
Kania dan Bunga kini sudah berada di salah satu mall di ibukota. Mereka berencana beli makan untuk mereka nanti.
Tapi sebelum belanja makanan, Bunga mengajak Kania ke salah satu toko pakaian dalam.
Saat sedang melihat lihat, Bunga mengambil sebuah lingerie berwarna merah darah lalu memberikannya pada Kania.
"Ini buat kamu."Ucap Bunga.
"Apa ini?."Tanya Kania sambil melihat apa yang di berikan Bunga tadi.
"Itu alat tempur."Jawab Bunga sambil tersenyum.
"Ya ampun Bunga, kamu itu apa apaan sih.
Kenapa memberikan aku ini?."Tanya Kania saat melihat lingerie yang di berikan Bunga tadi.
"Itu buat kamu pakai saat Cakra pulang nanti, dengan begitu pasti Cakra tidak akan bisa menahan lagi hasratnya padamu.
Dan setelah itu maka Cakra akan langsung menerkam kamu dengan begitu buas.
Karena pada akhirnya dia bisa melepaskan hasrat padamu."Jelas Bunga.
"Tapi ini sama saja aku tidak pakai baju Bunga."Ucap Kania.
"Justru itu, pasti Cakra tidak akan tahan jika melihat tubuhmu yang seksi dan menggoda."Ucap Bunga.
"Aku tidak yakin karena sebelumnya dia biasa saja tidak terlihat tergoda atau gimana gimana."Ucap Kania.
"Aduh Kania itu tidak mungkin.
Aku sangat yakin kalau pada saat itu Cakra pasti menekan hasratnya karena masih belum waktu yang tepat.
Tapi kali ini aku yakin dia tidak akan bisa menahannya, terlebih lagi bentuk tubuh sekarang sudah berbeda.
Lihat gunung kembar milik mu ini jauh lebih besar dari sebelumnya dan pantat mu ini benar benar menggugah selera."Jelas Bunga.
Kania terdiam sesaat dan memikirkan apa yang di katakan oleh Bunga. Dan akhirnya Kania pun membeli lingerie itu.
Setelah itu mereka pun pergi untuk membeli makan dan yang lainnya.
__________
Sedangkan di taman tepi danau Mia tengah duduk bersama Andika. Bercanda tertawa berdua.
"Aku tidak pernah menyangka kalau kita akan menjadi sedekat ini."Ucap Mia.
"Iya kamu benar.
Semoga saja kita bisa selama seperti ini."Saut Andika.
__ADS_1
Mia hanya tersenyum mendengar ucapan Andika. Mia juga mau selamanya seperti ini tapi itu semua bisa terjadi kalau Andika menjadi miliknya.
Jika tidak itu semua tidak akan mungkin terjadi.
Sejak masuk kuliah, Mia selalu saja berharap kalau Andika akan meminta untuk jadi kekasih dan bahkan Mia berharap kelak bisa menikah dengan Andika.
Karena selama ini hanya Andika yang bisa mengerti dirinya, bisa memahami perasaannya. Selama ini hanya Andika yang selalu ada di setiap menghadapi masalah.
"Hei kenapa melamun dan cemberut seperti itu? Apa ada masalah?." Tanya Andika.
"Tidak ada."Jawab Mia.
"Benarkah?."Tanah Andika kembali untuk meyakinkan.
"Oh iya aku membuat menu baru di cafe Kak Bimo apa kamu mau mencobanya?."Tanya Andika.
"Tentu saja.
kamu tahu bahkan aku selalu menantikan kamu membuat menu baru.
Oh iya kenapa kamu tidak membuat usaha sendiri saja?."Ucap Mia.
"Aku juga ingin, tapi aku belum cukup berani untuk berdiri sendiri. Lagi pula membuka usaha sendiri membutuhkan uang yang cukup banyak.
Aku ini tidak sekaya Cakra, masih bisa join sama Kak Bimo saja aku sudah cukup senang."Jelas Andika.
