
Sesampainya Kania di ruangan di mana orang tuanya berada, Kania tidak mampu untuk berkata apa pun. Bahkan langkahnya pun terasa begitu berat.
Dengan kaki dan tubuh yang bergetar begitu hebat, Kania melangkahkan kakinya untuk mendekat pada jasad orang tuanya.
"Mamah.....Papah....."Teriak Kania histeris.
Kania benar benar tidak sanggup saat melihat orang tuanya terbujur kaku dengan berlumuran darah.
Lusi memeluk Kania agar bisa menguatkan Kania. Semuanya tahu pasti sangat sulit untuk Kania menerima semua kenyataan ini.
Kehilangan kedua orang tuanya, dan dalam keadaan seperti ini.
______
Waktu terus berjalan Joni dan Cakra mengurus pemakaman Indra dan Ningsih. Pada saat akan memakamkan Indra dan Ningsih, Kania sempat histeris dan berkata kalau orang tuanya tidak meninggal, dan hal itu tentu saja sedikit menghambat pemakaman.
Namun dengan berbagai cara akhirnya pemakaman bisa di lanjutkan. Setelah selesai, semua orang langsung pergi dari pemakaman dan kini hanya ada Kania, Cakra, Joni dan Lusi.
"Mah, pah kenapa kalian tega tinggalin aku sendiri,"ucap Kania "Kalian nggak sayang sama Kania, kalian ingin bahagia tanpa Kania iya kan, karena itu kalian pergi tanpa Kania."Sambung Kania.
"Sekarang Kania nggak punya siapa siapa lagi,
Bagaimana kehidupan Kania kedepannya tanpa kalian.
Kania nggak mau sendirian Mah, pah."Ucap Kania.
"Kania sayang, jangan pernah katakan kalau kamu sendirian sayang.
Kamu tidak sendirian, kamu punya Mamah Lusi dan Papah Joni. Dan kamu juga punya Cakra.
Kami tidak akan meninggalkan kamu Kania, kami sayang sama kamu. Jadi jangan pernah berpikir kalau kamu sendirian, ok."Ucap Lusi.
Kania pun langsung memeluk Lusi dengan begitu erat. Kania menangis tersedu di dalam dekapan Lusi.
Karena hari sudah semakin sore, mereka pun memutuskan untuk pulang. Dan untuk sementara waktu Joni dan Lusi akan tinggal di rumah Kania. Mereka takut terjadi sesuatu pada Kania, lagi pula mereka harus menyiapkan pengajian untuk orang tua Kania.
__ADS_1
Karena kelelahan Kania tertidur di dalam mobil hingga sampai di rumah. Cakra pun langsung menggendong Kania dan membawa Kania ke dalam kamar agar Kania bisa beristirahat dengan nyaman.
Cakra membaringkan Kania perlahan di atas tempat tidur, setelah itu Cakra pun menyelimuti Kania.
Cakra menatap wajah Kania yang sudah pulas. Cakra pun membelai kepala Kania, kemudian mencium kening Kania dengan sangat lembut.
"Elu tenang saja, gue nggak akan biarin elu sendirian. Gue janji, gue akan selalu ada buat elu dan gue akan selalu berapa di samping elu sampai kapan pun itu."Ucap Cakra.
_____
Setelah hari itu, Kania merasa hidupnya hampa. Kania tidak banyak bicara, bahkan Kania hanya berdiam diri di dalam kamarnya.
Kania tidak pergi ke sekolah atau hanya sekedar keluar kamar pun Kania tidak mau. Cakra selalu saja berusaha untuk mengajak Kania pergi jalan jalan dan kemanapun Kania mau. Tapi Kania selalu saja menolak.
Seperti biasanya sebelum Cakra pergi ke sekolah, Cakra akan menyiapkan sarapan dan segala keperluan Kania di dalam kamar.
"Kania ayo sarapan."Ajak Cakra sambil mendekat pada Kania.
"Gue belum lapar."Jawab Kania.
"Gue nggak perduli, pokoknya sebelum gue berangkat ke sekolah gue harus pastikan kalau elu dah makan,"ucap Cakra "Oh atau elu mau gue juga nggak masuk sekolah kaya elu?."Sambung Cakra.
