
...Happy reading š§”...
......................
Dua hari telah berlalu, sekarang Dewi mulai membereskan semua barang barangnya untuk ia bawa kembali ke kota, ia juga akan menaiki angkot antar kota untuk kembali ke kota.
Satu persatu barang barang ia bawa, Dewi membereskan semua barangnya, sebagian ia dibantu oleh ibunya yang ikut membantunya mengemasi barang barang.
"Nak, kamu jangan lupa bawa sayur dan buah yang sudah bapak bawa dari kebun. " ucap Warsita.
"Baik bu, akan Dewi bawa. " ucap Dewi.
Selesai membereskan berbagai barang barang yang ada, Dewi membawa berbagai barangnya dan menuju ke luar, ia menaruh barang barangnya beserta oleh oleh yang akan ia bawa ketika sampai ke kota.
"Semua sudah dibawa, kan? " tanya Warsita.
Dewi memeriksa semua barang yang ia bawa, kemudian merasa aman dan menganggukan kepalanya, Warsita mengerti hal tersebut dan ia menganggukan kepalanya.
Tak lama angkot antarkota sampai di depan halaman kediaman keluarga Taufik, ekspresi wajah Dewi seperti lega, karena rencananya jika pengantaran sore hari tidak ada, maka ia akan menunda keberangkatan tersebut hingga keesokan hari, sedangkan ia saja sudah berencana untuk pulang pada hari ini.
"Apa semuanya sudah lengkap, Dewi? " tanya Warsita sekali lagi.
"Iya bu, sudah lengkap, lagipula kalau tertinggal satu tidak apa, kan ini selama masih berada di rumah. " jawab Dewi.
Raut wajah Taufik dan Warsita menunjukkan bahwa mereka belum rela berpisah dengan Dewi, sedangkan untuk bertemu saja mereka harus mengambil jadwal waktu untuk bisa bertemu seperti sekarang.
Sebelum pergi, Dewi terlebih dahulu berpamitan dengan kedua orangtuanya, ia bersalaman sementara supir angkot tersebut mengangkut barang barang milik Dewi ke dalam angkot.
"Kalau sudah sampai nanti, beritahu bapak sama ibu ya nak, kami menunggu kabar kamu selanjutnya. " ucap Warsita.
"Baik bu, akan Dewi ingat. " ucap Dewi.
"Neng, semua barang barangnya sudah ada di dalam angkot, tinggal berangkat saja. "
"Baik bang, tunggu sebentar. "
Dewi bersalaman dengan kedua orangtuanya.
"Dewi pamit ya, pak, bu. " ucap Dewi.
Dewi menenteng tasnya, kemudian berjalan menuju ke arah angkot, tak lama sebuah ucapan menahannya untuk berhenti.
"Dewina. "
Dewi berbalik arah, ia melihat Warsita berlari ke arahnya dan memeluknya kembali.
"Nak, kami sangat merindukanmu, kalau ada waktu untuk berlibur saat di kota, kembalilah ke desa, kami sangat merindukanmu. Jika ada masalah berat, katakanlah dengan kami, kami siap mendengarkannya, jangan sembunyikan masalah kamu selagi kami masih bisa mendengarkanmu. " ucap Warsita.
Ucapan tersebut mendalam, Dewi saja sampai tidak bisa berkata apa apa, ia terdiam dan melepas pelukan tersebut, ia memilih pamit dan melambaikan tangannya kepada kedua orangtuanya, balasan berupa lambaikan tangan Dewi dapatkan dari kedua orangtuanya, kemudian ia menaiki angkot.
Angkot berjalan, dengan beberapa penumpang yang ada, tidak lupa pintu angkot tersebut di kunci, sehingga kondisi angkot benar benar aman dan tertutup.
