
Karena terlalu lelah akhirnya Kania tertidur. Dan akhirnya Cakra pun memutuskan untuk tidak pulang. Cakra pun memberi kabar Bi Nining untuk tidak menunggu mereka pulang.
Setelah Mengabari Bi Nining, Cakra mengambil handphone Kania, kemudian Cakra mencari kontak Bunga.
Setelah menemukan kontak Bunga, Cakra langsung menghubungi Bunga untuk menanyakan sesuatu padanya.
"Halo."Ucap Cakra saat sambungan teleponnya telah terhubung dengan Bunga.
"Halo ini siapa ya?."Tanya Bunga karena Cakra menghubungi Bunga menggunakan handphonenya.
"Ini aku Cakra."Jawab Cakra.
"Cakra?,"tanya Bunga memastikan "ada apa telpon aku malam malam?."Sambung Bunga.
"Maaf sebelumnya kalau ganggu kamu malam malam begini. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan sama kamu."Ucap Cakra.
"Apa?."Saut Bunga.
"Tadi ada cewek yang datang kesini dan kalau tidak salah Kania memanggilnya Mia.
Dia marah dan berbuat kasar pada Kania, sedangkan yang aku tahu dia selalu bersama dengan kamu dan Kania.
Sebenarnya ada masalah apa?
Apa ada hubungannya sama aku?."Jelas Cakra.
"Kalau cewek itu memang Mia, iya mereka sedang ada masalah dan masalah itu berhubungan dengan kamu."Saut Bunga.
"Ceritakan padaku!."Ucap Cakra.
"Kami bertiga bersahabat sejak lama, dan kami tidak pernah menyimpan rahasia satu sama lain. Dan mungkin ini pertama kalinya salah satu dari kami memiliki rahasia.
Tapi menurutku wajar saja jika Kania merahasiakan hubungannya dengan kamu. Karena hubungan kamu dan Kania sangat serius.
Jadi Mia sudah sejak lama menyukai dan mengagumi kamu. Aku dan Kania tahu itu. Dan mungkin baru baru ini Mia melihat kamu dan Kania yang akhirnya dia tahu kalau kamu dan Kania memiliki hubungan.
Di situ Mia merasa kecewa dan dikhianati oleh Kania. Karena memang Mia belum tahu yang sebenarnya."Cerita Bunga.
"Ok aku ngerti sekarang, makasih ya udah mau kasih tahu semuanya."Ucap Cakra.
"Sama sama."Saut Bunga.
Setelah itu sambungan telepon mereka pun terputus. Cakra melihat Kania yang sudah terlelap di sampingnya.
Kemudian Cakra pun memutuskan untuk mencari udara malam di luar cafe. Saat Cakra keluar, Cakra melihat Pudin dan Jaja sedang duduk berdua di depan cafe.
Cakra pun bergabung dengan mereka.
Pudin yang tahu kalau Cakra sedang memikirkan sesuatu, Pudin pun memberanikan diri untuk bertanya pada Cakra.
Dan Cakra pun menceritakan masalah Kania dan temannya yang sedang bermasalah karena dia.
__ADS_1
"Aku bingung harus apa? Kalau aku diam saja aku takut cewek itu berbuat kasar pada Kania. Tapi aku juga gak tahu harus bagaimana?."Ucap Cakra.
"Kenapa kamu nggak coba buat berbicara pada cewek itu dan menjelaskannya pelan pelan. Mungkin kalau kamu yang berbicara dia mau mendengarnya."Ucap Jaja.
"Benar itu Cak, kamu coba saja apa yang di kata Jaja tadi."Saut Pudin.
"Hmmm nanti aku pikirkan deh."Ucap Cakra.
Mereka terus mengobrol, dan mereka memutuskan untuk beristirahat saat jam menunjukkan pukul dua pagi.
Mereka masuk dan pergi ke kamar mereka masing masing.
Di dalam kamar Cakra masih memikirkan masalah Kania dan Mia.
"Sebenarnya aku tahu kalau ingin melawan pasti Kania bisa saja, tapi mungkin Kania merasa tidak enak kalau harus melawan sahabatnya sendiri.
Apa harus aku yang berbicara pada Mia dan me jelaskan semuanya pada dia?."Ucap Cakra.
Karena sudah merasa lelah akhirnya Cakra memutuskan untuk tidur sambil memeluk Kania.
