
Dan istirahat kedua pun tiba. Mia dan Bunga khawatir pada Kania, karena Siska menantang Kania pada istirahat kedua.
Tapi Kania sendiri justru tetap merasa tenang dan seakan akan tidak terjadi sesuatu.
"Kania elu kok tenang tenang aja sih?."Tanya Bunga.
"Memangnya kenapa?."
"Kenapa?. Kania elu nggak lupa kan kalau Siska mau elu temuin dia di lapangan basket pas istirahat kedua."Ucap Mia.
"Iya gue inget kok. Tapi gue nggak mau nurunin yang dia mau, buat apa buang buang waktu."Ucap Kania.
"Dari pada ke lapangan basket mending ke kantin."Sambung Kania.
"Elu yakin?."Tanya Bunga.
"Yakin dong."
Setelah itu mereka pun pergi ke kantin bertiga, tanpa mereka tahu kalau Siska dan temen-temen nya sudah menunggu di lapangan basket.
Cakra dan teman temannya yang sedang duduk di depan kelas mereka yang berada tepat di depan lapangan basket bertanya tanya mengapa para cewek cewek di lapangan basket.
"Lagi pada ngapain mereka di sana?."Tanya Cakra.
"Gue denger sih mereka lagi nungguin siswi yang bernama Kania."Jawab teman Cakra yang bernama Andika.
"Kania?."
"Iya Kania elu kenal kan? Secara elu sering telat bareng dia dulu pas motor elu rusak."Ucap Putra.
"Memangnya Kania kenapa?."Tanya Cakra penasaran.
"Gini yang gue denger sih, katanya teman Kania nabrak Siska. Dan elu tahu sendirilah Siska itu gimana. Akhirnya Kania belain temannya itu dan Siska merasa tersinggung sama Kania."Jelas Rendi.
"Oh gitu."Ucap Cakra. "Tapi gue yakin kalau Kania nggak bakal datang ke lapangan."Ucap Cakra.
"Sok tahu banget sih elu."Ucap Putra.
"Lihat aja nanti."Ucap Cakra.
Mereka pun akhirnya terus berdiam di sana untuk membuktikan apakah tebakan Cakra benar atau tidak, tentunya dengan di iringi canda dan tawa mereka.
__ADS_1
Sepuluh menit berlalu dan Kania tak kunjung datang ke lapangan basket. Itu membuat Siska bertambah kesal.
Sedangkan Cakra merasa senang karena tebakan nya benar.
"Wih kayaknya tebakan Cakra benar deh."Ucap Rendi.
"Pastilah."Ucap Cakra. "Eh kalian ada info loker nggak?."Sambung Cakra.
"Loker buat siapa?."Tanya Putra.
"Buat gue."
"Elu mau kerja?."Tanya Andika dan Cakra pun hanya mengangguk.
"Tumben, nggak di kasih duit jajan sama bokap."Ucap Rendi sambil tertawa.
"Nggak papa, gue cuman mau kerja aja. Ya hitung hitung belajar menghidupi diri gue sendiri."Jelas Cakra.
"Ada sih, tapi cuman jadi pelayan di cafe, mau nggak elu?."Ucap Andika.
"Kalau elu mau nanti pulang sekolah elu ikut gue ke cafe tempat gue kerja."Sambung Andika.
"Ok nggak masalah, elu atur aja waktunya."Ucap Andika.
"Sip, makasih ya."Ucap Cakra dan Andika pun mengangguk sambil tersenyum.
Cakra merasa sedikit lega karena tentang perkejaan Cakra sudah menemukannya. Dan kini Cakra hanya tinggal menyiapkan mentalnya saja untuk melakukan pekerjaan itu sendiri.
Cakra dan teman temannya memutuskan untuk masuk ke dalam kelas. Namun baru saja akan masuk, mereka mendengar keributan di lapangan.
Mereka pun langsung berbalik dan melihat ada apa di sana.
"Eh itu Kania kan?."Ucap Rendi.
"Gila si Siska, ngebet juga dia ingin berurusan sama Kania sampe sampe nyuruh siswi lain buat seret Kania kelapangan."Ucap Putra.
Cakra hanya diam dan melihat ke arah Kania. Namun karena penasaran apa yang mereka bicarakan akhirnya Cakra pun berjalan mendekat yang tentunya di ikuti oleh teman temannya.
"Lepas!."Ucap Kania sambil berusaha melepaskan diri dari teman teman Siska.
"Gue nggak nyangka ternyata elu berani juga ya ngebantah omongan Gue."Ucap Siska yang kini berdiri di hadapan Kania.
__ADS_1
Tiba tiba saja Bunga dan Mia datang lalu melepaskan Kania dari teman teman Siska.
"Kania elu nggak papakan?."Tanya Bunga dan Mia.
"Gue nggak papa, makasih ya."Jawab Kania.
Siska yang merasa di abaikan bertambah kesal pada Kania. Siska pun berjalan mendekat pada Kania lalu mendorong Kania sampai Kania hampir saja jatuh.
"Elu bener bener cari masalah sama gue ya."Ucap Siska dengan nada tinggi. Tapi lagi lagi Kania hanya diam dan tidak menjawab ucapan Siska.
Hingga akhirnya Siska menarik kerah baju Kania. Bunga dan Mia mau membantu Kania tapi di halangi teman teman Siska.
Siska menatap Kania dengan tatapan tajam tapi Kania tidak merespon itu, Kania hanya diam dan menatap Siska seperti biasa.
"Lepas."Ucap Kania lembut.
"Apa, elu ngomong apa tadi? Lepas?."Ucap Siska. "Kalau elu mau gue lepasin elu, elu harus minta maaf sama gue di hadapan semua orang sekarang juga."Sambung Siska sambil tersenyum.
"Gue nggak salah jadi gue nggak perlu minta maaf."Ucap Kania. "Dan elu harus inget kalau kita ada di sekolah dan kita adalah seorang siswi di sini, jadi bersikaplah seperti seorang siswi yang baik."Sambung Kania.
Siska mendorong Kania dengan kencang tapi Kania tidak terjatuh. Siska menatap Kania dengan tatapan jijik.
"Elu nggak usah sok baik, nggak usah sok jadi siswi teladan. Semua yang ada di sekolah pun tahu kalau elu itu tukang telat."Ucap Siska.
"Gue emang tukang telat, tapi gue tidak pernah berbuat onar di sekolah. Apalagi bergaya seakan akan sekolah ini milik gue."Saut Kania.
"Sekarang coba elu pikir baik baik. Kalau pun elu nggak pernah telat, tapi elu sering buat onar dengan otak yang pas-pasan elu bergaya seakan elu orang paling jenius tapi nyatanya nol."Sambung Kania.
Semua orang tercengang mendengar ucapan Kania. Kania terlihat biasa saja tapi setelah membuka mulut Kania bicara dengan begitu pedas.
"Pinter juga dia." Batin Cakra.
Setelah itu Kania pun berlalu pergi bersama Bunga dan Mia, meninggalkan Siska bersama dengan teman temannya. Dan setelah itu semuanya berbicara tentang nya.
Hal itu tentu saja membuat Siska malu. Siska pun pergi dari lapangan basket.
Awalnya Siska ingin mengajak Kania bertanding basket, namun semuanya gagal dan itu Karena Kania sendiri. Siska pun menceritakan pada Monia dan juga Mikela teman satu gengnya.
Siska pun menceritakan semuanya pada mereka.
Namun Siska tidak mendapatkan respon dari mereka. Terlebih lagi Mikela yang masih galau karena baru saja putus dengan Cakra, pujaan hatinya.
__ADS_1