
"Tolong kamu ambil sendiri ke dapur. Jangan merepotkan mama seperti anak kecil," celetuk Juna dengan kesal.
Citra dengan raut muka yang sedikit kesal lalu berjalan menuju dapur untuk mengambil gelas miliknya. Mama dan si mbok yang hanya bisa menatap Citra saat itu hanya terdiam. Entah kenapa rasanya bagaikan langit dan bumi, perbedaan sikap diantara Citra dan Novi. Si mbok hanya kasihan kepada majikannya tersebut, yang diperlakukan seperti ini dirumahnya sendiri.
"Mbok, minta tolong ya ini disiapkan dimeja. Juna sama Citra sudah nungguin dimeja makan." perintah mama Sinta.
"Baik nya. Loh nyonya kenapa nggak sekalian ikut makan bareng disana." tanya si mbok.
"Nanti saya makan bareng sama mbok aja ya, biarin mereka makan malam berdua dulu." ucap mama Sinta.
Sementara si mbok menyiapkan makan malam dimeja dengan rapi, justru Citra tengah sibuk memainkan ponsel miliknya sambil tertawa kecil. Juna yang menatap kesal istrinya itu lalu memberikan isyarat untuk dirinya supaya mau membantu si mbok persiapkan makanan.
"Silahkan dimakan den." ucap si mbok pada Juna.
"Mama mana mbok?, kok nggak kelihatan." tanya Juna dengan bingung.
"Itu anuu den, mama mau makan dikamar aja katanya. Kasihan mungkin kecapekan didapur." jelas si mbok pada Juna dengan sedikit menyindir Citra.
"Baiklah, makasih ya mbok." pungkas Juna.
"Sama-sama den, si mbok permisi dulu ya." pamit si mbok.
Lain dengan Citra yang tengah asyik menikmati makan malam saat itu dengan lahap. Dirinya seolah tak ingin repot dibikin pusing dengan semua ucapan si mbok dengan Juna. Saat dirinya selesai menyantap makanannya, dia lebih memilih langsung naik ke atas dan masuk ke dalam kamar. Sangat berbeda dengan Novi yang akan segera merapikan semua bekas piring kotor yang ada diatas meja.
Rumah itu kini nampak sangat berbeda, terasa asing tapi dengan beberapa orang yang sama. Saat Juna dan Citra sudah kembali ke dalam kamar, diam-diam mama Sinta kembali turun untuk segera makan malam. Mama meminta si mbok menemaninya makan agar tak terasa sepi saat di meja makan.
"Mbok, ayo sini makan degan saya." cakap mama.
__ADS_1
"Eh, baik nya. Mau makan dengan lauk apa, biar saya yang ambilkan ya nya." jelas si mbok dengan sopan.
"Tidak perlu mbok, biar saya ambil sendiri. Tolong panggil pak Ujang juga, kita makan bersama disini." titah mama Sinta.
Tidak lama kemudian, pak Ujang pun datang menghampiri mama Sinta yang sudah bersiap dimeja makan.
"Mari pak, duduk sini. Kita makan malam bersama." pinta mama Sinta.
Perasaan mama Sinta saat itu, seperti ada yang hilang dalam hidupnya. Terasa hampa suasana saat itu, meskipun sudah ditemani oleh si mbok dan pak Ujang. Lamunanya saat itu, membuat pak Ujang dan si mbok saling menatap satu sama lain. Ada perasaan kasihan pada majikannya itu, terlihat tidak seperti biasanya dan seakan tak baik-baik saja.
Saat semua telah usai, si mbok yang tengah membereskan semua piring kotor didalam dapur yang ditemani oleh pak Ujang mereka terlihat tengah berbincang.
"Kasihan nyonya Sinta, semenjak di tinggal pindah rumah dengan den Surya selalu melamun." jelas pak Ujang.
"Iya, bahkan tadi seharian nyonya yang siapkan makanan didapur. Biasanya mbak Novi yang menyiapkan semuanya dengan baik. Saya merasa, kadang mbak Citra tidak menghormati nyonya dengan baik meski ada den Juna." tutur si mbok.