Di dalam angkot, Dewi mengingat ucapan ibunya barusan, bahwa ibunya yang mengatakan bahwa siap mendengarkan segala keluhnya, namun ucapan tersebut membuatnya menjadi sedih dan bersalah, ia menangis dalam diamnya, mencoba untuk tidak membuat suara isak tangis nya terdengar oleh orang orang yang ada di dalam angkot, walaupun air matanya terlihat mengalir.
Dewi merasa benar benar bersalah, ia juga tidak menginginkan hal tersebut terjadi padanya, tapi apalah daya, penyesalan datang di akhir cerita.
Dewi akhirnya tertidur, ia bersender di dekat barang barang miliknya, perjalanan jauh akan membuatnya merasa lelah, dan ketika sampai ia ingin segera beristirahat.
......................
Setibanya di kota, Dewi dibangunkan oleh pemilik angkot antarkota tersebut, ia dengan posisinya yang masih tertidur kemudian terbangun dari tidurnya.
"Neng, bangun neng, kita sudah sampai di kota. "
Dewi terbangun dari tidurnya, kemudian ia membuka matanya, melihat angkot sudah mulai sepi dan beberapa penumpang yang ada di dalam angkot tersebut sudah keluar dari angkot.
"Sudah sampai? " tanya Dewi.
"Iya neng, saya bantu turunin barang barangnya. " ucap sopir angkot tersebut.
Dewi menguap, ia beranjak pergi dari dalam angkot, kemudian membawa barang barangnya untuk pulang ke apartemen.
Sebenarnya Dewi merasa lelah, tetapi ia akan beristirahat secara total ketika ia telah sampai di apartemennya.
Dewi menaiki taksi yang berada tak jauh dari tempat terminal angkot antar kota berada.
"Pak, tolong bangunkan saya jika sudah sampai di apartemen. " ucap Dewi.
Taksi berangkat, kemudian taksi tersebut berangkat menuju ke apartemen, sedangkan Dewi tertidur di taksi tersebut.
Butuh waktu setengah jam untuk Dewi sampai di apartemen, taksi tersebut berhenti di halaman apartemen, Dewi merasa seperti ada yang memanggilnya untuk bangun dari tidurnya.
'Neng, neng, bangun neng. '
Dewi terbangun dari tidurnya, ia melihat sopir taksi yang membangunkannya, ia terbangun dan segera mengambil tasnya kemudian keluar dari taksi, tak lupa juga barang barang lainnya ia dibantu oleh sopir taksi tersebut untuk dibawa hingga ke dalam lobby apartemen.
"Terimakasih, pak. " ucap Dewi.
Dewi menenteng tasnya, ia menuju ke lift untuk menuju ke kamarnya yang berada di lantai 5 gedung apartemen ini, menunggu lift tersebut berhenti dan ia segera menaiki lift tersebut.
Beberapa orang terlihat berada di dalam lift, dari ruang basement dan sekarang ingin menuju ke lantai tempat kamar apartemen tersebut berada, Dewi masuk dan bergabung dengan beberapa penghuni apartemen tersebut, ia masih merasa mengantuk dan sekarang mencoba untuk menahan kantuknya, karena mustahil ia akan tertidur di dalam lift.
'Bau orang orang ini sangat tidak sedap, sepertinya salah satu dari mereka ada yang habis minum minum, dan juga habis bekerja seharian di luar. '
Dewi mengoreksi bau bau orang yang berada di dalam lift tersebut, penciumannya terlalu sensitif karena efek dari kehamilannya, tidak heran ia merasa tidak nyaman dengan salah satu bau dari orang yang berada di dalam lift, rasanya ia ingin segera keluar dari lift tersebut dengan cepat.
Beberapa menit berlalu, Dewi akhirnya terbebas dari orang orang yang membuatnya mengeluh ingin segera pergi, ia sampai di lantai tempat ia berada, dan sekarang menuju ke kamar apartemennya.
