
Penantian Dewi delapan bulan lamanya akhirnya tiba, setiap hari ia penuh harap, bahwasannya ia masih terngiang ngiang dengan jenis kelamin anaknya, bukannya memikirkan bagaimana metode lahirannya nanti, ia malah memikirkan jenis kelamin anaknya.
"Kini beratku sudah hampir 70 kilo. "
Dewi mengelus perutnya yang sudah membesar itu, ia menghitung hari ketika ia akan melahirkan, dan hal yang membuatnya khawatir adalah nasib anaknya ketika akan dilahirkan, sementara ia yang harus menepati perjanjian yang telah dibuat.
"Kalaupun memang harus berpisah, apa boleh nanti suatu hari aku dan calon anakku ini bisa dipertemukan kembali, Tuhan? "
Dari arah dapur, Dewi mendengar suara anjing peliharaannya yang tersedak sesuatu, Dewi meletakkan timbangannya di bawah sofa, kemudian menyusul ke arah dapur untuk melihat keadaan peliharaannya yang terdengar tidak baik baik saja.
"Jelly, ada apa dengan kamu? "
Dewi menghampiri anjing peliharaannya, namun kondisinya saat ini terlihat tidak baik baik saja, Jelly terlihat sayup, dengan bulunya yang lusuh terlihat bahwa anjing itu sedang sakit.
"Jelly, kamu sakit? " tanya Dewi.
Jelly melolong namun dengan suaranya yang melirih, ia terlihat tidak baik baik saja, Dewi mencoba meraba kening anjing peliharaannya itu, kemudian merasa bahwa Jelly panas.
"Ayo, kamu istirahat dulu, aku akan ambilkan obat untuk kamu. " ucap Dewi.
Dengan perlahan, Dewi mencoba mengangkat anjing peliharaannya menuju ke ruang utama, sebelumnya ia akan menaruh handuk di atas sofa, dan ia meletakkan Jelly di atas sofa tersebut secara perlahan.
Dewi beranjak untuk mengambil kotak obat, ia ingin memberikan obat paracetamol untuk anjing peliharaannya, karena dirasa bahwa Jelly terlihat demam.
"Jelly, kita minum obat dulu ya. "
Dewi dengan perlahan meminumkan obat tersebut kepada Jelly, Jelly tampak pasrah ketika obat memasuki mulutnya, dan sekarang Jelly membaringkan kepalanya di sofa kembali, Dewi mengelus anjing peliharaannya tersebut secara perlahan, hingga Jelly melirih ketika tubuhnya dielus oleh Dewi.
"Istirahat dulu ya. "
Dewi beranjak dari sofa, kemudian ia kembali membereskan ruang apartemennya yang terlihat sangat berantakan, sesegera mungkin ia harus menyelesaikannya sebelum ia pergi periksa kandungan.
.
'Kali ini saya tidak bisa menemani kamu, Dewina, jadi saya harap kamu bisa pergi sendiri, saya masih berada di luar negeri sekarang, besok mungkin saya akan pulang secepatnya. '
"Iya, tidak apa apa om, saya bisa pergi untuk periksa kandungan sendiri. " ucap Dewi.
'Besok saya kirimkan pelatih yoga untuk menjadi instruksi yoga kamu, sekarang kamu harus memperbanyak latihan yoga untuk memperlancar persalinan kamu nantinya. '
"Baik om, terimakasih. "
Panggilan berakhir, Dewi menaruh ponselnya di dalam tasnya, sembari menunggu namanya untuk dipanggil ke dalam, karena kebetulan pada hari itu ruang spesialis kandungan sedang ramai pasien, sehingga Dewi ikut menunggu di luar bersama dengan pasien lainnya alias ibu hamil lainnya.
"Periksa juga? "
Dewi yang sedang melamun kemudian pandangannya ke samping, ia menatap ke arah seorang ibu ibu hamil yang mengajaknya mengobrol, Dewi celingukan dan menunjuk ke arah dirinya.
"Saya? " tanya Dewi.
"Iya, periksa juga? " tanya ibu ibu tersebut.
Dewi tersenyum. "Iya, saya mau kontrol kehamilan sebelum persalinan, sekalian ingin periksa jenis kelamin anak juga. "
"Loh, belum periksa jenis kelamin anak? "
"Sebenarnya sudah, tapi masih ragu saja, soalnya dengar dari orang orang kalau jenis kelamin calon bayi bisa berubah, jadinya ini kali kedua saya memeriksakan jenis kelamin anak saya. " jelas Dewi.
