
Keesokan harinya, pagi pagi sekali Kania dan Cakra sudah terbangun dari tidur mereka. Mereka pun langsung bersiap untuk pulang.
Sebelum pulang mereka sarapan terlebih dahulu. Sepertinya biasa semuanya sudah di siapkan oleh Pudin.
"Wah Pudin masakan kamu semuanya enak enak sekali."Ucap Kania sambil memakan sarapan yang di siapkan oleh Pudin.
"Syukurlah kalau kamu suka dengan masakan saya."Saut Pudin sambil tersenyum.
Mereka pun menghabiskan sarapan mereka sambil mengobrol. Setelah selesai sarapan Cakra dan Kania bersiap untuk pergi.
"Aku suka suasana di sini, ingin rasanya tinggal lebih lama lagi."Ucap Kania.
"Nanti kalau libur panjang kita datang lagi ke sini."Saut Cakra sambil berjalan menuju mobil.
"Benarkah?"tanya Kania.
"Iya."Jawab Cakra.
"Pudin tidak papakan kalau nanti aku dan Cakra datang lagi?."Tanya Kania pada Pudin.
"Tidak papa kok, justru saya senang kalian datang kesini. Rumah jadi rame."Jawab Pudin.
Setelah itu Cakra dan Kania pun pergi dari sana. Saat mereka sudah pergi Liani datang sambil membawa makanan.
"Loh kok mobil Cakra tidak ada?"Tanya Liani pada dirinya sendiri.
Kemudian Liani pun memanggil Pudin, dan tak lama Pudin keluar dari dalam rumah.
Liani langsung bertanya pada Pudin di mana Cakra.
"Pudin, Cakra mana?."Tanya Liani.
"Tidak ada, sudah pulang."Jawab Pudin.
"Pulang, kok cepat banget sih?"Tanya Liani kembali.
"Mana saya tahu,"Jawab Pudin "Oh iya Liani, saya harap kamu bisa jaga sikap kamu terhadap Cakra, apalagi kalau ada Kania. Jangan seperti kemarin memalukan."Sambung Pudin.
"Kenapanya memangnya, saya hanya ingin berjuang untuk mendapatkan Cakra."Saut Liani.
"Kamu itu kalau di kasih tahu ngeyel.
__ADS_1
Ngaca Liani kamu itu orang desa, orang tidak punya sama kaya saya.
Jadi harusnya kamu sadar kalau kamu itu tidak pantas dengan Cakra, kamu bisa lihat sendiri bukan Cakra seperti apa?."Ucap Pudin.
"Justru karena saya sadar saya orang desa dan nggak punya makanya saya berusaha untuk mendapatkan Cakra, agar kehidupan saya bisa berubah dan saya bisa tinggal di kota."Saut Liani.
"Sudah buang saja mimpi kamu itu, sia sia.
Kamu lihat Kania kan?
Cantik, pintar, dan juga anak orang kaya.
Kamu tidak akan bisa bersaing dengan Kania yang sempurna itu.
Sebaiknya kamu menikah saja dengan Pak Lurah saja, dia juga anak orang kaya. Dan sudah jelas dia menyukai kamu.
Asal kamu tahu saja, sekeras apa pun kamu berjuang untuk mendapatkan Cakra, tetap saja Kania pemenangnya. Karena Cakra hanya mencintai Kania.
Sudah pergi sana, ganggu saja."Ucap Pudin.
Pudin kemudian langsung masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya.
Liani pun langsung pulang.
Kalau memang yang di katakan Pudin itu benar, berarti pupus sudah impian dan harapannya untuk bersanding dengan Cakra.
"Nggak, aku nggak boleh menyerah begitu saja. Sebelum janur kuning melengkung aku masih punya banyak kesempatan untuk mendapatkan Cakra."Ucap Liani menyemangati diri sendiri.
________
Waktu terus berjalan dan hari pun kini sudah siang. Cakra dan Kania baru saja sampai.
Saat mereka masuk, mereka di sambut oleh BI Nining.
Bi Nining langsung bertanya pada Cakra dan Kania yang sedari kemarin tidak pulang. Bi Nining sangat khawatir apa lagi Bi Nining tahu kalau kondisi Kania saat ini belum stabil.
