
...Happy reading š§”...
......................
Hari hari telah dilewati oleh Dewi, ia merasa tertekan dengan keadaan yang mendesaknya, bahkan ia merasakan penindasan di setiap Bella yang terus terusan memantaunya.
Dewi hanya diberi izin hanya untuk berkuliah ataupun berbelanja bahan makanan di dekat apartemen, tidak ada akses untuk bebas dan melarikan diri, karena itu akan membuat dirinya membahayakan dirinya, Bella bisa menuntutnya atas penipuan seperti sebelumnya sudah disepakati.
Dewi teringat akan peliharaannya, tetapi ia tidak bisa pergi, karena jarak kosnya cukup jauh dari apartemen yang ia tempati.
"Sekarang, aku akan bersiap untuk pergi ke kampus, sudah hampir terlambat juga untuk pergi ke kampus. "
Dewi menenteng tasnya, kemudian ia melambaikan tangannya ke arah kamera pengawas, mencari kartu akses kemudian ia menaruhnya di dalam tas dan pergi dari kamar apartemen tersebut.
Dewi berjalan menuju ke lift, tak lama seseorang dari kamar lain keluar, terlihat bahwa itu seorang wanita parubaya dengan baju yang sangat rapi, terlihat ingin pergi keluar.
Dewi tersenyum, dengan penghuni kamar apartemen lainnya menatapnya dengan tidak biasa.
"Penghuni baru? "
Dewi menunjuk ke dirinya, dan penghuni tersebut menganggukan kepalanya.
"Ya, saya penghuni baru disini, salam kenal. " ucap Dewi.
Penghuni apartemen tersebut menyodorkan tangannya dan berkenalan, ia menatap Dewi dari atas sampai ujung kaki.
"Saya baru tahu kalau ada penghuni baru, sebelumnya tidak ada sama sekali yang tinggal di kamar ini. "
"Ah, benarkah? " tanya Dewi.
"Buktinya saja saya baru kenal siapa kamu di apartemen ini. Sebelumnya kamar apartemen ini katanya sudah dibeli, tetapi tidak dihuni sama sekali, makanya saya bingung, apakah kamu penghuni baru di apartemen ini atau bukan? " tanya penghuni apartemen tersebut.
Dewi menganggukan kepalanya. "Iya, saya penghuni baru. Mohon bantuannya. "
Penghuni apartemen tersebut menganggukan kepalanya, kemudian pamit untuk pergi mendahului Dewi.
Dewi menatap penghuni apartemen tersebut berjalan, kemudian wajahnya memerah, ia mengingat sesuatu yang membuatnya tidak bisa berkata apa apa.
'Berarti saat bu Bella beres beres dan bawa orang ke kamar ini tidak terdengar apa apa ya dari luar? Apa saat aku dan om Gusti sebelumnya saat bermain juga tidak terdengar sama sekali dengan penghuni apartemen lainnya juga ya? '
Dewi menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin sama sekali memikirkan hal kotor yang sebelumnya ia lakukan dengan Gusti, dan sekarang ia memilih untuk langsung pergi menuju ke kampus.
......................
"Semester dua akan dimulai, sampai jumpa di semester selanjutnya. "
Dewi keluar dari kelasnya, ia merenggangkan tubuhnya dan memegang pinggangnya yang terasa pegal, kemudian ia pergi dari depan kelasnya dan berencana untuk segera ke kafe untuk kembali bekerja, walaupun nantinya ia akan dimarahi kembali dengan Gusti, tetapi ia akan membagi waktunya agar ia bisa pilang ke kamar apartemennya dengan secepat mungkin.
Saat berjalan menuju ke lorong kampus, Dewi secara tidak sengaja menabrak seseorang, hingga barang barangnya terjatuh ke bawah.
"Maaf, bakal kubantu. "
Laki laki yang baru saja bertabrakan dengan Dewi, kemudian membantu Dewi untuk membereskan barang barang yang terjatuh.
Secara cepat, Dewi mengenal siapa laki laki yang barusan tertabrak dengan dirinya, ia menatap laki laki tersebut kemudian memanggil namanya.
"Daniel? " tanya Dewi.
Daniel yang bertemu secara langsung dengan Dewi, ia berdiri dan menatap tidak percaya, kemudian mengalihkan pandangannya, ia tidak ingin bertemu dengan Dewi lagi, baginya, Dewi seperti mimpi buruk yang menjerumuskan nya hingga hampir dibunuh oleh orang-orang penting yang menyuruhnya menjauhi Dewi.