Sebelumnya Dewi mengambil kartu akses kamarnya, kemudian ia mencocokkan kartu tersebut, sayangnya tidak sama sekali ingin tersambung, tentu saja itu membuat Dewi cemas, bagaimana kamar yang sebelumnya ia tempati kartu aksesnya tidak tersambung sama sekali, padahal ia tidak salah kamar kali itu.
Dewi merasa cemas, berulang ulang kali ia mencobanya, namun kunci pintu tersebut tidak sama sekali ingin terbuka, ia terus menerus mencobanya hingga membuat lock door nya mati sendiri.
"Ibu, kenapa tidak bisa dibuka...? " tanya Dewi gemetaran.
Dewi hanya berputar putar saja di depan pintu kamar apartemennya, tak lama seseorang berjalan ke arahnya dengan suara yang ia kenal, Dewi berbalik arah dan melihat orang yang ia kenal, yaitu Gusti.
"Ya, disini kamarnya, tolong dibuka terlebih dahulu. "
Gusti bersama dengan tukang service, ia sengaja membawa jasa service tersebut untuk membuka pintu tersebut, Dewi sedikit menjauh dari pintu tersebut dan melihat pintu tersebut sedang diperbaiki.
Tidak ada percakapan selama pintu tersebut sedang diperbaiki, entah itu dari Gusti maupun dari Dewi sendiri, keduanya tidak memulai percakapan apapun selain diam melihat pintu kamar apartemen sedang diperbaiki.
"Sepertinya ada orang yang ingin membobol kamar ini, kebetulan juga kalau dilihat sidik jari dari lock door nya jarang dibersihkan sehabis dipakai. Siapa yang tinggal di kamar apartemen ini? " tanya tukang service tersebut.
"Sebelumnya saya yang tinggal disini, tetapi karena ada penghuni baru yang tinggal di kamar ini, sekarang kamar ini ditempati oleh penghuni baru dari apartemen yang sebelumnya saya tempati. Saya tidak tahu jika akan terjadi hal yang membahayakan penghuni baru di kamar apartemen ini. " jawab Gusti.
"Begitu ya? Sementara saat ini, saya akan memperbaiki smart lock door nya terlebih dahulu, bisa nanti diganti dengan kunci biasa. "
__ADS_1
"Baik, terimakasih atas bantuannya. " ucap Gusti.
Tukang service tersebut meninggalkan Gusti dan Dewi yang berada di depan kamar apartemen tersebut, hanya tersisa kedua orang lawan jenis tersebut.
"Kapan kamu pulang? Kamu tidak tahu bahwa beberapa hari ini saya tidak bisa masuk ke kamar kamu karena hal ini? " tanya Gusti.
Dewi seperti diinterogasi, ia menggelengkan kepalanya.
"Malam ini, om, dan saya juga tidak tahu bahwa om beberapa hari ini tidak bisa masuk kekamar apartemen ini, selama saya di desa saya kira om berada di kamar saya, ternyata om tidak sama sekali berada di kamar saya karena hal ini. " jawab Dewi.
"Kamu tahu, kecerobohan kamu hampir saja membahayakan kamu sendiri, kamu tidak dengar bahwa kamu tidak pernah sama sekali membersihkan sensor sidik jari kamu di tombol nomor kunci kamar ini? Kamu sengaja melakukan hal ini, Dewina? " tanya Gusti.
Dewi terpojok, ia ingin menangis karena terus terusan diinterogasi oleh Gusti, hanya saja ia menahannya dengan suaranya yang gemetaran.
"Tidak om, saya tidak tahu bahwa bisa sebahaya ini, karena saya kira selama ini merasa aman saja ketika berada di apartemen ini, makanya saya tidak khawatir atas kejadian ini... " lirih Dewi.
Gusti menatapnya dengan tatapan tidak senang, sehingga Dewi hanya menunduk dan tidak berani menatap laki laki itu yang menatapnya dengan tatapan tidak senang seperti itu.
