Dia Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Dia Benalu Dalam Rumah Tanggaku
Tidak berbeda


__ADS_3

Ketika ia tengah sendirian dirumah, Citra pun memesan makanan siap saji untuk dirinya sendiri saat itu. Dan alhasil, beberapa box makanan pun datang untuk ia nikmati sendirian.


"Hm ... makanan gini yang gue demen !" serunya.


Citra lalu membuka semua kotak-kotak itu dan di tata secara berderet dihadapannya.


Tanpa menghiraukan keadaan sekitar, ia pun dengan cepat menyantap semua makanan itu tanpa tersisa. bagaikan orang yang belum pernah makan seumur hidupnya, ia sangat terlihat sangat rakus disana.


Dan ketika perutnya sudah kekenyangan, ia pun tertidur di atas sofa dengan kondisi sekitar yang telah berantakan karena kotak tersebut berserak di meja dan lantai. kurang lebih ada sepuluh kotak makanan yang ia pesan saat itu.


Sampai sore hari tiba, Citra yang masih terlelap tidur di atas sofa terdengar mendengkur lirih disana. Dan tanpa ia sadari, sore hari itu Novi pun telah pulang dari kantor.


Dengan wajah yang lembut dan teduh, Novi hanya menatap dan tersenyum kepada semua ulah Citra. Ia sama sekali tak mempersalahkan hal itu padanya.


"Cit ..."


"Citra ..."


"Bangun sudah sore, cepat mandi dulu!"


Mendengar suara Novi, Citra pun sontak terkejut dan melompat dari sofa.


"Eh mbak"


"Aku kira siapa!" ujarnya yang masih shock.


"Maaf ya aku belum sempat bersih-bersih rumah ni!" ujar Citra berkelit.


"Jangan sampai wanita ini berpikir yang bukan-bukan tentang aku!" gumam Citra yang masih bergeming.


Novi hanya menanggapi dengan senyuman dan mengambil sapu serta mengutip semua bekas makanan sisa Citra.


*


*


*


"Ayo makan?!" ucap mama Sinta pada Surya.


Putra sulungnya itu baru saja tiba dirumah dan baru pulang dari kantor.


Tapi, Surya terus saja berjalan tanpa henti dihadapan mamanya dan berlalu begitu saja disana.


Melihat sikap putranya, mama Sinta begitu kesal dan memutuskan untuk memanggil si mbok yang masih sibuk di dapur sepanjang hari.


"Mbok ..."


"Mbookk !!"


"Cepat kemari" teriak mama Sinta melengking di penjuru rumah.


Sambil berlari kecil dan jalan tergopoh-gopoh, si mbok menghampiri nyonya besarnya itu.


"Iya nya!" sahut si mbok sambil mengatur nafasnya yang masih naik turun.


"Duduk!"


"Temani saya makan!" ujarnya dengan nada datar dan ekspresi dingin.


Tanpa perlu berlama-lama, si mbok pun menuruti perintah majikannya itu dengan cepat. wanita yang sudah paruh baya itu, terlihat duduk disampingnya.


Sementara dikamar, Surya yang sudah membersihkan dirinya. masih terlihat mengenakan celana boxer pendek sambil terus mengusap dan mengeringkan rambutnya yang masih setengah basah.


"Kayak ada yang lupa!"


"Apa ya!" ucapnya di kesendirian.


Surya yang masih terlihat mengingat kembali apa yang harus ia lakukan, kini telah menggenggam ponsel miliknya dan mengecek seluruh isi ponselnya.


"Citra?!"

__ADS_1


"Panggilan masuk!"


"Di penjara, apa bisa dia mendapatkan fasilitas ponsel miliknya!"


"Atau jangan-jangan, dia sudah bebas saat ini !"


"Jika memang iya, dimana sekarang wanita itu berkeliaran!"


Dalam sekejap ia pun terduduk disebuah kursi kecil dan matanya tanpa sengaja menatap sebuah bingkai foto dirinya bersama Novi di meja. seketika, ia pun tersadar dan beranjak dari duduknya dan memutuskan untuk menemui Novi sesegera mungkin.


Ia lalu menarik sebuah kemeja flanel bermotif kotak serta celana pendek selutut.


"Mau kemana lagi kamu !"


"Surya ...!"


"SURYA!!!" teriakan mama Sinta berulang kali.


tapi putranya itu, tak menoleh sedikitpun ke arahnya dan menghilang dari balik pintu.


"Kenapa semua anakku susah sekali menurut denganku!" gerutu mama Sinta.


*


*


*


Perjalanan yang ia tempuh malam itu cukuplah cepat karena jalanan masih sangat sepi dari lalu lalang kendaraan. setibanya di tempat itu, Surya sangat terkejut karena mobil Citra benar-benar sudah terparkir disana.