"Daniel, ini sa-- "
"Kamu Dewi, kan? Ya, aku tau. "
Nada suara yang terdengar dingin, Dewi tahu bahwa Daniel masih mengingat kejadian sebelumnya, ia mengetahuinya dari suara laki laki itu masih kecewa dengan apa yang terjadi.
"Kenapa kita selalu bertemu? Bukannya aku bisa terus menghindar, sekarang selalu bertemu dengan kamu? " tanya Daniel.
"Kamu bertanya dengan saya, Daniel? " tanya Dewi.
"Menurut kamu, dengan siapa aku nanya? " tanya Daniel kembali.
Dewi menundukkan kepalanya, ia merasa bersalah dengan apa yang sudah terjadi.
"Maafkan saya, Daniel, saya tahu kalau kamu kecewa dengan saya, secara kita yang sedang dekat, kamu harus terima kenyataan bahwa saya ini simpanan laki laki lain. " ucap Dewi.
"Untuk apa minta maaf? Jika yang kamu lakukan sebelumnya punya resiko tersendiri. Aku sangka kamu itu gadis yang baik, berbeda dari gadis gadis di kampus ini yang memilih jadi ayam kampus, kamu ternyata sama saja. " ucap Daniel.
Dewi benar benar merasa bersalah, ia telah mengecewakan laki laki yang benar benar ingin mendekatinya, karena Gusti yang sudah menghancurkan semuanya, ia akhirnya berakhir seperti sekarang.
"Udahlah, aku juga minta sama kamu, kalau kamu ketemu aku atau nggak sengaja kayak gini, anggap aja aku orang lain untuk kamu, agar kita tahu, gimana rasanya menjadi orang asing lagi. Senang bisa kenal kamu, anak jurusan kedokteran. "
Daniel meninggalkan Dewi dengan kata kata seperti orang asing, Dewi tidak menyangka akan berakhir secepat itu, padahal itu bukanlah keinginannya.
Dewi merasa hancur lagi, ia merasa ditinggalkan secepat itu, ia tidak ingin berakhir seperti ini, karena setiap yang ia temui, pasti akan berakhir buruk seperti yang sedang ia alami.
Daniel meninggalkannya, sedangkan Dewi berjalan menuju ke ojek yang tak jauh dari kampus, menaikinya dan menuju ke kafe.
__ADS_1
Di lain tempat, terlihat laki laki yang selepas keluar dari suatu ruangan, dengan ponsel yang dipegangnya, kemudian ia berjalan menuju ke luar.
"Gustiawan, tampaknya bisnis yang sibuk kali ini? "
Langkah Gusti terhenti, ia diam dan tak ingin berbalik arah, karena ia tahu bahwa yang berada di belakangnya adalah istrinya sendiri, Bella.
"Kenapa? Mengapa kamu menghentikan langkah saya? Ada hal yang perlu kamu bicarakan, sampai kamu memanggil saya? " tanya Gusti.
Bella tersenyum, ia berjalan dan berdiri di depan Gusti, dengan senyum dan tatapan terkejut melihat ke arah Gusti, sementara Gusti menatapnya tatapan kesal.
"Hanya bertanya saja, kenapa anda kesal seperti itu? Bukankah saya dulu jika bertanya dengan anda, anda menjawabnya dengan baik, dan terakhir memanggil saya dengan panggilan sayang? " tanya Bella.
Gusti menggeram dan mengeluarkan suara bentakan menggelegar, ia menatap Bella dengan tatapan tajam dan menunjuk Bella.
"Hentikan, saya tahu bahwa anda menang, dan juga saya tidak akan lepas tanggungjawab ini. Jadi, hentikan menindas saya dengan tindakan kamu yang seolah olah merayakan kemenangan. " ucap Gusti.
Bella tersenyum, kemudian ia membalas tatapan tajam tersebut.
"Ya, saya senang dapat menindas anda, setelah setahun berlalu anda yang bersikap seenaknya. Dan yah, ini kemenangan saya, saya memegang kendali, jika simpanan anda gagal melahirkan seorang bayi laki-laki, maka anda akan saya hancurkan dalam sekejap, Gustiawan. "
Gusti menatap benci ke arah Bella, istrinya itu senang ketika sudah mendapatkan posisi sebagai penindas, padahal ia sebelumnya tidak sama sekali bersikap seperti istrinya itu, walaupun hubungannya sudah tidak berjalan baik lagi.
