Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)

Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)
Eps 43: Sendirian


__ADS_3

...Happy reading 🧔...


......................


"Jelly, ayo dimakan ya. "


Dewi membawakan makanan untuk Jelly, ia menaruh mangkuk berisi makanan anjing ke bawah, kemudian ia duduk di samping Jelly dan melihat Jelly yang tengah menikmati makanannya.


"Jelly, kalau aku lihat, enak ya jadi kamu, tidak perlu memikirkan hal yang membuat pusing. Kalau saja bisa ganti peran, sepertinya boleh jika kita gantian, kan Jelly? " tanya Dewi.


Jelly menggonggong tidak senang, ia seperti sedang memarahi Dewi, Dewi terkejut ketika Jelly yang langsung menggonggonginya.


"Tidak boleh ya? Maaf kalau begitu. " ucap Dewi.


Dewi merenung, ia melihat Jelly yang tengah menikmati makanannya, dan juga ia mengelus bulu tubuh anjingnya, kemudian melihatnya yang tengah lahap makan, Dewi iri dengan kehidupan hewan seperti peliharaannya.


"Kamar Eni terasa sepi ya? " gumam Dewi.


Dewi menutup wajahnya, ia mengusap wajahnya dan menutup kembali wajahnya, Dewi merasakan kesedihan yang mendalam pada dirinya.


Dewi merasakan sendirian, ditambah lagi masa ia akan tinggal di kosan tersebut akan segera berakhir setelah dua hari ia tinggal di kosannya tersebut, Dewi harus mengikuti peraturan dari Bella, istri dari Gusti.


Dewi terjebak di situasi yang sedang ia alami, ingin mengadu yang ada malah ia yang akan merasakan malu, karena ia juga harus menjelaskan apa yang terjadi padanya, otomatis itu akan merugikan dirinya sendiri.


Eni tertangkap, ditambah lagi ia sedang hamil, akhirnya Dewi bisa merasakan bagaimana rasanya hamil tanpa suami.


Dewi memegang perutnya, ia tidak tahu isi perutnya sekarang, entah ia merasa bahwa bayi yang benar benar ada di perutnya bisa merasakan perasaannya sekarang, yang jelas ia merasakan kebingungan dengan calon anaknya.


"Hanya kita sekarang, bayi, saya tidak tahu ingin berbuat apa dengan kehadiranmu, selain menuruti apa yang diucapkan oleh istri ayahmu itu. " ucap Dewi.


Dewi menggelengkan kepalanya, kemudian ia bangkit dari duduknya, pinggangnya lebih terasa pegal dari sebelumnya, karena perubahan tubuh yang ia alami.


......................


"Bisa tidak kamu berhenti menekan saya, Bella?! " tegas Gusti.


Semenjak Bella sudah mengetahui semuanya, Gusti selalu saja ditindas oleh Bella, terkadang ia menjadi kesal sendiri ketika Bella yang terus terusan menjelek jelekkan dirinya di depan kedua anaknya.


"Tenang saja, saya mengatakannya dengan perlahan. Ingatlah, bahwa sadar diri diperlukan. "


Gusti tidak tahu ingin seperti apa lagi, Bella terlalu mengganggu baginya, dan sekarang ia hanya perlu berdiam diri dan menjauh dari Bella, atau tidak ia akan ikut gila jika meladeni Bella yang selalu mengganggunya.


Gusti merenung di dekat halaman belakang rumahnya, melihat hamparan tanah belakang rumahnya yang luas, kemudian Gita menghampiri Gusti yang tengah duduk diam tak jauh dari kursi santai belakang rumah.


"Papa? "


Gusti berbalik arah. "Gita? Kemari, duduk di samping papa. "


Gita duduk, ia menatap Gusti yang kembali merenung kembali, baginya jarang sekali papanya akan bersikap seperti itu.


"Papa, kenapa sering termenung? Nggak biasanya papa kayak gini saat di rumah, apalagi mama yang selalu tertawa ketika melihat papa yang sering melamun kayak gini. " tanya Gita.


Gusti menghela nafasnya, ia menatap anaknya dan mengelus rambut anaknya dengan perlahan.