"Wah intinya pengen punya anak laki laki atau perempuan? "
"Kalau bisa, semoga nanti dapat laki laki, ini juga dari bentuk perut bisa jadi jenis kelaminnya laki laki. Saya begitu ingin punya anak laki laki. " jawab Dewi.
"Wah, memang sebelumnya punya anak perempuan ya? Udah rencana sebelumnya ya ingin punya anak laki laki? "
Dewi terdiam, sudah terlalu jauh ia mengobrol soal kandungannya dengan orang lain yang ada di sampingnya, dan sekarang dirinya ditanya apakah dirinya akan berencana memiliki anak laki laki, sementara kehamilannya saja merupakan ketidaksengajaan, lebih jelasnya ia hamil diluar nikah.
"Mbak? "
"Ah, tidak, ini kehamilan pertama saya, dan juga saya memang ingin punya anak laki laki, karena saya suka anak laki laki, sekalian bisa jadi jagoan saya nantinya. " jawab Dewi.
Sebenarnya itu alasan yang tiba tiba terucap dibibirnya, namun ibu ibu yang terus saja bertanya tentang kehamilannya kemudian percaya dengan jawabannya barusan.
"Begitu ya? "
"Iya bu. " ucap Dewi.
"Dimana suaminya? Nggak ditemenin periksa kandungannya? "
Dewi lagi lagi ditanya dengan pertanyaan yang diluar nalar baginya, masalahnya Gusti bukan suaminya, hanya saja ia adalah simpanan laki laki itu, jika mengaku saja, maka ia sudah melewati batasnya dengan Bella karena mengaku bahwa ia adalah istrinya Gusti.
"Ibu Dewina Ayunda Ningsih. "
Nama Dewi akhirnya dipanggil, Dewi kemudian bangkit dari tempat duduknya, dan tersenyum ke arah ibu ibu yang berada di sampingnya.
"Kalau begitu, saya duluan ke dalam ya bu. " ucap Dewi.
__ADS_1
"Iya, semoga anaknya laki laki ya. "
Dewi kemudian masuk ke ruang spesialis kandungan, seperti biasanya ia periksa sebelumnya, memberikan buku panduan dan sekarang juga memeriksakan jenis kelamin anaknya kembali.
"Kita mulai saja ya, sebelumnya, sudah periksa jenis kelamin anaknya? " tanya dokter tersebut.
Dewi menganggukkan kepalanya. "Sudah dok, tapi boleh untuk periksa kembali? Soalnya saya masih ragu untuk hasil pemeriksaan pertama. "
Dokter kandungan tersebut menganggukkan kepalanya, kemudian memulai untuk memeriksa kandungan Dewi dengan alat USG, layar monitor itu menuju kepada kandungan Dewi yang terlihat perkembangannya.
"Perkembangannya sangat baik, hanya saja mungkin berat janinnya yang masih kurang, ibu bisa untuk menambahkan berat janinnya, seperti makan es krim begitu. "
"Memangnya ampuh, dok? " tanya Dewi.
"Bisa saja kok, tapi jika ibunya ingin persalinannya mudah, berat janin seperti ini termasuk ideal untuk memperlancar persalinan nantinya. " jelas dokter tersebut.
Dewi menganggukkan kepalanya, kemudian dokter kandungan itu memeriksakan hal yang lainnya, dan memperbesar ukuran sesuatu dari layar monitornya.
"Apa ibu tau? Jenis kelamin anaknya laki laki. "
Dewi yang mendengar hal tersebut kemudian merasa bahwa itu sebuah kejutan, bahwasannya ia yang kemarin terlalu mengkhawatirkan jenis kelamin anaknya, sekarang mendapat keajaiban, bahwa ia dari awal sudah mengandung seorang anak laki laki.
"Tapi, saat saya periksa ke dokter kandungan lainnya, anak saya jenis kelaminnya perempuan. Itu bagaimana, dok? " tanya Dewi.
"Mungkin saat pemeriksaan sebelumnya, posisi bayi membelakangi USG, mungkin tidak benar benar terlihat bahwa jenis kelamin anak ibu ini perempuan. " jawab dokter tersebut.
Dewi tak bisa memendam perasaan senangnya, ia begitu sumringah ketika mendengar jenis kelamin anaknya laki laki, sesuai keinginannya, bahwa ia sangat menginginkan seorang bayi laki laki, itu juga untuk merupakan persyaratan yang akhirnya dapat terbayarkan dan menyelamatkan dirinya dari jerat hukum yang diberikan oleh Bella padanya.
