
Sesampainya di rumah Kania, Mia langsung masuk ke dalam.
"Kania....."Teriak Mia memanggil Kania.
"Tidak perlu berteriak seperti itu, aku tahu kok kalau kamu sudah datang."Ucap Kania yang tengah duduk di ruang tengah sambil menonton televisi bersama dengan Cakra.
Mia berjalan mendekat pada Kania sambil tersenyum malu. "Maaf."Ucap Mia.
"Tidak papa, sudah terbiasa."Jawab Kania.
"Ayo ikut aku."Sambung Kania yang mengajak Mia pergi untuk bersiap.
Mia pun mengikuti Kania pergi ke kamar tamu. Di sana Kania sudah menyiapkan baju dan juga make up yang akan di gunakan Mia untuk pergi bertemu dengan orang tua Andika.
"Aku gugup sekali Kania."Ucap Mia.
"Aku tahu."Saut Kania.
"Tapi kamu tidak perlu khawatir, aku akan membantu kamu sebisaku."Sambung Kania.
Setelah Mia memberikan diri terlebih dahulu sebelum akhirnya di make up oleh Kania. Kania pun membantu Mia menata rambutnya.
Dan setelah cukup lama akhirnya Mia sudah siap.
"Kamu cantik sekali Mia."Ucap Kania sambil melihat pantulan dari kaca.
"Ini berkat kamu, kalau nggak ada kamu aku nggak tahu harus bagaimana dan mungkin aku tidak akan seperti ini."Ucap Mia.
Tok tok tok.
"Non maaf, Den Andika sudah datang."Ucap Bi Nining dari luar kamar.
"Iya Bi."Saut Kania.
"Ah...., kenapa rasanya gugup sekali."Ucap Mia yang terlihat begitu gelisah. Kania tahu apa yang di rasakan oleh Mia saat ini. Bagaimana pun Kania telah melewati masa ini pada saat dirinya masih duduk di bangku SMA dulu.
Kania pun meyakinkan Mia kalau semuanya akan baik baik saja, dan semua akan berjalan sesuai dengan apa yang di harapkan.
"Ayo."Ajak Kania.
Mereka pun keluar dari kamar tamu untuk menghampiri Andika yang tengah mengobrol dengan Cakra di ruang tengah.
"Maaf lama."Ucap Mia.
Andika yang mendengar suara Mia, langsung menengok ke arah sumber suara.
Pada saat itu mata Andika tidak berkedip sekalipun. Andika benar benar terpesona melihat penampilan Mia saat ini.
__ADS_1
Kania dan Cakra yang melihat itu hanya tersenyum. Mereka tahu apa yang saat ini di rasakan Andika dan Mia.
"Kenapa Andika menatap ku seperti itu? Apa ada yang salah dari penampilan ku ya?."Batin Mia.
"Mia cantik sekali."Batin Andika.
"Kenapa kalian hanya diam dan saling menatap seperti itu saja, duduk dan bicaralah."Ucap Cakra yang memecahkan keheningan di antara Andika dan Mia.
Mia pun duduk di samping Andika. Mereka berempat duduk dan mengontrol sebentar, sebelum akhirnya Andika dan Mia pergi.
Setelah mereka pergi, Cakra langsung tiduran di atas pangkuan Kania.
"Akhirnya mereka pergi juga."Ucap Cakra.
Kania memijat kepala Cakra. Kania tahu saat ini Cakra sedang lelah dan dia ingin menghabiskan waktu bersama dengannya. Sebagai seorang istri, tentu saja Kania harus mengerti apa yang di inginkan dan apa yang harus dia lakukan.
Cakra memiringkan tubuh dan kepalanya kini berada di depan perut rata Kania. Kemudian Cakra mengusapnya perlahan.
"Kania kalau boleh jujur, saat ini aku sangat menginginkan benih ku tumbuh berkembang di rahimmu.
Aku ingin menjadi Ayah dari anak anak yang kamu lahirkan Kania. Aku ingin kita berdua merawat dan mendidik anak kita dengan sang baik.
Kamu mengerti maksud ku bukan?." Ucap Cakra.
Kania membelai rambut Cakra dengan sangat lembut. Dan tentu saja Kania tahu arah pembicaraan Cakra saat ini.
