
Hari itu mereka habiskan waktu bersama.
Kania benar benar merasakan suatu kebahagiaan yang luar biasa, kebahagiaan yang sebelumnya tidak pernah dia rasakan, begitu pula dengan Cakra.
_
Tak terasa hari kini sudah mulai gelap. Mereka pun bersiap untuk pergi ke rumah Tuan Robert dan juga istrinya.
Sebenarnya Kania sedikit merasa takut kalau Tuan Robert tidak akan melepasnya. Tapi Cakra terus meyakinkan Kania kalau semuanya akan baik baik saja.
lagi pula perpisahan ini bukan untuk selamanya, mereka bisa bertemu lain waktu, dan bahkan Cakra tidak keberatan kalau Tuan Robert dan istrinya tetap menjadi orang tua angkat Kania.
Setelah semuanya siap, mereka pun segera berangkat.
"Mami apakah kita akan ikut Dady pergi ke Indonesia?."Tanya Daniel.
"Tentu sayang, karena memang seharusnya kita ada di sana. Di sanalah tempat asal kita, rumah kita, dan juga keluar kita."Jawab Kania.
"Lalu bagaimana dengan Kakek dan Nenek?."Tanya Daniel kembali.
"Kamu bisa menemui mereka kapan pun kamu mau sayang, lagi pula di Indonesia ada seorang Nenek yang begitu merindukan cucu nya."Saut Cakra.
"Benarkah, baiklah kalau begitu."Ucap Daniel sambil tersenyum.
Setelah tiga puluh menit mereka pun kini sudah sampai di depan rumah Taun Robert.
Kania melihat mobil milik keluarga David, dan itu membuat Kania cemas.
"Tenanglah ada aku di sini, aku tidak akan biarkan siapa pun merebut kamu dari ku.
Ayo kita masuk."Ucap Cakra dan Kania pun menuruti kata Cakra.
Dan pada saat mereka masuk, mereka melihat David dan orang tuanya sedang mengobrol dengan Robert dan juga Jesica.
"Sonnya akhirnya kamu pulang sayang,
Dimana Daniel?."Tanya Jesica.
Kemudian Cakra menghampiri Kania sambil menggendong Daniel. David yang melihat Cakra langsung mengepalkan tangannya.
"Siapa dia sayang?."Tanya Jesica.
"Dia....."Kania tidak melanjutkan ucapannya, Kania merasa tidak enak mengatakannya.
"Maaf Nyonya biar saya yang akan menjelaskan semuanya."Saut Cakra.
"Oh, kalau begitu ayo duduk."Ucap Jesica.
Cakra pun duduk bersama dengan Kania dan Daniel yang tetap berada di gendongan nya.
__ADS_1
Dan suasana di sana kini berubah menjadi tegang, apalagi terlihat sangat jelas ada sebuah persaingan antara Cakra dan David.
Diam diam Robert memperhatikan Cakra dan juga Daniel. Robert sadar kalau wajah mereka sangat mirip, apalagi sorot mata mereka.
"Maaf kalau boleh tahu kamu siapa?."Tanya Robert pada Cakra.
"Perkenalkan nama saya Cakra.
Saya adalah suami Kania dan Ayah dari anak saya Daniel."Jawab Cakra.
"Kania?."Robert bertanya tanya siapa Kania, dan Daniel yang mana yang dia katakan adalah anaknya.
"Kania yang saat ini duduk di hadapan anda Tuan Robert, Kania yang selama ini tinggal bersama anda dan yang anda beri nama Sonnya."Jawab Cakra.
"Apa kamu bilang?."Robert mengerti dengan apa yang di maksud Cakra, hanya saja Robert sedikit tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Cakra.
"Dady, setelah kejadian malam kemarin. Aku jadi ingat siapa aku yang sebenarnya.
Memang tidak semuanya aku ingat, tapi aku tahu jati diriku sebenarnya.
Namaku Kania Putri Lesmana, aku sudah menikah dengan laki laki yang bernama Cakra Pangestu sejak SMA.
Kami terpisah tujuh tahun yang lalu karena aku jatuh dari kapal pesiar saat sedang hamil Daniel."Jelas Kania.