"Gita, kalau Gita sama Gina di kasih adek bayi, kalian mau jadiin dia adek kalian? " tanya Gusti.


Gita mengerutkan keningnya. "Kenapa papa baru bahas hal ini sekarang? Papa sama mama udah mau program bayi lagi? "


"Sepertinya begitu, tapi ini berbeda, sayang. Papa dan mama akan mengadopsi anak dari orang, ibunya termasuk tidak mampu untuk membiayai kebutuhan bayinya, jadi papa dan mama akan memutuskan untuk mengadopsi anaknya. " jelas Gusti.


"Jadi? Papa bertanya dengan Gita seperti itu untuk apa? Apakah papa kira Gita akan cemburu? " tanya Gita.


Gusti merasa diinterogasi oleh anaknya, ia hanya diam dan menganggukan kepalanya.


"Ya, papa hanya memastikan saja, sayang. Kalau kamu mau, pastinya Gina juga akan ikut mau, papa tahu, yang kamu inginkan pasti Gina juga mau. " ucap Gusti.


Gita menghela nafasnya, ia menatap Gusti dan melipat tangannya.


"Sebenarnya Gita nggak mau kalau ada anggota lain masuk ke rumah, tapi karena ini papa yang ingin berbuat baik dengan orang, sepertinya Gita nggak ada pilihan lain lagi selain harus bisa terima. " ucap Gita.


"Tampaknya sedang berdiskusi ya? "


Gita dan Gusti menatap ke belakang, ternyata itu adalah Bella yang menghampiri keduanya, Gusti menghela nafasnya, ia malas jika sudah berurusan dengan Bella.


"Cuma ngobrol aja kok, mah. " jawab Gita.


Gusti menepuk keningnya, anaknya menjawab pertanyaan istrinya yang pastinya akan berbelit belit kemana mana, dan juga akan mengungkit ungkit kesalahannya di depan anaknya.


"Bukankah jam segini kamu pergi untuk menjumpai klien kamu yang sedang kolaborasi dengan kamu, Bella? Mengapa masih di rumah? " tanya Gusti.


"Hei, kenapa terlalu terburu buru? Saya bisa pergi jam berapa saja, suamiku, dan sekarang melihat kalian sedang duduk berdiskusi, sepertinya lebih bagus jika saya juga ikut mengobrol dengan kalian berdua. " jawab Bella.


Bella duduk di kursi lainnya, ia mengarahkan pandangannya ke arah Gusti, sementara Gusti sudah tidak nyaman jika Bella yang sudah memandangnya seperti itu, seperti pandangan mengejek.


"Katakan, apa yang sedang diobrolkan? Tampaknya menyenangkan sekali. " tanya Bella.


"Kamu tidak lihat, apakah salah satu dari kami tertawa? " tanya Gusti.


"Ya, mungkin saja kan? Karena pembicaraan kalian tampaknya serius, saya hanya bertanya saja. "


"Mah, jangan disini, kami sedang berdiskusi, kalau mama pengen ribut, simpan dulu keributannya. " ucap Gita.


"Baik, baik, mama tidak akan membuat keributan. Mari, kita obrolkan lagi percakapan kalian sebelumnya. "

__ADS_1


Gusti mengusap wajahnya, sedangkan Bella menatap ke arah Gita untuk menyimak obrolan.


"Mah, apa benar kalian akan mengadopsi anak lagi? Maksud Gita, kita apa benar akan menambah satu anggota di rumah kita? " tanya Gita.


Bella tersenyum, kemudian ia mengarahkan lirikan matanya ke Gusti, Gusti hanya diam dan tidak berbicara sama sekali, ia menghindari Bella yang bersikap aneh seperti itu padanya.


"Benar, papa dan mama akan mengadopsi anak dirumah ini, tepatnya anak bayi, karena mama rasa kalau kita membantu orang untuk memenuhi kebutuhan bayinya, bukankah itu hal yang bagus? Apalagi jika bertanggung jawab, benar kan, tuan Gustiawan? "


Gusti mengerutkan keningnya, ia berdiri dan menatap Bella dengan tatapan kesal.


