
...Happy reading š§”...
......................
"Dihabiskan, nanti kamu kena marah sama om Gusti kalau makanannya tidak habis. "
Dewi sedang makan di meja makan yang berada di dapur, hanya makanan biasa, berupa sayur dan lauk pauk, itupun karena Gusti yang mengatur pola makannya atas anjuran dokter kandungan, tetapi ia merasa lebih baik ketika memakan sayur dan lauk pauk yang dipilih oleh Gusti.
Dewi menjalani hidup nya dengan biasa, ditambah Jelly yang menemaninya di kamar apartemen, ia tidak merasa kesepian seperti sebelumnya, ditambah lagi Jelly yang selalu membantunya jika ia sedang mual.
Dewi juga masih seperti biasa, ia bermain, berjalan jalan, dan makan bersama anjingnya, ia merasa bahwa Jelly benar benar yang ia butuhkan sekarang, disaat ia yang merasa kesepian saat Gusti yang terkadang menghampirinya dan terkadang tidak sama sekali berada di kamar untuk menemaninya.
Jelly menggonggong ke arah Dewi, Dewi yang sedang menikmati makanannya kemudian menatap ke arah Jelly, anjingnya beranjak pergi ke tempat makannya.
Dewi punya jadwal untuk hari ini, pagi hari ia akan ke kampus untuk kuliah, dan akan ke kafe saat hari sudah siang selepas makan siang, karena ia tidak ingin mengganggu teman teman lainnya untuk bekerja nantinya.
Sayang sekali, Dewi akan mampir ke kafe hanya untuk menyampaikan kepada semuanya bahwa ia akan berhenti bekerja, Dewi tidak sanggup mengingat hal tersebut untuk berpisah dari rekan rekan kerjanya yang ada di kafe.
"Jelly, berpisah dengan orang orang yang kita sayangi itu susah ya? Rasanya terlalu berat untuk berpisah denngan rekan rekan kerjaku untuk berhenti bekerja. "
Dewi bertanya dengan anjing peliharaannya, ia menjadikan Jelly sebagai teman curhatnya, karena ia yang merasa bahwa Jelly adalah teman ceritanya yang bagus, tidak akan protes ataupun mencibirnya, hanya akan mendengar suara gonggongan saja.
"Kamu hanya akan menyetujuinya saja, Jelly. Tapi tak apa, senang rasanya bisa mengungkapkan keluhan untuk aku bagikan padamu. " ucap Dewi.
Dewi menyelesaikan makannya, ia membereskan peralatan makannya, kemudian ia bersiap siap untuk pergi ke kampus.
"Jelly, aku tidak akan menitipkan kamu dengan siapapun, tapi di apartemen ini, kamu jangan nakal ya. Aku yakin, kamu anjing yang pintar. " ucap Dewi.
Dewi mengambil tas dan ponselnya, tak lupa surat pengunduran diri ia bawa, karena ia akan segera pergi ke kafe setelah jam kuliah selesai.
Saat ingin keluar kamarnya, Jelly seketika menggonggong padanya, Dewi berbalik arah dan melihat anjingnya yang duduk jauh dari pintu, tepatnya masih berada di ruangan, seperti memanggilnya dari jauh.
Dewi hanya melambaikan tangannya, ia menutup pintu kamar apartemennya, kemudian pergi menuju ke lift, sebenarnya Dewi tidak yakin ingin meninggalkan Jelly sendirian di kamarnya, karena Jelly termasuk baru di kamar apartemennya, dan hanya mengenal kamar mandi saja, belum keseluruhan ruangan yang ada di kamarnya yang dikenali oleh Jelly.
.
Seperti biasa, Dewi melewati waktu membosankannya di kampus, tanpa dukungan, teman dan sahabat disampingnya, ingin berteman dengan yang lainnya, sayang sekali kebanyakan dari mereka tidak sama sekali ingin berkenalan dengan Dewi, hanya beberapa saja yang berkenalan dan mulai berteman dengannya.
Dewi kadang merasa sedih, karena ia yang dikekang oleh dua orang yang berkuasa, membuatnya semakin dibatasi, entah itu pertemanan dan pekerjaan, ditambah lagi ia yang sedang mengandung seorang calon bayi dari Gusti, membuatnya benar benar terjebak di lingkaran setan.