"Cakra makasih ya elu udah mau nemenin gue selama ini, elu juga udah sabar banget menghadapi gue yang kaya gini.
Gue nggak tahu kalau nggak ada elu, gue akan seperti apa sekarang.
Hidup gue terasa hampa, gue nggak tahu gue hidup demi siapa sekarang."Ucap Kania sambil menangis.
Cakra menggenggam tangan Kania, lalu Cakra pun mengusap air mata Kania dengan lembut.
"Kania, sekarang elu lihat gue.
Dan dengerin gue baik baik. Gue nggak mau elu terus terpuruk seperti ini. Karena gue yakin bukan seperti ini yang di inginkan mamah dan papah.
Gue juga mau elu nggak putus harapan, elu hidup sekarang itu untuk diri elu sendiri dan juga gue.
__ADS_1
Gue tahu mungkin gue bukan laki laki yang baik, dan gue sadar gue banyak kekurangan. Tapi satu hal yang harus elu tahu, kalau gue akan selalu berusaha membahagiakan elu bagaimana pun caranya. Gue akan terus berusaha memenuhi tanggung jawab gue sama elu sesuai janji yang pernah gue ucapin di depan kedua orang tua kita.
Jangan pernah merasa kalau elu nggak punya siapa siapa lagi, karena masih ada gue yang akan jaga elu, di samping elu sampai kapan pun."Ucap Cakra dengan penuh ketulusan.
Kania langsung memeluk Cakra dengan begitu erat sambil menangis. Setelah mendengar ucapan Cakra, Kania merasa lega dan bahagia.
Kania sadar di dunia ini Kania masih memiliki seseorang yang berharga ya itu Cakra.
Meskipun Kania sadar hubungan pernikahannya dengan Cakra berawal dari ketidaksengajaan yang di inginkan orang tua mereka. Tapi Kania tidak bisa mengelak kalau Cakra adalah suaminya.
Dan Cakra adalah orang yang akan menemani sampai kapan pun.
"Cakra gue mau elu janji sama gue, kalau elu nggak akan ninggalin gue."Ucap Kania yang masih memeluk Cakra dengan erat.
"Gue janji."Saut Cakra.
Cakra melepaskan pelukannya dari Kania, lalu Cakra merapihkan rambut Kania.
"Udah siang, gue harus berangkat sekolah sekarang juga, atau gue bakal telat dan dapat hukuman sendirian, karena elu nggak masuk."Ucap Cakra, dan Kania pun hanya tersenyum.
Sebelum Cakra pergi, Cakra mencium kening Kania. Dan hal itu kini sudah menjadi kebiasaan untuk Cakra atau pun Kania.
Karena semenjak Kania mengurang diri di dalam kamar, Cakra selalu mencium kening Kania, entah itu sebelum Cakra mau pergi kemana pun dan sebelum tidur.
Setelah Cakra keluar dari dalam kamar, Kania berjalan ke arah jendela untuk melihat Cakra berangkat ke sekolah.
Dan Cakra akan selalu melambaikan tangannya pada Kania.
Saat Cakra sudah benar benar berlalu pergi. Kania duduk sambil melihat foto orang tuanya.
"Pah, mah maaf selama ini Kania udah buat Mamah dan papah kecewa.
Kania juga berterimakasih sama mamah dan papah karena sudah menjadikan Cakra bagian dari hidup Kania.
Kania sekarang tahu papah dan mamah sangat ingin menjodohkan Kania dan Cakra dulu, karena kalian tahu Cakra yang terbaik untuk Kania. Hanya Cakra yang bisa kalian andalkan dan percaya untuk menemani dan membahagiakan Kania.
__ADS_1
Mulai hari ini, Kania janji, Kania akan menjadi istri sekaligus teman yang baik untuk Cakra. Kania akan mempraktekkan semua yang pernah mamah ajar pada Kania.
Mamah dan Papah semoga kalian bahagia di sana, Kania sayang kalian."Ucap Kania yang kemudian mencium foto orang tuanya.