Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)

Dewina (Gadis Desa Simpanan Om-om)
Eps 48: Gusti dan Jelly


__ADS_3

...Happy reading 🧡...


......................


Beberapa hari berlalu, Dewi menjalankan aktivitas nya seperti biasa, bisa dibilang sangat membosankan, hanya berdiam diri di apartemen dan hanya keluar dari kamarnya disaat akan kuliah ataupun membeli bahan makanan, ia benar benar merasa bosan terus terusan melewati hari hari tersebut.


Dewi menatap ke arah kaca, ia melihat perutnya yang mulai sedikit membesar, ia mengelus perutnya dan tidak percaya bahwa ia benar benar sudah hamil, dan sekarang hanya menunggu perkembangan selanjutnya dengan kandungannya.


Setiap mengingat calon anaknya, Dewi selalu mengingat kejadian yang akhirnya membuatnya hamil, malam kelam itu yang menyiksa dan membuatnya hampir mati, tetapi itupun karena Gusti yang mengakui bahwa seseorang menyelipkan sebuah obat, yang akhirnya membuatnya seperti sekarang.


"Sekarang tumbuhlah dengan baik, nanti kita tidak akan bertemu lagi, karena papamu yang akan mengambilmu bersama dengan mamamu, aku akan terpisah darimu. " ucap Dewi.


Bagi Dewi percuma berbicara dengan perutnya, bahkan ia mengira bahwa bayi tersebut tidak akan mendengarnya, karena ia yakin bahwa tidak akan terjadi apa apa dengan dirinya.


"Sudahlah, bisa gila kalau bergumam sendiri. " ucap Dewi.


Dewi menurunkan bajunya, kemudian membereskan kamarnya.


Jelly menggonggong dari luar kamar, Dewi menatap ke arah luar, dan ia melihat anjingnya yang menunggu nya di depan kamar.


"Sebentar, kita buatkan makanan untuk kamu ya. "


Dewi beranjak keluar kamar, bersama dengan Jelly ia berjalan ke luar kamar untuk memberi makan Jelly.


Selesai memberi makan Jelly, Dewi berencana untuk segera berangkat ke kampus, dengan membereskan barang barang yang akan ia bawakan ke kampus kemudian menenteng semuanya.


Jelly seperti biasa, ia akan berdiri di depan pintu, mengantarkan Dewi sampai ke depan pintu, hingga Dewi menutup pintu dan pergi dari depan.


Sebelum pergi, Dewi tidak melupakan hal yang biasa ia lakukan, pamit dengan Jelly dengan mengelus kepala anjingnya kemudian pamit.


"Jelly, aku pergi kuliah dulu ya, nanti akan pulang bersama om Gusti. "


Dewi menenteng tasnya, ia memakai sepatunya dan mengambil kunci dan kartu aksesnya kemudian membuka pintu kamar apartemen nya dan keluar, tak lupa ia melambaikan tangannya ke arah Jelly.


Jelly membalas pamit tersebut dengan gonggongan tersebut, kemudian Dewi pergi dari kamarnya.


Saat menuju ke lift, Dewi bertemu lagi dengan tetangganya yang sebelumnya menyapanya, keduanya tampak ingin menaiki lift tersebut dan berencana untuk turun bersama menggunakan lift.


"Baru ingin turun? " tanya wanita tersebut.


Dewi menganggukan kepalanya. "Iya bu, saya ingin turun. "


"Kalau begitu, naiknya sama-sama aja. " ajak wanita tersebut.


Dewi dan wanita parubaya tersebut turun menuju ke bawah, keduanya akhirnya menaiki lift tersebut, Dewi memilih lift menuju ke lantai utama dan lift beranjak turun ke bawah.


Di dalam lift, tidak ada percakapan sekali antara keduanya, entah Dewi dan wanita parubaya tersebut, mereka tidak memulai pembicaraan, ditambah lagi keduanya baru saling mengenal sebagai sebatas tetangga apartemen saja.


"Mau kemana? "


Dewi menoleh ke samping, ia melihat ke arah tetangganya tersebut.


"Saya ingin pergi ke kampus, sekarang sudah agak terlambat untuk pergi ke sana, makanya sekarang sudah termasuk terburu buru untuk pergi ke kampus. " jawab Dewi.


Wanita tersebut ber oh ria, sebelumnya Dewi menyodorkan tangannya ke arah wanita tersebut, ia ingin berkenalan dengan wanita tersebut.


