
Surya pun menatap langit yang setengah mendung saat itu. Sebelum ia menjawab pertanyaan Citra, dirinya menarik nafas dalam-dalam dan mengusap wajahnya.
"Yah" jawabnya lesu.
Citra hanya melongo mendengar jawaban kakak iparnya tersebut, setengah terkejut dan bahagia juga mendapati hal ini. Senyum licik tersungging dengan jelas dibibirnya.
Mampus lo Nov, makanya jadi perempuan jangan sok dengan hal apapun. Sekarang kamu terima getahnya dari semua perbuatan kamu itu. gumamnya penuh kemenangan.
"Aku turut sedih mendengar kabar ini mas" sandiwaranya terus berlanjut pada Surya.
"Makasih" ucap Surya lirih.
"Hari ini aku traktir makan deh mas, pasti belum makan kamu. Dan kamu juga pasti masih enggan buat ketemu mbak Novi kan, aku tahu. Jadi mending disini aja, aku temenin kamu ngobrol" ucapnya mulai memantik api perselisihan antara Surya dan Novi.
"Boleh, terserah kamu pesan apapun. Nanti aku yang bayar" sahut Surya yang masih setengah malas.
"Oke bos" ujar Citra.
Ia pun berlalu menuju meja kasir dan memesan spaghetti dan dua minuman. Dirinya juga hafal makanan bserta minuman favorit kakak iparnya ini. Tak heran dengan semua ini, karena dirumah mereka sangat sering makan bersama dimeja makan.
Lima menit kemudian, makanan tersaji dihadapan mereka. Dengan penuh semangat, Citra mempersilahkan Surya untuk segera menyantap makanan tersebut. Sementara dirinya masih menyusun strategi untuk melanjutkan sandiwara manisnya.
"Uhukk Uhukk" Citra pura-pura tersedak kali ini.
"Pelan-pelan kalau makan" Surya segera mengambilkan minuman untuk Citra.
Rupanya ini adalah trik Citra untuk memulai perbincangan diantara keduanya.
"Saran aku si mas, mending bermalam dulu dihotel atau villa kek dan lain sebagainya. Karena aku paham betul posisi kamu sekarang ini. Mending jangan ketemu mbak Novi dulu atau pun pulang ke rumah. Yang ada kepala kamu makin pening ketemu dengan orang-orang yang nggak buat kamu nyaman sama sekali" ujarnya melancarkan aksinya sambil memakan spaghetti miliknya.
__ADS_1
Surya sejenak meletakkan garpu miliknya, dan terlihat berpikir keras untuk menelaah ucapan Citra kali ini. Citra hanya tersenyum penuh kemenangan saat mendapati wajah Surya yang tengah dirundung kebingungan.
"Boleh juga saran kamu, makasih ya" sahut Surya mengiyakan ucapan Citra.
Iyes!!!, kurang pintar apa coba diriku ini. Sekali tepuk lalatpun masuk dalam perangkapku. Jangan pernah kalian memandang sebelah mata diriku ini, karena dengan mudah aku bisa kendalikan keadaan yang manis menjadi begitu pahit seperti racun" gumam Citra kegirangan.
"Ini mas, kemarin aku bermalam di hotel itu. Ambil aja, barangkali kamu perlu referensi. Itu hotel dengan fasilitas yang cukup baik dan masuk dengan kriteria kamu juga kok" sebuah kartu disodorkan ke arah Surya saat itu, itu adalah sebuah kartu nama hotel yang ia pilih untuk bermalam ketika pertama kali kabur dari rumah.
Dirinya sengaja mengajukan penawaran itu, agar ia juga bisa memantau keadaan Surya sesuka hatinya tanpa harus menanyakan posisi Surya dimana. Entah setan apa yang merasuki diri Citra kali ini, dirinya seakan tak membiarkan Novi bernapas lega dalam pernikahannya dengan Surya.
Ia mau, Novi juga merasakan apa yang telah merundung rumah tangganya dengan Juna saat ini.
"Baiklah aku bawa" ucap Surya singkat sambil memasukkan kartu tersebut ke saku bajunya.
"Kalau begitu Citra balik dulu ya mas. Mumpung hujan juga uda berhenti diluar" sahutnya sambil menenteng tas miliknya.