"Ya, setidaknya bertanggungjawab itu perlu, dan menyelamatkan orang yang dikenal itu tidak perlu, karena itu tindakan bodoh seumur hidup! "


Gusti meninggalkan anak dan istrinya, ia berjalan meninggalkan ruang belakang dan berjalan menuju ke luar, kepalanya benar benar pusing ketika harus berhadapan dengan istrinya.


Gita bingung apa yang dimaksudkan oleh kedua orangtuanya, ia kira akan mendiskusikan hal tersebut secara baik baik, namun akhirnya berakhir dengan keributan, ia berdiri dan menatap Bella.


"Mah, kalau urusannya sampai ruwet kayak gini, dari awal nggak bakal Gita izinin mama buat nimbrung ikut obrolan, karena Gita pengen kita diskusi secara sehat! "


Gita meninggalkan Bella yang tengah duduk di belakang, ia kecewa dengan obrolan kali ini, sedangkan Bella menatapnya dari belakang dengan tertawa singkat.


"Huh, ternyata anak dan ayah sama saja, sama sama menyebalkan. "


......................


Dewi mengerjakan pekerjaannya, walaupun ia memiliki masalah, tetapi ia tidak ingin masalah tersebut menganggu pekerjaannya, ia masih mengerjakan pekerjaannya dengan baik.


"Dewi, kamu balik kerja lagi? " tanya Juno.


Dewi yang sedang mengukur takaran kopi kemudian menatap ke arah Juno, ia menganggukan kepalanya.


"Ya, saya kembali bekerja lagi, karena saya yakin sudah beberapa hari saya absen libur, saya rasa akan lama jika terus terusan libur. " jawab Dewi.


"Tapi sekarang nggak sakit lagi, kan? "


Juno mendekat dan menempelkan tangannya di kening Dewi, Dewi sedikit menjauh dan ia merasa diperhatikan oleh laki laki.


"Iya, saya sudah baikan sekarang, saya sudah merasa sehat untuk sekarang. " ucap Dewi.


Juno menganggukan kepalanya. "Baguslah kalo gitu, soalnya kak Tio juga nggak bakal izinin karyawannya yang lagi sakit buat kerja, soalnya memaksakan keadaan tubuh, bisa drop. "


Dewi menganggukan kepalanya, kemudian mereka kembali mengerjakan pekerjaan mereka yang sebelumnya tertunda.


Tak lama setelahnya, ponsel Dewi berdering, Dewi mengambil ponselnya dan berjalan ke belakang, pekerjaannya diganti sebentar oleh karyawan lainnya, sementara ia dibelakang untuk mengangkat telepon.


"Halo om, ada apa? " tanya Dewi.


'Dewina, kamu dimana sekarang? Apa kamu sedang ada di kosan kamu? Kenapa tidak ada orang sama sekali di dalam? '


Dewi terkejut, karena Gusti yang secara tiba tiba datang di kosannya, sedangkan ia sedang berada di kafe dan bekerja.


'Kenapa bekerja sekarang?! Kamu tidak tau bahwa kamu membahayakan dirimu jika bekerja?! '


Dewi menjauhkan telinganya dari ponselnya, secara tiba tiba saja Gusti berteriak di telepon.


'Pulang, sekarang saya butuh bicara dengan kamu, sekarang! '


Dewi mengusap usap telinganya. "Baik, saya akan segera pulang, om harap tunggu dulu ya. "


Panggilan berakhir, Dewi memasukkan ponselnya ke tas, ia melepas celemeknya dan membereskan tasnya, sebelumnya Dewi izin terlebih dahulu dengan bosnya sebelum pulang.


Dewi menenteng tasnya, ia berjalan menuju kantor bosnya, saat memasuki kantor, ia melihat bosnya yang sedang sibuk bekerja di depan laptop.


Dewi mengetuk pintu kantor bosnya, kemudian bosnya melihat ke arahnya.


"Dewi ternyata, silahkan masuk. "


Dewi masuk, ia tidak duduk, berdiri di depan meja bosnya.


"Kenapa nggak duduk? " tanya Tio.


"Kak, maaf sebelumnya jika saya mengganggu, tapi langsung saja. "


Tio mengerutkan keningnya. "Ada apa sebelumnya, Dewi? " tanya Tio.


"Kak, boleh Dewi izin untuk pulang? " tanya Dewi.