"Perkenalkan, saya Dewina, ibu namanya siapa? " tanya Dewi.


Wanita tersebut menyodorkan tangannya ke arah Dewi, keduanya saling berjabat tangan dan berkenalan nama masing masing.


"Saya Tania, bisa panggil saya dengan bu Nia saja. "


Wanita parubaya tersebut adalah Tania, merupakan tetangga apartemen milik Dewi, dan sekarang keduanya menuju ke bawah.


"Salam kenal bu, semoga bisa dekat. " ucap Dewi.


Tak lama lift berhenti, menunjukkan masih berada di lift nomor 3, keduanya sedang asyik mengobrol disaat penghuni lainnya masuk ke lift dan memberhentikan lift yang sedang berjalan.


"Tinggal sendirian saja di kamarnya? " tanya bu Tania.


Dewi menganggukan kepalanya. "Benar, saya tinggal sendirian di kamar, kalaupun ada, itu hanya anjing saya yang ada di dalam kamar saya. Saya akan merasa bosan jika hanya di dalam kamar sendirian tanpa ada teman sama sekali. " jawab Dewi.


Tania menganggukan kepalanya.


Tak lama berselang, akhirnya mereka menuju ke lantai utama, turun bersama dan terpisah, entah itu pergi ke kampus, tempat bekerja, dan lainnya.


......................


"Kalau bisa, atur saja jadwalnya, saya dan Bella akan bertemu dengan klien-klien yang sudah ada janji temu dengan kami. "


Gusti sibuk dalam pekerjaannya, hampir setiap hari yang hanya ia geluti hanya kerja, kerja, kerja dan kerja.


Tetapi kesibukan tersebut sesuai dengan sifat laki laki itu, Gusti termasuk workaholic, ia sangat tekun dengan pekerjaannya, tidak heran terkadang ia jarang sekali pulang, dan jika pulang pun akan larut malam saat sebelumnya ia dan Bella belum bermasalah dengan pernikahan mereka.


"Ya, baik, terimakasih. "


Gusti menaruh telepon kantornya, ia kembali bekerja, dan tak lama ia melihat seseorang yang berdiri dan menyender di depan pintu sambil melipat kedua tangannya.


"Bella? Apa yang kamu lakukan disana? " tanya Gusti.


Bella tersenyum. "Tidak ada, saya hanya merasa senang saja, akhirnya sekian lama anda menolak menjadi partner saya bekerja dan bertemu klien-klien saya, hari ini juga anda menerima tawaran saya untuk bertemu dengan klien saya. " jawab Bella.


"Hanya saja ini masih menyangkut pekerjaan saya, tidak heran jika saya mengambilnya. " ucap Gusti.


Bella mendekat ke arah Gusti dan tersenyum.


"Tidak peduli apapun itu, saya bisa mengucapkan terimakasih dengan anda, anda memang bisa diandalkan. " ucap Bella.


Bella mencium kepala Gusti, Gusti menatap ke arah Bella dan menatap ke arah wanita tersebut, kemudian menyambut tangan wanita tersebut dan menciumnya dengan lembut.


"Kamu terlalu pandai menggoda saya, Bella. " ucap Gusti.


Bella tersipu, kemudian Gusti berdiri dan secara langsung menatap ke arahnya, Gusti langsung mencium Bella, keduanya terpaut dan Bella terkejut dengan reaksi tersebut, ditatap nya kembali mata cokelat indah laki-laki tersebut, terlihat mata tulus mengarah padanya.


Keduanya akhirnya berci*man, kemudian hal hal romantis lainnya mereka lakukan di ruangan tersebut.


'Bella... Bella! '


Bella tersadar, ia menatap ke arah Gusti yang sedang bekerja, ternyata ia sedang melamunkan sesuatu yang membuatnya menjadi terngiang-ngiang akan suatu hal yang romantis bersama dengan suaminya.


"Ada apa? Kenapa kita berhenti saling bercumbu? " tanya Bella.


Gusti terkejut, ia mengerutkan keningnya dan menatap Bella dengan tatapan aneh.


"Sejak kapan saya mencumbui kamu? Kamu gila, mustahil saya akan melakukan hal menjijikkan itu di dalam kantor saya, saya masih ingat tempat, asal kamu tahu itu. " jawab Gusti.


Bella tidak habis pikir, bagaimana ia bisa memikirkan hal tersebut yang jelas jelas mustahil terjadi, sedangkan Gusti saja menganggap hal tersebut merupakan hal yang menjijikan dilakukan di dalam kantor.


