
Pada sore harinya Mia dan Bunga datang ke rumah Kania.
Mereka pun langsung di suruh duduk di ruang tamu oleh Bi Nining.
"Tunggu sebentar ya, Bibi akan panggilkan Non Kania dulu."Ucap Bi Nining.
Mia dan Bunga pun hanya mengangguk sambil tersenyum. Mia melihat sekeliling rumah Kania.
Terakhir kali dia datang adalah saat setelah orang tua Kania meninggal.
"Sepertinya banyak yang berubah ya di sini."Ucap Mia.
"Ya, memang beberapa ada yang di ubah tapi tidak banyak."Saut Bunga.
"Sepertinya kamu sering datang ke sini."Ucap Mia kembali.
"Tidak juga hanya beberapa kali saja."Saut Bunga kembali.
Tak lama Bi Nining kembali menghampiri mereka sambil membawakan makanan dan minuman.
"Ayo di minum dan di makan dulu cemilannya sambil menunggu Non Kania turun."Ucap Bi Nining sambil tersenyum.
"Terimakasih banyak Bi."Ucap Bunga.
"Tumben sekali Kania tidak meminta kita untuk langsung pergi ke kamarnya? Biasanya jika kita ingin membicarakan sesuatu dia akan langsung meminta kita pergi ke kamarnya."Ucap Mia.
"Sudahlah tidak perlu banyak tanya, nanti juga kau tahu kenapa."Ucap Bunga.
Setelah menunggu selama sepuluh menit Kania pun turun dan langsung menghampiri Mia dan Bunga di ruang tamu.
Kania pun duduk di depan mereka.
Karena tidak mau berbasa-basi Mia pun langsung meminta penjelasan pada Kania. Kania pun menarik nafas panjang sebelum dia menceritakan semuanya pada Mia.
"Kamu mau mulai dari mana?."Tanya Kania.
"Dari awal, dari sejak kamu dekat dengan Cakra, dan aku tidak mau ada yang di tutup tutupi."Jawab Mia.
"Ok.
Seperti yang kalian tahu aku dan Cakra sering di hukum bersama. Tapi bukan dari sana kami mulai dekat.
Aku dan Cakra mulai dekat setelah kami menikah."Ucap Kania.
Mia yang mendengar kata pernikahan sangat terkejut.
"Apa maksud kamu?
__ADS_1
Menikah?
Siapa yang menikah?."Tanya Mia.
"Aku dan Cakra.
Kamu tahu sendiri bukan sejak awal aku tidak suka pada Cakra. Namun setelah kami menikah kami jadi lebih dekat dan kami pun mulai membuka hati satu sama lain.
Hingga akhirnya kini kita pun saling mencintai.
Aku tahu kamu pasti tidak akan percaya dengan apa yang aku katakan, tapi itulah kenyataannya.
Mau tidak mau kamu harus menerima kenyataan ini."Ucap Kania.
Mia diam sejenak sambil menatap mata Kania, Mia mencari jawaban dari mata Kania. Mia berharap kalau apa yang di katakan oleh Kania tidak benar.
Tapi nyatanya, Mia hanya melihat kejujuran dari mata Kania.
"Lalu bagaimana kalian akhirnya bisa menikah?."Tanya Mia dengan suara yang mulai terbata bata.
"Kami di jodohkan."Jawab Kania.
"Kenapa kamu tidak menolak perjodohan itu kalau kamu memang tidak menyukai Cakra?."Tanya Mia kembali.
"Aku dan Cakra sudah menolak mentah mentah perjodohan itu.
Tapi mungkin ini yang namanya takdir bagaimana pun kami mencoba untuk menolak pada akhirnya kami tetap menikah dan bersama sampai saat ini."Jawab Kania.
Saat Kania menceritakan semuanya, Mia hanya diam tanpa bersuara hanya ada air mata yang mengalir di pipinya.
Kania pun menceritakan kedekatan dirinya dan Cakra saat ini. Bahkan Kania pun menceritakan saat Cakra mengusir Mikela dari rumahnya kemarin.
Kania ingin Mia tahu kalau kini sudah tidak ada harapan atau pun kesempatan lagi untuk mendekati Cakra.
