
Waktu terus berjalan, dan malam kini semakin larut. Cafe pun kini waktunya untuk tutup.
Seperti biasa setelah semua selesai di kerjakan mereka akan makan malam bersama.
Pudin yang membawa makanan keluar terkejut saat melihat Kania yang sedang duduk bersama dengan Cakra.
"Loh Kania di sini?."Tanya Pudin, dan Kania hanya tersenyum.
"Dia sudah tahu."Ucap Cakra.
"Oh begitu."Saut Pudin.
Saat makanan sudah siap semua, mereka makan bersama. Sebelum makan Cakra memperkenalkan temannya yang lain.
"Oh iya Kania, perkenalkan dia Jaja teman aku dan Pudin."Ucap Cakra.
"Hai nama ku Kania."Sapa Kania.
Setelah itu mereka pun langsung makan bersama. Dan saat sedang makan mereka sambil membicarakan tentang cafe hari ini, sedangkan Kania hanya diam saja mendengarkan mereka berbicara.
"Oh iya besok pacar ku bisa langsung masuk kerja. Soalnya saat ini dia sudah berada dalam perjalanan."Ucap Jaja pada Cakra.
"Boleh saja, kalau memang dia bisa langsung bekerja. Karena memang kita butuh orang sekarang."Ucap Cakra.
"Lalu di mana dia akan tinggal? Apa dia akan tinggal di sini bersama dengan kalian?."Tanya Kania.
"Tentu saja tidak, dia akan tinggal bersama dengan kakak yang kebetulan tidak terlalu jauh dari sini."Saut Jaja.
Kania pun hanya mengangguk setelah mendapat jawaban dari Jaja. Setelah semua telah selesai dan beres, Cakra dan Kania pun langsung pulang.
Di perjalanan tidak ada yang bersuara, Cakra fokus melajukan motornya dan Kania diam sambil memeluk Cakra.
Setelah menempuh perjalanan hampir dua puluh menit mereka pun kini sudah sampai di rumah. Bi Nining yang melihat Cakra datang bersama Kania langsung berjalan mendekat dengan wajah khawatir.
"Ya ampun Non, Non Kania kemana saja? Bibi sangat khawatir saat tahu kalau Non Kania tidak ada."Ucap Bi Nining.
"Maafkan aku ya Bi."Ucap Kania yang merasa bersalah karena sudah pergi begitu saja dari rumah.
"Sudah tidak apa apa yang terpenting Non Kania baik baik saja."Ucap Bi Nining.
"Ya sudah Bi, lebih baik sekarang Bi Nining istirahat saja."Ucap Cakra.
"Baik Den."Saut Bi Nining.
Cakra dan Kania pun langsung pergi ke kamar mereka. Di dalam kamar Cakra menasehati Kania jika ingin pergi kemana pun harus memberitahu pada salah satu orang di rumah agar tidak membuat khawatir seperti tadi.
"Lain kali jangan seperti itu lagi ya!."Ucap Cakra.
"Iya, aku janji nggak akan seperti itu lagi."Saut Kania.
Cakra tersenyum sambil mengacak acak rambut Kania.
__ADS_1
Setelah itu Cakra langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Kania pun langsung membersihkan dirinya setelah Cakra selesai.
Karena hari sudah malam mereka pun langsung tidur, apalagi dengan aktivitas yang begitu melelahkan membuat mereka langsung masuk ke dunia mimpi.
_______
Hari kini telah berganti, matahari pun kini sudah kembali menerangi bumi dan seisinya. Seperti biasanya Kania dan Cakra bangun pagi untuk berangkat ke sekolah.
Dan kini Kania selalu berangkat bersama dengan Cakra, walaupun Kania harus turun sebelum sampai di gerbang sekolah.
Di dalam perjalanan banyak hal yang mereka bicarakan, entah itu berbicara yang ringan atau pun yang berat. Tapi entah mengapa hal itu membuat Kania merasa bahwa hubungan yang di jalaninya dengan Cakra kini benar benar serius.
Entah dirinya sendiri mau pun Cakra sudah mengakui bahwa mereka adalah suami istri, dan bukan hanya sekedar sahabat lagi.
"Kamu yakin akan turun di sini saja?."Taya Cakra.