Semua orang terkejut dengan apa yang di katakan oleh Kania, tapi tidak dengan David. Karena dari awal David tahu semuanya.
"Tentu saja sayang Dady dan Mami ----"
"Tidak bisa, dalam dua hari lagi kita akan bertunangan jadi kami tidak bisa pergi kemana pun Sonnya."Ucap David.
"David, kamu tidak dengar apa yang di katakan olehnya tadi?
Dia sudah menikah dan suaminya ada di hadapan kamu sekarang."Ucap Bagas.
"Bagi aku sekarang dia bukan lagi Kania, tapi Sonnya. Wanita yang sudah di tinggal mati oleh suaminya dan dia adalah calon istri ku."Ucap David yang membuat semuanya tak percaya dengan apa yang di katakan David.
"Aku sudah menikah David."Ucap Kania.
"Aku tidak perduli Kania.
Dengar kamu dan dia sudah berpisah sangat lama, bukankah sama saja kalian sudah berpisah.
Lagi pula aku selama kamu berpisah dengan dia, pasti dia sudah mempunyai wanita lain.
Jadi lebih baik kamu lanjutkan perjodohan dengan ku saja Kania, dengan begitu kamu akan bahagia selama lamanya."Ucap David.
"Tuan, Nyonya maaf sebelumnya. Tapi apa tidak sebaiknya kalian bawa anak anda pada psikiater.
Karena seperti yang kalian lihat sendiri bukan, jadi dari pada semakin parah lebih baik cepat di obati."Ucap Cakra.
__ADS_1
David tertawa mendengar perkataan Cakra.
"Ya kamu memang benar, aku ini gila, sangat sengat gila.
Kamu tahu karena siapa aku seperti ini?
Itu karena dia, wanita itu telah membuat aku gila dengan cara terus berada di hati dan pikiran ku tapi dia selalu menolak ku.
Dan aku tidak terima sebuah penolakan. Dulu aku mengalah tapi sekarang tidak akan lagi, dia harus menjadi milik ku.
Jadi sebaiknya kamu lepaskan saja dia untuk ku, karena kamu sama sekali tidak pantas untuk nya."Ucap David.
Bagas dan Maya tidak menyangka ternyata David mengetahui semua tentang Kania dari sejak awal, bahkan ternyata David sudah mencintai Kania sejak dulu.
Itulah alasan kenapa David langsung menerima perjodohan ini, padahal sebenarnya David tidak pernah mau di jodohkan.
Tapi yang membuat mereka tidak menyangka lagi cinta David sudah berubah menjadi sebuah obsesi.
"Cukup.
Maaf Tuan Bagas dan Nyonya Maya sebaiknya kalian bawa David pergi dari sini.
Kalian sudah mengerti bukan?."Ucap Robert.
"Kami mengerti Tuan Robert."Ucap Bagas yang langsung membawa David keluar secara paksa.
Namun tiba tiba saja David mendorong Bagas dan mengambil pistol yang di bawanya lalu mengarahkan pada Kania.
Dor
Semua menjerit saat itu, Bagas pun langsung memukul David dari belakang hingga pingsan.
"Ah Cakra."Ucap Kania yang langsung memangku kepala Cakra.
"Kamu tidak papakan sayang?."Tanya Cakra sambil tersenyum.
"Aku tidak papa tapi kamu terluka karena menyelamatkan aku."Ucap Kania sambil menangis.
"Tidak papa sayang, aku senang.
Karena kali ini aku berhasil menyelamatkan kamu. Rasa sakit ini tidak sebanding dengan rasa senang saat ini."Ucap Cakra yang kemudian tidak sadarkan diri.
"Cakra, Cakra, Cakra bangun Cakra."Ucap Kania dengan panik.
"Sayang ayo bawa suami ke rumah sakit sekarang juga."Ucap Robert.
Mereka pun membawa Cakra ke rumah sakit. Di sepanjang jalan Kania terus menangis.
Kenapa semua ini terjadi, padahal baru saja mereka bertemu, Kania takut, sangat sangat takut kalau nantinya mereka anak berpisah kembali, apa lagi luka tembak itu tepat di bagian jantung.
__ADS_1