Salah satu bola hampir mengenainya, dan juga Dewi menahannya dengan kakinya, kemudian seorang laki laki berlari ke arahnya, ia mengenal siapa laki laki tersebut.
Dua pasang mata dari kedua orang yang berbeda saling bertatapan, Dewi dan Daniel bertemu kembali, karena ia setelah lama bertemu dengan Daniel.
"Ini bolanya. " ucap Dewi.
Tanpa ada senyuman yang biasa Daniel berikan, ia mengambil bola tersebut, kemudian mengalihkan pandangannya dari Dewi dan membuang muka.
"Terimakasih, anak jurusan kedokteran. " ucap Daniel.
Daniel meninggalkan Dewi yang terdiam di lorong, tanpa satu katapun Dewi keluarkan, ia tahu bahwa Daniel benar benar menjauhinya, dan ia tidak berhak untuk menahan Daniel hanya untuk bisa berbaikan lagi dengannya.
Dari kejauhan, Dewi menatap Daniel yang sedang bermain bola dengan mahasiswa lainnya, ia hanya bisa pasrah apa yang terjadi pada kehidupannya, dan juga ia hanya bisa menahan kesedihannya karena yang ia kenali sebelumnya tidak lagi bisa memperbaiki hubungan pertemanan tersebut, Dewi benar benar merasa sendiri di lorong tersebut.
Dewi pergi, ia tidak ingin berlama lama sendirian di lorong tersebut, masih ada urusan lainnya untuknya, terutama ia yang akan berhenti bekerja di kafe tempat ia bekerja.
Butuh beberapa waktu untuk sampai di kafe, Dewi menggunakan taksi untuk menuju ke kafe tempat ia bekerja, dengan surat yang ia bawa, Dewi berjalan ke arah kafe, ia menarik nafasnya dan masuk ke kafe tersebut.
Melewati teman teman dan rekan lainnya yang tengah sibuk bekerja, Dewi berjalan menuju ke belakang, ia menuju ke ruangan bosnya.
Dari depan ruangan, Dewi mengumpulkan keberanian untuk bisa masuk dan bertemu dengan bosnya, yaitu Tio, bahkan ia saja tidak berani untuk masuk ke ruangan tersebut.
"Ada orang di luar? Silahkan masuk. "
Dewi disadari kehadirannya oleh Tio, ia kemudian mencoba untuk masuk ke dalam ruangan tersebut, dengan surat yang sebelumnya ia bawa untuk menjumpai Tio.
"Dewi, saya kira kamu nggak kerja hari ini, ternyata kamu datang. " sambut Tio.
Melihat wajah ramah dari bosnya, Dewi merasa bersalah ketika ia akan memberikan surat pengunduran diri, sedangkan ia saja masih nyaman bekerja di kafe tersebut.
"Kak, maaf sebelumnya, saya ingin memberikan surat ini dengan kak Tio. "
Dewi menjumpai ruangan Tio, bos dari kafe tempat ia bekerja, ia menatap surat tersebut dan terkejut dengan isi dan penjelasan dari surat tersebut.
__ADS_1
"Dewi, kenapa kamu ingin resign dari kafe? Apa ada kendala sebelumnya? " tanya Tio.
Dewi terbawa suasana, tetapi ia berusaha untuk menahan air matanya untuk keluar.
"Tidak ada, kak, Dewi cuma izin untuk berhenti bekerja di sini, karena Dewi rencananya ingin pindah ke desa lagi. Terimakasih sudah menerima Dewi untuk bekerja disini, banyak pengalaman yang bisa Dewi dapatkan disini, teman teman yang baik, termasuk kak Tio yang sangat baik bisa menerima Dewi yang terkadang tidak masuk kerja atau apapun itu. Dewi sangat senang bisa mengenal kak Tio dan teman teman lainnya. " jawab Dewi.
Tio menganggukan kepalanya, ia menerima surat tersebut, dan menyimpannya di dalam lacinya.
