Dia Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Dia Benalu Dalam Rumah Tanggaku
Lepaskan aku


__ADS_3

"Junaaaaa kelaur kamu!" teriak Citra diambang pintu.


Dirinya kali ini, menginjakkan kakinya kembali ke rumah mama Sinta semenjak kepergian dirinya beberapa pekan lalu.


"Ada apa ini, ribut-ribut" tegur mama Sinta kepada Citra.


Mama Sinta yang mulai berubah drastis sikapnya semenjak semua kemelut biduk rumah tangga ke dua putranya tak lagi menunjukkan rasa simpati sama sekali kepada kedua menantunya itu. Dan bahkan Novi sekarang sudah menjadi mantan menantu bagi perempuan tersebut.


"Mana Juna ma, mana anak mama itu!" sahut Citra berapi-api.


"Kamu cari suamimu dengan sikap seperti ini, apa Juna itu buronan?. Sehingga kamu berulah seperti ini, perlu kamu ingat ini adalah rumah saya dan tidak ada seorang pun yang akan seenak jidatnya berulah didalam rumah ini" bentak mama Sinta.


Ini adalah kali pertama bagi Citra setelah sekian lama pergi meninggalkan rumah, ia yang dulu mengenal mama mertuanya penuh kelembutan sekarang harus berjumpa dalam keadaan yang berbeda. Mama Sinta kini menjadi sosok orang lain didepan Citra, ia yang begitu kaget menjumpai sifat mama Sinta hanya bisa memandangi wanita setengah baya itu dengan tatapan sinis.


Mulutnya tak kembali terdengar mencibir putra ke dua mama Sinta itu, dan ia lebih memilih untuk diam dan menunggu Juna didepan teras sambil memasang wajah penuh kedengkian.


Setelah setengah jam berlalu, ia pun menjumpai mobil Juna sudah berada didepan pagar dan segera terparkir dihalaman rumah, Juna yang sudah kesal melihat ulah Citra dirumah sakit ia pun mencoba tak menghiraukan kehadiran dirinya disana.


Sambil memainkan kunci mobil miliknya, Juna bersiul seperti orang tanpa dosa melewati Citra begitu saja.


"Brengs*k, berhenti kamu!" ucap Citra kembali tersulut emosi.


"Ada apa lagi kamu disini, bukanya sudah puas kamu caci maki aku tadi dirumah sakit?" jelas Juna menuturkan peristiwa dirumah sakit.


"Jangan banyak omong kamu yah," pungkas Citra.


"Lalu, apa yang kamu mau disini?. Uang?, gampang nanti aku kirim ke rekening kamu. Bukannya setiap bulan selalu aku jatah semua kebutuhanmu dengan baik, meskipun kamu tak pernah melayaniku dengan baik," tutur Juna mencoba membangunkan kembali ingatan Citra.


Memang semenjak pertengkaran terjadi pada keduanya, tak ada lagi nama harmonis dalam rumah tangga mereka. Semua berjalan mengalir begitu saja, mengikuti semua ego masing-masing dari keduanya. Sampai tiba masanya, Juna harus terpeleset dalam kesalahan yang penuh dosa bersama Pricilia. Ia yang telah lama tak terurus dengan baik oleh Citra hanya mampu melampiaskan semua itu kepada wanita lain yang jelas bukan muhrimnya.


Dan gadis yang tak berdosa itu, kini juga harus menanggung semua akibat ulah Citra yang berlarut-larut tak kunjung membaik pada Juna suaminya.


"Aku nggak butuh uangmu, sial*n!" umpat Citra.

__ADS_1


"Lalu?" sahut Juna segera.


"Aku butuh kepastian, sekarang aku tanya baik-baik untuk yang terakhir kalinya. Kamu pilih aku, atau dia ?" jelas Citra.


"Dia," sahut Juna yang tanpa segan dan berpikir dua kali menyebutkan bahwa dirinya lebih memilih Pricilia dari pada ia istri sahnya.


Citra yang tak percaya mendengar semua hal itu, lalu mengangkat kedua tanganya sambil meremas satu tangannya dibawah.


"Ayo tampar," tantang Juna menantang Citra.


"K-kamu tega tau nggak!" maki Citra dalam tangisnya.