Kania ingin Mia tahu kalau saat ini hanya dirinyalah yang bisa memilik Cakra. Dan dengan begitu Mia berhenti untuk menyukai Cakra.
"Sekarang kamu sudah tahu semuanya, dan sekarang terserah kamu. Kamu ingin membenciku atau tidak itu hak kamu.
Tapi aku harap kamu dapat mengerti kalau sampai kapanpun Cakra hanya milikku dan aku harap kamu bisa membuang perasaanmu pada Cakra."Ucap Kania.
"Iya aku mengerti sekarang. Aku ingin membenci kamu Kania, tapi aku sadar kalau apa yang terjadi bukan sepenuhnya keinginan kamu. Dan kalau memang Cakra bahagia hidup bersama kamu aku ikhlas.
Tapi untuk membuang perasaanku pada Cakra itu tidak mudah Kania dan aku membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
Dan aku harap kamu dapat mengerti itu Kania."Ucap Mia.
"Iya. Tapi aku harap kamu tidak akan berusaha untuk mendekati Cakra seperti kemarin."Saut Kania, dan Mia pun hanya mengangguk.
__ADS_1
Cakra yang sedari tadi mendengar percakapan Kania dan Mia dari balik tembok pun langsung menghampiri mereka.
Cakra pun duduk di samping Kania. Mia sempat terkejut karena kehadiran Cakra di rumah Kania. Namun sedikit Kemudian Mia teringat kalau sekarang Cakra adalah suami Kania jadi tidak salah kalau Cakra berada di rumah Kania.
"Selamat untuk kalian, semoga kalian selalu bahagia, dan semoga kalian akan selalu bersama selamanya.
Maaf atas apa yang aku lakukan kemarin."Ucap Mia.
"Terimakasih.
Aku harap kamu mendoakan kami dengan ikhlas, bukan hanya sekedar ucapan saja.
Dan aku berharap kamu tidak mengulangi apa yang sudah kamu lakukan kemarin."Ucap Cakra.
"Iya."Saut Mia.
"Nah karena semua sudah jelas jadi kita kembali seperti sebelumnya ya.
Aku sangat tidak nyaman kalau di antara kita ada yang saling diam apa lagi saling membenci.
Bukankah kita sudah lama bersama. Karena itu kita harus saling mengerti satu sama lain. Memang kita sudah pernah berjanji untuk tidak saling merahasiakan apa pun, tapi kita pasti ada satu hal yang tidak bisa di bicarakan, apalagi itu tentang keluarga.
Jadi kita harus saling pengertian aja ya."Ucap Bunga sambil tersenyum.
Mia dan Kania pun mengangguk sambil tersenyum. Mereka pun akhirnya berpelukan sambil tersenyum bahagia.
Cakra yang melihat itu pun ikut tersenyum.
Cakra tahu Bunga dan Mia adalah salah satu orang yang penting bagi Kania. Karena mereka adalah orang paling dekat dengan Kania selain orang tuanya.
Setelah itu mereka pun lanjut mengobrol, bercanda dan tertawa bersama.
"Oh iya siapa saja yang mengetahui hubungan kalian selain aku dan Bunga?."Tanya Mia.
"Tidak ada."Jawab Kania.
"Mikela?."Tanya Mia.
"Hmm sepertinya yang dia tahu aku dan Cakra itu hanya pacaran.
Oh... yang tahu hubungan aku dan Cakra itu hanya kalian dan teman Cakra di cafe, selain itu aku rasa tidak ada."Jawab Kania.
"Andika, Andika tahu tentang hubungan kita."Saut Cakra.
"Apa? Kok bisa?."Tanya Kania yang baru tahu kalau Andika tahu tentang hubungannya dan Cakra.
"Iya, Andika sudah tahu tentang hubungan kita sejak lama. Dia tidak sengaja mendengar percakapan kita di telpon.
__ADS_1
Tapi kamu tenang saja Andika dapat di percaya kok. Jadi kamu tidak perlu khawatir."Jelas Cakra.
Setelah itu Cakra menghubungi Andika dan memintanya untuk datang ke rumah Kania. Cakra merasa sedikit canggung, lagi pula bukankah akan jauh lebih menyenangkan semakin banyak orang.