Malam telah berganti pagi. Terlihat Citra yang tengah tergesa-gesa untuk berangkat ke sebuah tempat, dan saat itu menaiki mobil miliknya. Dia sengaja berangkat pagi sekali saat itu, karena ingin menghindari dari pertanyaan Juna yang akan bertubi-tubi jika mengetahui dirinya tengah pergi disaat hari libur.
Pak Ujang yang saat itu berlari kecil dan sudah bersiap membukakan pintu gerbang rumah. Citra yang memacu mobilnya dengan cepat, berlalu meninggalkan rumah. Dan tidak ada satu orang rumah yang tau, kemana dirinya akan pergi.
Dia sampai pada salah satu rumah disebuah kawasan komplek yang terletak tidak begitu jauh dari rumah utama keluarga. Di rumah itu, terlihat dua mobil terparkir diteras depan rumah. Saat itu, terlihat sepasang suami istri yang tengah keluar dari rumah tersebut. Mereka berdua terlihat tengah menikmati udara segar pagi hari itu, sambil melakukan sedikit pemanasan kecil mereka bersiap untuk berlari pagi mengitari komplek perumahan sekitar.
Ternyata mereka berdua adalah Surya dan Novi, saat itu Citra memang sengaja ingin mengetahui bagaimana kehidupan mereka setelah meninggalkan rumah mama Sinta. Dirinya yang menaruh kebencian pada diri Novi saat itu, seakan tak terima jika ia melihat rumah tangga mereka berdua baik-baik saja.
Terbesit iri dalam diri Citra saat itu, bagaimana tidak ia yang memikirkan rumah tangganya tengah tidak baik-baik saja. Atau bisa dibilang tengah berantakan gara-gara sang kakak ipar. Ingin sekali rasanya Citra membalas semua yang sudah terjadi pada rumah tangganya kepada kedua kakak iparnya tersebut.
Jika rumah tanggaku berantakan karena kalian berdua, kalian juga akan kupastikan mengalami hal yang sama denganku.
__ADS_1
ucap Citra.
Terlihat dirinya begitu marah saat itu, ke dua tanganya yang mencengkram setir mobil dengan begitu kuat serta tatapan matanya yang di penuhi amarah. Membuatnya buta akan apa yang ia lihat dihadapannya saat itu, dirinya tak lagi menghiraukan siapa mereka.
Saat Surya dan Novi terlihat sudah begitu jauh dari halaman rumah, dengan segera Citra memacu mobilnya sekencang mungkin ke arah mereka berdua. Entah siapa yang akan terkena sasarannya saat itu, dia hanya ingin melampiaskan amarahnya saat itu.
Terlihat kencang laju mobil Citra dari arah belakang Surya dan Novi.
Braaaakkk
Terlihat salah satu dari mereka terpental saat itu, Citra yang memastikan dari kaca spion mobilnya saat itu tidak terlihat begitu jelas siapa yang tersungkur ke jalan saat itu. Dia hanya memastikan, bahwa mobilnya tidak akan dikenali dengan jelas oleh ke dua kakak iparnya.
"Maasss." teriak Novi pada Surya yang tersungkur ke jalan.
Beruntungnya tidak ada luka yang begitu parah, tetapi banyak luka yang dialami Surya saat itu. Beberapa memar didagu beserta siku lengannya saat itu terlihat begitu jelas. Lebam merah kebiruan yang terlihat saat itu, serta ada sedikit robekan dipelipis matanya. Membuatnya sedikit merintih kesakitan, karena sebagian tubuhnya menghantam samping mobil Citra. Dirinya yang seolah mengetahui akan kehadiran mobil Citra yang melaju begitu kencang dari arah belakang, membuat Surya dengan sigap mendorong tubuh Novi untuk tersingkir dari sasaran mobil tersebut.
Setidaknya, Surya merasa lega karena mengetahui istrinya tak menjadi korban dalam peristiwa itu.
...----------------...
Happy reading guys🤗
ini adalah karya ke dua aku yah, mampir kesini dan nantikan kelanjutan kisahnya ❤️❤️
✓Ditunggu saran dan kritik yang membangun buat othor
✓Ditunggu like dan fav buat othor ya
__ADS_1
✓Ditunggu hadiah bunga sekebonya juga❤️❤️❤️