"Loh, kenapa memangnya? Masih terasa sakit habis sembuh? " tanya Tio.


"Soalnya ada keluarga yang menyusul ke rumah, kalau diarahkan ke sini, takutnya mengganggu kondisi toko kopi ini. " jawab Dewi.


Tio menganggukan kepalanya. "Gitu ya? Yaudah, kamu saya izinkan untuk pulang, hati hati dijalan ya. "


Dewi menganggukan kepalanya, ia mengucapkan terimakasih dan keluar dari kantor, kemudian berjalan keluar dari ruang belakang untuk segera pulang.


"Dewi! "


Juno memanggil Dewi yang sedang berjalan ke luar kemudian mendekat ke arah Dewi.


"Mau kemana, Dewi? " tanya Juno.


"Saya ingin kembali ke kosan, ada keluarga yang datang, makanya saya harus pulang sekarang. " jawab Dewi.


"Gitu ya? Hati hati ya. "

__ADS_1


Dewi menganggukan kepalanya, kemudian ia berjalan keluar dan mencari taksi untuk segera pulang.


Membutuhkan waktu beberapa menit untuk sampai ke kosan, Dewi turun dari taksi dan berjalan ke dalam wilayah kosan.


Di depan gerbang kosan, terlihat anjingnya yang dititipkan oleh satpam terlihat tertidur, Dewi tidak ingin mengganggu peliharaannya yang sedang beristirahat, dan memilih untuk segera ke atas menyusul Gusti.


Saat berjalan ke atas, kebetulan sekali ia langsung bertemu dengan Gusti yang terlihat turun ke bawah.


"Om? Dari atas? " tanya Dewi.


"Tentu saja, saya turun ke bawah rencananya untuk pulang, tetapi sekarang kamu ada di sini, ikut saya sekarang. "


Dewi mengikuti Gusti dari belakang, sebelumnya ia memikirkan sesuatu, mengapa secara tiba tiba Gusti datang keĀ  kosannya.


"Om. "


Gusti membalikkan tubuhnya. "Kenapa, Dewina? " tanya Gusti.


"Sebelumnya, om kenapa datang ke sini secara tiba tiba? Apakah ada urusan sebelumnya? " tanya Dewi.


Gusti menaikkan bibirnya dan mendekat ke arah Dewi.


"Kita mulai berberes, Bella benar benar menunggu kamu di sana. " ucap Gusti.


Dewi terkejut, ia secara mendadak diberitahu untuk segera berberes, padahal belum dua hari berlalu untuk ia pindah dari kosannya.


"Tapi, bukankah sebelumnya ibu memberitahu saya kalau akan pindah dua hari lagi? " tanya Dewi.


"Saya tidak tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh istri saya itu sendiri, yang jelas ia meminta saya untuk menjemput kamu untuk segera berberes. Kita tidak bisa bertindak lebih selain menuruti apa yang ia inginkan. " ucap Gusti.


Dewi menganggukan kepalanya, tak lama ia langsung merasa begah, Dewi merasa bahwa ia ingin muntah, dengan cepat ia membuka pintu kamarnya, kemudian Dewi berlari ke belakang dan menuju ke kamar mandi, ia ingin membuang isi rasa mualnya.


Gusti menyusul Dewi yang berlari ke belakang, ia tahu bahwa Dewi barusan mual, dan ia ingin melihat keadaan Dewi yang berada di kamar mandi.


"Dewina... "


Dewi yang sedang berfokus mengeluarkan isi perutnya kemudian menatap lemas ke arah Gusti, ia masih merasa kesusahan untuk mengeluarkan muntahnya.


"Mual... " lirih Dewi.


Gusti membantu Dewi untuk melancarkan rasa mualnya, kemudian setelah membantu Dewi untuk melancarkan mualnya, ia membawa beberapa barang barang milik Dewi untuk ia bawa menuju ke apartemen.


Rencananya Dewi akan ditempatkan di salah satu kamar apartemen milik Gusti, tempat yang sebelumnya menjadi tempat gempuran mereka berdua sebelumnya, Dewi ditempatkan di apartemen tersebut sampai ia melahirkan calon anaknya, kemudian akan dibebaskan dengan jaminan uang kuliah dan kebutuhan lainnya akan di penuhi jika ia berhasil melahirkan seorang anak laki-laki.


