
Sedangkan kini di kediaman Kania, Indra dan Ningsih sedang bersiap untuk pergi ke tempat dimana dulu Indra melamar Ningsih.
Hari ini mereka ingin menghabiskan waktu berdua tanpa di ganggu siapa pun.
Setelah selesai bersiap, mereka langsung pergi. Saat di parkiran Pak Banu menghampiri mereka.
"Tuan dan Nyonya mau pergi?"tanya Pak Banu.
"Iya Pak kami mau pergi."Jawab Indra.
"Kalau begitu silahkan naik."Ucap Pak Banu sambil tersenyum.
"Pak Banu, kami ingin menghabiskan waktu berdua. Jadi Pak Banu tidak pernah mengantar kami,"ucap Indra "Pak Banu jemput Kania saja nanti, dan beritahu dia kalau kami pergi ke puncak."Sambung Indra.
"Baiklah Tuan."Saut Banu.
Setelah itu Indra dan Ningsih langsung masuk ke dalam mobil, sedang Pak Banu membantu membukakan pintu gerbang.
Di dalam perjalanan Indra dan Ningsih terus tersenyum bahagia, apa lagi ketika mereka mengingat masa masa muda mereka.
Masa di mana pertama kali mereka bertemu, bagaimana cara Indra saat pertama kali berusaha untuk mendekati Ningsih, dan hingga saat di mana Indra melamar Ningsih di puncak. Tepatnya di villa milik keluarga Indra.
Saat itu Ningsih mengira kalau Indra berbohong atau hanya sekedar bercanda saat mengatakan kalau di ingat menikah dengannya dalam waktu dekat.
Awalnya Ningsih menolak, karena mereka baru dekat beberapa bulan. Tapi ternyata di villa itu bukan hanya ada teman teman mereka saja. Indra ternyata mengundang keluarganya juga keluar Ningsih untuk menyaksikan keseriusannya dengan melamar Ningsih.
Tentu saja hal itu membuat hati Ningsih luluh dan percaya kalau Indra tidak sedang berbohong atau bercanda dengan lamanya.
Setelah hari itu, Ningsih bahagia. Apalagi setelah menikah dengan Indra.
Indra begitu sayang dan perhatian padanya, apalagi ketika Indra tahu kalau Ningsih tengah mengandung Kania.
Momen momen itu kembali mereka ingat, senyum bahagia pun terukir jelas di wajah mereka.
Namun ternyata senyuman itu adalah senyuman terakhir mereka.
__
Saat momen momen indah itu mereka ingat, itu ketika mereka sudah terkapar tak berdaya karena mobil mereka di hantam keras oleh mobil truk yang kehilangan kendali.
Mobil mereka berguling cukup jauh, Ningsih yang pada saat itu tidak memakai sabuk pengaman terhempas keluar dari dalam mobil.
Saat ini Ningsih dan Indra yang sudah berlumuran darah saling menatap dari jarak yang cukup jauh. Mereka pun saling mengucap
perasaan mereka.
__ADS_1
I LOVE YOU
Setelah itu mereka menutut mata mereka untuk selama lamanya.
____
Saat Indra dan Ningsih sudah di rumah sakit, pihak kepolisian langsung menghubungi nomor kontak panggilan terakhir di handphone Indra.
Dan kebetulan yang terakhir berkomunikasi dengan Indra di telpon adalah Joni.
Joni yang pada saat itu berada di kantor langsung pulang untuk menjemput Lusi untuk segera pergi ke rumah sakit.
Tidak lupa Joni pun menghubungi Pak Banu untuk menjemput Cakra dan Kania.
Joni pun menghubungi Cakra terlebih dahulu untuk dan membawa Kania pergi dari sekolah sebelum Kania mengetahui keberadaan orang tuanya.
_____
Cakra sangat terkejut dan tidak percaya dengan kabar yang di dapatnya dari Joni.
Cakra mengatur nafasnya lalu Cakra berbisik pada Andika untuk meminta izin tidak masuk bekerja kembali karena orang tua Kania kecelakaan.
Setelah itu Cakra langsung berlari membawa tasnya menuju kantor untuk meminta izin untuk dirinya dan juga Kania pada Guru piket.
