
Pudin mengejar Liani masuk ke dapur. Saat sampai di dapur Pudin melihat Liani Cakra dan Kania yang saling menatap heran.
"Dia siapa?."Bisik Kania pada Cakra.
"Dia Liani salah satu anak desa ini."Jawab Cakra.
"Lalu untuk apa dia kesini?."Tanya Kania kembali.
"Tidak tahu."Jawab Cakra.
Pudin menepuk pundak Liani agar tersadar dari lamunannya. Kemudian Pudin pun bertanya pada Liani untuk apa dia datang kemari.
Liani pun langsung menjawab jujur kalau dia datang kemari untuk memberikan makan yang telah dia masak untuk Cakra.
Kania yang mendengar jawaban Liani, Kania langsung tahu kalau Liani suka pada Cakra. Bahkan Kania melihat dengan sangat jelas kalau Liani sedang berusaha mendekati Cakra.
Namun selama ada dirinya, Kania tidak akan membiarkan siapa pun yang berusaha mendekati Cakra apa lagi berusaha mengambil Cakra dari dirinya.
"Ini ambil, aku membuatnya secara khusus."Ucap Liani sambil menyerahkan rantang makanan yang di bawanya.
"Wah repot repot sekali,"ucap Kania sambil mengambil rantang makan Liani "Tapi terimakasih ya."Sambung Kania sambil tersenyum.
"Eh, itukan untuk Cakra."Ucap Liani.
"Untuk Cakra atau untuk siapa pun tetap sama saja akan di makan bersama dengan orang yang ada di sini."Saut Kania.
Setelah itu Kania langsung menyiapkan makanan yang di bawa Liani dan juga makanan yang sudah di masak Pudin tadi.
Kania pun mengajak Cakra dan Pudin untuk makan saat itu juga, karena Kania sudah merasa lapar.
Cakra duduk di samping Kania, namun tiba tiba saja Liani duduk di samping Cakra sedang Pudin duduk di depan mereka bertiga.
Kania heran kenapa Liani tidak pulang malah ikut duduk di samping Cakra.
"Kok kamu duduk di situ?."Tanya Kania.
"Kenapa memangnya kalau saya duduk di sini?"Jawab Liani dengan pertanyaan kembali.
"Kami mau makan, masa iya kamu juga mau ikut makan sih. Lebih baik kamu pulang aja, lagi pula sebentar lagi udah mau gelap."Ucap Kania.
"Tidak papa, kan nanti Cakra bisa anterin saya pulang."Saut Liani.
Kania benar benar tidak habis pikir kenapa ada orang yang sangat tidak tahu diri dan tak tahu malu seperti Liani ini.
Akhirnya Kania pun tidak memperdulikan Liani lagi. Pudin mengambil nasi lebih dulu, setelah itu Kania berdiri dan hendak mengambil nasi untuk Cakra, namun saat Kania akan mengambil sendok nasi, Liani sudah mengambilnya mendahului Kania.
Setelah itu Liani pun mengambilkan nasi untuk Cakra. Kania benar benar kesel dengan apa yang di lakukan oleh Liani. Bukan hanya itu Liani bahkan mau mengambil lauk untuk Cakra.
"Cakra mau makan sama apa, biar saya ambilkan."Ucap Liani sambil tersenyum pada Cakra.
"Tidak usah, saya bisa sendiri kok."Saut Cakra.
__ADS_1
"Tidak papa biar saya ambilkan saja."Ucap Liani.
Saat Liani akan mengambilkan lauk untuk Cakra. Kania langsung mengambil nasi dengan porsi cukup banyak, lalu Kania pun mengambil lauk cukup banyak ke dalam piringnya.
"Kamu makannya banyak sekali ya, awas gendut, nanti tidak ada yang mau sama kamu loh."Ucap Liani.
"Hahaha, tenang saja. Porsi makan aku sedikit kok.
Aku sengaja mengambil banyak karena Cakra akan makan satu piring sama aku
Iya kan Cakra?." Ucap Kania sambil tersenyum manis pada Cakra.
"Iya, aku juga lebih suka makan satu piring sama kamu."Saut Cakra.
Kania tersenyum penuh kemenangan. Sedangkan Liani terlihat begitu kesal. Tak sampai di situ Kania pun sesekali menyuapi Cakra begitu pun sebaliknya.
