunggu oleh Gusti, Gusti tersenyum puas, di sofa tempat ia duduk terasa cukup lebar, sehingga ia menepuk-nepukkan sofa disampingnya menyuruh Dewi untuk duduk di sampingnya.


"Kemari, manis... " ucap Gusti menggoda.


Dewi mendekat, hingga ia jatuh di pangkuan Gusti, sebenarnya ia risih, tetapi ia memilih untuk diam.


Gusti memeluk Dewi dari belakang, tangannya melingkar di pinggang Dewi, sesekali menyentuh bagian yang seharusnya tidak boleh disentuh oleh sembarang orang, tak lama tangannya menuju ke rambutnya.


"Saya boleh melakukannya bersama kamu lagi? " tanya Gusti sambil memutar mutar rambut panjang Dewi.


Dewi sebenarnya tidak ingin melakukannya lagi dengan Gusti, tetapi karena ia membutuhkan uang, maka ia harus menuruti kehendak Gusti, akhirnya Dewi menyetujuinya.


"Baik om, silahkan, saya sudah menunggu sedaritadi... " jawab Dewi.


Gusti tersenyum, ia kemudian mengangkat tubuh ringan Dewi itu ke atas ranjang, keinginannya tercapai untuk sekarang.


Sedangkan Dewi, ia hanya pasrah, mau bagaimanapun Gusti melakukannya ia hanya bisa pasrah, karena ia membutuhkan uang untuk sekarang, ia sepenuhnya telah menyerahkan dirinya untuk Gusti nikmati.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2