
Seharian penuh Cakra dan Kania berada di ruang orang tua Cakra. Hingga pada malam hari baru lah mereka pergi dari sana.
Mereka tidak langsung pulang ke rumah, mereka menyempatkan diri pergi cafe untuk membatu yang lain.
____
Saat tengah malam barulah mereka pulang ke rumah. Mereka langsung merebahkan diri di atas tempat tidur.
Mereka sama sama menatap langit langit kamar.
"Cakra, apa tidak papa kamu berbicara seperti itu pada Mikela? Apa tidak terlalu berlebihan?."Tanya Kania.
"Aku rasa memang sedikit keterlaluan, tapi setelah di pikir pikir ada baiknya juga. Mungkin saja dengan begini dia berhenti mengejar ku dan bertingkah seakan akan aku ini miliknya.
Dan aku harap dia tidak akan mengganggu hubungan kita."Jawab Cakra.
"Semoga saja.
Oh iya apa kamu tahu, Mikela pernah melabrak bahkan mengancam Mia gara gara dia tahu kalau Mia menyukai Kamu."Ucap Kania.
"Oh iya."Saut Cakra tak percaya dengan apa yang di katakan Kania.
"Iya, tidak hanya itu. Mikela juga sempat akan membully Mia bersama dengan teman temannya. Dan pada saat itu aku membatu Mia hingga berujung aku di kunci di kamar mandi."Jelas Kania.
"Oh jadi yang mengunci kamu di kamar mandi itu Mikela dan teman temannya?."Tanya Cakra.
"Tapi itukan sudah berlalu."Ucap Kania.
Setelah itu Kania langsung bangkit dan masuk kamar mandi untuk membersihkan diri, begitu pula dengan Cakra.
Dan setelah mereka membersihkan diri mereka pun langsung tertidur.
Seperti sudah terbiasa, sekarang ini Cakra hanya akan bisa tidur kalau memeluk atau pun di peluk Kania.
_____
Hari pun kini sudah berganti. Cakra dan Kania
bangun pagi untuk pergi ke sekolah.
__ADS_1
Hari ini tidak sama seperti hati hati sebelumnya bagi Kania. Karena mulai hari ini mungkin dia tidak akan bisa berbicara dengan Mia lagi.
Dan mungkin saat ini Mia tidak ingin melihat wajahnya lagi.
Dan sesuai dengan apa yang di pikirkan oleh Kania, saat masuk ke dalam kelas Mia tidak berbicara padanya sama sekali, bahkan Mia selalu saja membuang mukanya.
Namun kini Kania berusaha untuk bersikap biasa saja. Kania tahu mungkin dia bersalah karena menyembunyikan hubungannya dengan Cakra dari Mia. Namun Kania juga tidak bersalah karena mempertahankan hubungannya dengan Cakra.
Lagi pula Mia tidak mau mendengarkan penjelasannya. Jadi kesalahpahaman ini tidak akan pernah selesai jika Mia tidak pernah mau mendengarkan Kania. Tapi itu haknya Kania tidak bisa memaksa.
__
Waktu berjalan dan kini saatnya jam istirahat. Mia pergi ke kantin seorang diri karena dia tidak mau berhubungan dengan Kania lagi.
Dan pada saat Mia berjalan ke kantin, dia berpapasan dengan Cakra. Mia menunduk karena Mia malu pada Cakra, karena kejadian kemarin malam.
Namun tidak dengan Cakra.
"Ikut dengan ku sekarang! Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu."Ucap Cakra.
Setelah itu Cakra langsung berjalan dengan Mia mengikuti Cakra dari belakang. Mia tidak tahu apa yang akan di bicarakan oleh Cakra, namun Mia bisa menjadikan ini kesempatan untuknya untuk bisa lebih dekat dengan Cakra.
Cakra berdiri di hadapan Mia sambil menatap Mia.
Mia yang di tatap Cakra tentu saja merasa malu, Mia berdebar begitu kencang dan bertanya tanya apa ada sesuatu yang salah dengan dirinya.
"Ada apa?."Tanya Mia malu malu.
