
Hari terus berganti, dan selama itu Kania selalu bersikap aneh dan tidak seperti biasanya.
Tiba tiba menjadi begitu manja, tiba tiba marah marah tidak jelas, bahkan Kania bisa menangis hanya karena suatu hal yang kecil.
Dan sudah dua hari ini Kania tidak ingin dekat dekat dengannya.
"Sebenarnya apa yang terjadi di pada Kania? Kenapa dia tidak mau dekat dekat dengan ku, apa jangan jangan dia suka sama laki laki lain di kampusnya."Ucap Cakra yang sedang duduk di halaman rumah.
Pak Banu yang mendengar ucapan Cakra langsung duduk di dekat Cakra.
"Maaf Den, tadi saya tidak mendengar ucapan Aden."Ucap Banu.
"Tidak papa Pak."Ucap Cakra sambil tersenyum.
"Den, kalau dari apa yang Bapak lihat dan dengar dari perkataan Adan tadi, sepertinya Non Kania sedang hamil."Ucap Banu.
"Hamil?."Tanya Cakra dan Banu pun mengangguk.
"Tapi ini hanya sekedar dugaan Bapak saja, agar lebih jelas lagi coba di periksa saja."Saran Banu.
Cakra pun tersenyum, Cakra berharap kalau apa yang di katakan oleh Pak Banu itu benar. Setelah itu Cakra langsung pergi menggunakan motor pergi ke luar.
Cakra terus melajukan motornya hingga akhirnya dia berhenti di depan apotek. Cakra pun masuk ke dalam.
"Mbak."Panggil Cakra pada penjaga apotek.
"Iya mas, ada yang bisa saya bantu?."Tanyanya.
"Iya Mbak, saya mau beli alat tes kehamilan."Jawab Cakra.
"Oh iya, mau yang mana ya mas?."
"Hmm, semuanya juga boleh deh, masing masing satu."Jawab Cakra.
"Baik, tunggu sebentar ya."
__ADS_1
Cakra pun menunggu sebentar dan setelah Cakra mendapatkan barang yang di belinya, Cakra pun langsung pulang.
Sesampainya di rumah, Cakra masuk ke dalam kamar. Kania yang melihat Cakra masuk ke dalam kamar terlihat begitu kesal.
"Kenapa kamu masuk ke dalam kamar tanpa izin dari aku? Aku kan sudah bilang kalau aku tidak mau dekat dekat kamu sekarang."Ucap Kania kesal.
"Ok ok aku minta maaf.
Tapi aku minta kamu pake alat ini ya, sekarang."Ucap Cakra sambil memberikan kantung plastik yang berisi tespek dari berbagai macam.
"Ini apa?."Tanya Kania.
"Itu alat tes kehamilan."Jawab Cakra.
"Untuk apa kamu meminta aku mencoba alat ini? Jangan jangan kamu mengira aku hamil ya?."Tanya Kania dan Cakra pun mengangguk sambil tersenyum.
Kemudian Cakra menjelaskan pada Kania kenapa Cakra bisa berpikir kalau saat ini Kania sedang hamil. Pada saat menjelaskan pada Kania, Cakra terlihat begitu bahagia yang membuat Kania sedikit khawatir.
"Kamu kenapa? Seperti tidak bahagia mendengarnya."Ucap Cakra.
"Bukan begitu, aku sangat bahagia kalau memang iya, tapi kalau ternyata tidak pasti akan sangat mengecewakan kamu.
"Kamu jangan khawatir, apa pun hasilnya nanti aku akan menerima."Ucap Cakra.
"Baiklah kalau begitu aku akan mencobanya."Ucap Kania yang kemudian langsung berlalu menuju kamar mandi untuk memakai alat tes kehamilan yang Cakra berikan padanya.
Cakra menunggu dengan perasaan yang tidak menentu, jantungnya berdetak dengan sangat kencang menunggu Kania.
Setelah beberapa menit menunggu, pintu kamar mandi pun terbuka. Cakra melihat Kania terdiam di ambang pintu.
Cakra menghampiri Kania dan bertanya hasilnya, namun Kania diam saja. Cakra pun akhirnya masuk ke dalam kamar mandi dan melihat hasil tesnya sendiri.
Tidak hanya satu, Kania memakai tiga alat sekaligus. Cakra melihat satu persatu dengan gugup, karena terlihat dengan sangat jelas dari wajah dan juga tangannya yang bergetar.
"Kania ini---- ini aku tidak salah lihat kan?."Tanya Cakra sambil melihat kearah Kania.
__ADS_1
Kania pun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Tanpa aba aba air mata Kania menetes.
Cakra berlari ke arah Kania lalu memeluknya dengan sangat erat. Cakra pun terus mengucap rasa syukurnya dan terus mencium Kania.
Sedangkan Kania hanya menangis bahagia, Kania tidak dapat berkata apa apa, yang saat ini dia rasakan hanya rasa bahagia.
_
Kini Cakra dan Kania tengah berbaring di atas tempat tidur sambil berpelukan.
"Besok kita ke rumah sakit ya, agar kita bisa mengetahui lebih jelas lagi."Ucap Cakra.
"Iya."Jawab Kania sambil mengusap perutnya yang masih rata.
"Kamu senang?"Tanya Cakra.
"Tentu saja.
Karena anak ini akan menjadi teman ku saat kita sedang tidak bersama. Aku juga berharap wajahnya akan sangat mirip kamu nanti, dengan begitu aku akan selalu mengingat kamu."Jawab Kania.
"Hmm, kenapa aku merasa kalau jawaban kamu kok kaya aneh deh."Ucap Cakra.
"Aneh apanya sih?."Tanya Kania.
Cakra menggelengkan kepalanya.
"Mungkin hanya perasaan aku saja."Ucap Cakra.
Setelah berbicara beberapa hal, mereka pun terlelap dengan terus berpelukan.
__
Keesokan harinya, karena mereka berencana pergi ke rumah sakit, mereka pun memutuskan tidak masuk kampus.
Karena setelah dari rumah sakit mereka akan langsung pergi ke rumah Cakra untuk memberi kabar bahagia pada Mamahnya Cakra.
__ADS_1
*Bersambung.....
(Pemanasan dulu*)