"Aku?, bukannya yang tega selama ini kamu. Perlu kamu ingat, istri yang baik tidak akan pernah berani mengangkat tangannya lebih tinggi dari pada suaminya. Dan coba kamu lihat diri kamu saat ini, dengan mudahnya mengangkat tangan itu dihadapanku. Apa aku gila, harus mempertahankan wanita seperti dirimu. Wanita yang tak pernah tau diuntung sedikitpun, dan hanya bisa menuntut semua keinginan dirinya dengan egois." jelas Juna menyudutkan posisi Citra kali ini.


"Kalau begitu lepaskan saja aku. Aku juga tak sudi jika harus berbagi suami dengan perempuan jala*g itu." ujar Citra yang nada suaranya kembali bergetar.


"Jangan khawatir, semua akan aku urus sesuai keinginanmu. Dan aku akan pastikan semua ini akan berjalan begitu cepat tanpa hambatan sedikitpun," pungkas Juna.


"Ada apa ini, coba jelaskan semua pada mama." tanya mama Sinta yang sedari tadi duduk disofa dan mendengarkan semua pertengkaran mereka berdua.


Juna yang sudah lama kehilangan rasa hormat pada mamanya itu, hanya menjelaskan singkat tentang apa yang terjadi pada dirinya dan Citra. Mama Sinta hanya melipat kedua tangannya dan mencoba menelaah semua ucapan putranya.


Sementara Citra yang masih diselimuti rasa kecewa yang mendalam, kali ini ia bergerak menuju rumah Pricilia. Dirinya dengan cepat memacu laju mobilnya begitu kencang saat itu. Dan setibanya ditempat tinggal Pricilia, dirinya dengan cepat mengetuk pintu rumah Pricil dengan kencang.


Pricillia yang tengah beristirahat di kamarnya, segera membukakan pintu yang sedari diketuk Citra berulang kali.


Ceklek


Braakkk


Dirinya yang baru saja membuka pintu tersebut, dengan keras mendorong tubuh Pricilia disana. Akibat dorongan yang begitu keras, membuat Pricilia harus jatuh dan tersungkur di ujung sebuah sofa coklat. Citra yang kaget mendapati darah segar keluar dari sela paha Pricil malah kabur begitu saja meninggalkan gadis tersebut.


Ia harus mengalami pendarahan akibat benturan perutnya yang tak sengaja terbentur pada kayu sofa begitu kencang. Sambil merintih kesakitan, tanganya tak mampu untuk meraih ponsel miliknya dikamar.

__ADS_1


Tapi Pricilia begitu beruntung saat itu, tetangga sebelah rumahnya yang mendengar teriakan kesakitan dirinya dengan sigap berlari menolong dirinya. Akhirnya dengan darah yang masih menetes segar dilantai, ia pun dibantu berdiri dan dipanggilkan sebuah taxi untuk dirinya. Wanita tersebut terlihat menyiapkan sebuah tas dan ponsel milik Pricil.


Sepanjang perjalanan, Pricilia yang tak kuat menahan sakit perutnya terus merintih kesakitan tanpa henti.


"Sabar ya mbak, yang kuat. Sebentar lagi kita akan sampai" suara wanita itu mencoba untuk mengajak Pricilia agar bisa lebih tenang.


Keduanya pun tiba disebuah rumah sakit, dan Pricilia mendapatkan perawatan medis secara intensif.


"Apa anda pihak keluarga wanita tersebut?" tanya seorang perawat pada tetangga Pricilia.


"Bukan sus, saya tentangganya. Mungkin didalam sini ada sebuah nomor telepon yang bisa dihubungi oleh pihak rumah sakit." ujar wanita tersebut.


Saat ia membuka tas hitam milik Pricilia, ia menemukan sebuah kartu nama dengan nama Juna disana. Wanita itupun lalu memberikan kartu nama tersebut pada seorang perawat disana dan menitipkan sebuah tas hitam tersebut untuk diserahkan pada Pricilia nantinya.


...----------------...


Happy reading guys🤗


ini adalah karya ke dua aku yah, mampir kesini dan nantikan kelanjutan kisahnya ❤️❤️


✓Ditunggu saran dan kritik yang membangun buat othor


✓Ditunggu like dan fav buat othor ya


✓Ditunggu hadiah bunga sekebonya juga❤️❤️❤️


*


*


*


...💐Abis baca komen dong💐...

__ADS_1


__ADS_2