Kamu tidak perlu khawatir, aku tidak pernah meminum obat kontrasepsi kok. Jadi cepat atau lambat dia pasti akan segera tumbuh di dalam rahimku."Ucap Kania.
Cakra sangat senang saat dia tahu kalau Kania tidak mempermasalahkan kalau ternyata Cakra ingin Kania hamil. Semoga saja doa doa yang selama ini di panjatkan akan terkabul.
_____
Sedangkan kini Mia dan Andika sudah sampai di depan rumah Andika. Dan saat ini Mia benar benar gugup, bahkan lebih gugup dari sebelumnya.
Andika tersenyum saat melihat wajah Mia ya g begitu gugup. Andika pun menggenggam tangan Mia.
"Tidak perlu gugup seperti itu."Ucap Andika.
"Aku sudah sangat berusaha untuk lebih tenang, tapi rasanya sulit sekali. Ini pertama kalinya aku bertemu dengan orang tua kamu."Ucap Mia.
"Jujur saja aku takut kalau mereka tidak akan menyukai ku."Sambung Mia.
"Percayalah padaku semuanya akan baik baik saja. Jadi ayo masuk."Ucap Andika meyakinkan dan Mia pun menarik nafas lalu mengangguk.
Andika pun langsung membawa masuk ke dalam rumah. Di sana tidak terlalu banyak orang, hanya ada orang tua Andika, Kakak dan Kakak iparnya.
"Wah lihat siapa yang datang."Ucap Bio yang melihat Andika dan Mia.
__ADS_1
Semua orang yang sedang berkumpul di ruang keluarga itu langsung menengok ke arah Andika dan Mia.
"Selamat malam Om, Tante."Sapa Mia.
"Selamat malam."Saut Ayah Andika.
"Selamat malam,"Saut Mamah Andika,"Ayo sini duduk."Sambung Mamah Andika.
Mia dan Andika pun duduk di sofa yang sama. Setelah itu Mia memberikan hadiah yang di bawanya pada Mamah Andika.
"Oh iya Tante, selamat ulang tahun semoga panjang umur sehat selalu, hmm dan ini ada
hadiah untuk Tante."Ucap Mia sambil memberikan hadiah yang di bawanya padahal Mamah Andika.
"Aduh kenapa kamu repot repot sekali,
terimakasih ya Mia."Ucap Mamah Andika.
Setelah itu mereka pun mengobrol dengan sangat begitu asiknya. Tidak lupa acara tiup lilin. Awalnya pesta ulang tahun ini akan di rayakan sekaligus merayakan happy anniversary pernikahan mereka.
Tapi Mamah Andika menolak, dia hanya ingin di rayakan sederhana bersama keluarga.
Dan seperti yang di katakan Kania dan juga Andika kalau semuanya akan baik baik saja. Mia sangat senang karena orang tua dan Kakaknya Andika dapat menerimanya dengan sangat baik.
Kekhawatiran yang sedari tadi siang kini telah sirna sudah.
Waktu terus berjalan, dan hari pun kini semakin malam. Mia berpamitan untuk pulang.
"Om, Tante sepertinya aku harus pulang sekarang."Ucap Mia sambil tersenyum.
"Oh iya, hari juga semakin malam.
Kamu pulang sama Andika ya."Ucap Mamah Andika.
"Iya Tante."Saut Mia.
Setelah itu mereka pun langsung pergi. Di dalam perjalan Mia terus saja tersenyum.
" Tadi diem dan gelisah nggak karuan, sekarang senyum senyum nggak jelas."Ucap Andika dan Mia malah tertawa, hingga Andika pun ikut tertawa.
"Benar benar kekhawatiran yang tidak jelas. Harusnya aku mendengarkan kamu dan juga Kania kalau semuanya akan baik baik saja.
Tapi dasarnya aku yang parnoan jadi langsung merasa khawatir yang berlebihan tidak jelas."Ucap Mia.
"Nanti gantian aku bertemu dengan orang tua kamu."Ucap Andika. Mia yang mendengar ucap Andika sedikit tidak percaya.
"Kamu mau bertemu dengan orang tua aku?."Tanya Mia.
__ADS_1
"Iya, kenapa memangnya?."Saut Andika. Mia pun hanya mengangguk sambil tersenyum bahagia.