
"Papa akan selalu berikan yang terbaik untuk kamu sayang" ucap Roy .
Lelaki tersebut sangat memeluk erat putrinya, dan mencium rambut hitam Renata. Meskipun ia harus menelan kekecewaan bahwa cinta pertama putrinya harus terpatahkan dengan begitu menyakitkan seperti ini.
"Terimakasih pa, Renata adalah anak wanita yang paling beruntung di dunia ini karena memiliki papa" ujarnya dengan menahan tangis dihatinya.
Keduanya termenung dan memandangi pepohonan dari arah jendela kamar Renata yang menghadap langsung ke taman rumah mereka.
*
*
*
"Ternyata dia sudah pernah berkeluarga sebelumnya. tapi perduli apa aku dengan masa lalunya, aku hanya ingin memberikan kemudahan untuknya" ucap Sando .
Pria yang memiliki tinggi 175cm ini, berkulit putih serta memiliki dua lesung pipit ketika tersenyum.
Dirinya yang tengah duduk menghadap kolam renang malam hari itu tengah membaca semua CV milik Novi dengan teliti.
"Novi Heemeka, nama yang sangat indah"
"Wanita secantik dan selembut dirinya harus ditinggalkan oleh suaminya? kenapa?"
"Apakah lelaki itu berbuat buruk padanya , atau Novi menyelingkuhi pasangannya?"
"Ah tidak mungkin, dari auranya saja dia sangat terlihat positif sekali" berulang kali Sando berbicara pada dirinya sendiri.
Ia yang sudah bertekad membantu Novi , segera meraih ponsel yang berada diatas meja dan menghubunginya.
"Selamat malam" suara Sando terlihat canggung meski mereka tak saling menatap.
"Wa'alaikumsalam, selamat malam ada yang bisa saya bantu?" suara Novi.
"S-saya Sando mbak Novi, maaf malam-malam begini sudah mengganggu" suara Sando terlihat lebih gugup karena mendengar salam Novi.
"Tidak apa-apa pak, kebetulan saya tidak sedang sibuk"
"Tolong jika berkenan besuk datang kekantor saya ya mbak, saya tunggu terimakasih." pungkas Sando dengan cepat dan mengakhiri suaranya.
Novi kebingungan sambil menatap ponsel miliknya, pria itu sama sekali tak memberikan dirinya kesempatan untuk mengucapkan salam sebelum menutup teleponnya.
"Ada apa dengan diriku ini, jantungku berdegup kencang ketika mendengar suaranya!. Hal seperti ini tidak pernah terjadi padaku" gerutu Sando yang tengah berdiri dan berjalan menuju kamarnya.
Didalam kamar, ia yang tengah terbaring di atas ranjang sedang memikirkan wajah Novi disana. Rasanya aneh baginya, ia tak pernah memikirkan wanita segila ini sebelumnya.
*
*
*
Keesokan harinya, Sando yang tengah bersiap untuk berangkat ke kantor tengah berjalan keluar dari kamar dan sibuk untuk mengancingkan lengan kemejanya hingga terkancing sempurna.
__ADS_1
"Pagi kakakku sayang. makan yuk!" sapa Renata yang tengah menyantap roti panggang miliknya.
Sando menatap raut wajah adiknya penuh dengan teliti dan menemani dirinya untuk sarapan pagi.
"Tumben sendiri mana papa" sahut Sando yang tengah mengoleskan selai strawberry diatas roti miliknya.
"Entahlah emb" timpal Renata dengan mulut yang penuh dengan potongan roti.
"Hentikan itu, jangan bertingkah seperti anak kecil. Kamu sudah besar bukan?" celoteh Sando menasehati adik tersayangnya itu.
Bukanya diam Renata terus menggoda kakaknya dengan rengekan tanpa henti disana.
"Abang kapan nikah?"
"Cepetan gih, aku sudah pengen banget usulin kakak ipar ku!"
"Yah, yah ..."
"Kamu kan lebih dulu dariku, jadi itu tidak mungkin!" cela Sando dengan tatapan tajam.
Ucapan Sando memancing kesedihan lagi baginya, Renata yang sudah kehilangan selera makannya lalu meletakkan roti dan meminum sedikit susu hangat yang telah disiapkan oleh bibi Ida.
"Eh, kok udahan aja si?!" Sando meneriaki Renata yang memilih meninggalkan dirinya begitu saja.
"Lain kali, jangan pernah bahas pernikahan itu lagi dengan adikmu!" pinta Roy yang tengah membenarkan dasi miliknya.
"Tapi benar kan pa, lagi pula Renata memang menggilai lelaki itu sejak lama. Seharusnya dia patut berbahagia" timpal Sando.
"Tidak untuk kali ini, papa akan membatalkan semua itu hari ini juga!" tegas Roy mematahkan keyakinan Sando .
"Dan papa tidak ingin menambah luka dihatinya lagi"
Sando mendengarkan dengan baik, setiap ucapan papanya saat itu. Ia berfikir, tidak mungkin jika adiknya yang telah mempermainkan lelaki itu pasti dirinyalah yang melukai adik tersayangnya.