"Sementara menunggu keputusan dari saya, kamu bisa bekerja sebentar ya, saat selesai bekerja akan saya umumkan dengan teman teman kamu, bahwa kamu hari ini akan berhenti bekerja. Bisa kan? "
Dewi menganggukan kepalanya, ia beranjak untuk menuju ke ruang belakang, tepatnya ruangan para karyawan, ia menaruh barang barangnya dan memakai celemek, itu merupakan momen terakhirnya akan menggunakan atribut kafe itu lagi.
Dewi kembali bekerja, seperti biasa, ia diperhatikan dari jauh oleh Juno, dan Juno selalu memperhatikan Dewi dimulai dari gadis tersebut melayani pelanggan dan membereskan cangkir dan sebagainya yang berada di meja kasir.
.
Waktu kerja sudah habis, semua karyawan akhirnya menyelesaikan pekerjaan mereka, dan sudah saatnya Dewi pamit, sebelumnya Tio langsung muncul dari ruang belakang dan menghampiri paa karyawan yang saling memberi hi five setelah selesai bekerja.
Tio menepuk tangannya, sedangkan ia berdiri di samping Dewi, semua karyawan menatap ke arah Tio dan Dewi, seperti ingin memberikan pengumuman dengan semua orang yang ada di kafe tersebut.
"Guys, minta perhatiannya sebentar kemari... "
Semua karyawan mendekat, sedangkan jantung Dewi sudah berdebar debar, ia tidak tahu apa reaksi yang akan diterimanya ketika mendengar bahwa ia akan berhenti dari kafe, tempat sebelumnya ia bekerja.
"Ada apa, kak? " tanya salah satu karyawan.
Tio memegang bahu Dewi, ia menepuk nepuk bahu Dewi dan menatap ke arah para karyawan lainnya.
"Sebenarnya saya tidak ingin memberitahukan hal ini kepada kalian semua, tapi ini harus saya beritahukan untuk kalian semua. Dewina akan berhenti bekerja. "
Mendengar pernyataan dari Tio, semua karyawan kafe tersebut melongo tidak percaya, bahwa Dewi akan berhenti bekerja secepat itu, padahal bisa dibilang bahwa Dewi masih karyawan baru.
"Kak, kakak berhentiin Dewi karena masalah kemarin, kak? "
"Beneran kak? Kakak berhentiin Dewi karena dia nggak fokus kemarin ya? "
Akhirnya Tio yang diinterogasi oleh karyawan karyawannya, padahal ia hanya menyampaikan pesan dari Dewi saja, tetapi seolah olah ia yang benar memecat Dewi dari kafe.
Dewi memecah tuduhan tersebut, ia menjelaskan yang sebenarnya terjadi, bahwa ialah yang meminta hal itu sendiri tanpa campurtangan siapapun.
"Tapi, kenapa Wi? Kami punya salah ya sama kamu? " tanya Juno.
Dewi berusaha menguatkan dirinya, ia menggelengkan kepalanya, ia tidak merasa bahwa teman temannya yang membuatnya berhenti bekerja, itu atas kemauannya sendiri alias perintah dari Gusti.
"Tidak, kalian semuanya baik, saya sangat beruntung bisa bertemu dan berteman dengan kalian semua, tapi maaf, saya akan berhenti bekerja untuk kembali ke desa, terimakasih sudah menerima saya dengan baik, setidaknya saya bisa mengenal kalian sampai saat ini. Terimakasih atas waktunya, teman teman. " jelas Dewi.
Semuanya menatap sedih ke arah Dewi, mereka memberikan pelukan kepada Dewi, termasuk karyawan laki laki yang ikut memeluk Dewi, sebagai tanda perpisahan karena mereka tidak akan bertemu lagi dengan Dewi.
Tentu saja yang merasa terpukul adalah Juno, terlihat dari raut wajahnya ia tidak merelakan Dewi yang berhenti bekerja dari kafe, Dewi merasa bersalah ketika ia membuat teman laki lakinya itu merasa kecewa ketika ia akam berhenti.
"Sebelum kamu pergi, aku mau kasih kamu sesuatu, Dewi. " ucap Juno.
Juno berjalan ke belakang, ia mengambil sesuatu yang ada di ruang belakang, sedangkan Dewi berada di perkumpulan temannya ia hanya menatap teman teman lainnya yang menangis saat ia akan berhenti bekerja.