"Sudah, jika tidak ada urusan lagi, kamu bisa keluar dari ruangan saya, saya ingin pergi ke luar terlebih dahulu. Sore nanti kita bersiap siap, untuk bertemu dengan klien-klien kita. "


Gusti mengambil jasnya, ia meninggalkan ruangan tempatnya ia bekerja, sedangkan Bella yang masih di ruangan tersebut tidak percaya dengan pikirannya.

__ADS_1


"Bella, apa yang kamu pikirkan? Kamu merindukan sentuhan Gusti, tetapi Gusti saja menolaknya, bodohnya kamu, Bella. " gumam Bella.


Di lorong, Gusti mengotak atik ponselnya, ia mencari nomor seseorang yang akan ia telpon, yaitu Dewi.


Gusti mengetik nomor tersebut, ia menelpon nomor tersebut kemudian nomor tersebut tersambung.


......................


Di ruang kelas, terlihat para mahasiswa mahasiswi yang sedang membereskan semua barang barang yang telah dibawa, kelas sudah selesai dan mereka berencana untuk pulang setelahnya.


Ponsel milik Dewi berdering, Dewi mengambil ponselnya yang ada di dalam tas dan mengangkat telepon tersebut.


"Halo om, ada apa? "


'Kamu masih berada di kampus kan? '


"Iya om, saya masih di kampus, sekarang sudah ingin pulang. Om akan jemput saya, kan? " ucap Dewi.


'Ya tunggu saja di sana, saya akan jemput kamu. '


"Baik om, sampai jumpa. "


Dewi mematikan ponselnya, ia membereskan barang barangnya dan pergi dari kelas.


Saat menuju ke luar, Dewi melihat ke arah lapangan, terlihat bahwa sebagian mahasiswa mahasiswi berkumpul di lapangan dan terlihat beberapa orang berada di atas panggung.


Dewi tertarik, ia mendekat dan melihat perkumpulan semua mahasiswa mahasiswi yang berkumpul di lapangan tersebut.


"Gebrakan aksi merdeka! "


"Hiyaaaa! "


"Aspirasi dari mahasiswa seperti kita juga termasuk aspirasi rakyat! "


"Hiyaaa! "


Sepanjang mengikuti aksi demonstran, Dewi merasa bosan, hanya mendengarkan suara hati mahasiswa jurusan politik dan hukum, ia kira bahwa orang-orang dari jurusan tersebut sedang menyuarakan semangat para mahasiswa dan mahasiswi di kampus.


Dewi berusaha keluar dari kerumunan tersebut, ia berusaha berjalan ke lorong, lagi lagi ia bertemu dengan Daniel, tetapi ia mengalihkan pandangannya dari Daniel yang sedang membawa kardus berisi barang barang yang tidak ia mengerti.


Notifikasi ponsel Dewi berdering, Dewi mengambil ponselnya, ia terkejut ketika melihat task bar notifikasi pesannya, sudah hampir lima kali panggilan tak terjawab dan beberapa pesan dari Gusti.


"Gila, om Gusti sudah menelpon lima kali! "


Dewi berlari ke arah lorong, kemudian ia menabrak seseorang dan tubuhnya ditahan, Dewi mengenal orang tersebut dari parfum yang dikenakan dan ia menatap ke depannya.


"Om? "


"Kamu kemana saja? Sudah hampir beberapa kali saya menelpon kamu. " ucap Gusti.


Dewi berdiri, ia menjelaskan apa yang terjadi sebelumnya.


"Saya habis melihat gerombolan mahasiswa mahasiswi di dekat lapangan, saya kira menyemangati para mahasiswa mahasiswi disini, ternyata menyuarakan perasaan hati mereka. "


"Kamu mau ikut demo? " tanya Gusti.


Dewi menggelengkan kepalanya. "Tidak, saya tidak mau, tidak mungkin keadaan saya seperti ini ikut demo, yang ada malah saya celaka. "


"Untunglah kamu bijak, sudah, sekarang saya antar kamu ke apartemen, nanti sore saya akan ada pertemuan dengan klien bersama dengan istri saya. " ucap Gusti.


Dewi mengikuti Gusti, keduanya menaiki mobil, dan menuju ke apartemen.


"Baik, saya juga lupa akan memberikan kamu uang, sekalian saja akan saya berikan. "


......................


