
Seperti biasa sepulang sekolah Cakra langsung pergi ke cafe bersama Andika untuk bekerja. Namun kali ini Cakra menunggu Kania benar benar keluar dari sekolah dan pulang bersama dengan Pak Banu.
Setelah itu Cakra baru pergi dari sekolah.
Sesampainya di cafe, Cakra dan Andika langsung mengganti seragam mereka. Setelah itu mereka makan terlebih dahulu sebelum mulai bekerja.
_
Hari ini cafe cukup ramai dari hari hari biasanya. Cakra pun bekerja dengan sangat baik, dan tentunya tidak mengecewakan Bimo selaku pemilik cafe.
"Cakra tolong antarkan ini ke meja nomer tiga."Ucap Andika.
"Ok."
Cakra pun berjalan ke arah meja nomer tiga sambil membawa pesan meja itu.
"Permisi."Ucap Cakra sambil tersenyum dan menaruh minum dan makanan ringan di meja itu.
Saat itu Cakra belum sadar kalau tamu di meja nomer tiga salah satunya adalah Indra, Ayah Kania sekaligus Ayah mertuanya.
Sedangkan Indra yang melihat Cakra memaki seram pegawai cafe cukup terkejut. Pasalnya Indra tidak pernah tahu kalau Cakra bekerja paruh waktu di cafe ini.
Setelah melihat Cakra, Indra terus mengawasi Cakra yang sedang bekerja. Indra benar benar tidak menyangka kalau selama ini Cakra bekerja. Indra merasa senang, Karena itu artinya Cakra adalah seorang laki laki yang penuh tanggung jawab.
"Sepertinya aku tidak salah pilih."Ucap Indra sambil tersenyum.
"Salah pilih apa Pak Indra?"Tanya teman bisnis Indra.
"Ah tidak bukan apa apa."Jawab Indra sambil tersenyum.
____
Sepulangnya Indra dari cafe, Indar langsung bercerita pada istrinya dengan sangat bahagia. Indra sangat senang karena keputusannya untuk menjodohkan Kania dan Cakra itu adalah hal yang benar.
"Papah sekarang sudah merasa senang karena Kania memiliki suami seperti Cakra," ucap Indar "Walau pun Cakra masih sekolah dia sudah punya rasa tanggung jawab yang besar." Sambung Indra sambil bernafas lega.
"Mamah juga senang mendengarnya pah, mamah berharap mereka akan terus bersama selamanya."Ucap Ningsih.
__ADS_1
Ningsih menatap lurus ke depan, dan tanpa sadar Ningsih meneteskan air matanya. Ningsih pun menggenggam tangan Indra dengan begitu erat.
"Kenapa kamu menangis?"tanya Indra.
"Kenapa ya pah, rasanya dada mamah begitu sesak. Mamah seperti sedang merasa kalau mamah tidak bisa melihat Kania lagi."Jawab Ningsih, sambil menatap Indra.
Mendengar hal itu, Indra pun langsung memeluk Ningsih. Karena sebenarnya Indra pun merasakan sesuatu yang aneh.
Semoga saja apa yang sedang dia dan istrinya rasakan bukanlah pertanda sesuatu yang buruk akan terjadi.
Waktu terus berjalan dan hari pun kini sudah malam. Tepat pada pukul sembilan malam, Cakra sampai di rumah.
Seperti biasa Cakra pun langsung masuk dan bergegas pergi ke kamarnya. Lebih tepatnya kamarnya dan juga Kania.
Namun saat Cakra baru saja berjalan sambil di tengah tangga, Cakra mendengar seseorang memanggilnya.
Dan pada saat Cakra menengok ke arah sumber suara, Cakra melihat mertuanya sedang berdiri menatapnya sambil tersenyum.
"Cakra."Panggil Indra.
"Papah."Saut Cakra saat melihat Indra sedang berdiri menatapnya.
"Bisa."Jawab Cakra.
Cakra pun langsung menuruni akan tangga kembali, lalu Cakra pun berjalan mengikuti Indra dari belakang.
Sebenarnya ada rasa takut kalau Indra akan marah padanya, karena pulang malam. Cakra yakin kalau Indra atau pun Ningsih tahu kalau Cakra sering pulang malam.