Tapi setelah melihat Kania yang datang sambil tersenyum membuat Bi Nining merasa lega, karena itu artinya Kania sudah membaik dan sudah menerima semuanya.
"Maaf ya Bi sudah membuat Bibi khawatir,"ucap Kania "Kemarin aku ingin pergi ke suatu tempat yang bisa membuatku lebih tenang, dan akhirnya Cakra membawa aku ke desa pembantunya."Sambung Kania.
"Tidak papa non, yang penting non Kania dan den Cakra baik baik saja. Bibi cuman takut kalian kenapa kenapa."Ucap Bi Nining.
__ADS_1
"Kami nggak papa kok Bi, Bibi tenang saja aku akan menjaga Kania dengan baik."Saut Cakra.
"Iya Bibi percaya."Ucap Bi Nining sambil tersenyum.
"Ya sudah kalau begitu aku dan Cakra pergi ke kamar dulu ya, kamu mau bersih bersih dulu."Ucap Kania.
"Ya, Bibi juga mau menyiapkan makan siang untuk non Kania dan den Cakra."Timpal Bi Nining.
Setelah itu mereka pun berpisah, Bi Nining pergi ke dapur sedangkan Kania dan Cakra pergi ke kamar untuk membersihkan diri.
Cakra membersihkan diri lebih dulu, sedangkan Kania memainkan ponselnya yang beberapa hari ini tidak pernah di sentuhnya.
Saat Kania melihat handphonenya, Kania melihat banyak pesan yang masuk, terutama dari Bunga dan Mia.
Kania pun membalas pesan mereka, dan memberitahu mereka kalau saat ini keadaannya sudah membaik.
Dan tak lama dari itu Bunga langsung membalas pesan Kania, Bunga berencana untuk datang ke rumah Kania bersama Mia nanti setelah pulang sekolah.
Kania senang mengetahui kalau Bunga dan Mia akan datang. Tapi saat Kania melihat Cakra yang keluar dari dalam kamar mandi, Kania baru teringat kalau Bunga dan Mia tidak mengetahui hubungannya dengan Cakra.
"Aduh kok aku bisa lupa sih."Ucap Kania.
"Lupa apa?."Tanya Cakra pada Kania.
"Bunga dan Mia mau datang ke rumah dan aku sudah mengiyakan. Aku lupa kalau ada kamu dan aku juga lupa kalau belum ada yang mengetahui hubungan kita,"jelas Kania "Gimana dong?."Sambung Kania.
"Tidak papa, nanti aku akan pergi ke luar. Dan aku tidak akan pulang sebelum teman teman kamu pulang."Ucap Cakra.
"Kamu yakin?."Tanya Kania memastikan.
"Iya, aku juga ada urusan jadi sekalian saja."Jawab Cakra.
"Maaf ya,"ucap Kania sambil memeluk Cakra "Seharusnya aku berpikir dulu sebelum mengiyakan mereka untuk datang, apa lagi kamu juga pasti cape nyetir tadi."Sambung Kania dengan nada rasa bersalah.
"Nggak papa, masih ada waktu sebentar untuk aku istirahat. Lagi pula aku ada urusan sama papah kok, jadi aku bisa istirahat di sana."Ucap Cakra.
Setelah itu Cakra mencium kening Kania. Kemudian Kania pun melepaskan pelukannya dari Cakra dan berlalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
___
Jarak antara Kania dan Cakra kini sudah semakin terkikis dan menipis. Apalagi setelah kepergian kedua orang tua Kania, yang membuat Kania merasa sedih dan tidak ada lagi tempat bersandar selain Cakra.
__ADS_1
Karena kesabaran dan ketulusan Cakra mendampingi dan menjaga Kania selama masa masa terpuruk, membuat Kania kini menaruh sepenuh hatinya untuk Cakra.
Kania kini percaya kalau cinta datang tidak bisa di tebak dan untuk siapa cinta itu. Seperti yang terjadi pada dirinya yang jatuh cinta paga laki laki yang selalu saja membuatnya kesal dan tak jarang berdebat dengannya.