Sebuah boneka beruang besar berwarna cokelat terlihat dibawa oleh Juno, Dewi terkejut melihat ukuran boneka tersebut, ternyata boneka tersebut lebih besar apa yang ia kira.
"Dewi, kamu bawa aja boneka ini ya buat kenang kenangan kamu di kafe ini, anggap aja ini hadiannya dari aku sama karyawan lainnya. Kamu terima ya, Dewi? " ucap Juno.
Dewi menatap boneka beruang tersebut dengan tatapan terharu, ia menerima boneka tersebut dan menangis di pelukan boneka tersebut, kemudian menenggelamkan kepalanya di boneka tersebut.
Semua teman teman kerja Dewi memeluk Dewi, sebagian dari mereka juga ikut terharu, tak heran jika semuanya sangat menyayangi dirinya, karena ia yang tidak memilih dalam berteman, dan Dewi juga ramah dengan yang lainnya.
"Sepertinya saya akan segera pulang, terimakasih sudah meluangkan waktunya untuk saya. Sekali lagi saya berterimakasih dengan kalian semua. Selamat tinggal, sampai jumpa lain waktu, teman teman. " pamit Dewi.
Dewi melepas celemek yang ia gunakan dan melipatnya, bersamaan dengan tas dan barang barang yang ia bawa bersama dengan boneka beruang cokelat yang ia bawa, Dewi berusaha tidak melihat ke belakang dan mencoba untuk tidak langsung menangis di depan teman temannya, ia tidak bisa menumpahkan air matanya dengan cara seperti itu.
Dewi mencari taksi, tak lama ia menemukan taksi, ia membuka pintu belakang dan menaruh bonekanya di sampingnya, saat ia berbalik arah, teman temannya mengantarkannya sampai ke depan.
"Terimakasih semuanya, saya pamit. " ucap Dewi.
Dewi menaiki taksi, semua teman teman kerjanya melambaikan tangan ke arah Dewi, kemudian mereka mengucapkan selamat tinggal dan sampai jumpa dengan Dewi.
Tangis Dewi akhirnya pecah, ia menangis di dalam taksi sambil memeluk bonekanya, ia tidak kuat ketika ia yang terpisah dengan teman temannya, banyak kenangan di kafe itu dan pastinya sangat berkesan bagi pengalamannya selama ini.
__ADS_1
.
Di lain tempat, seseorang yang fokus dengan sebuah komputer, menunjukkan layar tersebut sedang memantau sesuatu, tepatnya memantau sebuah ruangan dengan penampakan sebuah anjing yang sedang tidur.
"Apa apaan maksudnya? Memelihara anjing di dalam kamar? "
Bella sedang memantau keadaan kamar apartemen yang dihuni oleh Dewi, ia tidak percaya saat seekor anjing yang juga ikut diam di kamar tersebut.
Bella juga tak lupa memeriksa ruangan ruangan lainnya, seperti kamar Dewi, ruang belajar, dan pintu ruang utama, ide Bella sangat nyeleneh saat kamera pengawas diletakkan di kamar milik Dewi, alhasil beberapa waktu sebelumnya, ia melihat Dewi yang sedang ganti baju di kamar tersebut.
Memasang kamera pengawas di kamar yang Dewi tempati baginya memiliki tujuan tersendiri, ia sengaja meletakkan kamera tersebut di kamar Dewi agar ia bisa mengetahui, apakah Gusti yang sering menghampiri gadis tersebut masih berbuat seenaknya dan berhubungan lagi dengan Dewi di kamar tersebut.
Satu alasan yang akan Bella tanyakan dengan Gusti, bagaimana bisa suaminya itu bisa mengizinkan seekor anjing dimasukkan di dalam kamar apartemen tersebut.
"Aku butuh jawaban dari Gustiawan! "
Bella beranjak dari ruangannya, ia berjalan keluar menuju ke ruangan lainnya, ia menyusul ke ruangan tempat Gusti bekerja, tepatnya ruang kerja milik Gusti.
Tanpa ada sapaan atau sebagainya, Bella langsung mendorong pintu tersebut dengan kuat, hingga asisten Gusti yang baru saja ingin keluar harus terkena imbasnya, Ruben terdorong dan kepalanya membentur pintu yang di dorong tersebut, alhasil Gusti terkejut melihat asistennya.
