
...Happy reading š§”...
......................
'Bagaimana ini? Ini secara langsung bertemu dengan pasangan om Gusti? '
Dewi hanya terdiam, ia gugup, entah percakapan apa yang ingin ia mulai dengan pasangan Gusti tersebut.
"Lumayan, di bagian apa dia bekerja, Gustiawan? "
Dewi terkejut, reaksi istrinya Gusti hanya biasa saja, bahkan bertanya seolah-olah tidak terjadi apa apa.
"Bagian HRD, tetapi dia jarang terlihat saja di kantor saya. Saya yakin, kamu pasti ingin berkenalan dengan teman saya ini. " ucap Gusti.
Bella menyodorkan tangan nya, kemudian tangannya dijabat oleh Dewi, mereka saling berkenalan dan melempar senyum masing-masing.
"Kalau saya lihat, penampilan kamu bagus ya, apa saja perawatan yang sudah kamu ikuti, hingga tubuhmu bagus seperti ini? Apakah perawatan kamu seperti saya? " tanya Bella.
Dewi diam, ia mencoba berpikir, ia mencari alasan untuk menjawab pertanyaan Bella barusan padanya.
"Perawatan yang sedang hangat dibicarakan, bu, sepertinya ibu tahu sendiri apa saja perawatannya itu. " jawab Dewi.
"Jawaban yang luar biasa, Gustiawan, tidak salah anda memilih HRD seperti ini, jawabannya tidak bertele-tele dan langsung ke poinnya, good. " puji Bella.
Dewi merasa lega, ia juga menatap ke arah Gusti, Gusti menunjukkan ekspresi yang sama halnya dengan dirinya, mereka sama sama lega.
"Asal jangan berbuat macam macam saja di belakang saya, jika ketahuan, akan ada konsekuensinya tersendiri. "
Bera;ih ke ancaman, hal tersebut membuat Dewi tambah cemas, tetapi dengan cepat Gusti menepis tuduhan tersebut agar rahasia keduanya tidak diketahui oleh Bella.
"Ucapanmu terlalu aneh, Bella, menuduh yang tidak tidak saja. " ucap Gusti.
"Saya hanya berjaga jaga saja, toh, bisa jadi itu benar akan terjadi. " ucap Bella.
"Papa tidak akan berbuat macam macam, mah, lihat saja, dia menjelaskannya dengan jujur. " sela Gita.
Bella berdecak, lagi lagi kedua anaknya terus terusan membela suaminya.
"Lagi lagi begini, sudah, kalau begitu saya akan pergi ke store tempat saya biasa berbelanja. "
Bella meninggalkan keluarganya, Gusti dan Dewi menatap sekilas, kemudian mereka mengikuti Bella.
Dari pantauan lain, Gina menatap sinis kepada Dewi, perasaannya dengan Dewi sepertinya tidak enak, ia takut jika papanya akan mendekati Dewi dan keluarganya akan benar benar hancur.
Saat berkeliling, Dewi menatap Gusti dan anak anak Gusti dari belakang, ia menatap sendu ke arah ketiga orang tersebut, bagaimana jika anak anak Gusti mengetahui sikap Gusti yang sebenarnya di belakang kedua anak gadis tersebut.
Dewi menatap ke sekitar, saat sedang memotret pemandangan di sekitar negara tersebut, ia terbayang jika ia benar benar berkuliah dengan baik, mungkin ia akan bebas ke negara ini sesuka hatinya.
Dewi juga mengingat sesuatu, pesan dari kedua orangtuanya, menginginkan dirinya agar berkuliah dengan baik di kota.
Dewi termenung, bagaimana jika kedua orangtuanya tahu dengan perlakuannya di kota, menjadi simpanan dan menjual tubuhnya demi uang, jika tahu pastinya kedua orangtuanya menjadi kecewa dengannya.
