Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)

Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)
Eps 33: Perasaan yang baru


__ADS_3

...Happy reading 🧔...


......................


Setelah kejadian malam yang begitu membuat hati Dewi terasa hancur, Dewi mencoba bangkit dari rasa sakitnya, ia tidak ingin membuat hatinya begitu sibuk untuk memikirkan Gusti lagi, karena ia masih punya kesibukan lainnya selain mengurusi urusan hatinya.


Dewi juga sering merenung, pernyataan hatinya yang tertolak cukup membuatnya sakit, terkadang juga sambil menangispun ia mengingat sikap Gusti setelah mendengar pernyataannya itu.


"Kalau om Gusti saja menolak, akankah ada seorang laki laki yang akan menerima cintaku ini? " tanya Dewi pada dirinya.


Jelly menggonggong, ia mendekati Dewi dan menyenderkan kepalanya di kaki Dewi, Dewi menyuruh Jelly untuk mendekat dan menyuruh Jelly untuk menyenderkan kepala anjingnya di perutnya, kemudian Dewi mengelus kepala Jelly.


"Jelly, kalau aku cinta kamu, kamu mau menerima cintaku? " tanya Dewi.


Jelly hanya menggonggong, Dewi tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dan tertawa kecil, bagaimanapun ia tidak akan mengerti bahasa hewan, hanya suara gonggongan saja tanpa arti.


"Dasar anjing pintar... " puji Dewi sambil mengelus kepala Jelly.


Dewi memeluk Jelly, ia sangat gemas dengan anjing peliharaannya itu, Jelly hanya bisa diam dan juga ia akhirnya ikut bermain dengan Dewi.


Jelly pandai berakting, ia seolah sedang menggigit tangan Dewi, padahal hanya suaranya saja yang mendukungnya seperti sedang menggigit Dewi, Jelly memang sangat menyayangi Dewi walaupun ia hanya seekor anjing.


Tak lama setelahnya, pintu kamar Dewi diketuk, Jelly bangkit terlebih dahulu sebelum Dewi bangkit dari tempat tidur, Dewi berjalan dan membuka pintu kamarnya.


"Eni? Ada apa? " tanya Dewi.


"Hei, aku mau ngasih makanan yang aku beli, ini nikmat banget, cuss cobain. "


Dewi menatap piring yang berisi makanan berwarna merah, bentuknya lonjong kecil seperti sosis ditambah dengan bahan bahan lainnya, makanan baru yang Dewi lihat hari ini.


"Ya sudah, kalau begitu, ayo masuk ke dalam. " ajak Dewi.


Dewi memasuki kamarnya, diikuti oleh Eni mereka masuk ke dalam kamar untuk segera mencicipi makanan yang diberikan oleh Eni.


Dewi dan Eni duduk, sementara Jelly berjalan ke belakang untuk makan atau buang air besar di kamar mandi, Dewi mengambil sendok dan melihat makanan tersebut dengan menyentuh makanan tersebut dengan sendok yang ia gunakan.


"Ini benar-benar makanan, kan? " tanya Dewi.


Dewi menyendokkan makanan tersebut ke mulutnya, sementara Eni meyakinkan makanan tersebut bisa dimakan.


Saat tengah mengunyah nya, Dewi terhenti dan mengangkat kepalanya sambil mengunyah makanan tersebut.


"Gimana? Enak kan makanannya, Wi? " tanya Eni.


"Biasa saja, tidak lain rasanya seperti jajanan anak sekolah dasar pada biasanya, tetapi saya rasa lebih baik jajanan anak sekolah dasar. " ucap Dewi.


Ekspresi wajah Eni berubah, ia mengambil piring berisi makanan tersebut dan mengunyah nya.


"Kamu, udah susah payah aku sisain satu bungkus makanan ini, kamu mudah banget ngomong kalau jajanan anak sekolah dasar lebih enak daripada ini. " ucap Eni dengan cemberut nya yang mendukung.


"Saya tidak bisa berbohong, memang seperti itulah kenyataannya. Masalah kuahnya lebih enak daripada tekstur makanannya, saya lebih suka kuahnya. " ucap Dewi.


"Yaudah, aku abisin aja. "


Dewi mengambil air minum, kemudian memberikannya dengan Eni.


"Saya ingin hidup normal saja, Eni. "


Eni memutar kedua matanya, ia menggeram kesal mendengar Dewi yang mengatakan hal tersebut, ia juga melotot dengan Dewi.


"Kan, kayak gini yang kadang bikin aku kesel sama kamu, Wi, kalau lagi ngambekan sama om Gusti pasti larinya pengen hidup normal, nggak bosen apa sama kata kata kayak gitu? " kesal Eni.


"Ya saya kan mengungkapkan isi hati saya, malah ditolak seperti itu, bukankah itu menyakitkan? " tanya Dewi.