"Brengsek!"


"Beraninya wanita itu masih mendekati Novi !"


"Braakkk" seru Surya dengan kesal dan sedikit membanting pintu mobilnya.


"Tok ... tok ..."


Saat itu, Novi yang masih sibuk melipat seluruh bajunya segera bangkit dari dudukt untuk membukakan pintu disana.


"Mas!"


"Ada apa, malam-malam begini kamu kesini?!"


"Citra mana Citra?" sahut Surya sambil celingukan didalam rumah Novi.


"Ada"


"Tapi tenangkan dirimu dulu,ada apa ini?!"


Novi masih mencegah tubuh gempal Surya yang hendak merangsak masuk kedalam rumahnya.


"Citra ..."


"Citra...!"


"Keluar kamu?!"


"Mas, cukup hentikan"


"Ini bukan hutan, jadi jangan bikin keributan disini" cela Novi.


Sedangkan Citra yang sedang memakai masker didalam kamarnya, buru-buru melepas kertas basah itu dari wajahnya dan menghampiri suara yang begitu ia kenali sepanjang hidupnya.


"Iya mas!"


"Kenapa memanggilku sekeras itu?!" protes Citra .


"Tutup mulutmu!"


"Kenapa kamu masih berani disini hah!"

__ADS_1


"Katakan!" sentak Surya.


Disisi lain, Novi hanya bisa melihat perdebatan pelik mereka berdua.


"Apa maksudmu mas!"


"Lepaskan sakit!, bssst" gerutu Citra dan mulutnya berdesis kesakitan.


Laki-laki yang sedari tadi menahan seluruh emosinya disana memang tengah menarik pergelangan tangan Citra dan menerkamnya sekuat mungkin.


"Tidak!"


"Aku tidak akan melepaskan dirimu kali ini!"


"Mbak, coba lihat mantan suamimu ini!" rengek Citra.


Dirinya yang begitu terpojok, mengiba dan berharap bantuan dari Novi yang hanya diam dan kebingungan menatap keduanya.


"Mas, lepaskan Citra !."


"Ada apa ini!" ujar Novi yang masih sangat terlihat bingung.


"Tak perlu dirimu membela wanita sialan ini lagi Nov!"


"Dia yang sudah membuat rumah tangga kita hancur saat itu!" jelas Surya.


Secara bersamaan, Novi dan Citra begitu terkejut mendengar penjelasan darinya.


"Jangan menuduhku yang bukan-bukan mas!" kelit Citra.


wajahnya sudah terlihat memucat dan keringat dingin pun menghampiri dirinya disana.


"Kamu ingat, penjebakan divila waktu itu?!"


"Yah, skenario busuk itu telah dirancang oleh wanita licik ini !"


"Dan Wili, laki-laki itu kini juga telah membusuk didalam sel tahanan karena telah mengakui perbuatannya"


Bayangan itu secara cepat mengisi seluruh pikiran Novi yang masih terdiam dan menatap ke arah Citra penuh kebencian. air matanya hendak menetes disana, tapi masih bisa ia tahan dengan kemarahannya. tangan wanita yang dikenal begitu lembut akan sikapnya itupun terlihat mengepal bulat.


"PLAKKK!!"


sebuah tamparan keras dan menuking, mendarat tepat dipipi Citra hingga sampai membuat wajahnya berbalik menyamping.


"Akh!" teriak Citra kesakitan sambil terus memegangi pipinya yang masih panas.


"Apa ini mbak!" protesnya.


"Diam kamu, j-jadi selama ini kamu yang tengah berlulah dibelakang ku. Dan bodohnya diriku, selalu percaya begitu saja dengan semua ucapan yang kau utarakan padaku!. Ipar macam apa kau ini, hingga tega berbuat hal keji seperti itu padaku hah?. Malu, kecewa serta kehancuran harus aku alami secara bersamaan dalam waktu yang begitu singkat akibat semua perbuatan dirimu!"


...----------------...


Bersambung ♥️


*


*


*


...Jangan lupa buat mampir ke karya bestie cantik ini ya guys, rekomendasi cerita yang sangat menarik untuk dibaca ♥...



Menjadi seorang janda beranak tiga bukan tujuan hidup Arienka. Tapi takdir menggariskannya demikian. Dan dia tak bisa menolaknya.


Sakit hati karena dikhianati sahabat dan kekasihnya membuat putra menjadi bad boy. Tapi di lalu falling on live at first sight pada mantan ibu gurunya saat reuni.


Sayangnya Arienka menolak cinta berondong tajir itu. Dia tak ingin kembali terluka.


Mampukah putra mendapatkan cinta Arienka?

__ADS_1


__ADS_2