"Baik, jika permainanmu seperti ini, jangan menyesal jika saya melakukan hal yang lebih membuatmu menangisi kemenangan dan kebodohanmu sendiri, Bella! " tegas Gusti.
Gusti pergi meninggalkan Bella, Bella tercengang dengan ucapan Gusti barusan, yang akan mengejutkannya dengan ucapan suaminya barusan.
"Jika kamu berpikir seperti itu, saya juga tidak akan melepaskan anda, Gustiawan! " teriak Bella.
Bella menjadi ikutan kesal, ia meninggalkan tempat tersebut dan memilih pergi dari depan ruangan suaminya.
......................
Di kafe, terlihat raut wajah Dewi yang tidak bersahabat, tampak bahwa Dewi sedang memikirkan sesuatu yang membuatnya tidak baik.
Pekerjaan Dewi juga begitu banyak, bahkan ia saja sampai tidak fokus dengan pesanan yang telah ia buat, Dewi saja kelabakan dengan apa yang sedang ia kerjakan, hingga ia sampai ditegur oleh pelanggannya karena salah pesanan dan pesanan belum sama sekali datang.
Dewi memegang kepalanya, ia membuat kembali pesanan tersebut dan meminta maaf dengan pelanggannya, hal tersebut di sadari oleh bosnya dan temannya yang tengah duduk di kursi belakang, tepatnya Tio dan Juno yang memantau Dewi dari ruang belakang.
"Kak, kenapa beberapa hari ini si Dewi tuh kayak gitu ya? Kalau ditanya, pasti dia bilang nggak ada apa apa, kayaknya dia ada masalah, tapi nggak mau bagi cerita kalau dia punya masalah. " tanya Juno.
Tio menganggukan kepalanya. "Nanti akan saya panggil dia, saya akan suruh kamu untuk bagi cerita sama kamu, karena saya yakin dia akan lebih terbuka dengan teman temannya yang menurutnya dekat, seperti kamu. "
Juno menganggukan kepalanya, kemudian keduanya meminum kembali kopi dan memakan makanan yang tersedia.
Rencananya Dewi akan dipanggil saat istirahat makan siang, dan akhirnya jam makan siang sudah tiba, akan dibagi shift terlebih dahulu dan akan digantikan bergiliran dengan karyawan karyawan yang ada.
"Dewina. "
Dewi yang sedang menulis gelas kopi plastik tersebut menatap ke arah belakang, ia melihat bosnya yang tengah memanggilnya dari belakang, Dewi terkejut ketika Tio yang memanggilnya dikala sedang sibuk sibuknya bekerja, pikirannya sudah kemana mana saat bosnya yang sudah memanggilnya.
"Susul sana, biar aku lanjutin. "
Pekerjaan Dewi diganti oleh karyawan lainnya, ia menyusul bosnya yang berdiri di mulut pintu ruang belakang, ia berjalan dengan ragu ke arah bosnya sendiri dan mendekat.
"Ada apa, kak? " tanya Dewi.
"Kamu ikut ke kantor saya, ayo. "
Dewi merasa takut dengan yang akan dikatakan oleh bosnya, jantungnya sudah berdegup sedaritadi, karena ia yakin bahwa bosnya akan bertindak tegas dengan apa yang ia lakukan tadi merupakan kesalahan dan keteledorannya, ia sadar bahwa ia sudah melakukan kesalahan berkali kali.
Menuju ke ruangan Tio, Dewi dikejutkan dengan kehadiran Juno di ruangan tersebut, karena ia yang sebelumnya tidak mengetahui keberadaan Juno di ruangan tersebut dan secara tiba tiba bertemu di ruangan tersebut.
"Kamu bisa diskusikan hal tadi dengan Juno, saya persilahkan kalian mengobrol. "
Tio keluar dan menutup pintu ruangannya dengan setengah, hanya tersisa Juno dan Dewi saja di ruangan tersebut, awalnya Dewi canggung dan malu, tetapi Juno menatapnya dengan ramah dan tersenyum.
"Dewi, mau cerita? " tanya Juno.
Dewi hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Sepertinya belum, saya tidak tahu ingin cerita apa. "
Juno menggelengkan kepalanya, kemudian ia memegang punggung tangan Dewi, Dewi terkejut dengan tindakan tersebut.