____
Keesokan harinya, pagi pagi Cakra di bangunkan oleh dering handphone. Cakra mengambil handphonenya.
"Mamah, ada apa pagi pagi telpon?."Ucap Cakra dengan suara khas bangun tidur.
"Halo mah."Ucap Cakra saat mengangkat telepon dari mamahnya.
"Ya ampun Mah, kalau cuma mau bilang itu doang kenapa harus pagi pagi gini sih."Ucap Cakra.
"Ya kalau nanti batu takut kamu keburu buat acar yang lain."Saut Lusi.
"Iya deh nanti aku ke sana sama Kania."Ucap Cakra.
Setelah itu sambungan telepon pun terputus.
Saat Cakra akan kembali tidur, Kania berbalik dan memeluk Cakra dengan sangat erat.
Seketika Cakra langsung terdiam kaku saat Cakra merasakan benda kenyal menempel.
"Ya ampun Kania ini masih pagi, dan aku ini laki laki normal kenapa kamu malah menggoda iman ku seperti ini."Ucap Cakra.
"Kamu berbicara dengan siapa?."Tanya Kania dengan mata yang masih terpejam.
"Kamu sudah bangun?."Tanya Cakra.
"Aku kebangun karena mendengar suara kamu."Jawab Kania.
Cakra melepaskan pelukan Kania, kemudian Cakra memposisikan dirinya lebih rendah dari Kania. Kania pun bingung apa yang ingin Cakra lakukan.
Kemudian Cakra pun memeluk Kania, Kania terkejut karena posisi kepala Cakra tepat berada di dada Kania.
__ADS_1
"Cakra apa yang sedang kamu lakukan?."Tanya Kania.
"Apa lagi kalau bukan memeluk kamu."Jawab Cakra.
"Tapi bisa tidak posisinya jangan seperti ini."Ucap Kania malu malu.
"Kenapa memangnya?
Aku menyukai posisi ini, sangat nyaman.
Kania, boleh tidak aku minta sesuatu sama kamu."Ucap Cakra.
"Minta apa?."Tanya Kania dengan jantung berdebar debar. Entah kenapa Kania takut kalau Cakra meminta sesuatu yang belum siap Kania berikan.
Cakra mendengar jantung Kania yang berdetak kencang. Cakra diam diam tersenyum.
Cakra yakin Kania pasti takut kalau dirinya akan meminta suatu hal yang belum waktunya.
"Aku mau meminta sesuatu yang menjadi hak ku."Jawab Cakra.
"Hak kamu? Apa sih, bicara dengan jelas! Aku tidak mengerti apa yang kamu maksud."Ucap Kania.
Bukannya menjawab pertanyaan Kania, Cakra justru mempererat pelukannya. Cakra pun membelai punggung Kania perlahan, sambil ngusel di dada Kania.
Dan hal itu membuat wajah Kania memerah.
"Cakra."Panggil Kania.
"Ya."Saut Kania.
"Kamu mau minta apa?."Tanya Kania malu malu.
Cakra tersenyum lalu Cakra melonggarkan pelukannya dan melihat ke arah wajah Kania.
"Aku minta kamu untuk pergi bersama dengan ku ke rumah Mamah."Jawab Cakra sambil tersenyum.
"Oh iya kenapa wajah kamu merah begitu?."Tanya Cakra.
"Ap...Apa merah? Enggak kok, wajah ku biasa saja."Saut Kania sambil berusaha memalingkan wajahnya.
"Benarkah, coba aku lihat dari dekat."Ucap Cakra sambil mendekat pada Kania.
"Nggak perlu di lihat dari dekat."Ucap Kania.
Cakra terus berusaha untuk melihat wajah Kania dari dekat dan Kania berusaha menjauhkan Cakra.
Hingga entah bagaimana Cakra tidak bisa menjaga keseimbangannya lalu Cakra terjatuh hingga akhirnya membuat bibir Cakra dan Kania menempel.
Cakra melihat wajah Kania, begitu pula dengan Kania. Setelah itu Cakra pun kembali menyatukan bibirnya dengan bibir Kania. Namun kali ini Cakra bukan hanya mengecup bibir Kania, kali ini Cakra memberanikan diri untuk mencium Kania.
Awalnya Kania hanya diam saja, namun perlahan Kania mulai membalas dan mengikuti permainan lidah Cakra.
__ADS_1