'Sepertinya selama ini aku sudah terlena dengan melayani om Gusti terus terusan, sampai hampir melupakan perkuliahan ku yang sebelumnya kujalani. Aku sudah melupakan kepercayaan kedua orang tuaku. ' ucap Dewi dalam hati.
"Tante ini beneran temen kerja papa? "
Dewi tertegun, ia menatap ke arah anak gadis tersebut, tampaknya Gita baru bertanya tentang dirinya.
"Ya, saya teman kerja ayah kamu. " jawab Dewi.
"Syukurlah, saya harap tante jangan macam macam dengan papa saya ya, hanya dia yang saya punyai setelah adik saya. Cukup bersama mama saja kami bisa hancur, jangan sampai tante yang membuat kami hancur lebur. "
Walaupun masih remaja, namun Gita bisa mengungkapkan isi hatinya, ia takut jika keluarganya yang sudah diujung tanduk akan benar-benar runtuh karena kehadiran Dewi.
Dewi diam, ia menggelengkan kepalanya seolah ia menyatakan tidak berbuat macam macam.
Gita menganggukan kepalanya, kemudian ia mendekati Dewi, dan merangkul lengan Dewi.
"Tante cantik, maaf jika saya terkesan mengancam, karena saya sedang berjaga-jaga saja, saya takut jika papa tertarik dengan tante. " ucap Gita.
Dewi hanya tersenyum, ia tahu bahwa gadis itu hanya bertanya untuk berjaga.
Walaupun begitu, tetap saja Dewi merasa bersalah, karena ia berbohong untuk menutupi kebenaran yang sebenarnya terjadi.
......................
Saat memasuki store barang branded, Dewi melihat kemewahan barang yang ada di dalam store tersebut, dan Bella dengan santai memasuki storer tersebut dengan anak anaknya, sementara Gusti dan Dewi mengikuti ketiga wanita tersebut, mereka juga menatap barang barang di store tersebut, entah apa yang membuat Bella begitu senang ketika memasuki store tersebut.
Dewi tak terlepas dengan salah satu tas yang ada di salah satu etalase, bentuknya tak lain dari tas yang dipunyainya, dan juga itu merupakan pemberian dari Gusti untuknya.
"Dewi, apa anda tidak membeli salah satu barang dari store ini? " tanya Bella.
__ADS_1
"Sepertinya belum, bu, terimakasih. " jawab Dewi.
Bella menganggukan kepalanya, kemudian ia fokus kembali mencari barang barang yang ada di store tersebut, sementara Dewi duduk di sofa yang tak jauh dari tempat barang barang tersebut berada.
Tak lama saat duduk, Gusti menghampiri Dewi dan duduk di dekat Dewi, Dewi terkejut dan sedikit menjauh dari Gusti.
"Kenapa menjauh? " tanya Gusti.
"Om, jika seperti ini, istri om akan tahu yang sebenarnya terjadi dengan hubungan kita, om, apalagi anak anak om yang sudah mengantisipasi keadaan ini sebelumnya, om. " jawab Dewi pelan.
Gusti tersenyum, ia menganggukan kepalanya, kemudian ia fokus dengan ponsel miliknya, Dewi menatap Gusti dengan tatapan panik, kemudian ia beralih ke arah lain untuk tidak terlalu dekat dengan Gusti.
......................
Sepanjang perjalanan selama sehari penuh, Dewi akhirnya memilih untuk memisah rombongan, tampaknya ia sudah merasa lelah untuk mengikuti keluarga Gusti berkeliling ke negara tersebut, sebelumnya Gusti menyelipkan separuh uangnya untuk pegangan Dewi, ia juga yang bertanggungjawab atas Dewi dan mengajak Dewi yang tidak tahu apa apa mengenai negara tersebut hanya untuk menjadi partner ranjangnya selama diluar negeri.
