
Pagi pun tiba.
Cakra bangun pagi pagi, dan Cakra langsung melakukan aktivitas seperti biasanya.
Cakra pun keluar rumah untuk berolahraga sejenak.
Setelah tiga puluh menit, Cakra kembali. Cakra pun pergi ke dapur untuk mengambil minum.
"Cakra."
Cakra menengok ke arah sumber suara. Saat itu Cakra melihat Liani yang berjalan mendekat padanya sambil tersenyum.
"Selamat pagi."Sapa Liani
"Pagi."Saut Cakra.
"Cakra aku buatkan kopi ya, pasti enak tuh ngopi pagi pagi."Ucap Liani.
"Nggak suka ngopi pagi."Jawab Cakra.
"Oh gitu ya, hmmm apa mau di buatkan susu?
Teh?."Tawar Liani.
"Kerjakan saja pekerjaan mu, jangan memperdulikan aku seperti itu, karena aku akan tetap menolaknya kalau pun aku ingin."Ucap Cakra yang langsung pergi meninggalkan Liani.
Tak berselang lama setelah Cakra pergi, Kania ke dapur. Liani melihat Kania, tapi Kania bersikap seolah olah tidak ada siapa pun di sana. Kania hanya diam sambil membuat minuman untuk Cakra.
Liani terus memperhatikan Kania.
"Aku heran kok ada ya seorang istri yang tidak tahu apa yang di sukai dan apa yang tidak di sukai oleh suaminya sendiri.
Dan tanpa malu nya dia berkata kalau tidak akan ada yang bisa memisahkannya dengan suaminya itu, tapi aku tidak yakin itu."Ucap Liani.
"Mamah....
Mah....
Mamah......."Panggil Kania.
"Iya?."Saut Lusi sambil berjalan mendekat pada Kania di dapur.
"Ada apa sayang?."Sambung Lusi yang bertanya pada Kania.
"Mah, Mamah sekarang peliharaan anjing ya?."Tanya Kania.
__ADS_1
"Enggak," jawab Lusi,"Kenapa memangnya?."Sambung Lusi.
"Soalnya dari tadi aku dengar suara ANJING MENGGONGGONG Mah, makanya aku kira sekarang Mamah peliharaan anjing."Jelas Kania. Dan pada saat Kania mengucapkan Anjing menggonggong, Kania menatap Liani.
Lusi yang menyadari itu pun paham dengan apa yang di maksud Kania.
"Liani tolong siram tanaman di depan ya."Ucap Lusi. Liani pun langsung pergi untuk menyiram tanaman sesuai seperti yang di minta Lusi.
"Kamu sedang bikin apa?."Tanya Lusi pada Kania.
"Aku sedang buat kopi untuk Cakra,
Mamah mau di buatin apa?."Ucap Kania sambil tersenyum.
"Enggak usah sayang, Mamah sudah di buatkan teh sama Bi Endah tadi."Saut Lusi.
"Ya sudah Mamah tinggal ya."Ucap Lusi dan Kania pun hanya mengangguk sambil tersenyum.
Saat Liani menyiram tanaman, Liani melihat Cakra ada di balkon. Liani pun memanggil Cakra. Namun Cakra tak kunjung menengok ke arahnya. Entah memang tidak mendengar atau pura pura tidak mendengar.
"Cakra aku tahu kamu mendengar ku.
Oh iya bukankah kamu bilang kalau kamu tidak suka minum kopi pagi pagi, tapi kenapa Kania membuatkan kopi untuk kamu.
Heh istri macam apa dia yang tidak tahu apa yang kamu suka dan apa ya g tidak kamu suka."Ucap Liani.
"Aku memang tidak suka minum kopi pagi pagi selain buatan istri ku, KANIA."Ucap Cakra.
Seketika Liani terdiam apa lagi setelah melihat Kania yang tersenyum sambil menaruh kopi di meja. Dan tidak hanya itu, Kania bahkan duduk di pangkuan Cakra.
"Eh kamu, siapa ya namanya lupa,
tolong ya bereskan dapur tadi aku memakai beberapa barang dan belum aku bersihkan. Mau bagaimana lagi tangan aku lagi sakit."Ucap Kania. Kemudian Kania pun menunjukkan tangan yang sakit pada Cakra.