Pudin yang sedari tadi hanya jadi penonton pun tersenyum puas saat melihat wajah Liani sangat kesal melihat Cakra dan Kania bermesraan.
Tapi Pudin tahu Liani tidak akan menyerah begitu saja.
"Saya tunggu di depan saja ya."Ucap Liani.
"Oh, kalau begitu kamu langsung pulang saja dan tidak perlu menunggu lagi."Saut Kania.
Liani tidak memperdulikan ucapan Kania. Liani langsung pergi dan duduk di depan.
"Siapa sih perempuan itu?
Malah pake acara makan satu piring berdua, suap suapan lagi. Sebenarnya perempuan itu siapanya Cakra sih?
Apa jangan jangan dia itu kekasihnya Cakra?
Kalau begitu ini tidak bisa di biarin begitu saja, saya harus bisa merebut Cakra dari perempuan itu." Ucap Liani.
Tak lama Kania keluar sambil membawa air minum. Kania melihat Liani yang sedang duduk sambil melamun. Kemudian Kania pun berjalan dan....
Brruug
Bbyyuuurr....
"Aaaa...."Teriak Kania dan Liani.
Cakra dan Pudin yang mendengar teriakkan Kania dan Liani langsung menghampiri mereka. Saat mereka datang mereka melihat Kania yang terduduk di lantai sedang Liani berdiri dengan keadaan basah kuyup.
"Kania kamu kenapa?."Tanya Cakra sambil membantu Kania berdiri.
"Tadi aku tersandung terus aku jatuh."Jawab Kania.
"Aduh basah semua ini baju saya."Ucap Liani.
"Kok bisa baju kamu basah?."Tanya Pudin.
__ADS_1
"Semua ini gara gara dia menyiramkan air pada saya."Jawab Liani.
"Aku kan nggak sengaja, kamu juga lihat sendiri kan kalau aku jatuh."Saut Kania.
"Cakra kamu bisa antar saya pulang kan, saya mau ganti baju."
"Aduh..., kaki aku sakit."Ucap Kania.
"Ayo duduk."Ucap Cakra.
"Sakit Cakra, kayanya gak bisa jalan deh."Ucap Kania.
Mendengar hal itu Cakra pun langsung menggendong Kania dan membawa Kania masuk ke dalam kamar.
Saat sebelum masuk ke dalam kamar, Kania menunjukkan jari tengahnya pada Liani.
Liani yang melihat itu langsung pergi begitu saja.
"Liani mau saya antar?."Tanya Pudin dengan sedikit berteriak.
"Tidak perlu, saya bisa pulang sendiri."Saut Liani.
"Wah luar biasa sekali ya, baru kali ini saya melihat perempuan bersaing dengan begitu ketat,"Ucap Pudin sambil menggelengkan kepalanya "Tapi Kania luar biasa sekali dalam segi pertahanan."Sambung Pudin sambil tersenyum.
Di dalam kamar Cakra mengobati kaki Kania yang luka.
"Kenapa harus sampai luka seperti ini sih?."Tanya Cakra.
"Kan aku jatuh tadi."Jawab Kania.
"Kania, aku tahu apa yang sedang kamu mainkan tadi. Tapi lain kali kalau bermain itu jangan sampai luka seperti ini."Ucap Cakra.
"Iya maaf, aku gak tahu kalau akan seperti ini,"ucap Kania "Tapi aku heran deh kok ada ya, perempuan nggak tahu diri kaya dia, nggak punya malu."Sambung Kania.
"Ya mau bagaimana lagi, karena ketampanan aku membuat dia seperti itu."Saut Cakra.
"Dih....
Tapi, apa dia terus seperti itu setiap kali kamu datang ke sini?."Tanya Kania.
"Ya, begitu deh."Jawab Cakra.
"Terus kamu suka dia kaya gitu sama kamu?
Maksudnya tidak mempermasalahkan dia bertingkah seperti itu, melayani kamu seperti istrinya saja."Ucap Kania.
"Kalau biasanya tidak sampai begitu. Paling hanya memberikan makan dan mengontrol sebentar.
Sebenarnya aku cukup risih, tapi aku hanya mencoba untuk menghargai dia karena sudah baik padaku."Jelas Cakra.
Cakra dan Kania pun mengobrol banyak hal sampai akhirnya mereka tertidur.
__ADS_1