Dengan bantuan penerjemah di ponselnya, akhirnya ia diarahkan ke apartemen tempatnya bermalam, Dewi melihat hamparan gedung gedung dan spot pemandangan yang indah di negara tersebut, Dewi mengabadikannya lewat potret agar ia simpan dan tunjukkan pada Eni, bahwa ia sudah pernah berkunjung ke negara tersebut.
Sesampainya di apartemen, Dewi langsung membayar taksi yang ia naiki, karena selama di dalam taksi, ia diajak ngobrol, tetapi ia tidak mengerti bahasa supir taksi tersebut dan memilihnya untuk diam tak merespon, kecuali dengan menganggukan kepala serta menggelengkan kepalanya.
Malam hari akhirnya datang, Dewi membereskan barang barangnya, rencananya ia ingin meminta Gusti memesankan tiket pesawat untuk mengantarkan ia pulang ke negaranya, Dewi sudah cukup menikmati keindahan dan cinta satu malam di negara tersebut.
Pintu kamarnya diketuk dari luar, Dewi dari dalam sudah berpikiran, sepertinya yang berada di depan kamarnya adalah Gusti, segera Dewi membuka pintu kamar apartemennya dan menyambut siapa yang datang.
"Om Gusti? "
Gusti memasuki kamar milik Dewi, ia menutup kamar apartemen dengan membawa totebag beserta barang barang lainnya, tak lain semua barang barang tersebut akan diberikan untuk Dewi.
"For you, honey. " ucap Gusti.
Gusti memberikan totebag tersebut kepada Dewi, Dewi menerimanya dengan baik, bahkan dengan senyuman untuk Gusti, Gusti ikut senang, kemudian ia memeluk Dewi dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Dewi.
Saat memasuki kamar, Gusti melihat koper yang sudah disusun, Gusti terkejut dan menatap Dewi dengan mengerutkan keningnya.
"Dewina, kamu mau berbuat apa dengan semua koper koper itu? Apa kamu ingin melarikan diri? ' tanya Gusti.
"Tidak om, saya ingin pulang ke negara saya. "
"Secepatnya? " tanya Gusti.
Dewi menganggukan kepalanya, kemudian ekspresi Gusti sedikit berbeda.
Gusti belum rela melepas Dewi, apalagi hingga beberapa bulan, karena sebelumnya ia tidak pernah terpisah bertemu dengan Dewi, itupun setelah ia berhasil membuka segel milik Dewi dan melakukan hubungan berkali kali dengan Dewi.
"Baik, untuk pertemuan ini, saya ingin menikmati malam bersama kamu, saya tidak akan ganggu kamu setelah kamu sibuk dengan perkuliahan kamu. "
"Baik om, saya akan menuruti kehendak om, asalkan bayaran saya sudah om sediakan. "
"Bagi saya itu hal kecil, manis, sejak kapan saya tidak pernah bayar kamu sepersen pun. "
Dewi menyetujui keinginan Gusti, mereka berdua saling berpelukan dan berciuman layaknya sepasang pasangan, di apartemen kecil itu mereka melakukan hubungan tersebut lagi dan lagi.
......................
Keesokan harinya, Dewi berangkat lebih awal, karena tiketnya menunjukkan pagi hari untuk keberangkatannya menuju ke negaranya, itupun hanya ia sendiri tanpa ditemani oleh Gusti.
Dewi dengan barang barangnya kemudian menuju ke pesawat, sebagian barang barangnya ia taruh di bagian loket koper, dan mencari kursi tempatnya duduk dengan nomor yang tertera di tiketnya.
Selesainya para penumpang memenuhi tempat duduk masing masing, akhirnya pesawat lepas landas, Dewi akhirnya meninggalkan negara tersebut untuk kembali pulang ke negaranya.
"Kemana saja semalam? "
"Tidak, anda tahu sendiri bahwa saya ada urusan lain di negara ini selain berlibur dengan anak anak. "
Gusti lagi lagi diinterogasi oleh Bella, dengan alasan yang sama, yang membuat Bella percaya walaupun ekspresi wajahnya kurang meyakini alasan suaminya itu sendiri.