"Aku tau kalau ada masalah, nggak ada salahnya bukan kalau kita obrolkan masalah ini terlebih dahulu. " ucap Juno.
Dewi menghela nafasnya, ia mulai sesenggukan dan air matanya menetes, selemah itu ia menahan perasaannya sekarang dan mudah untuk meneteskan air matanya.
"Maaf, saya sekarang mudah sekali untuk menangis, saya terlalu terbawa perasaan sekarang. " ucap Dewi sesenggukan.
Juno tersenyum. "Nggak papa kalau mau nangis dulu, setidaknya kamu bisa lega dulu dengan nangis baru cerita, nggak papa. "
Dewi menggelengkan kepalanya, ia mulai menarik nafasnya dan mengusap air matanya.
"Tidak, saya akan bercerita langsung saja. Maaf jika nanti saya tidak jelas menjelaskannya. " ucap Dewi.
Juno menganggukan kepalanya, ia akan menunggu Dewi menceritakan yang sebenarnya, dengan menunggu Dewi yang menyelesaikan tangisannya.
Dewi menjelaskan apa yang terjadi dengannya, dimulai dengan hubungan pertemanannya, sampai masalah yang membuatnya menjadi tidak fokus seperti sekarang, Juno menyimaknya satu persatu dan mendengarkannya sampai akhir percakapan.
__ADS_1
"Gitu ya? "
Dewi menganggukan kepalanya, kemudian Juno menghela nafasnya dan memegang bahu Dewi.
"Nggak papa kok, Wi, anggap aja dia hanya mampir sebentar sekedar mampir, terus pergi entah kemana. " ucap Juno.
"Tapi, bukankah itu saya yang lupa sama teman sendiri? " tanya Dewi.
"Dewi, kalau temen kamu mikirnya karena satu kesalahan yang nggak bisa dimaafkan dan diperbaiki, berarti dia secara nggak langsung menunjukkan bahwa dia tuh nggak tulus temenan sama kamu, dia belum sepenuhnya bisa dewasa atas pertemanan, karena manusia nggak luput dari kesalahan yang dibuat. Kamu harus tahu, kalau temen tuh saling melengkapi, menerima dan memaafkan, kalau dari ketiga kriteria itu belum kamu temui sama temen kamu, berarti kamu salah milih dia jadi temen kamu, apalagi dia yang mau asingkan dirinya dari kamu. " jelas Juno.
Dewi menganggukan kepalanya. "Walaupun momen manis yang sudah dilewati? " tanya Dewi.
"Kalau momen manis doang bisa dirasakan, orang jahat aja bisa kasih jaminan hubungan manis loh sebelum mereka ngehabisin kita. " ucap Juno.
Dewi tersenyum, kemudian ia menyenggol Juno. "Kamu bisa saja istilahnya, Juno. "
"Nah, itukan kalau senyum jadinya manis. Teruslah tersenyum, karena senyum kamu tuh manis, Dewina. " ucap Juno.
Dewi menganggukan kepalanya, keduanya saling berbagi senyum kemudian berpelukan layaknya merasa bahwa masalah sudah selesai.
"Mau balik ke meja kerja atau tinggal disini aja? " tanya Juno.
"Saya kembali bekerja saja, saya tidak enak jika meminjam ruangan kak Tio untuk diam disini saja. " jawab Dewi.
Keduanya berdiri, kemudian beranjak dari tempat duduknya, dan berjalan menuju ke luar kantor bos mereka. Dewi merasa senang, karena ia sudah puas menumpahkan curahan hatinya kepada orang yang memberinya jalan dan saran, setidaknya bisa membantunya untuk membuat hatinya sedikit lega.
......................
Waktu kerja sudah habis, Dewi akhirnya memutuskan untuk segera pulang, karena dirinya yang sudah merasakan lelah setelah seharian bekerja di kafe, dan setidaknya ia berbagi teman cerita dengan rekan kerjanya di kafe tersebut.
Dewi mencari taksi, menunggunya di halte dan tak lama taksi datang kemudian ia menaikinya, butuh waktu setengah jam untuk ia pulang kembali ke apartemen.
Dewi melihat isi kota, tidak ada yang berbeda dengan pemandangan sebelumnya, bisa saja karena ia yang sudah mulai terbiasa dengan keadaan kota setelah beberapa bulan berada di sana.