"Maaf om, lainkali saya tidak akan seceroboh ini lagi. " ucap Dewi.
Gusti melipat kedua tangannya. "Lainkali itu kapan? Saya tidak ingin ucapan kamu cuma omong kosong belaka, terus akan terulang lagi. " tanya Gusti.
"Setelah ini, om, saya tidak akan ceroboh seperti ini lagi, saya berjanji. " jawab Dewi.
"Baik, saya pegang ucapan kamu tadi. " ucap Gusti.
Dewi menganggukan kepalanya, kemudian ia mengeluarkan kunci kamar tersebut, dan ia mengajak Gusti untuk masuk ke kamar apartemen tersebut.
Dewi meletakkan barang barangnya di dalam kamarnya, kemudian ia duduk di tepi ranjang kamarnya, Gusti menatapnya yang berada di depan pintu kamar dengan melipat kedua tangannya.
"Om, ada apa? " tanya Dewi.
"Kita akan pergi ke rumah sakit, kamu harus periksa sekali lagi kandungan kamu. "
Dewi terkejut, ia bangun dari tempat tidurnya, kemudian ia menatap Gusti dengan tatapan lemas tidak percaya.
"Baru saja pulang, kenapa harus terburu buru untuk periksa, om? " tanya Dewi.
"Sekarang saja kamu sudah mau masuk trimester 2, kenapa batu sekali kamu? Itu demi dirimu sendiri, bukan untuk saya, lagipula kamu saja mual keseringan. Kamu tidak memperhatikan kehamilan kamu sendiri? " tanya Gusti balik.
Dewi merasa tidak senang, sedangkan Gusti terlihat tidak peduli dengan perasaannya, sebenarnya Dewi juga sudah kesal, secara ia yang tidak bisa terlepas dari aturan Gusti dan Bella yang selalu menekankan ia sebagai wanita hamil yang sesungguhnya, kalau bisa dipilih dari awal, mungkin saja ia tidak ingin dirinya hamil seperti sekarang, itu sama sekali seperti mengekang kebebasannya.
"Sekarang bersiap siaplah, saya akan tunggu kamu 30 menit. " ucap Gusti.
"Baik om. " ucap Dewi.
Gusti meninggalkan Dewi yang sedang berada di pinggir ranjang, sedangkan Dewi memukul kasurnya, ia melampiaskan kekesalannya itu dengan kasur.
'Kalau saja bisa balas, mungkin akan kupukul om Gusti habis habisan! ' umpat Dewi dalam hati.
Dewi mulai membereskan barang barangnya, kemudian meletakkannya masing masing barang yang ia bawa dari desa seperti sebagian baju bajunya kembali ke dalam lemari, sebagiannya ia letakkan di keranjang pakaian kotor.
Terlihat seorang laki laki yang tengah duduk dengan fokus mengerjakan pekerjaannya, Gusti menunggu Dewi dengan mengerjakan pekerjaannya, ia melihat jam tangannya, sudah hampir sejam ia menunggu Dewi yang sedang bersiap siap, sebelum ia menguras tenaganya, Gusti memilih untuk memanggil Dewi dan berbasa basi dengan gadis tersebut.
"Dewina, apa kamu sudah bersiap siap? "
Gusti keluar dari ruangan tempat ia bekerja, kemudian ia meninggalkan pekerjaannya dan berjalan menuju ke kamar tempat Dewi berada.
"Dewi, dimana Jelly? Mengapa saya tidak melihat keberadaannya sama sekali? " tanya Gusti.
"Dewina, ini tidak lucu sama sekali, tunjukkan dirimu! "
Gusti membuka pintu kamar Dewi, dengan emosinya ia membuka pintu kamar tersebut dan ingin memarahi Dewi, saat membuka pintu kamar tersebut, ia menemukan Dewi yang tengah terlelap di atas kasur.