"Berhenti !" cegah Roy segera.
"Tetaplah disini bersama papa, pagi ini juga kita ke rumah Surya !"
Roy sangat mengetahui watak Sando yang akan meledak dengan cepat ketika adik perempuan satu-satunya tengah dipermainkan. Dan menghentikan langkah kakinya dengan cepat sebelum memberikan sebuah kehancuran bagi lelaki itu.
"Baiklah!" seru Sando terduduk paksa dikursi.
"Ayo kita berangkat!" ajak Roy tanpa berlama-lama.
Hari itu, masih terlalu pagi untuk bertamu ke rumah orang. Tepat pukul 6 pagi keduanya berjalan menuju rumah Surya dengan kecepatan mobil di atas rata-rata.
Sesampainya disana, keduanya menuruni mobil dan masih tersirat dengan jelas raut wajah Sando yang menahan kemarahan begitu dalam pada Surya .
"Papa mohon, kendalikan dirimu ketika didalam nanti !" Roy mewanti-wanti putranya tersebut dengan menepuk dada bidangnya.
"Hm" sahut Sando kesal .
"Pagi Roy, wah kamu ikut juga Sando. Mari duduk sini, apa sekalian kita sarapan pagi bareng?" sambut Sinta dengan sumringah tanpa mengetahui maksud kedatangan mereka.
__ADS_1
Roy hanya mengawasi anaknya agar tidak bertindak lebih jauh lagi disana. Ia berharap Sando bisa mengontrol emosinya dengan baik.
"Ah, tidak perlu. Aku langsung sampaikan saja maksud kedatanganku kemari Sin!. tegas Roy menolak tawarannya.
"Ada apa ini, hari ini masih terlalu pagi untuk membicarakan hal seserius itu Roy " ucap mama Sinta sambil menatap keduanya secara bergantian.
"Maafkan aku, tidak bisa melanjutkan perjodohan ini lagi" tutur Roy segera.
Mama Sinta yang terkejut mengetahui keputusan sepihak itu, menentang dengan cepat keputusan Roy.
"Roy, bukankah semua masalah ini sudah kita selesaikan kemarin lusa. Lalu kau ingin mengakhiri begitu saja?" ucap mama Sinta kebingungan.
"Semua sudah siap, bahkan telah mencapai finish persiapan kita bukan?"
"Tidak apa, aku akan ganti semua uang yang kamu keluarkan untuk acara ini"
"Aku tidak perduli dengan uang itu, aku hanya inginkan putrimu!" mama Sinta dengan nada tinggi mengutarakan perasaannya.
Setelah cukup lama berdiam dan tertahan hatinya untuk berbicara, Sando pun terpancing dengan ucapan mama Sinta yang sama sekali tak pernah memikirkan hati orang lain.
"Hm, syukurlah papa saya mengambil keputusan ini dengan cepat. Atau tidak, adik saya akan mengalami kehancuran dihidupnya jika memiliki seorang mertua seperti anda!"
Sergap Sando dengan umpatan kata menyakitkan.
"Sando ...!" Roy menatap tajam kedua mata Sando .
Tetapi putranya itu hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar disana.
"Ada apa ini Roy, apa yang tengah terjadi sebenarnya. Aku sama sekali tidak mengetahuinya sedikitpun" mama Sinta kebingungan.
"Sudahlah, hanya itu yang ingin aku sampaikan saat ini. Aku permisi dulu dan benar-benar meminta maaf untuk keputusan yang sangat mendadak ini"
Roy dan Sando meninggalkan mama Sinta dengan wajah yang masih menahan kemarahan disana. Tetapi sangat terasa lega, karena dirinya dapat memberikan udara segar dihati putrinya Renata .
...----------------...
Bersambung ❤️
*
*
*
Jangan lupa buat mampir ke novel bestie cantik yang satu ini yah, rekomendasi cerita bagus buat kalian baca♥️
**Khayra menikah dengan Ferdinan hanya karena memenuhi sebuah perjanjian perjodohan yang telah dilakukan oleh kedua orang tua mereka yang telah bersahabat sejak lama.
Tapi malang tidak dapat dihindar, pada malam pengantin mereka, justru Khayra malah menghabiskan malam pertamanya dengan pria lain. Saat terbangun dia malah mendapati tidur dengan barra mantan kekesihnya yang ternyata mantan kekasihnya.
Meski status mereka sudah berubah, namun Barra tetap memiliki rasa kepada kakak iparnya itu. Sampai suati saat Ferdinan menyadarinya dan malah dengab semen-mena memberi tahu tentang rasa terlarang itu kepada seluruh keluarga. Padahal Ferdinan sendiri sedang menjalin kasih dengana adik tiri Khayra.
__ADS_1
Akankah Barra dan Khayra bisa mendapatkan bukti perselingkuhan Ferdinan, dan akankah bukti itu nantinya menjadi kunci bagi Khayra dan Barra untuk bersatu**?