"Iya."Jawab Kania sambil tersenyum.
"Baiklah, ya sudah jalan sana. Aku akan mengikuti kamu dari belakang."Ucap Cakra.
Kania pun berjalan sesuai dengan perkataan Cakra. Dan Cakra melajukan motornya perlahan agar tetap berada di belakang Kania.
"Selamat pagi Pak."Sapa Kania pada satpam sekolah.
"Selamat pagi Neng Kania."Saut satpam sambil tersenyum ke arah Kania.
Kania langsung berjalan ke arah kelasnya, namun sebelum itu Kania melihat kearah Akra terlebih dahulu sambil tersenyum, begitu pula dengan Cakra.
Bunga yang melihat Kania begitu bahagia langsung bertanya pada Kania, karena terakhir kali Bunga meninggalkan Kania di rumah kemarin, Kania dalam ke adaan yang tidak baik baik saja.
"Wah ada apa nih, sepertinya kamu sangat bahagia."Ucap Bunga.
"Iya kamu benar, aku memang sangat bahagia."Saat Kania.
"Kenapa? Apa ini ada hubungannya dengan masalah yang kemarin?."Tanya Bunga.
Kania pun mengangguk. Kemudian Kania pun menceritakan apa yang terjadi kemarin setelah Bunga pergi meninggalkannya.
Bunga pun bahagia mendengar cerita Kania.
Tak lama Mia datang. Seperti biasa Bunga dan Kania pun menyapa Mia.
Namun entah mengapa Mia terasa berbeda. Mia terlihat begitu dingin tidak seperti biasanya.
Terlebih lagi pada Kania.
Bunga dan Kania langsung menyadari kalau Mia sepertinya marah dan tidak suka pada Kania. Karena setiap kali Kania bertanya pada Mia, Mia tidak menjawab bahkan mengacuhkan Kania.
"Mia kamu kenapa?."Tanya Bunga.
"Aku nggak papa kok."Jawab Mia.
__ADS_1
"Kamu marah sama aku ya?."Tanya Kania.
Mia diam saja tidak menjawab pertanyaan Kania.
"Mia, kamu kenapa sih? Kamu marah sama aku?,"Tanya Kania kembali "Kalau aku ada salah aku minta maaf ya."Sambung Kania.
"Heh, maaf.
Kamu pikir dengan kata maaf bisa mengembalikan semuanya?
Apa kamu pikir dengan kata maaf bisa mengembalikan semuanya?
Tidak Kania.
Aku sudah terlanjur kecewa."Ucap Mia.
Mendengar ucapan Mia membuat Kania berpikir keras. Apa yang membuat Mia berbicara seperti itu.
Dan apa yang membuat Mia kecewa padanya?.
Mungkinkah Mia mengetahui sesuatu tentang dirinya dan juga Cakra?.
Kania menengok kearah Bunga. Dan Bunga pun mengerti apa yang di pikirkan Kania saat ini.
Bunga pun menggenggam tangan Kania agar Kania bisa lebih tenang.
Kemudian terdengar Isak tangis yang berasal dari Mia. Bunga langsung bangkit dari duduknya, semua Bunga duduk di samping Mia.
"Sebenarnya kamu kenapa?."Tanya Bunga.
Bukannya menjawab pertanyaan Bunga, Mia malah bangkit dari duduknya lalu berlari keluar dari dalam kelas.
Bunga dan Kania pun langsung mengejar Mia.
Mia berlari ke arah belakang sekolah, Bunga berlari dengan cepat dan langsung menarik tangan Mia.
"Mia kamu mau kemana?,"tanya Bunga "Dan apa yang sebenarnya terjadi, kenapa kamu seperti ini?."Sambung Bunga.
"Terus aku harus bagaimana?
Apa aku harus berpura pura tidak terjadi apa apa?
Apa aku harus bersikap seperti biasanya di saat hati aku terluka oleh orang terdekat aku, orang yang aku percaya?
Apa aku tidak boleh marah saat aku di kecewakan?."Ucap Mia sambil menangis.
"Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan, bicara dengan jelas!."Ucap Bunga.
Mia kemudian menatap Kania dengan tatapan penuh kekecewaan, marah namun penuh dengan pertanyaan.
Dan hal itu membuat Kania sangat khawatir.
__ADS_1