"Perbanyak geraknya ya, bu, karena letak janin sudah menuju ke pinggul, agar jalan lahir lebih mudah dan lancar. " himbau dokter tersebut.
"Baik dok, terimakasih. "
.
Dewi terus saja melihat hasil pemeriksaan kandungannya, ia merasa senang ketika hasil USG yang menunjukkan ketika jenis kelamin anaknya laki laki, sepanjang ia berada di lift, Dewi terus tersenyum melihat foto USG itu.
Namun sesuatu yang membuat Dewi menjadi sedih, ia memikirkan sebuah perpisahan nantinya dengan anaknya, karena sesuai perjanjian ketika ia berhasil melahirkan anak laki laki, maka anaknya akan diambil dan ia akan melanjutkan perkuliahannya dengan dibiayai oleh Gusti dan Bella sebagai kesepakatan.
"Bisa tidak ya aku berpisah dengan anakku? "
Tiba di depan pintu kamar apartemennya, Dewi menempelkan kartu aksesnya, kemudian ia membuka pintunya dan kembali menutupnya.
Dewi mengingat sesuatu, ia berjalan ke ruang utama, terlihat anjingnya yang sedang tertidur dengan kondisinya yang masih terlihat sakit, Dewi menghampiri Jelly dan mengelus kepala anjing peliharaannya.
"Jelly, kamu terlihat lemas. "
"Jelly, seharian kamu tidak mau makan, kamu minum susu saja ya. "
Dewi berusaha membujuk Jelly yang susah untuk diajak makan, ia merasa bahwa keadaan Jelly memburuk, rencananya Dewi akan membawa Jelly ke dokter hewan esok hari jika keadaan anjing peliharaannya itu tidak membaik.
"Jelly, makan sedikit saja ya, aku bantu kamu untuk ke dapur, biar kamu makan. "
Dewi mengangkat tubuh Jelly, tubuh yang terkulai itu mengikuti pergerakan Dewi, dan sesampainya di dapur, Dewi membantu Jelly untuk memakan makanannya, walaupun sedikit demi sedikit makanan tersebut masuk ke dalam mulut Jelly.
Seharian, Dewi hanya diam di dalam apartemennya, pikirannya penuh dengan kekhawatiran dan fokusnya teralihkan pada Jelly yang sedang sakit, ditambah lagi Jelly yang susah sekali untuk diajak makan.
"Jelly, kamu tidur dengan aku saja. "
Dewi kembali mengangkat Jelly menuju ke kamarnya, tak lupa dengan menaruh handuk di kasurnya untuk menjadi alas anjing peliharaannya itu, kemudian membaringkan Jelly yang masih lemas, dan Dewi menaiki kasurnya untuk segera tidur.
"Kalau besok keadaanmu masih belum membaik, kita akan pergi ke dokter hewan. " ucap Dewi.
Dewi mengelus kepala Jelly, ia melihat keadaan anjing peliharaannya tidak seperti biasanya membuatnya semakin sedih, karena Jelly yang ia kenal adalah seekor anjing yang sangat lincah dan riang, sekarang menjadi lemas dan terkulai tak berdaya karena sakit.
"Jangan tinggalkan aku sendirian, Jelly, setelah anak ini lahir, aku dan dia akan berpisah. " lirih Dewi.
.
Keesokan harinya, Dewi kembali membereskan kamar apartemennya itu, karena sebelum instruksi yoga yang dipesan oleh Gusti datang ke apartemen untuk melatihnya.
Dewi juga memindahkan Jelly di sofa, sorot sinar matahari tempat anjingnya itu akan dijemur dari dalam ruangan, sementara Dewi membereskan apartemen.
Selang beberapa lama setelah membereskan kamar, bel kamar apartemen tersebut berbunyi dari luar, Dewi kemudian menyambut suara tersebut dan berlari ke arah pintu utama kamar apartemennya itu.
"Benar ini kamar atas nama Dewina? " tanya laki laki tersebut.
"Benar kak, silahkan masuk. "
Dengan karpet yoga yang dibawa, laki laki yang berprofesi sebagai instruksi yoga tersebut kemudian memasuki kamar apartemen Dewi, sementara Dewi mengambil karpet miliknya dan juga air minum untuk menjamu pelatihnya itu.