Selesai membeli bahan-bahan makanan, Dewi dan Gusti pulang menuju ke apartemen, keduanya menaiki lift dengan membawa bahan-bahan makanan yang sudah dibeli sebelumnya.


Dewi mengeluarkan kartu akses kamarnya, keduanya masuk ke kamar, seperti biasa Dewi akan berjumpa dengan Jelly yang menunggunya di depan kamar apartemen tersebut.


Jelly menggonggong ke arah Dewi, Gusti mengantisipasi dirinya dan berdiri di belakang Dewi.


"Jelly, sudah lama menunggu ya? Maaf ya. "


Dewi mengelus kepala anjing peliharaannya, ia mengajak Jelly untuk ke dapur, memberi makan Jelly yang belum makan siang sama sekali.


"Duduklah dahulu, om. " ucap Dewi.


Gusti duduk, ia menyenderkan tubuhnya di sofa apartemen tersebut, disebelahnya ada Jelly yang sedang berjalan ke arah dapur dan menatapnya, Gusti mengerutkan keningnya.


"Kenapa melihatku seperti itu, anjing? " tanya Gusti.


Tidak ada keakraban antara Gusti dan Jelly, terkadang Jelly sering iseng, menyembunyikan sepatu milik Gusti di bawah ranjang maupun terkadang melemparnya ke arah kamar mandi.


"Om, makan siang di sini dulu ya, kalau boleh, om istirahat saja dulu. " ucap Dewi dari dapur.


Gusti berdiri, ia beranjak dari sofa dan menyusul Dewi ke belakang, ia melihat Dewi sedang menyusun bahan makanan yang baru saja di beli di minimarket, sorot matanya tersorot ke arah piring yang bertumpuk di wastafel.


"Kamu tidak cuci piring, Dewina? "


Dewi yang sedang menyusun bahan makanan menatap ke arah Gusti, ia malu, karena secara langsung ia tidak mencuci piring, membuatnya terkesan malas karena tidak sempat mencuci piring.


"Maaf om, rencananya malam tadi saya ingin mencuci nya, tapi karena kecapekan, saya meninggalkan nya dan tidur. Saya cepat lelah sekarang. " jawab Dewi.


Gusti menggelengkan kepalanya, ia mengambil celemek dan memakainya, kemudian mulai mencuci piring.


Dewi terkejut melihat Gusti yang sedang mencuci piring, pemandangan biasa yang tidak pernah ia lihat.


"Kenapa? Mustahil kalau saya berberes seperti ini? " tanya Gusti.


"Ya, saya baru lihat saja, om. Biasanya orang-orang seperti om ini akan menyewa asisten di apartemen seperti ini. " jawab Dewi.


"Saya tidak suka ada yang mengotak atik kamar ataupun hak milik saya, kecuali saya yang mengizinkan, seperti kamu sekarang. " ucap Gusti.


Dewi menganggukan kepalanya, kemudian ia mulai mengambil beberapa bahan untuk ia masak, karena waktu makan siang sudah tiba.


Jelly berlari ke arah depan, sedangkan makanan Jelly masih bersisa, Gusti menatap ke arah piring Jelly yang masih bersisa.


"Dewi, mangkuknya juga dibersihkan, bukan? " tanya Gusti.


Dewi yang sedang membersihkan sayuran kemudian menganggukan kepalanya, Gusti melihat mangkuk anjing tersebut dan mulai mencucinya.


Jelly yang keluar dari kamar mandi kemudian kembali ke dapur, disaat ingin melanjutkan makannya, mangkuknya lenyap dari hadapannya, ia sampai bingung mencari keberadaan mangkuk makannya.


Jelly mengadu dengan Dewi, ia menarik narik kaki Dewi, Dewi menatap ke bawah dan melihat peliharaan nya yang mengarah ke arah tempat makan sebelumnya.


"Kamu mencari benda ini, bukan? "


Gusti menunjukkan mangkuk makanan milik Jelly, Dewi dan Jelly melihat mangkuk tersebut, kemudian Jelly menggonggong ke arah Gusti.


"Maaf Jelly, tadi aku yang tidak sengaja menyuruh om Gusti untuk mencuci mangkuknya, kami tidak tahu kalau kamu masih ingin memakannya. " ucap Dewi.

__ADS_1


"Lainkali kalau masih ingin makan, jangan tinggalkan begitu saja, tercuci kan bukan salah orang. " ucap Gusti.


Tatapan Jelly kesal mengarah dengan Gusti, ia menatap Gusti dengan tatapan mendalam, kemudian Jelly berjalan ke luar dapur.