Gusti terhenti, ia menatap Dewi yang tengah tertidur, kemudian ia menghela nafasnya, ternyata percuma saja ia memanggil Dewi dan memarahi gadis tersebut yang tidak meladeninya.
Langkahnya terarah ketika melihat Dewi yang meringkuk, Gusti mendekat dan menarik selimut hingga sebatas bahu, ia melihat gadis tersebut mengambil posisi yang nyaman untuk tidur.
"Mungkin bukan malam ini, tapi besok saya akan memarahi kamu, Dewina. "
Gusti keluar dari kamar, kemudian ia menutup pintu kamar tersebut, Gusti memutuskan untuk pergi dari kamar apartemen itu, karena percuma saja ia masih berada di kamar apartemen tersebut.
......................
Keesokan harinya, Dewi terbangun dari tidurnya, suara alarm yang bising mengganggu pendengarannya, Dewi mematikan ponsel tersebut dan melihat jam yang tertera, menunjukkan pukul 7 pagi.
Dewi bangkit dari tidurnya, ia terlebih dahulu mencoba sadar dari tidurnya, kemudian beranjak menuju ke luar kamarnya.
Melihat kondisi kamarnya yang tidak ada siapapun, Dewi teringat akan Jelly, ia lupa menjemput anjing peliharaannya yang berada di penitipan.
"Aku lupa. "
Dewi langsung bersiap siap, ia berencana untuk segera pergi kekampus, dan akan menjemput anjing peliharaannya ketika jam kuliahnya telah selesai.
Dewi melupakan sarapan paginya, ia memilih membuat roti isi untuk sarapannya, tak lupa susu kotak yang menemani sarapan singkatnya, Dewi tidak peduli bahwa caranya makan seperti itu mempengaruhi kesehatannya.
Jam makan siang telah tiba, waktunya Dewi akhirnya pulang dari kuliah, ia berencana untuk segera ke penitipan dan sekarang ia akan pergi ke penitipan hewan.
Dewi terbiasa untuk sendirian sekarang, dan saat bertemu dengan Daniel pun ia yang memilih untuk menghindar terlebih dahulu, karena ia juga mengerti keinginan teman lamanya itu yang tidak ingin bertemu dengan temannya lagi.
Dewi mencari taksi, kemudian ia menemukan taksi, ia meminta supir taksi tersebut untuk pergi ke tempat penitipan hewan peliharaan yang tak jauh dari kafe tempat ia bekerja dulu.
Mengingat kafe tempat ia bekerja, Dewi memutuskan untuk mampir ke kafe tersebut, tapi sebelumnya ia akan menjemput Jelly yang berada di penitipan hewan.
Sesampainya di penitipan hewan, Dewi segera membayar biaya taksi tersebut, kemudian ia memasuki tempat penitipan hewan.
"Permisi, saya kemari ingin menjemput peliharaan saya. "
"Selamat datang, atas nama siapa? "
"Dewina Ayunda Ningsih. " jawab Dewi.
Dewi menunggu penjaga yang sedang memeriksa nama pemilik peliharaan, kemudian salah satu kertas ditemukan, menyerahkannya dengan Dewi dan menandatangani kertas tersebut.
"Silahkan, anabul nya ada di dalam. "
Dewi mengikuti penjaga tersebut, di dalam penitipan tersebut banyak bervariasi anjing dan kucing yang berada, dan akhirnya ia bertemu dengan Jelly yang berada di perkumpulan anjing anjing lainnya yang sedang bermain.
"Jelly. "
Anjing berwarna cokelat kekuningan tersebut berbalik arah, Jelly melihat Dewi yang memanggilnya, kemudian Jelly berlari ke arah Dewi dan melompat ke arah Dewi untuk bermanja manja dengan Dewi.
"Jelly, dasar anjing manja, kamu menggemaskan sekali. "
"Anjingnya aktif sekali, sampai sampai semua anjing disini sangat senang bermain dengan Jelly ini. " ucap penjaga tersebut.