"Silahkan diminum, kak. "
Selesai menjamu instruksi yoga itu, Dewi kemudian memulai pelatihan yoganya, dari pemanasan hingga gerakan yang ditunjukkan oleh instruksi yoga tersebut.
"Ayo, tubuhnya direnggangkan. "
__ADS_1
Sorot mata Dewi hanya mengarah kepada anjing peliharaannya yang terbaring lemas di atas sofa, dan juga suara lirih mengeluh terdengar sepanjang instruksi yoga sedang berjalan, Dewi benar benar tidak fokus karena Jelly yang keadaannya tidak baik baik saja.
Namun keluhan Jelly mengalihkan fokus Dewi, Dewi kemudian berlari ke arah anjingnya dan mendekat, terlihat alur nafas Jelly tidak normal, hal tersebut membuat Dewi khawatir dan panik.
"Kak, bisa hubungi dokter hewan terdekat? Anjing peliharaan saya sedang sakit. " mohon Dewi.
Instruksi yoga itu menganggukkan kepalanya, ia mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi dokter hewan yang berada tak jauh dari gedung apartemen tersebut, sementara Dewi melihat keadaan Jelly yang keadaannya semakin memburuk.
"Kita diminta untuk datang langsung, kemari, saya bantu angkat anjingnya. "
Dewi menganggukkan kepalanya, dengan bantuan instruksi yoga tersebut, mereka akhirnya membawa Jelly menuju ke dokter hewan untuk diperiksa keadaannya.
Bobot badan Jelly begitu berat, hal tersebut membuat Dewi dan instruksi yoga itu menjadi sulit untuk mengangkat Jelly, mereka mencari cara untuk membawa Jelly hingga ke dokter hewan yang tak jauh dari gedung apartemen itu berada.
"Berat sekali anjing peliharaanmu ini. " keluh instruksi yoga tersebut.
Dewi juga mencari cara, hingga ia menemukan troli yang biasanya menjadi pengangkat tas dan barang, hal tersebut menjadi ide untuk Dewi membawa anjingnya itu menuju ke tempat dokter hewan terdekat.
.
"Anjing ini sebelumnya punya riwayat penyakit ya? "
Dewi terkejut ketika dokter hewan yang mendiagnosis Jelly, diagnosa dari dokter tersebut adalah Jelly yang mempunyai penyakit bawaan, hal tersebut membuat Dewi tidak percaya ternyata selama ini anjingnya itu memiliki penyakit.
"Penyakit? Penyakit apa, dok? " tanya Dewi.
"Canine parvovirus, virus ini menginfeksi anjing yang bersentuhan dengan kotoran anjing lain yang sakit, sayangnya, penyakit ini jika tidak diatasi dengan vaksin, maka berakibat pada kematian, apalagi anjing peliharaan anda ini sudah terlihat tua. Virus ini cepat sekali menyebar dan merambat. "
"Dok, apa ada obatnya untuk bisa meredakannya? Saya tidak ingin anjing saya terus kesakitan. "
Dokter hewan tersebut hanya menggelengkan kepalanya, masalah awal dari semua ini karena Dewi yang tidak tahu jika anjingnya terkena penyakit yang mengakibatkan kematian, dan juga tidak dapat diatasi lagi karena terlambat, terlebih lagi usia Jelly yang ternyata sudah tua.
"Saya tidak bisa membantu lebih banyak, peliharaan anda juga tidak dapat diselamatkan, anda bisa membawanya pulang dan jangan ada kontak langsung dengan peliharaan anda ini, terutama sekarang anda sedang hamil. " himbau dokter tersebut.
Setelah menahan air matanya, Dewi akhirnya meneteskan air matanya yang sedaritadi ia tahan, Dewi dengan perlahan menaruh kembali Jelly di troli yang sebelumnya menjadi pengangkut anjing peliharaannya itu sebelumnya, dan sekarang ia akan membawanya kembali ke apartemennya, ia mengerti maksud dari dokter hewan tersebut bahwa anjingnya tidak dapat diselamatkan.
"Kak, latihan yoganya besok saja ya, saya sedang tidak fokus sekarang. " ucap Dewi.
Instruksi yoga itu mengerti, ia menganggukkan kepalanya, karena ia paham bahwa pelanggannya itu moodnya sedang tidak bagus, hal tersebut membuat latihan yoga yang sebelumnya direncanakan akhirnya diberhentikan pada hari itu.
