Di Paksa Menikah Saat SMA

Di Paksa Menikah Saat SMA
Episode 66


__ADS_3

Di bawah terang bulan seorang wanita bernama Sonnya sedang duduk sambil melihat sebuah foto seorang pria.


Dia terus memandangi foto itu. Namun dalam hati Sonnya dia merasa ada sesuatu yang mengganjal.


"Mami bilang dia adalah pria yang sangat aku cintai, Papi dari anakku.


Tapi kenapa setiap aku melihat foto ini sedikit pun aku tidak merasakan sesuatu sedikit pun, entah itu rindu atau rasa sayang dalam hati ini.


Apa karena aku hilang ingatan jadi aku juga lupa perasaanku padanya.


Tapi kenapa setiap aku melihat foto ini, aku juga tidak pernah melihat bayangan seperti setiap saat aku melihat tingkah anakku dan juga dress yang aku coba tadi siang."Ucap Sonnya.


"Sonnya."Panggil seorang wanita paruh baya.


Wanita itu berjalan mendekat pada Sonnya.


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini sayang?."Tanya wanita paruh baya itu yang bernama Jesica.


"Aku tidak sedang melakukan apa pun kok Mi."Jawab Sonnya.


Jesica pun duduk di samping Sonnya dan mengambil foto yang di pegang Sonnya. Jesica tersenyum sambil mengusap foto itu.


"Kamu pasti merindukannya sama seperti Mami yang juga sangat merindukannya."Ucap Jesica.


"Iy--iya."Jawab Sonnya.


"Tapi mau bagaimana lagi, semuanya sudah menjadi takdir kita harus di tinggalkan pergi selama lamanya."Ucap Jesica.


Sonnya hanya diam saja mendengar setiap ucapan Jesica. Sonnya dapat melihat dengan sangat jelas kalau Jesica sangat menyayangi Ezio suami Sonnya.


"Sudahlah Mi, sebaiknya kita masuk saja, anginnya semakin dingin di sini."Ajak Sonnya.


"Iya, ayo kita masuk."Saut Jesica.


Kemudian mereka pun masuk ke dalam kamar mereka masing masing. Saat Sonnya masuk ke dalam kamarnya, Sonnya melihat putranya, Daniel sedang duduk di atas tempat tidur.


"Hei, kenapa kamu ada di kamar Mami?."Tanya Sonnya.


"Aku ingin tidur bersama Mami malam ini."Jawab Daniel.


"Kenapa?."Tanya Sonnya.


"Karena aku tahu saat ini Mami butuh seorang teman. Aku memang anak Mami, tapi aku juga bisa kok menjadi teman Mami."Jelas Daniel


sambil tersenyum.


Sonnya pun berjalan menghampiri Daniel, kemudian duduk di samping Daniel. Sonnya menatap wajah Daniel.


Hingga tanpa sadar Sonnya sudah menatap wajah Daniel sangat lama.


"Mami, aku tahu aku ini tampan tapi Mami jangan menatapku seperti itu juga dong."Ucap Daniel.


"Apa, kamu ngomong apa tadi?."Tanya Sonnya.

__ADS_1


"Mami melamun lagi."Ucap Daniel.


Daniel pun membaringkan tubuhnya lalu menatap langit langit kamar Sonnya.


"Aku sebenarnya heran kenapa Mami suka menatap aku seperti itu."Ucap Daniel.


Sonnya pun membaringkan tubuhnya di samping Daniel.


"Jujur Mami juga tidak tahu kenapa, tapi yang jelas setiap melihat wajah kamu Mami selalu merasa tenang, bahagia dan Mami selalu merasa saat melihat wajah kamu itu seperti mengobati dahaga hati Mami."Jelas Sonnya.


"Benarkah?."Tanya Daniel.


"Iya."


"Kamu tahu sayang, di dalam hati kecil Mami, Mami selalu merasa kalau ini bukanlah diri Mami yang sesungguhnya, ini bukan kehidupan Mami.


Mami juga sering merasa sangat merindukan seseorang yang tidak tahu siapa itu, tapi begitu melihat kamu rasa itu seperti terobati.


Mami sering berpikir seharusnya kita tidak di sini, ini bukan tempat kita Daniel."Keluh Sonnya.


Daniel hanya diam mendengarkan perkataan Sonnya, namun di dalam pikirannya, Daniel pun memikirkan apa yang di katakan oleh Sonnya.