"Iya, dia adalah anjing yang lincah, tidak heran semua yang bertemu dengannya menjadi senang bisa bermain dengannya. " ucap Dewi.
__ADS_1
Dewi melepas rindunya dengan anjing peliharaannya, kemudian ia membawa anjing peliharaannya tersebut dan membayar jasa penitipan yang sebelumnya menjadi tempat titipan sementara Jelly di sana.
"Jelly, aku belum makan siang sama sekali, bolehkah aku makan di kafe yang tak jauh dari tempat penitipan ini? " tanya Dewi.
Jelly menjawabnya dengan menggonggong, kemudian keduanya berjalan menuju ke kafe yang tak jauh dari tempat penitipan Jelly.
Suasananya tidak berbeda dari sebelumnya, seperti biasa bahwa makan siang akan terlihat ramai seperti sekarang, Dewi merindukan tempat tersebut dan ia menginjakkan kakinya untuk sekian kalinya di kafe tersebut.
"Jelly, kamu di luar dulu ya, aku ingin pesan makanan dulu. " ucap Dewi.
Jelly menggonggong, kemudian Dewi masuk ke kafe tersebut, ia berjalan ke arah meja kasir untuk memesan makanan yang ada.
"Selamat da-- "
Juno bertemu kembali dengan Dewi, tentu saja dengan senyum yang ramah dan suara yang lembut, Dewi merindukan laki laki tersebut sebagai partner kerjanya.
"Dewi? Sejak kapan di kota? " tanya Juno.
Dewi tersenyum, walaupun ia tidak bisa berkata apa apa selain tersenyum.
"Dewi? Selamat datang, ada yang bisa dibantu? " tanya Tio.
"Eh iya, saya ingin pesan nasi goreng 1, dan lemon ice teanya 1. " ucap Dewi.
Tio menulis pesanan tersebut, kemudian Dewi berjalan keluar menghampiri Jelly dan mencari bangku.
"Jangan kebanyakan melamun, Jun, tau kalau kamu belum bisa ngelupain Dewina. " ucap Tio.
"Ah, maaf kak, saya melamun. " ucap Juno.
"Duduk disini ya, ini makanan hadiah dari penjaga di penitipan, katanya kamu sangat pintar dan aktif. "
Dewi mencari alas untuk tempat makan anjingnya dan ia menemukan sebuah tisu kertas, ia mengalasinya dan menaruh makanan Jelly di atas tisu kertas tersebut, kemudian Jelly memakan makanan tersebut.
"Dimakan ya, Jelly. "
Tak lama pesanan Dewi telah sampai, kali ini yang mengantarkan makanan tersebut adalah Juno, antara senang dan terkejut bersatu, karena secara tiba tiba akhirnya ia bertemu kembali dengan laki laki tersebut.
"Ini pesanannya, silahkan dinikmati. " ucap Juno.
Dewi menerima pesanan tersebut, kemudian salah satu pesanan lainnya yang sebelumnya tidak dipesan oleh Dewi sama sekali, Dewi bingung ketika melihat pesanan yang sebelumnya tidak ia pesan.
"Maaf sebelumnya, saya tidak memesan ini. " ucap Dewi.
"Itu bonus dari kak Tio buat kamu, katanya makanan penyambut. " ucap Juno.
Dewi mengerti, kemudian ia mengucapkan terimakasih.
"Terimakasih. " ucap Dewi.
Juno menarik bangku, kemudian duduk berhadapan dengan Dewi, tentu saja Dewi merasa gugup ketika bertemu dan bertatapan langsung dengan laki laki tersebut.
"Wah, ternyata ada peliharaan kamu, siapa namanya? " tanya Juno.
"Namanya Jelly, dia anjing laki laki. " jawab Dewi.
"Gitu ya? Astaga, besar sekali badannya, pasti kamu rajin kasih makan sama vitamin buat peliharaan kamu ini. " puji Juno.