"Terus, kamu mau berharap apa sama perasaan om Gusti? Dia udah baik bisa jujur sama kamu, kalau dia itu nganggep kamu cuma sebatas bayaran aja, berarti nggak ada perasaan apapun lagi. Aku juga yakin, om Gusti pastinya masih sayang sama anak anaknya, walaupun sama istrinya aja dia nggak saling cinta. " jawab Eni dengan santai.


Dewi mendengarkan ucapan Eni dengan mencari keberadaan Jelly, Jelly yang berjalan santai kemudian mendekati Dewi, Dewi memeluk peliharaannya dengan memasang wajah sedih.


"Jelly, aku sayang sama kamu saja kalau begitu, tidak ada satu laki lakipun yang bisa mencintai aku, Jel. " ucap Dewi.


Jelly menggonggong, Eni hanya menggelengkan kepalanya, baginya peliharaan dan pemilik sama saja sikapnya, saling mendukung.


"Sekarang, rencananya apa? " tanya Eni.


Dewi hanya mengangkat kedua bahunya, kemudian mengelus Jelly yang tengah bermanja manja dengannya.


"Saya hanya ingin hidup normal, dan juga tidak peduli apa yang terjadi, saya juga ingin menikmati masa perkuliahan saya, saya juga ingin laki laki yang mencintai saya. " ucap Dewi.


Eni akhirnya menyerah, sekarang resiko tengah menunggunya, yaitu Gusti yang akan protes dengannya dan akan menerornya kali ini.


"Kamu nggak kuliah hari ini, Wi? " tanya Eni.


"Sebentar lagi, saya ingin bermain sejenak dengan Jelly, lagipula masih dua jam lagi akan masuk jam kuliah, saya akan menghabiskan waktu yang sebentar dengan Jelly. " jawab Dewi.

__ADS_1


"Oke... " ucap Eni.


"Kamu tidak ingin mencicipi masakan buatan saya? " tanya Dewi.


"Nggak, udah kenyang sama makanan buatanku, nggak selera lagi buat makan. " ucap Eni.


Dewi menganggukan kepalanya, sementara Eni keluar dari kamar Dewi, karena Dewi berencana untuk bersiap siap untuk segera pergi ke kampus.


"Jelly, nanti kamu sama pak Danu ya, aku ingin pergi ke kampus, tidak apa bukan? "


Jelly hanya menggonggong, itu berarti Dewi bisa meninggalkannya untuk segera ia pergi ke kampus.


Dewi bersiap siap, dengan Jelly yang mengikutinya hingga ke bawah, Dewi berencana untuk menitipkan Jelly dengan satpam yang tengah berjaga.


Berpapasan di lantai bawah, pak Danu yang membawa secangkir kopi kemudian melihat ke arah Dewi dan menyapa Dewi beserta Jelly.


"Halo Jeli, kamu mau main sama saya lagi? " tanya pak Danu.


"Kebetulan pak, kalau begitu, boleh tidak Dewi menitipkan Jelly dengan bapak? " tanya Dewi.


"Boleh, malah lebih bagus jika saya ada teman saat sedang berjaga di gerbang. " ucap pak Danu.


"Syukurlah, terimakasih banyak pak, kalau begitu saya minta tolong untuk menitipkan Jelly dengan bapak, ini makanan untuk Jelly. "


Dewi memberikan makanan kering untuk Jelly, pak Danu menerima satu persatu makanan milik Jelly yang sebelumnya diberikan oleh Dewi sesuai jadwal yang ada di bungkus makanan tersebut.


"Kalau begitu, saya pergi dulu ya pak, terimakasih. "


Dewi berjalan ke luar gerbang kosan, ia mencari taksi yang lewat untuk ia naiki, kemudian salah satu taksi berhenti dan Dewi menaikinya untuk segera pergi ke kampus.


.................


Sesampainya di kampus, Dewi membayar biaya taksi, ia turun dan berjalan menuju ke lorong kampus, tak ada yang beda seperti biasanya, masuk, absen, mengikuti pembelajaran dan tak lama setelahnya akan pulang.


Dewi bosan dengan kebiasaanya sendiri, ia terkadang lelah, tapi entah mengapa karena adanya Jelly, Dewi sangat bersemangat walaupun Gusti yang terus terusan mematahkan semangat dan perasaanya.


Dewi membawa barang barangnya, rencananya ia akan bekerja untuk hari ini, sedangkan ia juga ingin pulang sebentar, karena Dewi ingin bertemu dengan peliharaannya.


Secara tiba tiba angin kencang datang, anginnya kencang hingga membuat Dewi tertutup oleh rambut panjangnya yang hampir menutupi wajahnya, Dewi menjadi seperti kuntilanak dengan gaya rambutnya yang seperti itu.


"Anginnya begitu kuat.... " gumam Dewi.