Apakah mungkin yang di katakan Sonnya itu benar?.


Kalau memang benar, dimanakah seharusnya mereka berada? Dan siapakah mereka sebenarnya?.


"Mami, apa perasaan Mami saat melihat foto Papi?."Tanya Daniel.


"Mami tidak merasakan apa pun, saat Mami melihatnya, Mami seperti melihat foto orang lain yang tidak ada hubungan apa pun dengan Mami."Jawab Sonnya.


"Tenanglah, ada aku di sini yang akan menjaga Mami."Ucap Daniel.


Setelah mendengar ucapan Daniel, sebuah bayangan hitam terlihat. Ada seorang wanita yang sedang menangis sambil di peluk seorang pria, tapi Sonnya tidak dapat melihatnya dengan sangat jelas. Saat Sonnya memaksakan dirinya untuk mengikat itu, kepala Sonnya terasa sangat sakit.


Sonnya mengeluh sakit, hingga membuat Daniel khawatir.


"Mami, Mami kenapa?."Tanya Daniel khawatir.


"Mami nggak papa kok sayang.


Sudah malam sebaiknya kita tidur sekarang ya."Jawab Sonnya.


"Iya.


Daniel akan memeluk Mami semalaman ya."Ucap Daniel.


"Ok, Mami juga akan memeluk kamu semalaman."Ucap Sonnya.


Kemudian mereka pun tertidur dengan saling berpelukan.


________________________________________________


"Cakra."

__ADS_1


"Cakra."


Cakra menengok ke arah sumber suara. Saat itu Cakra melihat seorang wanita cantik tengah berdiri di depannya dengan memakai dress yang sama persis seperti dress yang pernah Cakra berikan pada Kania dulu.


"Siapa kamu?."Tanya Cakra.


"Apa kamu sudah tidak mengenali aku lagi Cakra?."Tanya wanita itu yang kini benar benar memperlihatkan wajahnya pada Cakra.


"Kania."Ucap Cakra saat melihat wajah wanita cantik itu dengan sangat jelas.


Cakra pun langsung memeluk Kania dengan sangat erat, hingga air matanya tak dapat di bendung nya lagi.


"Lama sekali kamu pergi Kania.


Apa kamu tahu betapa hancur dan hampanya aku tanpa dirimu."Ucap Cakra.


"Maaf Cakra ini juga bukan keinginan aku, ini takdir yang harus kita lalui. Takdir sedang menguji cinta kita Cakra."Ucap Kania.


Setelah itu Kania melepaskan pelukan Cakra dan dengan cepat Kania semakin menjauh dari Cakra.


Cakra terus berlari mengejar Kania, namun sekuat apa pun Cakra berlari, Cakra tidak bisa mengejar Kania.


"KANIA......"Teriak Cakra.


"Teruslah mencintai aku Cakra, karena cinta kita yang akan mempersatukan kita kembali."Ucap Kania.


Saat itu Cakra melihat Kania menggenggam tangan seorang anak kecil yang berdiri tepat di belakang Kania. Dan setelah itu Cakra tidak bisa melihat Kania lagi.


"KANIA......"


Cakra terbangun dari tidurnya dengan nafas yang terengah engah. Kemudian Cakra pun minum segelas air yang ada di atas nakas.


Tok tok tok.


"Cakra, Cakra."Seseorang mengetuk pintu kamar Cakra.


Cakra pun bangkit dari tempat tidurnya lalu membukakan pintu.


Saat pintu terbuka, Cakra melihat Pudin berdiri di depan pintu depan sangat khawatir.


"Apa yang terjadi Cakra? Apa terjadi sesuatu padamu?."Tanya Pudin.


"Aku tidak papa."Jawab Cakra.


"Kamu yakin?."Tanya Pudin kembali.


"Iya, aku hanya bermimpi saja."Jawab Cakra.


"Syukurlah kalau begitu, aku sangat khawatir saat mendengar kamu berteriak memanggil manggil Kania tadi."Ucap Pudin.


"Kamu takut aku kembali depresi?."Tanya Cakra sambil tersenyum.


"Jujur saja iya."Jawab Pudin.

__ADS_1


Mereka pun akhirnya duduk berdua di depan kamar Cakra. Kemudian Cakra pun menceritakan mimpinya tadi pada Pudin. Cakra berharap mimpinya itu adalah petunjuk untuknya, petuk yang memberitahunya bahwa Kania masih hidup dan berada di suatu tempat.


__ADS_2