"Tidak ada apa apa.
Hanya ada sesuatu yang perlu aku katakan padamu.
Dengar Mia, aku tahu kamu tidak suka dengan hubungan ku dengan Kania. Tapi mau tidak mau kamu harus menerima itu.
Kamu sahabat Kania bukan, dan harusnya kamu juga mengenal Kania dengan baik. Sebagai seorang sahabat yang baik seharusnya kamu bisa mendengarkan penjelasan Kania terlebih dahulu.
Tapi itu tidak perlu lagi. Dan aku harap kamu tidak perlu mendekati Kania kalau kamu tidak bisa menerima hubungan ku dengan Kania.
Karena aku tidak suka ada orang yang membuat Kania sedih apalagi menangis. Dan aku tidak akan tinggal diam untuk itu."Ucap Cakra.
__ADS_1
"Sebegitu berartinya Kania untuk kamu.
Bukankah itu terlalu berlebihan Cakra.
Hubungan kamu dan Kania itu sementara, tapi kenapa kamu berbicara seakan akan kamu akan selamanya bersama dengan Kania."Saut Mia.
"Iya kamu benar, aku dan Kania akan bersama selamanya. Suka dan duka aku akan selalu bersama dengan Kania.
Karena hidup ku sudah milik Kania."Ucap Cakra.
Mia sangat terkejut dengan ucapan Cakra. Bahkan Mia melihat sebuah kejujuran dan keyakinan dari kedua mata Cakra.
Mia meraih tangan Cakra, Mia pun menggenggam tangan Cakra.
"Bisakah kamu memberikan kesempatan untuk ku satu kali saja Cakra, aku begitu mengagumi kamu. Aku sangat sangat menyukai kamu sejak dari awal aku melihat kamu."Ucap Mia sambil menatap mata Cakra.
Cakra menepis tangan Mia.
"Tidak Mia, tidak ada kesempatan untuk kamu atau siapa pun lagi. Sejak hubunganku dan Kania terjalin, saat itu pula tidak ada kesempatan untuk perempuan mana pun untuk mendekati atau bahkan mengambil hatiku dari Kania.
Kita masih sama sama muda, masa depan kita masih sangat panjang Mia. Fokus saja pada masa depanmu dan anggap saja kamu tidak pernah bertemu dengan ku apa lagi menyukaiku.
Dan carilah laki laki yang tepat untuk mendampingi di setiap langkahmu. Laki laki yang jauh lebih baik dariku."Ucap Cakra.
"Kamu menyuruhku untuk fokus pada masa depan ku dan mencari laki laki yang tepat untuk mendampingi ku. Lalu kenapa kamu pun tidak fokus saja pada masa depanmu? Dan mungkin saja laki laki yang tepat untuk ku itu adalah kamu Cakra."Ucap Mia.
"Aku memang sedang fokus pada masa depan ku. Kania adalah masa depan ku, masa depan yang akan selalu aku jaga sampai akhir."Ucap Cakra.
"Aku harap kamu mengerti dengan apa yang aku katakan Mia."Sambung Cakra yang kemudian langsung pergi meninggalkan Mia.
Sedangkan Mia masih terdiam. Mia benar benar tidak menyangka dengan apa yang di dengarnya.
Dan ternyata bukan hanya Mia yang tidak menyangka dengan ungkapan Cakra tadi. Adam yang mengikuti mereka sedari awal pun sangat tidak percaya dan terkejut dengan pernyataan Cakra.
"Bagaimana Cakra bisa memiliki hubungan dengan Kania. Pantas saja waktu itu Cakra tidak terima saat aku memintanya untuk menjauhi Kania.
Tapi ini masih tidak bisa aku percaya."Ucap Adam.
Tak lama bel masuk pun berbunyi. Adam kemudian langsung pergi dari sana dan berjalan menuju kelasnya, begitu pula dengan Mia.
__ADS_1
Sudah tidak ada kesempatan dan harapan lagi untuk perasaannya. Mia kini hanya bisa ikhlas dan menerima kenyataan ini, meskipun itu sangat sulit dan menyakitkan.