"Yasudah, kalau begitu mari kita menikmati waktu pagi hari ini dengan berendam di bathup bersama, saya sudah merindukan momen tersebut bersama anda, tuan Gustiawan. " ajak Bella.
"Ajakan kamu terlalu aneh, Bella. " remeh Gusti.
"Bisakah anda jangan membuat keributan? Bukannya saya dan anda biasa saja ketika saya mengajak anda mandi bersama? Dengan cara seperti itu, bukankah kita dapat menyenangkan kedua anak anak kita? " tanya Bella.
Gusti akhirnya menyerah, ia menuruti keinginan Bella, yang menurutnya keinginan tersebut aneh, apalagi ia sudah tidak n*fsu ketika bersama dengan Bella sehabis ia menikmati malam bersama Dewi.
Butuh seharian lebih, akhirnya Dewi sampai, dengan beberapa barang barangnya ia membawanya dengan perlahan.
"Anda Dewina? "
Seorang laki laki menghampiri Dewi, laki laki tersebut dengan jas hitam, mengampiri Dewi yang tengah membawa barang barang miliknya.
"Benar, saya Dewina, ada apa sebelumnya? " tanya Dewi.
__ADS_1
"Saya mendapat tugas dari tuan Gusti, bahwasannya saya diwajibkan mengantarkan anda ke kosan tempat anda tinggal, nona Dewina. " jawab pria tersebut.
Karena atas nama Gusti, Dewi akhirnya menganggukan kepalanya, sebagian barang barang miliknya dibawa oleh pria tersebut, ia mengikuti pria tersebut hingga ke dekat parkiran.
Sebelumnya, Dewi berniat dengan sisa uang yang ia punyai untuk membeli oleh oleh untuk ia bawa ke kosan, hitung hitung sebagai buah tangan untuk temannya yang berada di kosan, yaitu Eni.
Syukur saja supir yang mengantarkannya menuruti keinginannya, yaitu mampir ke tokoo cinderamata untuk membeli sebagian oleh oleh untuk temannya sehabis ia pulang dari Singapura, karena saat di negara itu ia tidak sama sekali berpikiran untuk membeli apapun selain hanya untuk menemani Gusti yang membutuhkan layanan darinya.
Dewi mendapat informasi toko oleh oleh itu saja dari pencarian web, dan menunjukkan toko cinderamata sebagai toko oleh oleh terbaik di kotanya.
"Tunggu sebentar ya, pak. " ucap Dewi.
Dewi memasuki toko cinderamata itu dengan menatap di sekitarnya, banyak sekali barang barang bagus di toko tersebut, hingga ia bingung mencari salah satu barang yang ada di sana.
Tertariklah ia di salah satu barang, Dewi menatap ke arah cinderamata yang berbentuk kaca yang di dalamnya terdapat bunga mawar, ia merasa mungkin itu hadiah cinderamata yang bagus untuk temannya.
Selesai berbelanja, Dewi melanjutkan perjalannya untuk pulang menuju ke kosan, supir tersebut membantu Dewi membawa barang barang tersebut ke dalam mobil kemudian melanjutkan perjalanannya.
......................
Memakan waktu sejam lebih, akhirnya Dewi sampai di kosannya, ia telah merindukan kosannya setelah tiga hari lebih berada di negeri seberang.
"Terimakasih sebelumnya. " ucap Dewi.
Dewi memasuki kawasan kosan miliknya, ia menaiki tangga dan membuka pintu kamarnya, di depan kamar tak jauh dari kamarnya, seseorang yang ia rindukan tampak berdiri di depan kamarnya.
"Eni! "
Seseorang yang dimaksudkan oleh Dewi menolehkan kepalanya, Dewi berlari ke arah Eni dan langsung memeluk Eni dengan erat, ia sangat merindukan Eni selama ia berada di Singapura.