"Gusti, saya butuh jawaban dari anda! " tegas Bella.
"Jawaban apalagi?! Kamu tidak lihat keadaan asisten saya?! Lihat, dia terbentur pintu karena sikap kamu yang suka berbuat seenaknya! " tanya Gusti dengan nada suara yang tegas.
Bella tidak peduli, ia mendekat dan menggebrak meja kerja milik Gusti, tentu saja Gusti tidak menerimanya dan membalasnya dengan menepis tangan Bella dari mejanya.
"Hentikan merusak hak milik saya, selama saya tidak ingin berbuat kasar dengan kamu! "
"Saya tidak peduli! Katakan, apa ada sesuatu yang kamu izinkan berada di kamar Dewina itu, Gustiawan?! " tanya Bella.
Gusti menghela nafas kasar, ia menutup matanya dan mengacakkan salah satu tangannya di pinggang.
"Ya, memang Dewina memelihara anjing di kamarnya, dan saya baru tahu itu. " jawab Gusti.
"Memelihara anjing? Apa anda gila, Gustiawan? " tanya Bella.
"Mengapa kamu lebih menuntut saya? Itu keinginannya, selama ia tidak merengek atau apapun, terserah dengan dia. " jawab Gusti dengan enteng.
Bella menatap Gusti dengan tatapan tidak senang, kemudian ia menggebrak meja kembali, dan akhirnya tangannya ditahan oleh Gusti, kemudian Gusti menggenggam tangan Bella dengan kuat, sehingga membuat Bella meringis kesakitan.
"Kamu ingin tanganmu ini saya remukkan? Berhenti merusak hak saya, dan kembalilah bekerja di ruangan kamu tanpa mengganggu saya! " tegas Gusti.
Gusti menghempaskan tangan Bella, kemudian ia meninggalkan istrinya itu di ruangannya dengan meringis kesakitan akibat ia yang menggenggam tangan Bella dengan kuat.
Di ruangan tersebut, Bella meringis kesakitan, ia juga menangis ketika mendapat perlakuan kasar dari suaminya, ia menangis tanpa bersuara walaupun air matanya yang menetes banyak.
"Kamu kasar, Gustiawan, tidak adakah perasaan cinta lagi untukku seperti dulu? " gumam Bella disela tangisnya.
.
"Aku pulang. "
Jelly yang sedaritadi menunggu kedatangan Dewi kemudian menggonggong menyambut Dewi, dengan boneka beruang berwarna cokelat besar Dewi membawanya ke dalam kamarnya.
"Jelly, ini boneka untukmu. " ucap Dewi.
Dewi membawanya ke dalam, diikuti oleh Jelly yang mengikutinya dari belakang, kemudian Dewi menaruh boneka tersebut di sofa dan ia memberikan Jelly makan terlebih dahulu, karena terlihat bahwa mangkuk makanan milik Jelly sudah habis dan perlu diisi ulang.
Selesai memberi makan Jelly, Dewi tidak berniat untuk makan terlebih dahulu, ia ingin beristirahat di sofa dan menonton televisi, tidak ada siaran yang ia sukai selain menonton kartun.
Tak lama Jelly mendekat, Dewi menatap mangkuk makan milik Jelly, sudah habis dan ia mengajak Jelly untuk mendekatinya dan tidur disampingnya, Jelly duduk dan menyenderkan kepalanya di paha Dewi.
"Jelly, apakah kamu tahu, bahwa di perutku sekarang ada calon adik bayi? " tanya Dewi sambil mengelus anjingnya.
Jelly tampak mengerti, ia mengendus-endus perut Dewi, seakan Jelly menyambut calon bayi yang ada di perut Dewi, kemudian menggonggong ke arahnya.
"Jika dia lahir, terima dia sebaik mungkin ya, Jelly. Hanya kamu yang bisa menerima nya dengan baik. " ucap Dewi sambil mengelus perut dan kepala Jelly.
Jelly menggonggong kembali, sementara Dewi tersenyum, kemudian menatap ke arah boneka beruang besar tersebut dan merasa bersalah, karena ia rela meninggalkan kafe karena perintah.
"Hanya saja, tidak ada yang tahu sedikitpun, aku hanya sendirian kali ini. "
*
__ADS_1