"Oke hati-hati dijalan" pungkas Surya.
Lain dengan keadaan dirumah, Malika terlihat menangis sejadi-jadinya dikamarnya sendirian. Si mbok yang tak tega melihat gadis kecil tersebut segera menghampiri dan memeluknya dengan erat.
"Mbok, Malika mau sama mama aja dirumah sakit. Tapi omah malah ngebentak Malika tadi" ucapnya terbata-bata saat memberi penjelasan terhadap mbok Siti.
"Cup cup ya non, nanti si mbok akan tanyakan lagi sama omah. Pasti sebentar lagi papanya non pulang, kita tunggu sama-sama ya" bujuk rayu si mbok agar Malika dapat tenang dan berhenti dari tangisnya.
Malam sudah mulai larut, tepat jam 12 malam saat itu. Si mbok yang mendapati Malika sudah tertidur pulas, turun untuk mengecek pintu rumah yang belum terkunci. Biasanya pintu ini akan selalu dikuci setiap Surya sudah pulang, dengan penuh penasaran si mbok pun berjalan ke arah garasi mobil. Hanya terlihat mobil mama Sinta saja yang terparkir disana, sementara mobil Surya belum ada. Apalagi mobil Juna yang sudah dua hari tak terlihat disana.
"Kemana perginya den Surya ini, selarut ini belum pulang juga" cemas si mbok.
Kemudian terdengar suara pintu kamar mama Sinta juga terbuka. Kali ini ia pun terlihat untuk mengecek semua keberadaan putranya. Saat hendak berjalan menuju kamar Juna dan Surya, langkah mama terhenti ketika mendapati keberadaan si mbok yang masih sibuk mengunci pintu utama.
__ADS_1
"Dari mana mbok, kok belum tidur malam begini" tanya mama Sinta yang mengenakan piyama tidur.
"Eh nyonya, ini kunci pintu. Tadi si mbok nemani non Malika dikamar, dan baru aja tidur. Terus si mbok coba ngecek apa mas Surya atau mas Juna pulang malam ini, ternyata mobilnya si mbok lihat digarasi tidak ada" jelas si mbok pada mama.
Perasaannya gusar saat mendengar penjelasan dari si mbok, bagaimana mungkin ke dua putranya tak ada satu pun dirumah. Dengan cepat ia mengambil ponsel miliknya dan menelpon Surya.
Drrtt...Drrtt...
Ponsel milik Surya bergetar dikegelapan kamarnya, rupanya Surya kali ini menuruti saran Citra sore hari itu. Ia sekarang berada di hotel dan tak mau diganggu oleh siapapun, dengan cepat ia menolak panggilan mamanya itu.
"Kok dimatikan si" seru mama Sinta kesal.
Berkali-kali upaya mama menelpon dirinya tak juga membuahkan hasil, dirinya yg tengah kalut karena tidak menjumpai anaknya hanya bisa mondar-mandir didalam rumah. Sementara ia juga tidak mungkin menghubungi ke dua menantunya yang sudah membuat ia kecewa parah.
Saat semua orang terlihat sibuk dengan perasaannya masing-masing, justru Novi terlihat tengah mengkhawatirkan keadaan semua orang dirumah. Ia begitu rindu dengan putrinya Malika, pasalnya semenjak masuk rumah sakit tak ada orang satu pun yang mengajaknya kemari untuk menemui dirinya.
Apakah mama juga marah denganku, sampai detik ini aku juga belum melihat kehadirannya lagi. Sebenarnya apa dosa ku, sampai semua orang perlakukan diriku seperti ini. Aku juga tidak menginginkan hal ini terjadi pada diriku, aku sangat menyayangi calon anakku.
Matanya kembali berlinang meneteskan air mata di atas ranjang dan sunyinya ruangan kamar saat itu. Hanya bisa memekik dalam do'a dan merintih kepada sang pencipta kali ini.
...----------------...
Happy reading guys🤗
ini adalah karya ke dua aku yah, mampir kesini dan nantikan kelanjutan kisahnya ❤️❤️
✓Ditunggu saran dan kritik yang membangun buat othor
✓Ditunggu like dan fav buat othor ya
__ADS_1
✓Ditunggu hadiah bunga sekebonya juga❤️❤️❤️