"Apa meminjamkan modal padaku?."Tanya Andika.
"Tidak Mia.
Aku ingin berdiri di kaki ku sendiri agar nanti aku siap untuk menopang kehidupan orang yang aku cintai, dan aku bisa dengan bangga menceritakan padanya bagaimana aku bisa mendapatkan yang aku impikan dengan usaha ku sendiri "Jawab Andika.
"Siapa dia?."Tanya Mia.
"Siapa?."Tanya Andika balik.
"Siapa orang yang kamu cintai itu?"Ucap Mai kembali.
"Keluarga dan istri ku kelak.
Meskipun aku juga tidak tahu siapa istri ku nanti."Jawab Andika sambil tersenyum.
Mia merasa sedikit kecewa dengan jawaban Andika. Mia pikir Andika akan mengatakan kalau orang yang di cintai olehnya selain keluarga itu dirinya dan Mia juga berharap kalau Andika akan memintanya untuk menjadi istrinya nanti.
"*Mia sejujurnya aku berharap yang akan menjadi istriku kelak adalah kamu.
Tapi aku tidak tahu apakah kamu bersedia atau tidak. Karena jika di bandingkan dengan Cakra aku bukanlah apa apa*." Batin Andika.
"Sudah mau sore, sebaiknya kita pergi sekarang." Ucap Andika.
__ADS_1
"Iya."Saut Mia.
Setelah itu Andika dan Mia pun pergi ke cafe Bimo, untuk mencicipi menu baru yang buat oleh Andika.
________
Watu terus berjalan dan hari pun kini sudah malam. Kania dan Bunga tengah asik menonton drama di ruang tengah.
Tepat pada pukul sembilan Mia baru datang.
Mia datang dengan wajah lesu dan Mia pun langsung merebahkan tubuhnya di sofa.
"Kamu kenapa?."Tanya Kania.
"Hmm...Aku juga tidak tahu.
Yang jelas pikiran ku sedang kacau.
Begitu banyak pertanyaan di dalam otak ku saat ini. Dan aku juga berharap kalau jawaban dari setiap pertanyaan itu adalah aku."Jawab Mia.
"Pasti ini ada hubungannya dengan Andika."Saut Bunga.
"Iya memang benar.
Dengar! Aku dan Andika menjalin hubungan baik sudah lama. Kami sering pergi berdua, berbagi suka duka.
Apa waktu yang telah aku lalui dengan Andika selama itu tidak bisa membuat Andika menyukai aku atau bahkan sadar kalau aku menyukainya dan nyaman dengannya.
Apa mungkin Andika mengira kalau aku masih menyukai Cakra?."Ucap Mia.
"Mungkin bukannya Andika tidak menyukai kamu atau tidak tahu kalau kamu menyukainya.
Hanya saja dia masih meyakinkan dirinya.
Dan kamu tidak perlu khawatir kalau memang Andika jodoh mu, bagaimana pun dan seperti apa pun jalan ceritanya pada akhirnya kamu dan Andika akan tetap bersama."Jelas Kania.
Mia pun memikirkan apa yang di katakan oleh Kania. Memang benar apa yang di katakan oleh Kania, tapi saat ini Mia hanya ingin sebuah kepastian.
Mia tidak ingin menunggu sesuatu yang tidak pasti. Mia tidak ingin semua terulang lagi seperti dulu saat Mia menyimpan perasaan pada Cakra.
Sesuatu yang tidak pasti yang akhirnya menyakitkan hati.
"Sudahlah tidak perlu di pikirkan, lebih baik sekarang kamu bersih bersih setelah itu gabung bersama kami.
Ini jauh lebih seru dari pada memikirkan tentang perasaanmu itu."Ucap Bunga.
"Iya iya."Ucap Mia.
Mia pun bangkit lalu berlalu pergi menuju kamar tamu untuk membersihkan tubuhnya sebelum dia bergabung dengan Kania dan Bunga.
__ADS_1