Tak lama Guru piket datang bersama dengan Kania yang terlihat bingung.
"Terimakasih Pak, kalau begitu saya dan Kania pamit,"ucap Cakra "Assalamualaikum."Sambung Cakra.
"Waalaikumsalam."
Setelah itu Cakra langsung menarik tangan Kania, Cakra berjalan dengan sangat cepat bahkan sedikit berlari dengan terus menggenggam tangan Kania.
"Cakra ada apa sih?"Tanya Kania yang masih tidak tahu apa apa.
"Cakra, kita mau kemana?"Tanya Kania kembali.
Cakra masih diam dan tidak menjawab pertanyaan dari Kania. Saat mereka sudah sampai di depan gerbang, Cakra berbicara pada satpam dan menitipkan motornya.
Tak lama kemudian Pak Banu datang. Kania bertambah bingung dan bertanya-tanya, apa yang sedang terjadi saat ini?.
Cakra kemudian membimbing Kania masuk ke dalam mobil. Setelah itu Pak Banu langsung melakukan mobil untuk segera menuju rumah sakit.
"Cakra, ini tuh sebenernya ada apa sih?
Kenapa tiba tiba elu bawa gue pergi dari sekolah begitu aja, dan bahkan elu dapat izin dari Guru piket?.
__ADS_1
Ini ada apa, jangan bikin gue bingung." Ucap Kania yang sudah mulai kesal karena sedari tadi Cakra tidak menjawab pertanyaannya.
Namun bukannya menjawab pertanyaan Kania, Cakra justru langsung menarik Kania dan memeluk Kania dengan sangat erat.
Pada saat itu Kania merasakan kalau tubuh Cakra sedikit bergetar. Dan pada saat itu perasaan Kania dan pikiran Kania menjadi tidak karuan.
"Kania, elu harus tenang dan kuat, gue akan selalu ada di samping elu terus."Ucap Cakra dengan naga yang sangat berat.
Kania melepaskan pelukan Cakra, kemudian Kania melihat wajah Cakra yang sudah memerah, bahkan mata Cakra pun sudah basah.
"Cakra, ini ada apa?"Tanya Kania untuk kesekian kalinya.
Cakra mengambil nafas dalam dalam, kemudian Cakra pun memberitahu Kania tentang keadaan orang tuanya yang baru saja mengalami kecelakaan.
Cakra menggenggam tangan Kania.
"Kania, papah sama mamah mengalami kecelakaan."Ucap Cakra berat.
"Papah sama mamah?"tanya Kania "Papah sama mamah elu?."Sambung Kania.
Cakra langsung menggelengkan kepalanya.
"Papah Indra sama mamah Ningsih kecelakaan, dan saat ini mereka ada di rumah sakit."Jelas Cakra.
"Papah sama mamah gue kecelakaan?
elu bohongkan Cakra?
Pak Banu, bilang sama Kania kalau apa yang di katakan sama Cakra itu gak bener!."Ucap Kania yang sudah mulai panik.
Pak Banu hanya diam sambil terdengar sedikit isak tangisnya.
Kania menatap wajah Cakra untuk melihat kebohongan di wajahnya. Tapi yang Kania cari tidak ada di wajah Cakra.
Sedetik kemudian Kania langsung menangis tak karuan.
Cakra pun langsung memeluk Kania. Kania menangis dengan terus berteriak dan menyangkal kalau semuanya tidak benar.
Dan tangis Kania semakin jadi saat tahu kalau orang tuanya sudah tidak bisa di selamatkan lagi.
Dan Kania pun langsung tidak sadarkan diri di pelukan Cakra. Cakra terus saja memeluk Kania sampai akhir mereka kini sudah sampai di rumah sakit.
Caraka membawa turun Kania dengan bantuan dari Pak Banu. Sebelum pergi menemui Joni dan Lusi, Cakra membawa Kania terlebih dahulu untuk memeriksakan keadaannya.
Setelah di periksa beberapa menit, Kania pun kini sudah sadar kembali. Pada saat itu Kania langsung menanyakan keberadaan orang tuanya pada Cakra. Cakra pun langsung membawa Kania ke ruangan di mana orang tua Kania berada.
__ADS_1