"Tidak apa, om, saya sudah jelaskan dengan Jelly. " ucap Dewi.


Selesai mencuci piring, Gusti membilas tangannya dan berjalan ke depan, ia menuju ke kamar mandi untuk buang air kecil.


Gusti tidak sadar, bahwa ia dipantau dari jauh oleh Jelly, Jelly mendekati kamar mandi dan menggigit gagang pintu kamar mandi tersebut, otomatis kunci kamar mandi tersebut terkunci dan akhirnya Gusti terjebak dari dalam.


"Leganya. "


Gusti menghidupkan flash kloset, kemudian ia berjalan menuju ke pintu, saat ingin membukanya, secara tiba-tiba pintu terkunci dari luar.


"Ini kenapa pintunya terkunci? Dewi, buka pintunya...! "


Gusti menggedor gedor pintu kamar mandi, ia mengintip ke kolong bawah pintu, terlihat kaki anjing yang hanya dua, Gusti yakin, bahwa Jelly menguncinya dari luar dengan menahan gagang pintu kamar mandi tersebut.


"Dewi, anjingmu jahil! " teriak Gusti.


Dewi yang sedang memasak kemudian mendengar suara teriakan, ia berlari ke arah depan tepatnya menuju ke kamar mandi, ia melihat Jelly yang mengunci kamar mandi tersebut dengan gigitannya, sehingga suara pintu yang digedor dari dalam terdengar hingga ke luar.


"Jelly, jangan jahili om Gusti. "


Jelly menjauh, dengan mengibas-kibaskan ekornya ia seperti merasa senang, karena dapat membalas perlakuan Gusti yang menarik mangkuk makannya ke wastafel saat sisa makanannya belum ia habiskan.


Saat Gusti keluar dari kamar mandi, Jelly secara tiba-tiba menggonggong padanya, laki laki itu terkejut dan ingin kembali menutup pintu, Dewi menggelengkan kepalanya dan menyuruh Jelly untuk menjauh.


"Jelly, jangan seperti itu. " ucap Dewi.


Jelly berlari ke arah belakang, kemudian Dewi membuka pintu kamar mandi tersebut, Gusti keluar dan melihat ke arah luar, tidak ada tanda tanda Jelly berada di luar kamar mandi tersebut.


"Bisa tidak anjingmu itu diajarkan jangan jahil dengan orang lain? Sudah hampir beberapa kali saya harus dikerjai anjingmu itu. Lama lama kalau saya kesal, bisa saya buang anjingmu itu. " tanya Gusti.


"Jelly tidak pernah seperti itu dengan orang lain, om, setiap Jelly bertemu dengan orang baru, dia akan bersikap manja dan ramah dengan orang baru. Baru kali ini saya melihat Jelly secara terang terangan bersikap jahil dengan orang lain, biasanya Jelly seperti itu kalau dia tidak suka dengan orang yang tidak ia sukai. " jawab Dewi.


Gusti menghela nafasnya, ia menatap ke arah Jelly, terlihat bahwa anjing tersebut menatapnya dengan tatapan mengejek.


"Kalau begitu, ayo kita makan siang terlebih dahulu, masakannya sudah masak. "


Dewi dan Gusti berjalan menuju ke belakang, keduanya berjalan menuju ke dapur dan makan siang bersama.


......................


Selesai makan siang bersama, keduanya keluar dari dapur dan berjalan menuju ke ruang utama.


"Om, kalau ingin beristirahat, istirahat dahulu di sini, saya ingin mengerjakan tugas. " ucap Dewi.


Dewi menatap ke arah Jelly yang sedang duduk di sofa, ia teringat dengan sesuatu yang dibelinya, kemudian ia berjalan menuju ke dapur untuk mengambil sesuatu.


"Jelly lihat, aku baru saja membelikan kamu snack baru, aku yakin kamu suka. "


Jelly menggonggong ke arah Dewi, kemudian Dewi menaruh snack anjing tersebut di mangkuk makanan milik Jelly.


"Dimakan ya, aku ingin mengerjakan tugas. "


Dewi berjalan menuju ke meja tempat ia mengerjakan tugas, hanya Gusti dan Jelly saja yang berada di ruangan tersebut, Gusti menatap sekilas anjing tersebut sambil menatap ponselnya, terkadang juga ia memindahkan siaran televisi yang sedang tayang.