"Ya, tidak apa apa, mari, saya bantu bawa anjingnya lagi ke apartemen. "
Dewi menganggukkan kepalanya. "Baik, silahkan kak. "
Selama sehari di dalam ruangan utama sebuah apartemen, Dewi hanya terfokus dengan anjing peliharaannya yang terus saja mengeluarkan suara lirih kesakitan, sementara Dewi hanya bisa meneteskan air matanya sambil membelai kepala anjing peliharaannya.
"Jelly, sakit ya? "
Lirih suara Jelly terdengar sangat menyakitkan, ditambah lagi dengan Jelly yang mencekam tangan Dewi, Dewi dapat merasakan saat anjingnya harus berjuang melepas ruh dalam raganya, Jelly sudah tidak bisa tertolong karena penyakit komplikasi yang selama ini diidap oleh anjing itu tidak terlihat sama sekali.
"Jelly, kenapa janji kita tidak sama sekali bisa terkabulkan? Bukankah sebelumnya kita pernah berjanji, bahwa setekah aku melahirkan anakku, kamu akan menemani aku dan anakku sebelum aku mengetahui jenis kelamin anakku? Apa ini pertanda bahwa jika janji itu tidak dapat ditepati, maka kamu yang akan pergi? "
Dewi meluapkan isi hatinya, sementara Jelly hanya menatapnya dengan tatapan sayu seolah ia menyimak ucapan Dewi barusan disaat ia melirih kesakitan saat nyawanya sudah tidak bertahan lagi.
"Jelly, sebelumnya terimakasih sudah menemaniku sampai saat ini, mungkin ini bentuk perpisahan kita, kamu telah berhasil menemaniku sampai nanti anak ini akan lahir. Terimakasih banyak, Jelly. "
Jelly melirih pelan, tak lama setelahnya ia melolong dengan lirihnya yang mengikutinya, Dewi menyadari bahwa Jelly akan pergi, setelahnya suara tersebut tak lagi terdengar dan di mulut Jelly.
"Jelly...! "
Dewi menangis tersedu sedu, di depan mayat hewan peliharannya, ia menangisi peliharannya itu yang mati di depannya, ia tidak menyangka bahwa hari itu adalah terakhir kalinya ia melihat Jelly yang melirih kesakitan karena ajalnya telah tiba.
Tak lama setelahnya, pintu kamar apartemen terbuka, seorang laki laki yang bernama Gusti menghampiri Dewi dan menghampiri Dewi, Gusti menarik lengan Dewi untuk berdiri, dan tatapannya seolah kesal dengan gadis tersebut.
"Kamu merasa hebat sekarang? Bukankah kemarin saya katakan dengan kamu, bahwa kamu harus mengikuti pelatihan yoga, mengapa kamu membatalkannya? " tanya Gusti.
"Maafkan saya om, pikiran saya hanya mengarah pada Jelly. " jawab Dewi.
"Memangnya apa yang terjadi pada anjing peliharaanmu itu, sehingga kamu membatalkan pelatihan yogamu itu? "
Dewi meneteskan air matanya kembali, dan mencoba menjelaskannya tanpa ada isakan tangisnya.
"Jelly, Jelly sakit, kemudian dia sekarang... Dia sekarang sudah mati..." ucap Dewi.
"Dewina, dia hanya seekor anjing, untuk apa kamu menangisi semua ini? " tanya Gusti.
Ucapan tersebut bukannya membuat Dewi merasa lebih baik, Dewi menangis hingga raungannya terdengar sangat pedih, Dewi tidak tahu bagaimana ia harus melewati hal tersebut semudah perkataan Gusti barusan.
"Dewina. "
"Mungkin bagi om saja, Jelly adalah seekor anjing peliharaan biasa, tapi Jelly sangat berarti bagi saya om. Selama ini saya bisa kuat karena kehadirannya, dia sosok yang sangat saya sayangi... "
Tangisan Dewi semakin menjadi jadi, Gusti akhirnya mengerti perasaan tersebut, ia menghampiri Dewi dan menarik lengan gadis itu, sekarang Dewi berada di pangkuannya.
"Berhentilah menangis, Dewina, rasa sedihmu akan terbagi pada anakmu nanti. "
__ADS_1
Namun ucapan tersebut tidak bisa membantu, Dewi menangis kembali, Gusti hanya bisa memeluk dan berusaha menenangkan gadis itu, sementara Dewi hanya akan mengikuti perasaan hatinya yang kalut akibat kematian hewan peliharannya.
***********