Setengah jam berlalu, Dewi akhirnya sampai di apartemen, ia langsung memasuki apartemen tersebut dan menaiki lift menuju ke kamarnya.
Dengan beberapa makanan dan keperluan lainnya yang sudah Dewi beli, Dewi berjalan secara santai di lorong apartemen tersebut, ia mengambil kartu akses yang ada di tasnya kemudian mengambilnya dan mencocokannya di detector pintu.
Saat memasuki kamar apartemennya, Dewi terkejut melihat kamarnya yang sudah dihidupkan lampunya, sepasang sepatu pria berada di rak sepatu dan Dewi menyadari, seseorang masuk ke kamarnya.
"Siapa yang menyelinap masuk ke kamar ini? Bukankah kartu akses hanya aku yang punya sementara ini? " gumam Dewi.
Sapu terdekat berada di dekatnya, Dewi mengambil sapu tersebut dan berjalan mengendap endap menuju ke dalam kamarnya, tibalah di ruang utama, Dewi mendengar ketukan kaki yang sedang beradu dengan lantai.
"ENYAHLAH KAU!! "
Dewi berteriak, Gusti yang tengah duduk menonton televisi kemudian terkejut, seseorang yang secara tiba tiba masuk dan berteriak padanya membuatnya menjadi terkejut.
"Dewina, kamu mengejutkan saya dengan teriakan mu. " ucap Gusti.
Dewi menaruh sapunya di tepi dinding, kemudian ia menyipitkan matanya dan mendekati Gusti.
"Om? Kenapa om ada disini? " tanya Dewi.
Gusti menghela nafasnya, dan ia menatap Dewi.
"Saya mau tidur di sini, saya muak di rumah. "
Dewi salah mengambil kesimpulan, ia menatap ranjangnya yang terlihat kecil itu, kemudian Gusti menghela nafasnya.
"Tenang saja, saya akan tidur di sofa saja, tidak usah terlihat khawatir seperti itu. " ucap Gusti.
Gusti membaringkan tubuhnya di sofa, kemudian ia membenarkan tidurnya, sedangkan Dewi yang berdiri menatap Gusti yang tengah mengambil posisi untuk tidur.
Dewi berjalan menuju ke dapur, ia menaruh bahan makanan yang ia beli di dalam kulkas, kemudian menaruhnya satu persatu dengan menyusunnya.
"Om, apa om ingin makan? "
Tidak ada sahutan dari luar, Dewi memanggil Gusti sekali lagi, untuk memastikan Gusti yang menerima tawarannya untuk membuat makanan.
"Om? Om Gusti? "
Dewi kembali ke ruang utama, ia melihat Gusti yang tengah tertidur, ia tidak percaya secepat itu Gusti tidur dan tidak menghiraukannya.
Dewi mendekat, ia melihat Gusti yang tertidur, sudah tidak ada respon lainnya kecuali suara nafas yang tenang dan mata yang sudah tertutup, Gusti memang sudah tertidur.
Dewi merasa kasihan, ia berinisiatif untuk memberikan bantal dan selimut untuk Gusti, di dalam lemari pas sekali hanya ada tersisa selimut tebal cadangan dan bantal, ia membawanya menuju ke ruang utama.
Perlahan Dewi mengangkat kepala Gusti untuk ia selipkan bantal, kemudian menyelimuti tubuh laki laki dewasa itu dengan selimut yang ia temukan di lemari, memastikan semuanya sudah beres ia mendekat dan menatap Gusti yang tengah tertidur, alih alih tangannya yang ingin menyentuh wajah Gusti.
"Pantas saja bu Bella tidak ingin suaminya bersama wanita lain, om Gusti saja setampan ini, walaupun ia terlihat sudah mulai tua, namun yang membuatnya tampan adalah kharismanya. "
Wajah Dewi memerah, sedetail itu dia memuji diri Gusti, ia memutuskan untuk menjauh dari Gusti dan berencana untuk segera tidur, karena ia merasa lelah karena seharian bekerja, ditambah lagi ia yang sebelum pulang bekerja sudah muntah terlebih dahulu di kafe.
"Selamat malam, om, perjalanan ini masih terasa jauh untuk kita. " ucap Dewi.
Dewi mengecup kening Gusti, ia berjalan menuju ke kasurnya, kemudian merebahkan diri dan tak lama ia tertidur karena kelelahan, diiringi dengan ia yang mengelus perutnya dengan perlahan.
__ADS_1
...****************...