Suasana sunyi, hanya suara dari mangkuk yang berisik, snack yang beradu dengan mangkuk tersebut membuat ruangan tersebut berisik, Gusti menggelengkan kepalanya melihat anjing tersebut makan dengan lahap.


Suara berisik tersebut terhenti, Gusti merasa aneh, secara tiba tiba tidak ada lagi suara snack yang sedang beradu dengan mangkuk makanan, ia menatap ke arah Jelly dan melihat Jelly yang menjulurkan setengah lidah dan kepala yang menunduk.


"Hei, apa kamu tersedak? " tanya Gusti.


Gusti mendekat, ia melihat Jelly yang tersedak makanan tersebut, dengan pertolongan pertama ia mulai sibuk membantu Jelly untuk mengeluarkan snack yang menyangkut di lehernya.


"Buka mulutmu! "


Cara pertama gagal, cara cara lainnya Gusti lakukan, sayangnya Jelly masih membandel dan tidak mengikuti prosedur yang sedang Gusti lakukan untuknya.


"Om, ada apa dengan Jelly?! "


Dewi keluar, ia menghampiri Jelly dan Gusti yang berada di ruang utama, ia melihat Gusti yang sedang menekan perut Jelly.


"Anjingmu tersedak makanan, saya mencoba untuk membantunya mengeluarkan makanan yang ia telan. " jawab Gusti.


Gusti mengingat sesuatu, ia mencoba menepuk-nepuk punggung Jelly, kemudian ia memegang kedua kaki belakang Jelly membentuk gerobak.


"Dewi, tepuk belakang punggungnya. " perintah Gusti.


Dewi menepuk-nepuk belakang punggung Jelly, sedangkan Gusti mendorong dorong Jelly dengan memiringkan tubuh Jelly ke depan.


Satu snack keluar dari dalam mulut Jelly, Dewi merasa lega, akhirnya Jelly tidak tersedak, sedangkan Gusti mengelus punggung anjing tersebut dan mengambilkan tempat minum milik Jelly.


"Minum, setelah tersedak kamu harus minum. " ucap Gusti.


Jelly meminum air tersebut, sedangkan Gusti melihat Jelly sambil mengelus elus punggung anjing tersebut.


"Om, terimakasih sudah menyelamatkan Jelly, saya takut jika terjadi apa apa dengannya. " ucap Dewi.


"Ya, sama sama. "


Tak lama Jelly mendekat ke arah Gusti, ia menggonggong dengan suara yang berbeda dari sebelumnya, ia mendekat dan mengelus kaki Gusti dengan sikap manjanya.


"Hei, kenapa tiba-tiba? " tanya Gusti.


"Jelly menyukai om, dia berterimakasih dengan om yang sudah membantu nya untuk mengeluarkan makanan yang menyangkut di lehernya. " jawab Dewi.


Jelly menggonggong riang ke arah Gusti, kemudian Gusti berjongkok dan mengelus anjing tersebut, ia mulai merasa dekat dengan anjing tersebut.


"Ya sama sama, tetapi ini tidak setara dengan saya yang kamu kurung dari dalam, jangan kira saya melupakannya. " ucap Gusti.


Dewi tersenyum, ia mengabadikan momen tersebut dengan memotret Gusti dan Jelly yang sedang bersama, hal tersebut disadari oleh Gusti dan Gusti menatap ke arahny.


"Kamu memotret saya, Dewina? "


"Ya, saya ingin mengabadikan momen ini, om, jarang sekali saya dapat momen seperti ini. " ucap Dewi.


Setelah lama mengerjakan tugas di meja belajar, Dewi merenggangkan tubuhnya, ia selesai mengerjakan tugasnya yang lumayan banyak.


"Om, ingin saya—"


Dewi terhenti, saat ia menolehkan pandangannya ke belakang, ia melihat Jelly dan Gusti yang sedang tertidur di sofa, Gusti yang tertidur dengan kaki yang di selonjorkan, sedangkan Jelly tertidur di kaki Gusti.


Pemandangan baru yang kembali Dewi lihat, ia mendekat dan melihat kedua makhluk tersebut tengah tertidur, kemudian ia tersenyum.


"Habis berkelahi, sekarang berbaikan, mereka memang lucu. " ucap Dewi.


Dewi meletakkan bantal di kepala Gusti, kemudian ia menatap kedua makhluk tersebut, rasanya gemas untuk bisa mengganggu keduanya, tetapi ia mengurungkan niatnya dan membuat makan malam untuk Gusti.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2