Liani pun membanting selang setelah itu pergi masuk ke dalam untuk membereskan dapur bekas pakai Kania tadi.
Namun saat berada di depan dapur, Liani menghentikan langkah kakinya dan dia sangat terkejut saat melihat dapur yang sangat berantakan. Piring kotor banyak, bubuk kopi dan sayur bahkan hampir semua barang di dapur tidak terletak pada tempatnya.
"Kenapa bisa seperti ini?."Tanya Liani pada dirinya sendiri saat melihat dapur yang sangat kacau.
"Ya ampun Liani, kenapa dapur jadi berantakan seperti ini?."Tanya Endah.
"Aku juga enggak tahu Bu, aku datang ke sini dan semuanya sudah seperti ini.
Tadi aku sedang menyiram tanaman dan Kania meminta aku untuk membereskan dapur bekas dia membuat kopi.
__ADS_1
Tapi saat aku kesini semuanya sudah berantakan seperti ini Bu."Jelas Liani.
Endah menatap Liani dengan tajam.
"Katakan apa yang sudah kamu lakukan pada Kania?."Tanya Endah.
"Aku nggak lakukan apa pun sama dia, aku hanya berbicara mengenai Cakra sedikit tentang kesukaannya."Jawab Liani.
"Dengar ya Liani, Ibu memang menginginkan kamu menikah dengan Cakra. Tapi apa boleh buat Cakra sudah menikah dengan wanita lain jadi kita harus terima kenyataan ini.
Dan Ibu mohon jangan melakukan sesuatu yang nantinya akan merugikan kita. Ingat Liani kita punya banyak hutang, kita harus bekerja untuk membayar hutang hutang kita.
Ibu nggak mau sampai di pecat dari sini, pekerjaan di sini enak, Bu Lusi juga orangnya baik.
Ibu harap kamu mengerti apa yang Ibu katakan, sekarang cepat bereskan semuanya sampai bersih seperti semula."Ucap Endah yang kemudian langsung pergi meninggalkan Liani.
Liani mengerti apa yang di maksud oleh Ibunya. Tapi apa tidak ada kesempatan untuk nya, walau hanya sedikit saja?.
Bukankah laki laki boleh menikah lebih dari satu kali?.
"Apakah aku salah jika aku memperjuangkan cintaku? Aku rela kok walau jadi yang ke dua."Ucap Liani.
Tanpa Liani sadari kalau Kania dan Lusi mendengar ucapannya. Setelah mendengar ucapan Liani Kania berjalan mendekat pada Liani sambil membawa air di gelas.
"Liani."Panggil Kania dengan nada tinggi.
Byyuurrrr.
"Apa apaan ini?."Tanya Liani yang terkejut saat Kania menyiramnya.
"Itu untuk membangunkan kamu dari mimpi mu yang mustahil itu Liani.
Kamu pikir kamu siapa Hah?
Berani beraninya kamu berpikir untuk menikah dengan Cakra dan jadi yang kedua.
Dengar ya, sampai mati pun aku tidak sudi jika harus berbagi suami.
Ingat baik baik Liani sampai mati Cakra hanya milik ku, miliki ku KANIA PUTRI LESMANA. Di dunia ini tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi ku sebagai istri Cakra."Ucap Kania. Kania pun pergi meninggalkan Liani dan Lusi.
Setelah Kania pergi, Lusi kini berjalan mendekat pada Liani.
"Awalnya saya pikir Kania yang terlalu cemburuan, dan sensitif karena sedang hamil. Tapi ternyata apa yang dia katakan memang benar, kamu berusaha untuk menggoda anak saya Cakra.
Kamu tahu Liani, Kania adalah gadis yang saya pilih untuk menjadi istri Cakra. Karena hanya Kania lah yang pantas untuk berada di sisi Cakra dan hanya Kania yang mampu mengendalikan Cakra."Ucap Lusi.
__ADS_1
Kemudian Lusi berbalik dan hendak pergi namun Lusi menghentikan langkahnya saat berpapasan dengan Endah.
"Endah saya tidak mau melihat Liani ada di rumah saya lagi, saya harap kamu mengerti itu."Ucap Lusi yang kemudian meninggalkan Liani dan Endah.