"Tidak, memang dia sebesar itu, cuma sekarang lebih berisi saja. "
Juno dan Dewi mengobrol, keduanya tampak sangat menikmati obrolan tersebut.
"Dewi, kamu nggak ada minat lagi buat balik ke kafe? "
Dewi terhenti, ia menatap ke arah Juno, ia menghentikan makannya.
"Sepertinya tidak, saya tidak bisa bekerja lagi di kafe ini. " jawab Dewi.
"Tapi kenapa? Kamu nggak suka sama aku ya? " tanya Juno.
Juno keceplosan, ucapan tersebut membuat Dewi bingung, wajah Juno seketika memerah ketika bertanya seperti itu barusan.
"Apa? Saya tidak menyukai kamu? Maksudnya? " tanya Dewi.
Kepalang basah, akhirnya Juno mengakuinya, ia menghela nafasnya untuk mengatakan yang sebenarnya dengan Dewi.
"Sebenarnya selama kamu sama aku kerja, aku nyimpan perasaan sama kamu. "
Juno meraih tangan Dewi, kemudian mengangkat kedua tangan tersebut, dan Juno menggenggam tangan tersebut.
"Dewi, aku suka sama kamu, mau kamu jadi pacar aku? " tanya Juno.
Dewi terkejut, ia tidak menyangka dengan Juno, ternyata perlakuan baik tersebut mempunyai maksud tersendiri, Juno menyukainya selama ini dan sekarang mengungkapkannya.
Namun ia ingat, Dewi ingat dengan keadaannya sekarang, ia sadar dengan keadaannya, bahwa ia sedang hamil, ia tidak ingin mengecewakan Juno sebagai laki laki baik yang ia kenal.
Dengan perlahan, Dewi melepaskan genggaman tangan tersebut dan menaruh kedua tangan laki laki tersebut di meja, dan menepuk nepuk pelan tangan kekar tersebut dengan pelan.
"Saya belum bisa menjawabnya, mungkin lainkali akan saya jawab. " ucap Dewi.
Dewi mengeluarkan uang di dalam tasnya, kemudian menyelipkannya di balik piring tempat makannya semula, dan menatap Juno dengan senyumnya.
"Terimakasih pelayanannya, saya merasa puas dengan makanannya. " ucap Dewi.
Dewi beranjak dari tempat duduk tersebut, Juno menatapnya dengan sayu, sedangkan Dewi menghindari tatapan tersebut dan mengarahkannya ke arah Jelly.
"Jelly, saya selesai, ayo kita pulang. " ucap Dewi.
Jelly menggerakkan ekornya, sebelumnya Dewi menyuruh Jelly untuk mengucapkan terimakasih dengan Juno yang berada di depannya.
"Jelly, ucapkan terimakasih dengan Juno. "
Jelly menggonggong dan mendekati kaki Juno, ia mengelus kaki tersebut beberapa kali, kemudian menjauh dari Juno dan mendekat ke arah Dewi.
"Sekali lagi, terimakasih, saya sangat tersanjung atas pelayanannya. "
Dewi dan Jelly meninggalkan kafe, berjalan dan menjauhi kafe tersebut, hanya tersisa perasaan patah hati dari Juno yang melihat langkah kaki gadis tersebut menjauh dari kafe, kemudian pemilik kafe menghampiri sang bujang yang tengah patah hati.
"Nice try, bro, nice try... " ucap Tio.
"Thanks kak, setidaknya bisa legain diri kalau udah ngungkapin semuanya. " ucap Juno.
"Yok masuk ke dalam, jangan melamun di sini. " ajak Tio.
Juno menganggukan kepalanya, kemudian bersama dengan Tio memasuki kafe, tampak harus ada hiburan untuk laki laki tersebut karena penolakan yang ia terima.
...****************...
__ADS_1