Dewi melamun, ia berjalan sambil membenarkan rambutnya, entah apa yang ia pikirkan hingga ia termenung seperti sekarang.


Dewi yang sedang merenung menatap ke belakang, Daniel dengan motor besarnya mendekat ke arah Dewi, Dewi terkejut dan memperbaiki rambutnya yang kusut akibat angin yang cukup kencang,.


Dewi dengan cepat membenarkan rambutnya yang kacau, di depan laki laki yang ia kagumi, ia merasa malu jika bertatapan langsung dengan penampilan rambutnya yang kusut.


"Nggak usah di rapiin, udah cantik kok kamu, Wi. " ucap Daniel.


Dewi menjadi salah tingkah, wajahnya seketika merasa panas, ia terkena ucapan manis dari mukut Daniel yang memujinya.


"Bisa saja, tidak ada bagusnya jika rambut kacau, malah merusak penampilan saja adanya. " bantah Dewi.


"Itu namanya memuji, tidak salah bukan? " tanya Daniel.


"Terserahlah. Oh ya, apa kamu ingin pulang? " tanya Dewi.


"Yap, sudah waktunya untuk pulang, ya soalnya nggak ada kegiatan sosial anak anak kampus, lebih baik pulang saja. " jawab Daniel.


Dewi menganggukan kepalanya, kemudian Daniel mendekat dan menawarkan tumpangan untuk Dewi, Dewi awalnya menolak namun Daniel yang bersikeras menawarkan tumpangan untuk Dewi.


"Yasudah, saya akan ambil tumpangannya kalau begitu. "


"Nah, gitu kan bagus, yaudah sekarang kamu naik, bakal kuantar sampai gerbamg kosan kamu. " ucap Daniel.


Dewi menaiki motor Daniel, ia memegang ujung baju tepatnya di dekat pinggang Daniel, kemudian keduanya pergi dari parkiran untuk segera pulang.


Di perjalanan, Dewi dan Daniel mengobrol bersama, mereka kemudian merencanakan jalan jalan saat malam hari, hanya saja keduanya harus mengerjakan tugas kuliah mereka terlebih dahulu.


"Nanti malam kita jalan jalan yuk? Kan lumayan tuh, keliling malam malam bareng aku, kamu mau kan? " tanya Daniel.


"Boleh saja, tapi saya akan berpamitan dengan peliharaan saya, dia tidak ingin saya pergi tanpa kabar. " jawab Dewi.


Daniel tertawa kecil. "Sepertinya peliharaan kamu sangat baik, dan pastinya menggemaskan. "


"Ya, kalau bertemu dengan perliharaan saya nanti, akan saya kenalkan dengan kamu. " ucap Dewi.


Butuh setengah jam untuk sampai ke kosan, Dewi dan Daniel akhirnya sampai di depan gerbang kosan Dewi, dari lapangan di dalam kosan terlihat Jelly yang berlari ke arah Dewi, kemudian Jelly memeluk Dewi dengan erat.


"Jelly, dasar anjing manja... " ucap Dewi.


Daniel mendekat, ia mulai mengelus kepala Jelly, respon Jelly sangat bagus, Jelly dengan cepat akrab dengan Daniel, mungkin karena Daniel yang tujuannya tidak macam macam dan terlihat penasaran dengan Jelly.

__ADS_1


"Kamu suka anjing, Dewi? " tanya Daniel.


"Saya suka, apalagi anjingnya penurut seperti Jelly. " jawab Dewi.


Daniel mengelus kepala Jelly, kemudian ia dan Jelly mengobrol dikala Dewi dan Daniel bersamaan mengobrol di depan Jelly.


"Anjing pintar, kamu sepertinya sangat penurut dengan Dewi, Dewi pasti sangat menyayangimu. " ucap Daniel.


"Bisa saja, itu kebetulan aku bertemu dengan Jelly saat malam hari, aku terjatuh dan dia menyelamatkanku, sungguh sangat beruntung. " jawab Dewi.


Kedua mahasiswa tersebut mengobrol di bawah, ditambah lagi dengan pak Danu yang ikut mengobrol dengan keduanya.


"Yaudah, Dewi, kalau begitu aku pulang dulu ya, nanti malam jangan lupa. "


"Ya, saya akan mengingatnya untuk nanti malam, semoga saja malam nanti tidak turun hujan. " ucap Dewi.


Dewi dan Daniel terpisah, dari gerbang Dewi melihat Daniel yang mengendarai motor besar yang sebelumnya ia tumpangi.


"Eneng, kalau bawa pacarnya ke desa, saya yakin kalau bapak sama ibu neng bakal senang karena eneng bawa calon suami dari kota ke desa.


"Ah bapak, itu cuma teman saya saja kok, tidak lebih dari itu. Lagipula, saya yakin, pasti teman saya hanya ingin berteman saja, tidak lebih dari itu. " ucap Dewi.