"Bagaimana dengan barang barang saya, om? " tanya Dewi.


"Beberapa orang akan datang ke sini untuk mengambil barang barang milik kamu. Berikan saja kunci kamarmu, nanti akan saya perintahkan asisten saya untuk menyerahkan kunci ini kembali dengan pemilik kosan ini. " jawab Gusti.


Dewi mengikuti Gusti, saat menuju ke bawah ia teringat sesuatu, Dewi berhenti dan Gusti menyadari bahwa Dewi yang terhenti langkahnya.


"Ada apa, Dewi? " tanya Gusti.


Dewi lupa apa yang ia inginkan, ia menggelengkan kepalanya, kemudian mengikuti Gusti untuk segera menuju ke apartemen.


Tak butuh waktu lama, akhirnya Gusti dan Dewi sampai, mereka turun dan berjalan menuju ke lantai tempat kamar apartemen tersebut berada.


"Om, benarkah saya akan tinggal disini, sendirian? " tanya Dewi.


Gusti menatap Dewi. "Tentu saja, hanya kamu sendirian saja, saya tidak dapat menemani kamu terus menerus, kecuali jika ada kebutuhan atau darurat, saya akan datang menghampiri kamu di apartemen ini. "


Dewi menganggukan kepalanya.


Sesampainya di lantai tempat kamar apartemen itu berada, Dewi dan Gusti keluar dari lift, mereka melihat pintu kamar apartemen itu terbuka, kemudian keduanya berjalan menuju ke kamar tersebut.


Melihat beberapa orang yang keluar masuk kamar tersebut, Dewi melihat kamar yang akan ia tempati sudah berubah, dimulai kasurnya yang tidak lagi untuk dua orang, dan juga perabotan didalamnya sudah mulai berubah.


"Akhirnya kamu datang juga. "


"Bu, saya menepati janji saya, dan sekarang saya disini. " ucap Dewi.


"Baik, sebelumnya saya akan memberitahukan terlebih dahulu dengan kamu, apa saja yang harus kamu ikuti dari peraturan yang saya berikan untukmu. "


Dewi siap mendengarkan peraturan tersebut. "Baik bu, katakan saja. "


"Jika tinggal disini dan suami saya datang melihat keadaan kamu, jaga sikap, karena saya memantau kalian lewat kamera pengawas di sini, jangan sampai saya bertindak karena sikap kamu di apartemen ini. Cukup sekali saja menjadi pel*cur suami saya, jangan ulangi untuk kedua kalinya. " ingat Bella.


Bagi Dewi itu bukanlah peringatan, lebih tepatnya seperti menghina dan mencaci Dewi, tanpa beban Bella mengatakannya secara langsung, tetapi Dewi memilih untuk menahannya karena ia sadar, bahwa ia tengah diselamatkan oleh Bella.


"Jika sudah mengerti... "


Secara tiba tiba lengan Gusti dirangkul oleh Bella, Bella seolah berlagak seperti sedang menggoda Gusti.


"Saya akan pulang bersama suami saya, jaga dirimu disini, jangan coba coba untuk berbuat aneh aneh selagi saya memantau kamu! " tegas Bella.


Dewi menganggukan kepalanya.


"Ayo sayang, kita pulang. " ajak Bella pada Gusti.


Gusti menunjukkan ekspresi tidak senang, kemudian ia hanya mengikuti Bella yang semaunya bertindak apapun, keduanya meninggalkan Dewi di kamar tersebut, kemudian menutup pintu kamar apartemen tersebut.


Dewi menatap ruangan tersebut, ia merasakan sunyi di kamar yang sedang ia tempati, terasa asing baginya padahal sebelumnya ia dan Gusti sering berada di ruangan tersebut.


"Begini rasanya kesepian dan sendirian, hanya ruangan ini dan kamera pengawas yang ada di sana. " ucap Dewi.

__ADS_1


Dewi duduk, kemudian ia membaringkan tubuhnya di kasur, ia menangis dan suaranya menggema di kamar tersebut, kesunyian itu melahap dirinya hingga habis.


...****************...


__ADS_2