Cakra terus berjalan mengikuti Indra, hingga akhirnya mereka sampai di ruang kerja milik Indra.
"Silahkan duduk."Ucap Indra, dan Cakra pun langsung mengikuti ucapan Indra. Cakra duduk di hadapan Indra.
Indra kemudian mengambil sesuatu dari dalam laci. Lalu Indra pun menyerahkannya pada Cakra. Cakra hanya diam saja melihat amplop coklat yang di serahkan Indra padanya.
"Ambil dan lihatlah."Ucap Indra.
Cakra pun mengambil amplop itu dan langsung membukanya. Cakra melihat kartu ATM.
__ADS_1
"Apa ini pah?"tanya Cakra yang tak mengerti mengapa Indra tiba tiba saja memberikan karu itu.
"Itu adalah tabungan papah dan mamah untuk masa depan Kania. Entah itu untuk pendidikan atau pun kebutuhannya yang lain." Jelas Indra.
"Kamu pasti bingung kenapa papah memberikan itu padamu?
Cakra, sekarang dan seterusnya Kania adalah tanggung jawab kamu. Segala sesuatunya kamu yang akan urus nanti.
Karena itu papah dan mamah memutuskan untuk memberikan tabungan itu padamu. Papah yakin dan percaya sepenuhnya pada kamu Cakra.
Jadi papah mohon tolong jaga dan bahagiakan Kania sampai akhir hayatnya. Jangan pernah tinggalkan dia." Ucap Indra sambil menatap Cakra dengan tatapan penuh keyakinan dan harapan yang besar.
Cakra benar benar tidak mengerti kenapa Indra berbicara seperti itu padanya. Indra berbicara seakan akan dia akan pergi jauh dan dalam waktu yang lama.
"Pah, tanpa papah dan mamah minta, aku aku akan melakukan itu semua."Ucap Cakra.
"Tapi pah, Cakra tidak bisa menerima ini. Sebaiknya papah saja yang simpan seperti biasanya."Sambung Cakra.
"Tidak Cakra, papah rasa papah sudah tidak bisa menyimpannya lagi. Jadi papah mohon kamu terima dan simpan ini."mohon Indra.
Cakra terdiam dan berpikir sejenak. Kemudian Cakra menarik nafas dalam dalam. Cakra pun bersedia menerima dan menyimpan kartu itu.
Indra sangat senang saat Cakra bersedia menerima kartu tabungannya yang sudah sangat lama dia kumpulkan untuk masa depan Kania.
Setelah itu mereka mengobrol sebentar. Tapi mungkin lebih tepatnya Indra bercerita tentang Kania dari sejak Kania baru lahir sampai Kania besar seperti sekarang ini.
Indra memberitahu Cakra apa saja yang Kania suka dan apa saja yang tidak Kania suka.
Dari hal besar sampai hal hal kecil, Indra beritahukan semuanya pada Cakra.
Cakra yang awalnya sangat lelah karena baru saja pulang bekerja, kini rasa lelah itu sudah tidak ada lagi. Cakra kini sangat bersemangat untuk mendengarkan cerita masa kecil Kania yang begitu lucu.
Sampai tak terasa kini sudah pukul dua belas malam. Mereka pun memutuskan untuk berhenti ngobrol bersama Indra. Dan mereka pun kini pergi ke kamar mereka masing masing untuk beristirahat.
Sesampainya di kamar, Cakra langsung membersihkan dirinya. Kemudian Cakra duduk di meja belajarnya sambil menatap kartu ATM yang di berikan Indra. Kemudian Cakra melihat isi kartu itu di buku tabungan.
Saat itu Cakra cukup terkejut saat melihat jumlah tabungan Indra dan Ningsih untuk masa depan Kania. Kemudian Cakra pun menyiapkan semua itu dengan baik.
__ADS_1
Meskipun jumlah tabungan yang Indra berikan padanya untuk kebutuhan Kania. Sebisa mungkin Cakra tidak akan menggunakannya, kecuali benar benar terdesak.
Dan kalau pun harus memakainya, Cakra akan berusaha untuk menggantinya. Bagaimana pun juga Kania adalah tanggung jawabnya, jadi segala keperluannya pun harus dia penuhi.