Dewi berpamitan dengan pak Danu, ia dengan Jelly beranjak menuju ke kamar mereka untuk segera beristirahat.


...........


Malam hari telah tiba, Dewi yang tengah bersiap siap tidak sabar dengan reaksi Daniel, beserta dengan Jelly yang sudah kenyang membuatnya sudah siap untuk segera pergi dengan temannya itu sendiri.


"Jelly, sepertinya kamu akan kutitipkan lagi dengan pak Danu, apakah itu bagus? " tanya Dewi.


Tak ada kata lain selain menggonggong, Jelly membalasnya dengan gonggongan kemudian diiringi dengan mengelus kaki Dewi.


Dewi mengajak Jelly untuk ke bawah, dengan berjalan menuju ke bawah bersamaan, tak lama keduanya melihat penghuni kosan yang sedang bermain frisbee.


Jelly tanpa aba aba ia sudah bergerak saja, Jelly berlari dengan cepat ke arah penghuni kosan yang sedang bermain dan mengambil frisbee yang melayang sangat jauh.


"Jelly?! Makasih udah ngambilin mainan kami! " sahut sumringah penghuni kosan tersebut pada Jelly.


"Loh neng, mau pergi ya? " tanya pak Danu.


Dewi menganggukkan kepalanya. "Iya pak, kebetulan tadi siang ada janji, makanya sekarang saya bersiap saiap dan juga ingin meminta bantuan bapak untuk menjaga anjing saya sementara disini. "


"Boleh, tentu saja boleh, neng, malah Jelly tuh yang saya tunggu dari tadi. Yasudah, titip saja dengan saya dulu kalau begitu. " tawar pak Danu.


Tak lama suara klakson motor terdengar dari luar gerbang, Dewi menitipkan Jelly dengan satpam yang ada di gerbang kemudian pergi dengan Daniel.


Saat tengah asyik bersama dengan Daniel, ponsel milik Dewi berdering, itu adalah Gusti, tetapi Dewi mencoba untuk mengabaikannya.


Sebenarnya, Dewi mendapat pesan dari Gusti, karena Gusti ingin bertemu dengannya lagi.


Sayang, Dewi tidak dapat memenuhi kehendak Gusti, karena ia mempunyai janji dengan Daniel, bahwasanya Daniel ingin mengajaknya berkeliling malam hari dan bernyanyi bersama di karaoke.


"Siap ke lokasi pertama, Dewi? " tanya Daniel.


"Apapun itu, saya siap! " jawab Dewi dengan bersemangat.


Malam hari dilalui oleh Daniel dan Dewi dengan sangat baik, rencana tadi siang akhirnya terwujudkan juga, mereka dapat menikmati malam hari mereka dengan makan dipinggir jalan, karaoke bersama dan sekedar berkeliling.


"Pakai ini. "


Daniel memberikan jaket yang ia kenakan, Dewi sempat heran mengapa Daniel memberikan jaket miliknya.


"Malam, anginnya lebih bahaya, bisa masuk angin nanti. " ucap Daniel.


Dewi merasa diistimewakan, ia memakai jaket milik Daniel, aroma parfum yang lembut tercium di jaket tersebut, sepertinya Daniel menyukai parfum beraroma lembut.


Tak butuh waktu lama akhirnya Dewi dan Daniel sampai di kosan, Dewi diturunkan di depan gerbang dan mengembalikan helm yang diberikan oleh Daniel untuknya, dari depan gerbang saja ia sudah disambut oleh Jelly.


"Jelly, maaf ya kalau aku kemalaman pulangnya, aku tahu kamu pasti sangat menungguku. " ucap Dewi sambil memeluk Jelly.


Anjing itu hanya menggonggong saja, ia seolah olah mengerti dengan apa yang diucapkan Dewi barusan, tetapi Dewi menganggap bahwa itu adalah jawaban dari Jelly.


"Anjing baik. Wi, kalau begitu, aku balik dulu ya, lainkali kita jalan jalan lagi. " pamit Daniel.


"Baik, terimakasih untuk malam ini. "


Daniel akhirnya pergi, menyisakan pak Danu, Dewi dan Jelly yang berada di depan gerbang.


"Pak Danu, sebelumnya saya sangat berterimakasih, karena bapak sering membantu saya dalam menjaga Jelly. Jika nanti saya dapat kiriman sayur dari desa, saya akan berikan sebagian untuk bapak. " ucap Dewi.


"Tidak perlu repot, neng, terimakasih. "


Dewi mengucapkan terimakasih, ia juga berjanji akan memberikan sebagian hasil bertani yang akan dikirim oleh kedua orangtuanya dari desa untuk dirinya dan sebagiannya untuk pak Danu.

__ADS_1


...***********...


__ADS_2