
Waktu berjalan dengan begitu cepat dan kini usia kandungan Kania sudah menginjak lima bulan.
Kania berdiri di depan cermin sambil melihat pantulan dirinya di cermin dengan perutnya sudah buncit. Kania terus mengelus perutnya sambil tersenyum.
"Sudah lima bulan kamu ada di dalam sana sayang, itu artinya hanya tersisa empat bulan lagi untuk kita bertemu.
Kamu tahu tidak kalau Mamah sudah tidak sabar menunggu kamu lahir ke dunia ini untuk menghiasi hari hati Mamah dan juga Papah."Ucap Kania.
Cakra yang baru selesai mandi langsung memeluk Cakra dari belakang, kemudian Cakra mencium pipi Kania.
Setelah itu Cakra pun berjongkok di depan Kania, Cakra pun mencium perut buncit Kania.
"Sayang sehat sehat ya di dalam sana, kamu harus kuat dan jaga Mamah baik baik, satu lagi kamu tidak boleh menyakiti Mamah ya, karena dia sangat berharga untuk Papah dan pastinya kamu."Ucap Cakra sambil tersenyum.
"Hari ini aku mau cek kandungan ke rumah sakit, kamu tidak lupakan?."Tanya Kania.
"Mana mungkin aku lupa, aku tahu semua jadwal kamu sayang,"jawab Cakra,"aku juga sudah membuat jadi dengan Dokter kandungan kamu."Sambung Cakra.
"Baguslah, ya sudah aku siap siap dulu ya."Ucap Kania dan Cakra pun mengangguk.
Sambil menunggu Kania selesai bersiap, Cakra pun turun dan membantu Bi Nining menyimpan sarapan. Hal itu kini sudah menjadi rutinitas Cakra, Cakra ingin dia sendiri yang melayani Kania saat Kania hamil seperti saat ini.
Setelah lima belas menit, Kania pun turun dan langsung duduk di meja makan. Kemudian Cakra pun mengambil makan untuk Kania.
"Sedikit saja ya."Ucap Kania.
"Kenapa? Kamu mual?."Tanya Cakra.
"Sedikit, tapi tidak papa kok."Jawab Kania.
"Yakin?."
"Iya aku yakin sekali."Ucap Kania.
__ADS_1
Setelah itu Kania dan Cakra sarapan bersama. Selesai sarapan mereka pun langsung pergi ke rumah sakit.
Butuh waktu sekitar tiga puluh lima menit untuk sampai di rumah sakit, dan sesampainya di sana Kania dan Cakra langsung menemui Dokter kandungan Kania.
"Oh iya rencananya lusa aku akan pergi ke pesta pernikahan Rendi, tapi maaf sayang aku tidak bisa bawa kamu pergi ke sana "Ucap Cakra.
"Kenapa?."Tanya Kania.
"Acara pernikahan ini di adakan di atas kapal pesiar di tengah lautan sayang, aku khawatir kalau kamu ikut, apalagi saat ini kami sedang hamil."Jelas Cakra.
"Tapi aku ingin naik kapal pesiar lagi sayang, terakhir kali aku naik kapal pesiar dulu bersama dengan Mamah dan Papah."Ucap Kania.
"Sabar ya, tunggu kamu melahirkan baru kita pergi naik kapal pesiar. Hitung hitung bulan madu.
Bukankah selama ini kita belum pernah bulan madu iya kan?
Jadi tunggu anak kita lahir setelah itu barulah kita pergi, ok."Ucap Cakra.
"Baiklah."Ucap Kania.
Cakra khawatir kalau sampai Kania ikut, akan terjadi sesuatu padanya yang nantinya akan membahayakan Kania dan juga anak yang sedang dia kandung.
Saat pemeriksaan Cakra terus mendampingi Kania. Mereka sangat senang saat melihat anak mereka di layar monitor. Dan pada saat itu Dokter mengatakan jenis kelamin anak mereka ya itu laki laki.
"Anak kami laki laki Dok?."Tanya Kania memastikan.
"Iya, jika hasilnya akurat anak kalian adalah laki laki."Jawab Dokter.
"Semuanya baik baik saja kn Dok?."Tanya Cakra.
"Iya semuanya baik baik saja, detak jantung dan yang lainnya normal.
Tapi ingat ya Ibu Kania jangan terlalu cape, jangan banyak pikiran, apa lagi angkat beban yang berat."Jelas Dokter.
__ADS_1
"Iya Dok."Saut Kania.
Setelah semua pemeriksaan selesai, Cakra dan Kania pergi menebus obat dan Vitamin.
Karena Kania merasa kakinya pegal, Kania pun minta untuk pergi ke mobil lebih dulu.
Tapi tiba tiba saja perasaan Kania tidak enak, Kania merasa ada orang yang sedang mengawasinya. Kania pun menengok ke belakang tapi dia tidak melihat siapa pun yang mencurigakan.
"Mungkin hanya perasaanku saja."Ucap Kania.
Kania pun masuk kedalam mobil, namun perasaannya tetap masih tidak enak.
"Tok tok tok."
Kania tersentak saat mendengar suara ketukan di kaca mobil, tapi setelah melihat bahwa yang mengetuk adalah Cakra, Kania langsung merasa tenang.
Kania membuka pintu mobil.
"Kamu mengagetkan saja."Ucap Kania.
"Kaget?
Kamu sedang melamun?, lagi pula kenapa kamu mengunci pintunya?."Tanya Cakra.
"Aku tidak melamun, hanya saja tadi aku merasa tidak enak, seperti ada yang mengawasi ku."Jawab Kania.
"Benarkah, di mana?."Tanya Cakra.
"Aku tidak tahu, karena saat aku melihat kebelakang tidak ada yang mencurigakan.
Aku sempat berpikir bahwa itu hanya halusinasi ku saja, tapi entah kenapa rasanya aku selalu tidak tenang.
Aku benar benar merasa ada yang mengawasi aku."Jelas Kania.
__ADS_1
"Sekarang kamu tenang ya."Ucap Cakra menenangkan Kania, dan Kania pun hanya mengangguk.