"Kangen banget kayaknya kamu, Wi. "
"Tentu saja, saya sangat merindukan kamu saat di sana. Pemandangan disana sangat bagus, baru pertama kali saya dibawa ke luar negeri, walaupun agak susah di sana untuk mengerti arti bahasa orang orang disana. " jawab Dewi.
"Yasudah, ayo Ni, masuk ke kamar saya dahulu. " ajak Dewi.
Dewi membuka pintu kamarnya, Eni mengikutinya dari belakang dan masuk ke kamar Dewi.
Dengan beberapa barang yang ada, Dewi kemudian memberikan totebag berisi cinderamata yang sebelumnya ia belikan untuk Eni, Eni menerimanya dengan baik.
"Ini, Ni, saya bawakan oleh oleh untuk kamu, semoga kamu suka dengan oleh oleh yang saya bawakan untuk kamu. " ucap Dewi sambil menyerahkan totebag tersebut.
"Wah, makasih ya, Wi. " ucap Eni.
Eni menerima totebag tersebut, ia menatap sebentar ke arah totebag tersebut dan menyadari sesuatu, Dewi ikut mengerutkan keningnya.
"Ada apa, Ni? " tanya Dewi.
"Ini kayaknya nggak asing deh, kamu beli ini di toko cinderamata di dekat bandara kan, Wi? " tanya Eni.
"Kamu tahu, Ni?! " tanya Dewi penuh kejutan.
"Ya iyalah, langganan disana soalnya, nggak heran kenapa aku tau sama barangnya. " jawab Eni dengan santai.
"Sebelumnya maaf, kalau oleh olehnya tidak terlalu istimewa. Soalnya saat di luar negeri, saya tidak teringat ingin berbelanja apa di sana untuk buah tangannya. " ucap Dewi dengan rasa bersalah.
Eni menghela nafasnya, ia mendekati Dewi dan tesenyum ke arah Dewi.
"Just kidding, Wi, sebelumnya makasih ya, aku tau effortnya kamu pas beli barang ini buat, makasih ya Wi, aku seneng banget bisa dapat ini langsung dari temen sebaik kamu. "
Dewi melebarkan matanya, ia baru kali itu mendapatkan ungkapan terimakasih oleh temannya, tepat orang baru yang ia kenal mengungkapan ucapan terimakasih padanya, hanya dengan barang yang terlihat biasa tersebut.
"Ya, sama sama, Ni, saya senang ketika kamu menyukai barang yang saya berikan. " ucap Dewi tersipu.
Kedua gadis tersebut asyik bercerita, dan membuka barang yang telah diberikan oleh Gusti untuk Dewi, Dewi membagi ceritanya kepada Eni sesuai isi uneg unegnya.
"Seriusan?! Kamu pengen menjauh dari om Gusti?! " tanya Eni dengan nada kaget.
"Ya, saya ingin berkuliah, Ni. " jawab Dewi.
"Aku nggak nyangka sih, kamu bisa banget lepas sementara dari om Gusti. Kamu nggak rindu apa sama dia? " tanya Eni.
"Saya masih punya cita cita, Ni, walau saya sudah menjadi pelacur pun sekalian, saya masih punya cita cita untuk masa depan saya sendiri. " jawab Dewi.
"Duh bahasanya, yaudah deh, itu pilihan kamu sendiri, jangan sampai ngulang kayak kemarin lagi lah ya, ntar ngomong kayak ginian, ujung ujungnya balikan lagi sama om Gusti. " ucap Eni.
Dewi menganggukan kepalanya. "Ya, itu lihat saja kedepannya. "
Eni lagi lagi mengangkat bahunya, seolah ia mengatakan terserah, padahal dalam hatinya tidak ingin jika Dewi melepas sementara dari Gusti.
...****************...
__ADS_1